Selamat
jumpa lagi,


Mas
Aby yang baik dan rekan-rekan milister semuanya terima kasih banyak atas respon
dan pembelajaran yang banyak dilontarkan. Mudah-mudahan dengan gaya bahasa saya
yang agak apa adanya ini bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya kasihi Gak Pecah 
Endase..he...he..he....  



>>>:
Pemukiman ilegal adalah ilegal….melawan hukum…. Kita ingin hukum juga
menghargai planologi.. maka planologi juga harus hargai hukum….. 

Pada kota-kota yang  ada…..
 planologi harus dapat mendata mana-mana lahan kota (utamanya milik
pemerintah) yang dapat dipakai untuk menampung luapan arus urbanisasi……  atau
mana-mana lahan milik masyarakat yang sekiranya dapat dibeli oleh pemerintah
(dengan harga wajar) untuk ditata ulang (bersama LSM barangkali) dan dijual
kembali dengan harga pokok kepada the low income….. sesuatu yang tak mungkin
diserahkan pada developer swasta….. 


 Wualahhhhh ....uuuenaake... rek
mendengar ungkapan di atas. Kalau saja semua planner dan arsitek punya
pemikiran, jiwa dan hati seperti yang diungkapkan seperti mas Aby di atas bisa
dipastikan bahwa kwalitas lingkungan kota dan kawasan yang ada di Indonesia  
akan mempunyai cirikhas yang spesial dan lebih
manusiawi karena berpihak pada masyarakat bawah yang prosentasenya di Indonesia
masih sangat tebal. Mudah-mudahan para planner dan arsitek dalam mempraktekan
profesinya tidak hanya berpihak pada mereka yang memiliki modal yang biasanya
juga bisa ngatur  pemerintah daerah.


Singkat kata  rekan Bawole yang baik…… seharusnya kita  malah
bersyukur… dan janganlah malah salahkan Howard, Burges, Chiristaller, Corbu
dsb…..  karena  pemikiran mereka
adalah universal dan inspiratif bagi kita….


Mas Aby, saya sangat bersyukur membaca dan belajar dari
empu-empu planner seperti Lynch, Corbu, dll. karena dari pemikiran merekalah 
banyak
inspirasi – inspirasi muncul dalam melakukan proses perencanaan maupun
perancangan arsitektur. Hanya saja setelah melihat langsung hasil perencanaan
yang mereka buat di Negara dan benua mereka, semakin paham kita bahwa teori
yang mereka ungkapkan sangat sesuai dengan segala keadaan yang ada pada Negara 
dan
benua mereka.  Setelah membandingkan
dengan keberadaan kita dan kearifan-kearifan lokal yang ada pada masyarakat
kita, maka ketamakan-ketamakan kita dalam merencanakan kota dan merancang 
bangunan  yang secara langsung menerapkan semua teori
para empu di atas semakin menelanjangi kebodohan diri kita sendiri. Kebanyakan
diri kita melihat dan menilai pemukiman kumuh adalah sampah atau borok dari 
kota yang harus
dihilangkan dan diganti dengan desain-desain yang “INDAH”, padahal mereka sudah
sampai dua atau tiga generasi tinggal di kawasan tersebut. Hanya mau 
mengimplementasikan
konsep Urban Renewal yang “INDAH”, lagi-lagi masyarakat kecil terdepak dari
tempatmereka mencari hidup. 


Mas Aby yang baik dan rekan-rekan semua, keadaan ini bukan
hanya terjadi di kota-kota, melainkan terjadi juga di kawasan luar Jawa seperti
di kampong –kampung yang masih belum terjangkau dengan perkembangan
infrastruktur. Hak Ulayat masyarakat asli yang mengelola hutan-hutan asli di
wilayah Papua dan Kalimantan atau dipulau-pulau lain, dengan mudah terlindas
karena HPH dikuasai oleh departemen kehutanan yang kemudian dikontrakkan oleh
perusahaan swasta asing  untuk
dieksploitasi hasil hutannya. Kita sebagai planner yang berusaha membuat
Perencanaan Wilayah Nasional sampai pada Wilayah RT/RW, bisakah kita
mempertahankan idealisme kita untuk membantu masyarakat  Indonesia ? Kalau 
siempunya modal
sudah mulai unjuk gigi dengan segala keinginnannya, apalah dayaku….he…he..he….la
wong awake dewe iki yo isih butuh pakan je….. Mudah-mudahan dari sisa-sisa
idealisme dan nasionalisme yang ada pada kita, segala teori yang dijabarkan
oleh empu-empu perencana dan perancang arsitektur dapat kita implementasikan
sesuai dengan karakter social – budaya masyarakat setempat dan kondisi existing
yang menjadi cirikhas kota-kota dan wilayah Indonesia tercinta. 


Tak mungkinlah kita
akan dapatkan semua itu dari Gajahmada, Ken Arok, Adipati Unus atau Adipati
Belambangan …. 


Mas Aby, banyak hal yang kita bias teladani dari nenek
moyang kita  seperti mbah Gajah Mada, Ken
Arok, dll. tentang mengimplementasikan perencanaan dan perancangan arsitektur
sing ambune, rosone, penthelengeane, karo krungu slenthingane sing khas banget 
sesuai
karo karakter masing-masing wilayah nang Indonesia.

Sekali lagi terima kasih atas segala proses pembelajaran
yang sudah mas Aby, mas Djarot sing ngangeni (kapan mas mampir nang Klitren?) 
dan
juga semnua rekan-rekan planner di dalam maillist ini. 

 

Salam hangat,

Bawole

 




_,_._,_
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke