Iya tuuh... rencana 6 ruas jalan tol dalam kota jakarta juga sim-sala-bim...
Busway pun sebenarnya gitu... apalagi monorel...

tapi yg namanya birokrat-gaek kan ga kehabisan ide...

ya tinggal revisi RTRW saja.. karena 'sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi
yg ada'...
sebagai sopan santun daripada bilang 'demi mengamankan kebijakan pak
Wapres!!'. trus.. wapress-nya juragan semen...
selama proses-nya masih dalam lingkungan birokrasi.. tentu skill-licin
birokrat gaek yg akan jadi jurus!
kalau ditanya.. ya jawab-nya... 'kami netral.. kami profesional, just doing
our job like decent profesionals do; earning halal income!'.

rakyat? tergusur atas nama RTRW- (yg telah direvisi atas nama
rasionalitas-teknis)? bukan hal baru toh?

that's rite.. shake the boat... i dare u...


yang tahu tidak mampu.
yang tahu, yang mampu-tidak berbuat, lantas bernubuat.

salam hangat,
-K-



2008/7/10 Hannie Waworoentoe <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Eko, mungkin Eko tidak mengira akan ada tanggapan dari pihak yang
> sebenarnya sudah tidak punya suara secara langsung, tetapi saya sepenuhnya
> menyokong atau pertahankan pendirian dan keyakinan Eko. Memang saya kira
> birokrasi dan sekaligus para konsultan yang tidak resmi dalam birokrasi tapi
> bagaimanapun juga harus ikut dalam permainan yang jelas munafik ini. For the
> time being mungkin mereka yang masih punya ideal atau keyakinan bahwa
> somewhere there there must be a truth, yah mereka termasuk kita tidak banyak
> yang dapat kita harapkan. Ini bukan hiburan tetapi kenyataan.  Jadi tetap
> bikin rencana-rencana netral yang engga ada risiko dan juga tidak ada musuh
> (kecuali yang ngerti),  itulah birokrasi atau governance atau pemerintah
> sekarang, yah jangan digoyang-lah, don't shake the boat, maka selamatlah
> kita semua? ]\
>






> .. Nah sawah ini rupanya oleh Pemerintah Kabupaten sekarang diincar oleh
> karena setiap ibukota kabupaten itu perlu ada ringroad, whatever that means,
> malahan si kepala dinas PU sudah berhasil mendapat allokasi untuk membikin
> ringroad itu, walaupun belum ada RTRW atau apa saja yang dapat membenarkan
> ringroad itu. Well so I just asked that basic question  what do you need
> that ringroad for, dan pertanyaan yang lebih sukar tapi pantes untuk setiap
> planolog, dimana ringroad itu mau dibangun, yah rupanya pertanyaan ini rada
> sukar saya dapat jawaban. Secara kebetulan saya juga diminta untuk ikut
> rapat di PU Jakarta wah this not often happens, tapi waktu saya lagi nunggu
> tuan-tuan bappeda dan sekjen PU lagi rapat saya koq ketemu salah seoarang
> Kepala, kalau engga salah Kepala Bina Program, who said that he was jyust
> back from a rapat PU di Makassar, wah kebetulan nih lantas saya tanya soal
> ringroad di Ratahan ibukota kabupaten Mitra itu, well jelas jawabannya
> straight from the textbook, engga bisa tuh harus ada RTRW atau ada rencana
> yang jelas, oklah saya pulang cukup puas. Nah sekarang sudah tiga bulan
> lewat dan rencana ringroad itu kelihatannya engga dilanjutkan, tapi ada
> perkembangan baru yang tidak begitu aneh, kabupaten Mitra atau Minahasa
> Tenggara itu kebagian BANTEK, whatever that means pokonya you have to
> swallow it, datanglah konsultan dari Bandung PT Reka Spasia Indonesia yang
> dalam waktu singkat akan menghasilkan  suatu RTRW. Nah saya sudah tiga kali
> ke kantor BAPPEDA Mitra tapi engga bisa ketemu, dan nilpun juga rada susah.
> Well anyhow saya juga tahu bahwa uang untuk ringroad sudah turun dan biaya
> BANTEK juga sudah turun . Dengan kata lain Eko I am back at square one. Jadi
> kesimpulannya memang we have created our own problems. Sudah hampir 50 tahun
> lalu saya mulai ngajar di planologi itb,  akhirnya dosa-dosa ini saya harus
> tanggung juga.
>
>
>
> Memang milis ini sabar sekali, Jadi Aby, Eko Eka dan siapalah yang masih
> mau nulis, kenyataannya  all that knowledge is just considered buulshit by
> the birokrasi.  Rekan BTS anda sih bukan dalam birokrasi tapi jelas ikut
> prihatin, mungkin dosa Soros itu sukar diketemukan  tapi for the time being
> it is governments that take all the burden. Sudah lama saya coba keluar dari
> kemelut ini tapi hanya satu yang mungkin masih bisa jadi penyelamat:  kata
> orang tentang Benyamin Franklin.... he made himself rich by making his wants
> few.... kalau begitu kita bertapa saja kan.  Pak Wawo.
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Eko Budi Kurniawan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
> Sent: Wednesday, July 9, 2008 10:42:24 PM
> Subject: [referensi] Re: [perkotaan] Re: Kemiskinan Reinterpreted or Job
> Creation Preferred?
>
>    Bos, saya tidak gusar hehe saya hanya memberi masukan dan umpan
> diskusi...
>
> Tapi soal kekuatiran saya itu benar... sejauh ini, walau hanya berbekal
> pengalaman kerja yg masih di bawah pak Eka, tapi saya amati kita para
> planners baik di birokrasi maupun di konsultan cenderung lebih suka membuat
> RTRW yg "netral"2 saja, dan "aman2" saja... apalagi kalau dipertimbangkan
> soal waktu dan biaya...
>
> Kalau menyusun kebijakan (RTRW) yg berisi kebijakan2 yg membantu mereka yg
> "tidak beruntung" itu pasti membutuhkan waktu dan biaya studi yg besar...
> nanti pemilik konsultan tidak bisa untung banyak, tenaga ahli tidak bisa
> mengerjakan proyek2 lain, dan birokratnya jadi ketambahan kerja... tapi
> kalau menyusun RTRW yg netral kan enak, di lapangan cukup 2-3 hari, kumpul
> data sekunder plus foto2.. analisis standar, gampang, mahasiswa tingkat
> akhir pun bisa, cukup diberi contoh dari RTRW sebelum2nya atau RTRW daerah2
> lain yg sudah jadi...isi rencana nya juga standar, tinggal copy paste dan
> penyesuaian nama lokasi dan peta... beres deh... semua senang... setelah itu
> RTRW nya cukup jadi pajangan di rak kantor2 Bappeda atau Dinas2 terkait,
> untuk memenuhi arahan UUPR bahwa setiap pemerintah di berbagai level harus
> punya RTRW...
>
> salam...
>
>
>
>

Kirim email ke