hmmmm, membaca tulisan yg berlembar-lembar ini saya jadi ingin baca buku eyang aby ...
sungkem, ongkowijoyo 2008/6/11 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>: > ** > > Pak Onnos dan rekan-rekan Kapetiers ysh, > * > +++: Menurut saya, sebaiknya focusnya bukan kepada pengurangan jumlah > Kapet dari 13 jadi 5, dan pengecilan luasan Kapet yang lama. Namun bagaimana > proses mengevaluasinya dan apakah solusi kebijakan yang diberikan tersebut > sudah melalui studi yang 'benar' dan terbuka terhadap masukkan dari berbagai > pihak terkait ? Kemudian, langkah-langkah apa yang akan dilaksanakan untuk > minimal jangka 5 tahun y a d ? > *>>>: Ya Pak Onnos... tentang Kapet 13 akan dipertahankan tetap > menjadi 13 atau menjadi 5 atau berapa angka lainnya ..... atau luasannya > akan tetap dipertahankan, diperkecil atau digeser dsb..... saya kira yang > menarik dan "terbuka untuk masukan" seperti keinginan bapak.... adalah > silahkan masing-masing setiap orang boleh mengajukan argumennya....... > Jadi saya kira akan cukup menarik kalau bapak juga pada postingnya > seharusnya sudah menyertakan argumen bapak juga... tentang kenapa > sebaiknya biar tetap 13 kapet saja..... sehingga para Kapetiers dunia > maya ini serta para pejabat otoritas Kapet beneran dapat mengcollect > argumen bapak juga ...... dan setidaknya kita bisa langsung segera > mendiskusikan argumen bapak juga.... siapa tahu anda punya bisa menghasilkan > pencerahan baru....... > > Satu aspek dari keunikan masalah planning adalah bahwa kita bicara tentang > "serba ramalan, serba prediksi serta serba ekspektasi" tentang arahan > perkembangan > masa depan sosial ekonomi dari suatu ruang wilayah atau kawasan > tertentu....... > Maka disitu jelas bahwa pada 'pekerjaan planning'..... selalu terkandung > nuansa 'ramalan', 'perkiraan' , asumsi dsb.... yang semuanya tidak dapat > dikatakan sebagai eksak.... seeksak seperti kita mencetak kue apem, > carabika... atau dalam industri mobil bagaimana mesin press body dapat > menghasilkan demikianbanyak barang-barang cetakan seperti bagian pintu > mobil atau kap mesin dengan demikian presisinya (walau tetap ada persentase > kegagalan juga) ....... > Tetapi walau begitu...sepertinya kita masih bisa berpegang pada > logika-logika...... dimana dari situ kita lalu tidak ngawur-ngawur amat > dalam "serba prediksi" dan "serba ekspektasi" kedepan itu........... > > Karena itu ..... sama-sama bicara tentang 'masa depan' atau 'masa yang akan > datang' sebagai ciri kuat dari pekerjaan "perencanaan", atau "perencanaan > pembangunan" atau "perencanaan ruang" ... ...... tidak bisa lain kita hanya > dapat sebanyak-banyak bersandar pada logika-logika serta merefer pada hasil > studi2 keruangan... serta pada kisah-kisah empirik dari negara-negara lain > yang pernah melakukan pembangunan wilayah ... baik yang berhasil dengan > gemilang ataupun yang tidak banyak berhasil....... > Dari yang berhasil.. sedikit banyak kita bisa menganalisisnya mengapa ia > berhasil..... sebaliknya dari yang gagal kitapun bisa menarik pelajaran > pula... kenapa ia dulu gagal?...... > > Bersandar pada logika-logika..... contohnya seperti misalnya kalau ada > gula... diasumsikan hampir pasti logikanya akan ada semut datang..... logika > ini umumnya telah diterima amat luas sekali bahkan oleh awam sekalipun > dimana-mana........ > Kalau ada suatu aktivitas ekonomi yang besar... diprediksikan dengan kuat > tentu akan datang migran.... kalau suatu industri memimpin berupa suatu > industri padat modal dan padat karya diletakkan disuatu kawasan kapet... > maka kuat diprediksikan bahwa ia akan kemudian menimbulkan dampak multiplier > effect yang luas... serta kesempatan kerja yang luas... dsb...... > > Atau kalau kita (atau investor) bisa menghasilkan "sesuatu" didaerah > kapet... bisa "memasarkan"nya ... dan bisa mendapat "nilai tambah" yang > memuaskan..... disertai dukungan seperti fasilitas "pengapalan" barang > menuju pasar (dari kapet umumnya masih mengharapkan Jawa sebagai pasarnya, > atau Singapura, Asia Timur dsb)....tentu itu setengahnya telah dapat > mendorong investor untuk lebih berketetapan hati untuk merealisasikan > rencana investasinya ..... tetapi itu baru cerita setengah jalan........ > > Bahwa berbagai investasi raksasa atau menengah pada akhirnya setelah > menyediakan sebagian dari modalnya....... lalu tidak bisa tidak mereka tetap > harus pergi kelembaga keuangan.... untuk minta ditambahin modal.... bahkan > untuk proyek yang besar sering harus memerlukan konsorsium beberapa bank > untuk bersama-sama membiayai dan berbagi resiko..... Maka pada gilirannya > ......... seolah-olah suatu proyek investasi didaerah Kapet itu lalu bukan > lagi tergantung kepada investor pelaksana..... > Tetapi benar-benar lebih tergantung lagi nasibnya kini pada penilaian > kelayakannya oleh lembaga keuangan atau konsorsium bank tadi itu........ > > Disini .... apa yang kemarin-kemarin diistilahkan sebagai > "spidolisasi-spidolisasi" ruang oleh para otoritas perencanaan ruang > .......dimana untuk itu masih diback-up lagi dengan berbagaai surat-surat > sakti bernama PP, Keppres, Permen... persetujuan DPR dsb.......lalu > simsalabim diyakini investor akan berdatangan....... tetapi nyatanya > disini kita atau para otoriotas keruangan itu akan berhadapan dengan apa > yang disebut namanya dengan "kenyataan-kenyataan"...... > > Kalau para otoritas keruangan mencoret-coret peta dan membagi-baginya > sampai berbelas-belas petak banyaknya ..... dan disitu tak ada taruhan > selain daripada paling-paling "cerita gagal".... dan itupun akan terjadi > (dinyatakan) satu dasawarsa kemudian.... dimana rezim telah berganti bahkan > beberapa kali.... dan para mantan otoritas itu bahkan kadang sudah tak > seberapa jelas lagi batang hidungnya atau rimbanya ........ tetapi para > bankers benar-benar harus bertaruh dengan uangnya....... bisakah kembali > dengan selamat atau tidak?..... > > Disinilah para otoritas keruangan seyogyanya menyertakan sebanyak-banyak > logika psikologis, sosiologis, logika-logika industri, logika-logika > lembaga keuangan..... dsb. dsb...... seperti tentang perlunya mencek-ricek > kembali .... apa yang secara psikologis kiranya akan mendorong atau > menghambat tak hanya para investor pelaksana dan pelaku bisnis.... tetapi > lebih serem lagi justru menyangkut pertimbangan dari para investor > keuangan yang akan mempertaruhkan keberadaan uangnya ........ > > Para investor pelaku bisnis mungkin setengahnya adalah para > petualang....... mereka bisa saja sikut kiri sikut kanan.... kekiri > berkolusi dengan pejabat daerah ..... kekanan berencana setengahnya > mengakali bank (utamanya bank BUMN, yang dulu juga banyak senang diajak > berakal-akalan, dan satu dua jadi meringkuk dipenjara )...... dan ketika apa > yang didapatnya sudah berhasil.... ia tinggal mengaku sakit dan berobat ke > Singapura dan tidak pernah kembali...... dan tinggallah kapet mungkin akan > medak-medak atau mangkrak..... dan bank tinggal gigit jari... > > Jadi kalau dari13 kapet itu ada kapet yang kosong melompong....tidak ada > yang datang berinvestasi...... lalu ia dikatakan sebagai "kapet yang > gagal"..... > itu juga bukan lalu artinya pasti selama itu tidak pernah ada investor yang > pernah datang dan tertarik berinvestasi disana.... > Sangat bisa jadi..... masalahnya adalah beberapa investor telah pernah > mencoba berinvestasi....... tetapi giliran pergi ke bank untuk minta tambah > modal... mereka ditolak dibiayai....... karena bank lebih jeli matanya > untuk melihat bahwa ada beberapa poin yang belum masuk diakal..... seperti > tentang infrastruktur dilokasi ... dsb.... > > Jadi kembali ke pertanyaan apakah 13 kapet atau 5 kapet ...... saya sendiri > secara pribadi malah berpikir berbeda pula...... ialah apa salahnya hari ini > dibuat "1" (satu, setunggal, hiji, one) atau "2" (dua, kalih, two) saja > dulu...... tetapi pastikan bahwa ia benar-benar jadi ..... ia tumbuh.. ia > berkembang.... dan kalau dalam 1 tahun ia telah benar-benar nampak "seperti > yakin pasti" akan bertumbuh kembang ....... apa salahnya kontanesok harinya > membuat lagi 1 atau 2 kapet lagi ditempat lain ..... demikian dan seterusnya > sehingga akhirnya bisa dikembangkan total 13 kapet yang semuanya > benar-benar tumbuh dan berkembang dengan pasti .... atau kalau masih kurang > bisa ditambah lagi menjadi 20, 25, kapet dst... apa salahnya?........ > > Bagi rakyat sebenarnya tak banyak bedanya....... apakah mau pake kapet atau > tidak .... mau sedikit kapet atau banyak kapet ....... yang penting adalah > seperti kata pak Onnos sendiri .. ialah endingnya tidak menjadi cerita > Kopat Kapit...... > Bagirakyat adalah apakah akan ada perluasan kesempatan kerja yang > menyenangkan atau tidak...... apakah hidup menjadi lebih baik dan lebih > mudah atau tidak...... > > Wah.... sebenarnya menarik untuk melanjutkan diskusi ini.. tetapi baru > menanggapi satu paragrap bapak sudah sepanjang ini jawabnya.. jadi mungkin > perlu bersambung ya pak?..... > > Sementara demikian dulu dan salam, > aby > > > *Sugiono Ronodihardjo <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Pak Aby dan rekan-rekan Kapetiers ysh, > > Menurut saya, sebaiknya focusnya bukan kepada pengurangan jumlah Kapet dari > 13 jadi 5, dan pengecilan luasan Kapet yang lama. Namun bagaimana proses > mengevaluasinya dan apakah solusi kebijakan yang diberikan tersebut sudah > melalui studi yang 'benar' dan terbuka terhadap masukkan dari berbagai pihak > terkait ? Kemudian, langkah-langkah apa yang akan dilaksanakan untuk minimal > jangka 5 tahun y a d ? > > Dalam era keterbukaan/demokrasi dan otonomi yang sedang mencari bentuk di > negeri kita saat ini, sepertinya model pendekatan 'musyawarah mufakat' > dalam pengambilan keputusan untuk perencanaan semacam Kapet ini seharusnya > dapat diuji-cobakan. Sekaligus ini dapat sebagai 'test-case' untuk > pelaksanaan 'public-participation' dalam proses perencanaan sesuai salah > satu amanat UU-PR 27/2007. > > Mengenai SDM dan