Rekan milis,

Soal Jakarta lagi nih. Bukanberarti menyingkirkan kota-kota tandingan di
luar jawa. Tapi barangkali Ini biar jadi 'pembelajaran' buat kota-kota
lain,. 

 


"Bungker" ala Warga Bantaran Kali

  <http://www.kompas.com/data/photo/2008/11/04/150513p.jpg> 

 <http://www.kompas.com/data/photo/2008/11/04/150513p.jpg>
<http://www.kompas.com/data/photo/2008/11/04/150610p.jpg>
<http://www.kompas.com/data/photo/2008/11/04/150703p.jpg>
<http://www.kompas.com/data/photo/2008/11/04/150800p.jpg> 

 
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/04/1508322/Bungker.ala.Warga.Bantara
n.Kali> KOMPAS.COM/INGGRIED DWI WEDHASWARY

Rak-rak yang dibuat warga Kampung Pulo di lantai dua rumah mereka, sebagai
tempat menyelamatkan barang saat banjir datang. 

 
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/04/1508322/Bungker.ala.Warga.Bantara
n.Kali> /

Artikel Terkait: 

*       Tahun
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/04/14264270/tahun.ini.posko.banjir.k
ampung.melayu.dipindah>  ini, Posko Banjir Kampung Melayu Dipindah
*       Banjir,
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/04/13200263/banjir.orang.tua.diungsi
kan.>  Orang Tua Diungsikan 
*       Nenek
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/04/07194783/nenek.tewas.kedinginan.t
erjebak.banjir>  Tewas Kedinginan Terjebak Banjir
*       Warga
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/04/00524880/warga.jakarta.diminta.wa
spadai.hujan.deras.di.bogor>  Jakarta Diminta Waspadai Hujan Deras di Bogor
*       Akibat
<http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/03/19382424/akibat.kiriman.banjir.ja
karta.masih.sporadis>  Kiriman, Banjir Jakarta Masih Sporadis

Selasa, 4 November 2008 | 15:08 WIB

Di Jakarta, rumah berlantai dua sudah biasa. Terbatasnya luas lahan, membuat
warga harus membuat rumahnya "tumbuh" ke atas. Tapi, bagi warga yang tinggal
di bantaran kali, lantai dua rumahnya mempunyai fungsi berbeda. Tak sekadar
menambah luas bangunan, namun menjadi "bungker" penyelamat saat banjir
datang. 

Yuk, kita lihat seperti apa "bungker" ala para warga bantaran kali...

Memasuki kawasan Kampung Pulo, apalagi sampai ke dalamnya, kita akan
menjumpai kawasan pemukiman padat. Semakin ke dalam, jalan yang dilalui
semakin menjadi jalan senggol alias sempit. Kawasan ini, terletak langsung
di bantaran Kali Ciliwung. 

Musim hujan seperti saat ini, para warga di sana mulai repot. Mengungsikan
barang dan orang tua yang tinggal bersama mereka. Rumah di sana, hampir tak
ada yang tak memiliki dua lantai. Lantai dua, selalu dijadikan tempat
mengungsikan barang-barang berharga agar tak terendam banjir. 

Endah, warga RT 14 RW 03 Kampung Pulo Dalam bercerita, lantai dua rumahnya
sudah berusia puluhan tahun. Kata Endah, rumah yang ditempatinya saat ini
adalah warisan orang tua. Saking tuanya rumah itu, ia pun tak tahu berapa
umur "bungker" lantai atas rumahnya itu.

"Sejak dibangun, kayanya rumah-rumah di sini udah bikin lantai dua. Kalo
enggak ada, mau ke mana kalau banjir?," kata Endah, Selasa (4/11).

Menilik lantai dua rumah Endah, memang tak terlalu luas. Terdapat hamparan
kasur, alat-alat elektronik dan beberapa rak yang menjulang keatas. Rak-rak
tersebut dijadikan tempat mengamankan barang dagangannya (Endah membuka
warung kecil di rumahnya), surat-surat berharga dan buku-buku kedua anaknya.

"Istilahnya gini, lagi musim panas di bawah, musim hujan di atas,
hahaha...," kisah Endah tentang posisi barang-barang yang ada di rumahnya.
Tinggi lantai dua bangunan itu hanya tujuh anak tangga yang terbuat dari
kayu. 

Endah sendiri merasa "tersiksa" saat hujan dan banjir datang. "Kalau di atas
dingin banget. Enaknya bisa langsung liat sungai, jadi tau perkembangan
air," ujarnya. 

Lokasi rumah Endah, langsung berhadapan dengan sungai, tanpa dihalangi rumah
di depannya. Beberapa tahun lalu, rumah di depan rumah Endah hanyut terbawa
banjir.

"Bungker" Bikin Betah

Lain Endah, lain lagi cerita Nining. Rumahnya, hanya berjarak sekitar 3
meter dari bibir kali. Nining sudah 10 tahun menghuni rumah kontrakannya di
RT 11 RW 10 Poncol, Kelurahan Bukit Duri, Jakarta Selatan. Ia mengaku, betah
tinggal di kontrakan tersebut justru karena lantai dua rumah itu.

"Enggak tahu, enak aja. Kalau enggak banjir saya sukanya tidur di sini.
Walaupun dingin. Tapi suara sungainya itu, malah saya suka dengernya. Cuma,
kalau musim hujan memang jadi berantakan, buat tempat ngungsiin kulkas, TV,
jadi penuh, berantakan kaya gini," kata Nining menunjukkan barang-barang
yang telah dipindahkannya dari lantai satu ke lantai dua.

Satu hal yang dikhawatirkan Nining. Kayu-kayu yang menopang lantai dua
rumahnya akan lapuk karena sering terendam air. "Sampai sekarang sih enggak
apa-apa, tapi udah 10 tahun enggak pernah diganti takut tiba-tiba rapuh
aja," ujar dia. 

Bagi warga bantaran kali, lantai dua rumah juga menjadi patokan apakah
banjir yang datang dalam skala besar atau kecil. Mereka mengaku, jika air
belum menyentuh lantai dua rumahnya, maka banjir yang datang masih
biasa-biasa saja. Keputusan mengungsi baru mereka ambil, setelah banjir
merendam hingga sebetis orang dewasa jika berada di lantai dua. Bisa
membayangkan, berapa ketinggian airnya?


Inggried Dwi Wedhaswary 

 

Kirim email ke