permisi, mau sedikit meningkahi, terkait dorongan subsidi rusun di tengah kota

program pem utk bangun 1000 towers rusunami pada intinya bagus, tapi banyak 
bolong di pelaksanaannya. pengalaman pribadi nih, dr survei investigasi 
kecil2an.
1. meski harga dipatok max Rp144 juta, tapi konsumen sejatinya membayar lebih 
dari itu. bukan soal pajak yang hanya dibebaskan bagi penerima subsidi, tapi 
istilah view fee. besarnya bisa  beragam, mulai  dari Rp5 juta (di Getaway 
Cileduk) sampai Rp17 juta (di Lebak Bulus). Khusus di Lebak Bulus, dgn sgla 
macam biaya,  konsumen yg mau unit ukuran 2 kamar, hrs keluarkn kocek sampai 
Rp175 juta. Kalau tidak mau keluarka viw fee, silakan pilih yg tipe studio yg 
ukurannya 18 m2 (net).
2. hampir semua apartemen sudah siap2 mematok harga baru di agustus mendatang. 
meski pemerintah belum menentukan, tapi para pemasar sudah bilang denga yakin 
kenaikan sampai 20% ("makanya beli sekarang bu," begitu selalu kata2 akhirnya)
3. jumlah pembelian tidak dibatasi,  silakan beli sebanyak2nya, selama mampu 
asal tidak pakai subsidi. kalau mau pakai subsidi,  hanya dibolehkan 1 unit  
saja.
4. unit2 tertentu yg lokasinya ok,  dijual terlebih dulu ke "org dlm". kalau 
ada berani menawar tinggi, silakan nego dgn "si pemilik" tsb.
5. lokasinya tidak semua berakses langsung dengan angkutan umum massal (bis & 
transjakarta).
6. ada apartemen yg dalam 1 tower hanya menyediakan 10% saja unit subsidi. jika 
1 tower berisi 700 unit, maka unit subsidi hanya 70 saja.
7. ada pemasar yang mengarahkan pembeli utk beli dengan pola pebyran tunai 
bertahap kpd developer.
8. banyak apartemen yg belum berijin tapi sudah dipasarkan
9. meski dilarang untuk dipindah-alihkan, tapi "penawaran gelap" over credit 
atau alih pemilik sudah mulai terjadi
10. sudah ada pengembang yg mau undurkan diri, meski sudah membangun banyak, 
krn tak sanggup lagi menanggung rugi
 
salam

nita


----- Original Message ----
From: Harya Setyaka <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Sent: Sunday, July 20, 2008 8:40:42
Subject: [referensi] Re: [perkotaan] Pemanfaatan Ruang (4): Iklan Real-estate



Bagi
pengambil keputusan (pemerintah nasional/provinsi/ kota) bisa berpikir
dalam alternatif: melayani publik dengan membangun prasarana yang
ekstensif untuk melayani pertumbuhan yang ekstensif (urban sprawl). Atau, 
mendorong, mensubsidi pembangunan rumah (susun) di tengah kota?

I incline to the latter.

urban sprawl is a bad idea.... subsidi BBM mendorong urban-sprawl. .
kalau dari dulu Bensin mahal, tidak kepikiran tuh tinggal jauh-2 dari pusat 
kegiatan/kota.

Kota-2 Belanda bisa kompak, rel bisa maju, juga karena pajak BBM di Belanda 
paling tinggi.
bandingkan dengan Spanyol, Italia (di Eropa).
jelas jauh lebih mahal BBM di Eropa daripada USA (yg sprawling abis).  

cheers,
-K-


On Sat, Jul 19, 2008 at 8:46 AM, risfano <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

IKLAN REAL-ESTATE:
Pilih Tinggal di Pusat Kota atau Pinggiran?
 
Beberapa waktu yang lalu, ada iklan real-estate yang dibagikan di perempatan 
jalan, yang bunyinya menarik:
 
"Seperti inikah kondisi Anda setiap hari?
Lelah dan habis waktu – Berangkat dari rumah jam 05.30, pulang kantor jam 21.00 
baru sampai di rumah. Waktu prima dengan keluarga terbuang.
Maceeeet………stresssss. Banyak tenaga yang terkuras di perjalanan. Di kantor 
ngantuk, di rumah loyo. Kapan bisa olah raga? Kapan bisa sosialisasi dengan 
teman-teman?"
Ditambah,"Pengeluaran transportasi: tol, bensin, parkir di kantor, …Rp ....x 25 
hari?" Apalagi bensin naik, tarif tol naik .......
Maka, solusinya adalah ............ ......... ......Kembali ke (tengah) kota...
 
Dapat ditebak ini adalah iklan apartemen di tengah kota. Ini adalah dilema 
individual. Masalahnya jelas adalah apartemen harganya mahal. Kalau dulu masih 
ada tantangan karena secara kultur, orang masih cenderung memilih rumah dengan 
tanah (landed). Tapi bagaimana dengan kondisi saat ini, untuk kota seperti 
Jakarta, Surabaya yang sudah out-of-control ini? Mungkin sudah banyak yang 
ingin tinggal di apartemen, tapi harganya apakah terjangkau?
Bagi pengambil keputusan (pemerintah nasional/provinsi/ kota) bisa berpikir 
dalam alternatif: melayani publik dengan membangun prasarana yang ekstensif 
untuk melayani pertumbuhan yang ekstensif (urban sprawl). Atau, mendorong, 
mensubsidi pembangunan rumah (susun) di tengah kota?
Salam,
Risfan Munir
http://urbanis. wordpress. com

 
--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "risfano" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Menyiasati lokasi yang 'jauh'
> 
> 
> 
> "Location, location, location."
> 
 


-- 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta Selatan 12760
Cell : +62 815 607 0927
T/F : +62 21 7997039
INDONESIA     

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke