Pak risfan dan milist yth, kalo saya amati, meski sepotong2, diskurusus dalam milist beberapa wktu kemarin lebih bgmn menyepakati lingkup penataan ruang secara referensi dan walo sdh didefinisikan dalam UUPR tapi memang sy setuju kalo terus dipertajam agar semoga bisa lebih dapat diimplementasikan...untuk tempat tinggal kita yang lebih nyaman, aman, produktif dan berkelanjutan... Lingkup planning sendiri, sepanjang pemahaman sya sudah jelas...bisa kompre atau strategis,bisa jangka panjang atau jangka pendek bisa makro bisa mikro.untuk semua bentuk planning,termasuk urban dan regional planning Jelas referensi ini mrpk food of thought buat saya...tks
--- On Thu, 7/10/08, Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [referensi] Re: [perkotaan] Re: Anti Discourse? Neutral vs Ethical SP To: [email protected], [EMAIL PROTECTED] Date: Thursday, July 10, 2008, 8:42 PM Pak Aby dan Mas Eko, Kesimpulan saya, silang pendapat dalam diskusi belakangan ini, berkisar antara beda persepsi soal lingkup planning. Ada persepsi bahwa lingkup planning (perencanaan wilayah dan kota) itu "komprehensif" (RPJP/M, Renstra Daerah, dst) , ada yang berpersepsi lingkup planning itu ya "tata ruang/fisik" saja. Ada lagi yang berpersepsi bahwa "tata ruang itu komprehensif", ada yang lain beranggapan bahwa "tata ruang itu ya fisik saja" (ekstremnya ya site-plan dengan berbagai skala). Perbedaan persepsi ini mungkin timbul dari pengalaman semasa kuliah: ada yang suka site-plan, urban-design sehingga cenderung ke fisik. Ada yang suka regional planning yang cenderung ke ekonomi wilayah, development studies. Ada yang ke urban planning, urbanization studies yang lebih komprehensif (ya fisik, ekonomi, sosbud). Ini juga menyangkut era atau tahun-tahun kuliahnya, karena ada unsur tren/fashion seiring dengan tren pembangunan nasional pada masanya. Selain latar belakang pengalaman sekolah tentu pengaruh pekerjaan yang digelutinya selama bekerja. Kalau di PU dan konsultannya ya ke fisik. Kalau di Bappeda, mengurus daerah tertinggal, PPK dst mungkin lebih bias ke komprehensif. Silang pendapat terjadi kalau yang satu melihat planning sebagai tata ruang teknis (geometric, cut-n-fill), persoalan yang digelutinya ya teknis, enjinering. Sementara yang lain melihat planning sebagai bagian dari development studies dengan persoalan ketimpangan antar sub-wilayah, regional growth, unemployment dst. Tanpa menyadari bahwa masing-masing melihat planning dengan kacamata masing-masing. Yang penting janganlah visi/misi/logika site-plan yang sangat teknis/enjinering dan terkontrol, dibawa/diterapkan ke skala kota, wilayah yang persolannya komprehensif menyangkut dinamika pertumbuhan ekonomi, ketersediaan sumberdaya, kemiskinan, pengangguran, pengaruh kebijakan makro atau sektoral. Kalau logika site-plan diterapkan di skala wilayah luas, apalagi nasional, tampaknya kok berlebihan. (Untuk menggoda Pak Aby) Saya tidak tahu Pak Aby cenderung ke rencana kota/daerah yang "tata-ruang" , atau "komprehensif" , atau "tata ruang yang fisik" atau "tata-ruang tapi komprehensif" ? Salam, Risfan Munir --- On Fri, 7/4/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: [perkotaan] Re: Anti Discourse? Re:Where do we stand? Neutral vs Ethical SP To: [EMAIL PROTECTED] ps.com Cc: [EMAIL PROTECTED] ups.com, [EMAIL PROTECTED] ps.com Date: Friday, July 4, 2008, 12:42 AM Recent Activity 1 New MembersVisit Your Group Need traffic? Drive customers With search ads on Yahoo! Y! Messenger PC-to-PC calls Call your friends worldwide - free! Yahoo! Groups Wellness Spot A resource for Curves and weight loss. .

