Memang Indonesia butuh stok pangan, memang Jabodetabek perlu kawasan hijau. Tapi caranya memang perlu dibuat transparan juga. Jangan ada paksaan kepada masyarakat. Aspek kesejahteraan ekonomi masyarakat juga harus menjadi tujuan, supaya jangan sampai swasembada pangan berjalan atas 'subsidi dari orang desa' bagi orang kota.
Kalau memang sekarang tanamannya adalah "jagung, kedelai dan kacang" ya oke. Tapi harus ada insentif, apalagi kalau ada budidaya tanaman lain, bahkan peruntukan lahan lain ternyata lebih menguntungkan. Pencanangan sebagai lahan pertanian abadi (?) Entah apa lah yang abadi kecuali 'perubahan'. Tapi setahu saya ketiga komoditas itu tidak disebut hortikultura ya. Perlu dipikirkan juga pola "urban horticulture" atau pertanian di kawasan yang relatif sudah terbangun, terutama dengan tanaman yang nilai jualnya lebih tinggi a.l. tanaman hobi, di luar komoditi pangan. Bagaimanapun upaya ini layak mendapat perhatian. Ini bisa jadi masukan bagi planolog untuk mengisi (pemanfaatan) ruang, beyond merencana. Kota Depok juga sempat mempromosikan diri sebagai "kota belimbing", bagaimana kabarnya? Salam, Risfan Munir --- In [email protected], "Benedictus Dwiagus S." <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau kata Bang Doel ini,.. pemkab sudah menyediakan lahan abadi 35-40ribu > hektar di 36 kecamatan, untuk hortikultura,.. > > saya takjub sekaligus bertanya2, itu jadi asset Pemkab atau cuman > memetakannya saja di rencana tata ruang,... dan menyuruh orang mengurbankan > lahannya untuk hortikultura,.. > > > > > RANO KARNO HARAPKAN TANGERANG TERMASUK DAERAH HOLTIKULTURA > > Tangerang, 2/9 (ANTARA) - Wakil Bupati Tangerang Rano Karno mengharapkan > Kabupaten Tangerang menjadi bagian pada program nasional untuk daerah > holtikultura bidang pertanian. > > "Kami mendesak pemerintah pusat menunjuk Kabupaten Tangerang menjadi daerah > penyedia lahan abadi untuk pertanian," kata Rano Karno di Tangerang, Selasa. > >

