Re: Dari “Pembangunan Kota Berkelanjutan*)” (2)
 
*) Topik diskusi diselenggarakan oleh  Executive Forum Media Indonesia (EFMI),  
pada Kamis 27 Nopember 2008
 
Walau kota menyangkut demikian banyak  aspek  tak hanya design fisik, budaya, 
ekologi… namun juga sosial, ekonomi, kewiraswastaan, kesempatan kerja, migrasi, 
urbanisasi, industri, sistem distribusi…. dsb….. namun karena  dipilih dan 
dimunculkan topik tsb. diatas oleh moderator…. Sambil barangkali juga krn 
faktor otoritas pihak sponsor lebih akrab dgn masalah arsitektur lebih daripada 
planning….  Dan seperti tak penting apakah moderator Fifi Aleyda cukup pahami 
masalah atau tidak….  Jadilah diskusi mengalir berbelok-belok seputar topik 
terbatas tsb……
 
Sebenarnya pak Danis sendiri dlm awal pengantarnya … ngaku sempat terkejut dgn 
format diskusi.. katanya semula ngira hanya diundang utk peserta debat…. 
Sehingga tak siapkan makalah khusus… maka lalu ketika ngeh bahwa format diskusi 
adalah beliau hrs duduk jadi narasumber tunggal… maka lalu keluarkan satu dari 
koleksi makalahnya  tsb diatas (katanya sekedar utk “pemanasan” diskusi )…….. 
yg dipertimbangkan sekiranya masih cocok dgn tema  diskusi…. Tapi akhirnya Fifi 
Aleyda tetapkan topik itu sebagai  acuan utama diskusi….. jadi  apa boleh 
buat…..
 
Wajar bhw arsitek (kebalikan dari sosiolog) akan lebih senang  keluarkan gambar 
lebih daripada teks…. Dan akan lebih banyak bicara tentang case pada sebuah 
kota lebih daripada strategy of national urban development planning…. Atau juga 
more than  for instance a countermagnet city as for means for distributing 
migration flow dan decentralizing  major favoritism of urbanization flow to 
national job creation centers in national primate megapolitant city…….. 
Hingga keluarlah diantaranya potret  ttg  (apalagi kalau bukan)  Jkt… ttg kisah 
“urutan tingkah laku manusia terhadap trotoar” .. spt pertama sesudah trotoar  
jl. Thamrin diperlebar dan dibangun banyak bak tempat bunga dan pohon…. 
Kemudian bgmn warga kota  mulai bisa duduk sekedar menikmati kerindangannya…. 
lalu tak lama muncul pagar besi yg tak bersahabat… lalu kesempatan duduk 
dibibir bak tanaman buyar….semuanya serba potret ttg seputar “budaya aneka 
tingkah manusia pada sebuah kota primat”…..
 
Tentu saja sebagian panelis terpancing tanggapi paparan tsb….  lalu malah 
muncul a.l. adu argumen sesama panelis ttg “tingkah laku kampungan”  dan “tak 
kampungan” baik antara rakyat maupun penguasa kota…. Ukuran ttg ‘kebahagiaan 
warga kota’…. Dsb…
Lalu diskusi a.l. geser ke“ruang terbuka hijau DKI”… dasar  yg bicara adalah ka 
dinas pertamanan mewakili gub DKI….  yg diberi keleluasaan pembahasannya juga 
oleh  mbak Fifi … 
Sampai akhirnya giliran pak Iman Sudrajat… beliau  berkomentar ttg rute unik 
dari diskusi yg menyusur topik (bak rute safari?) dari semula “paparan dan 
arahan pokok oleh menPU diwakili dirjen PR…. Lalu belok sebentar ke  masalah 
“busway dan Bogota” … ada juga anggota DPR Azwar Anas bicara…  lalu “perdebatan 
ttg tingkah laku kampungan or not dikota”… lalu masalah RTH…… lalu akhirnya 
habislah waktu  utk diskusikan masalah  seputar  Jakarta sentrisme itu…... 
Akhirnya forum tak berdaya bahkan utk sekedar menyentuh sedikit  saja masalah  
strategi kelola arus urbanisasi secara nasional…. strategi distribusi city size 
secara nasional bagi distribusi arus urbanisasi nasional serta job creation… 
strategi distribusi pusat2 industri memimpin dalam rangka “pemerataan kemajuan 
antar wilayah”…. agar perkembangan kota serta konsentrasi2 kepadatan penduduk 
perkotaan lebih tersebar keseluruh wilayah tanah air …. dsb. dst….
 
Bagi moderator Fifi Aleyda Yahya mungkin itu tak penting…. Karena bukankah 
forum  diskusi akhirnya tak lebih dari sekedar sebuah rutinitas tugasnya hari2 
pimpin acara talkshow komersial didukung iklan bagi industri media yang tiap 
hari boleh berganti topik apa saja… asalkan yang hangat gitu?........
Entahlah apakah bagi tuan rumah Toeti Aditama masalahnya juga sekedar dipandang 
begitu juga.... 
Kalau ya…. maka perlu satu upaya keras utk yakinkan Toeti dan banyak bos media 
lainnya….. bahwa media  tanpa harus di-iming2 sponsorship  gitu perlu punya 
tanggungjawab dan kebutuhan sosial  utk tampilkan lebih banyak masalah 
pembangunan  sistem kota secara nasional sebagai issue strategis pembangunan 
nasional……. mengingat kini  proporsi penduduk perkotaan kita telah capai 50%... 
dan sedang merangkak pasti  menuju angka 80%...... Sementara itu angka 
pengangguran adalah 40% dari total 100 juta tenaga kerja potensial kita dari 
total 235 juta penduduk nasional ….... 
Walau simiskin tahu kebutuhan tentang trotoar dan RTH….. tapi kebutuhan 
mendesak mereka hari itu adalah sembako untuk anak istri dulu…. Lalu mungkin 
pendidikan (yg faktanya) berbayar untuk anak2 … lalu setelah mereka kenyang dan 
pandai baca tulis serta mengerti adab….barulah mereka nanti  berpikir tentang 
trotoar atau hutan mangrove....…..  
 
Sekian dulu dan salam,
aby
 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke