Nimbrung sedikit: mnrt sy agar ndak mislead istilah alokasi ruang untuk the 
poor diterjemahkan pd klasifikasi kegiatan2 yg lebih rinci dlm rencana tata 
ruang.jdt mnrt sy dlm rencana tdk pernah ada muatan alokasi ruang utk the rich 
atau the poor  

-----Original Message-----
From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, 16 June 2008 4:45 PM
To: [email protected]; [EMAIL PROTECTED]
Subject: [referensi] Re: [perkotaan] Geser Dikit Kekota

Pak Aby dan rekans,
 
Ini saya mau menggoda saja. Kok kayaknya tiap ada masalah penataan ruang, entah 
betul, entah karena rumit akarnya. Tuduhannya kok selalu "pengusaha serakah".
 
Tapi dalam rencana milik Pemkot/Pemprov apa memang ada ruang bekerja untuk 
sektor informal, the poor? Kalau ada, kan swasta bisa dipaksa nurut, kalau 
tidak nurut ya ditindak. Disiarkan ke publik. Kalau memang tak ada, ya swasta 
gak salah dong tidak memberi tempat.
 
Kalau memang tidak ada alokasi ruang untuk the poor, terus mereka berupaya 
sendiri. Sebagai PKL atau menggunakan rumahnya untuk warung. Lha kok 
diuber-uber, dibongkar petugas keamanan kota, dengan tuduhan melanggar rencana 
tata ruang.
Apakah swasta yang salah lagi - yang gurem, yang kecil, sedang, yang besar?
Siapa sih swasta itu? Jangan-jangan 85% dari warga kota.
 
Jangan-jangan rencana tata ruang memang hanya pas untuk developer? Usaha 
rumahan digrebek supaya pindah ke ruko-rukan yang dibangun developer? Alasannya 
mau ngundang investor?
 
Salam,
Risfan Munir

--- On Mon, 6/16/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: hengky

[The entire original message is not included]

Kirim email ke