Milisters ysh,
 
Belum lama saya dpt email dari seorang sahabat….. menanggapi posting saya 
“Polisi Petakan Kawasan Rawan Preman” per  29-12-08….. menyangkut paragraf saya 
:
 
“……..Benarkah dikawasan ‘maju’ cukup dilakukan ‘pengendalian’ secara
pro-pasif atas praktek  implementasi penataan ruang oleh industri  keruangan
komersial yang spatially dan  technically sudah sesuai prinsip design ruang
tetapi  sociologically abaikan atau arogan pada  simiskin  …. lalu tak
diperlukan tindakan ‘intervensi proaktif’ seperti dengan "kreativitas
tanpa henti"  pihak pemerintah utk adakan “urban space for the poor”
walau sangat minimalis dan  simbolik sekalipun?…..
Ataukah "pembiaran" itu sendiri sebenarnya adalah bentuk perwujudan
sikap sementara pihak pemerintah dibidang keruangan yg memang tak peduli atau 
no idea tentang penanggulangan kemiskinan, job creation dan masalah pembangunan 
ekonomi pada umumnya?....... karena pemahaman bahwa wilayah 
kompetensinya "hanyalah wilayah  perencanaan fisik keruangan
semata"..... dan bukan yang lainnya?.......  “.   
 
Kata teman  itu…….
Paragraf saya diatas  mengingatkannya pada satu pertemuan di PL-ITB pada suatu 
tahun/bln/tgl….. yg mempertanyakan proses dan produk revisi RUUPR yg sedang 
berlangsung di DPRRI….  
Disitu seorang alumnus senior katanya berseru : 
 "…..bukankah kita belajar di planologi itb ini diajarkan tentang physical 
planning?.... karena itu untuk urusan2 sosial and the whole all goddam things 
itu buat apa ada Menko Kesra?...buat apa ada Dep.Sos ? Sooo....apa yang salah 
kalau dalam menyusun UUPR itu kita hanya memikirkan urusan fisik saja?........"


 Teman  saya ini ngaku sedih.... karena katanya yg ngomong itu adalah seniornya 
(walah..  azas senioritas di PL kenceng betul  rupanya….. mirip seperti azas 
budaya jawa aja…. Yg lahir belakangan harus hormat dan ngalah terus pada yg 
lahir duluan… walau yg duluan lahir tak tahu diri sekalipun…. alias yg lahir 
duluan boleh seenak pusernya sok kuasa pada yg lahirnya belakangan …. Padahal 
senioritas dan yunioritas khan tak ada korelasinya dengan wisdom khan ya?.... 
yg tua tak  tahu diri juga banyak… yg muda tapi temuwo/ matang dan bersikap 
dewasa juga banyak)…….
 
Teman saya ini lanjut lagi…. katanya :
Ia ingat.. dulu PU punya kegiatan namanya “Proyek Sosial Pengembangan Area & 
Kota”…. bantuan dari UNICEF, yang sangat diappresiate oleh berbagai Departemen 
dan Pemerintah Daerah yang dilibatkan dalam kegiatan Training nya.
Beberapa ex peserta selalu ingat manfaat training tsb yang merupakan 
pembelajaran yang sangat berharga sampai mereka bisa mencapai jabatan sebagai 
Bupati, Walikota, malah ada yg lebih tinggi lagi dari itu katanya……
 
Program Unicef  itu oleh sementara pihak dianggap tak bergengsi…. katanya mosok 
PU kok ngurusin hal-hal terkait dengan segala pendidikan lah, pertanian lah, 
kesehatan lah, kesejahteraan keluarga lah........ PU itu kan pantesnya ngurusin 
urusan besar2 terkait membangun jalan, mbangun jembatan, mbangun gedung, 
mbangun TPA…….
Ngapain katanya DJCK dengan DTKTD (nama cikal bakalnya Ditjen Taru jadoel yang 
ada di DJ. Cipta Karya) itu ngurusin segala tetek bengek dengan sebutan 'small 
is beutiful' segala.... ga ada grip nya ! Sudahlah ga usah lah dikerjakan di 
DTKTD lagi. 
Maka pindahlah sang UNICEF ke Depdagri.... dan denger2 hasilnya tidak sesukses 
spt waktu di PU…… karena memang di PU-lah dicoba diintegrasikan "the whole 
goddam things” itu dengan physical planning…….
 
Yah… komentar saya sih singkat saja…….
Utk urusan sosial menyangkut aspek financenya…. Tentu diperlukan ahli keuangan, 
akuntansi, ekonomi…. Utk urusan sosial menyangkut aspek humanismenya…. 
diperlukan  rohaniwan, psikolog, sosiolog…… urusan sosial menyangkut aspek 
medisnya diperlukan ahli kesehatan…..  urusan sosial menyangkut aspek 
logistiknya diperlukan ahli transportasi….. menyangkut masalah keamanan tak 
cukup diperlukan hansip…. Tapi juga polri dan tentara….. sehingga untuk urusan 
fisikel plening dari masalah sosial…. Saya pikir ya tentu planolog lah punya 
kompetensi….. lalu untuk urusan estetiknya fisikel plening tentu diperlukan 
arsitek… dan utk urusan strength of construction atau pertimbangan geologiknya 
tentu perlu dilibatkan tukang insinur sipil, geolog dsb…..
 
Kalau semata  PU urusannya hanya mau  fisik saja…… saya pikir sih amat sangat 
boleh saja…kenapa tidak…. Hanya saja caranya  biar yg terbuka….… setidaknya 
pertama katakan ke presiden…. PU tuh maunya hanya fisik saja…. Sekali lagi 
hanya mau fisik saja….. nggak mau lainnya… dan saya kira itu juga mudah saja 
bagi presiden….. jadi agar jelas bahwa para menteri lain juga agar baik2 
berurusan dengan PU….. 
jadi kalau mau bikin jalan misalnya……. Saya kira menteri keuangan tinggal 
nanya…. Butuhnya batu kali berapa…aspal berapa.. mesin giling berapa… nanti 
menteri  keuangan bisa nunjuk bagian pembelanjaan…. Lalu ngirim materialnya ke 
PU atau langsung ke lokasi juga boleh……. Lha nanti tinggal PU yang kerjakan……. 
Dengan itu mungkin PU juga tidak perlu segala planner.. dan urusan begituan 
saya kira cukup diserahkan pada  insinyur sipil plus arsitek saja……
 
Kalau semua departemen berpikirnya kelewat amat mono sektoral begini.. saya 
pikir dagang kacamata kuda bisa laku juga ’kali ya?........
 
Salam,
aby
 
 


      

Kirim email ke