Kelembagaan untuk mengelola Kapet, saya sepakat untuk > dipersiapkan dengan lebih serius. Mungkin butuh proses penyiapan SDM dalam > jangka menengah/panjang yang tidak sederhana, terutama untuk wilayah KTI. > > Semoga melalui diskusi informal di ruang maya ini dapat ditindak-lanjuti > dengan diskusi 'copy-darat', dan dapat jadi masukan bermanfaat untuk 'para > boss' yang sedang diberi amanat rakyat untuk mengambil keputusan secara > formal yang mungkin diam-diam membaca milis ini. > > Wassalam, > Onnos > > > > > ------------------------------ > To: [email protected] > CC: [EMAIL PROTECTED] > From: [EMAIL PROTECTED] > Date: Tue, 10 Jun 2008 03:59:14 -0700 > Subject: [referensi] Re : Diskusi Mezzogiorno dan Kapet (4) > > Milisters semuanya ysh, > > Singkat cerita bahwa kisah 13 Kapet lalu dikoreksi akan menjadi 5 Kapet > saja ......dimana untuk itu dilakukan 3 macam langkah..... yaitu kesatu akan > dipertahankan proyek itu tetap sebagai Kapet......., langkah kedua, > menseleksi dan hanya menyisakan 5 kapet saja ........ dimana disitu > diprioritaskan pertimbangan ketersediaan SDA, lokasi strategis serta > dukungan infrastruktur yang telah ada (artinya bukan infrastruktur nyaris > nol)......, dan alternatif ke-3 memperkecil luas wilayah daerah yang > menjadi Kapet........ > Maka koreksi itu seperti kita lihat ....... salah satu contohnya > adalah....seperti pertama....... Kapet DAS Kakab...... > > Kalau tak salah... Kapet DAS Kakab adalah singkatan dari Kawasan > pertumbuhan ekonomi Daerah Aliran Sungai Kapuas, Kahayan dan Barito....... > Kita lihat itu adalah semula kawasan pembangunan yang demikian luasnya > meliputi kawasan dengan panjang pantainya saja tak kurang dari 600-an > km....... > Demikian berat medannya.......banyak muara sungai yang lebar dan > rawa-rawa.... antara Sampit dan Banjarmasin sekitar 100-an km depan > pantainya banyak reef sehingga banyak pantainya tak mudah didarati ....... > tak seramah seperti Pantura Jawa yang hampir semua bagian pantainya dapat > didarati perahu dan menjadi pemukiman... karena pantainya yang rata-rata > landai dan berpasir..... > > Das Kakab sangatlah kurang infrastruktur pendukungnya......... maka > Kapet itu akan diperkecil wilayahnya menjadi antara Sampit hingga Pangkalan > Bun.....yang memang walau itu masih juga cukup 'berat'.... tetapi setidaknya > itu sudah jauh lebih masuk diakal dibanding dengan rencana ambisius > sebelumnya yang nampaknya lebih bermodalkan semangat saja...... dan sejak > awalpun sudah lumayan jauh dari logika keberhasilan....... > > Dengan koreksi, disitu nampak bahwa setidaknya bila semula Das Kakab itu > meliputi panjang pantai tak kurang dari 600km..... maka kawasan pengembangan > ekonomi itu kini 'dipersempit' menjadi sekitar antara Sampit dan Pangkalan > Bun saja yang panjang pantainya menjadi sekitar 200-an km 'saja'....... dan > diharapkan dua titik pertumbuhan kota Sampit dan kota Pangkalan Bun itu akan > relatif lebih menarik, lebih aglomeratip dan lebih masuk diakal untuk > mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan ditengah diantara keduanya......... > > > Itu juga sekaligus menunjukkan bahwa suatu "kawasan pertumbuhan ekonomi" > yang relatif lebih sempit" sehingga lebih merupakan "cluster"........ dengan > "pusat" berupa"kota"........ ia memang jauh akan lebih masuk diakal > untuk berkembang...... dibanding suatu kawasan luas... dengan pusat yang > tak jelas...... > Jadi sedikit banyak .... bagi yang sudah 'talak satu' dengan teori kutub > atau pusat pertumbuhan..... ini dapat kembali mengingatkan... bahwa tak > ada yang salah dengan "teori kutub pertumbuhan" itu........ > Setidaknya kitapun harus menyadari pula .... bagaimana sulitnya menarik > investasi kekawasan tanpa 'pusat yang prospektip' serta tanpa > 'infrastruktur yang layak' demikian (ingat Bari-Taranto-Brindisi di > Mezzogiorno)....... apalagi untuk investasi asing...... karena dalam Global > Competiveness Index 2007 saja.... Indonesia hanya menempati urutan no. 50 > dari semula malah lebih parah ialah no. 69...... > > Sebenarnya Kapet yang tidak usah terlampau berlebihan luasnya........ ia > seperti > memang akan lebih efisien... dan ia seperti akan lebih cepat menumbuhkan > aglomerasi....... karena berbagai macam investasi akan dapat relatif saling > berdekatan jaraknya .. sehingga saling kedekatan itu akan memunculkan > berbagai keuntungan......seperti tentang relatif lebih mudah merangsang > tumbuhnya aglomerasi atau kecenderungan kedatangan serta pemusatan dari > berbagai investasi kegiatan lain yang baru....... yang cenderung merasa > cukup prospektif untuk datang 'bergabung'.......serta akan relatif lebih > mudah untuk mendorong kedatangan SDM bermigrasi untuk mengumpul pula... > > Sebagaimana DAS Kakab akhirnya direncanakan dipersempit kawasannya dan > pusatnya digeser serta ditetapkan berupa 2 (dua) kota ialah Sampit dan > Pangkalan Bun....... > Atau Kapet Mbay di Flores yang direncanakan dialihkan menjadi berpusat di > Kupang...... > Tentang Kapet Bukari (Buton Kolaka Kendari).....yang akan dialihkan menjadi > Kapet Kendari..... saya teringat ketika pada tahun 1994 atau 1995an > bertemu dengan seorang petinggi di Puslitbang Deptrans PPH misalnya...... > yang berasal dari Peternakan IPB... dengan berapi-api beliau ini mengatakan > bahwa seputar Bau-Bau nanti akan menjadi kawasan industri perikanan terpadu > yang modern ...... sampai saya ternganga-nganga dibuatnya ....... > Ya bagaimana tidak...... nuansa psikologisnya kala itu adalah ....."apa-apa > yang disentuh oleh tangan teknologi Habibie"... dipercaya oleh suharto dan > mereka sebagai hampir pasti semuanya jadi...... > Rancangbangun dan rekayasa pesawat.... pesawatnya bisa mabur .... industri > strategis senjata dan kapal disentuh Habibie lalu maju .... sampai-sampai > ICMI pun tidak sreg kalau tidak meminta Habibie sebagai Ketua......... > maka kalau suatu kawasan lalu atas nama Habibie (sebagai Ketua Dewan > Pengembangan KTI) sudah disebut sebagai akan menjadi "pusat perikanan > terpadu modern"...... lalu siapa berani tidak percaya?............. > > Yah... itu kisah masa (dasawarsa) lalu...... dimana proporsi penduduk urban > kita masih dekat seputar angka 40% ... dimana dengan proporsi penduduk kita > seputar angka 60% masih rural....... maka wacana pembangunan agraris selalu > masih memperoleh tempatnya dibaris depan........ dan wacana pembangunan > urban seperti lebih banyak masih dianggap sebagai cerita orang mengigau > saja......... > > Sementara demikian dan salam, > aby > > > ------------------------------ > Enrich your blog with Windows Live Writer. Windows Live > Writer<http://get.live.com/writer/overview> > > > >

