Saya setuju Mas risfan, desentralisasi merupakan peluang bagi daerah untuk berkiprah dan telah banyak "good practice" yang membawa kesejahteraan warganya. Memang kurang bijak kalau kita menyalahkan pemerintah pusat yang katanya terlalu memperhatikan jakarta, padahal saat ini jakarta sudah tidak memperoleh DAU, dan banyak dana yang sudah ditransfer ke daerah....mungkin mas BTS bisa lebih menjelaskan.. Jakarta memang sudah besar dan semua media meliput apa saja yang terjadi di jakarta, seolah-olah Indonesia adalah jakarta. Tapi UU penyiaran dengan bagusnya meminta tidak ada media elektronik yang meliput secara nasional jika mereka tidak punya stasiun di daerah....akhirnya semua radio dan tv harus meliput daerah, bukan hanya jakarta. Namun patut disayangkan berita daerah masih didominasi dengan perkara kriminal, kerusuhan, bencana maupun politik. Anggota DPR sekarang sebenarnya sudah didominasi oleh orang daerah, tetapi masih banyak yang tidak mengenal daerahnya. Juga rekrutment oleh partai politik belum memilih kader terbaiknya sehingga kita tidak melihat perbaikan sidang-sidang DPR maupun DPRD. Yang lebih menyedihkan rekrutmen PNS di daerah, ternyata bukan putra terbaiknya yang dipilih, tapi masih kental dengan nepotisme. Meskipun beberapa daerah memperlihatkan adanya performance yang bagus karena staf pilihan terutama di Bappeda, masih banyak dijumpai buruknya perencanaan yang ada. Seperti yang dikemukakan oleh beberapa teman......daerah tentu mampu melakukan yang terbaik, justru para planner harus mulai belajar dari mereka.. Salam Aunur Rofiq
----- Original Message ---- From: risfano <[email protected]> To: [email protected] Sent: Sunday, December 21, 2008 11:07:28 AM Subject: [referensi] Re: Ibukota RI *Tetap* Jakarta Rekans ysh, Kalau membaca tanggapan dari milis "jurnalisme" di bawah. Kelihatannya ada kerancuan antara "Jakarta" dan "pemerintah nasional/pusat". Mengenai desentralisasi pemerintahan, sudah tinggal 5 urusan yang sepenuhnya jadi kewenangan nasional. Selebihnya jadi urusan daerah provinsi dan kabupaten/kota. Ini hanya soal waktu karena daerah secara teknis belum siap, konsentrasi orang pinter masih di departemen, karena rekruitmen sebelum otonomi daerah. Kedua, menyangkut dana/fiskal. Bagi hasil daerah penghasil eksploitasi SDA sekarang kan cukup besar. Yang selebihnya menjadi "pendapatan pemerintah (nasional)", jadi bukan Jakarta. Nasional, artinya ya untuk seluruh daerah. Memang bagi daerah penghasil bisa kurang puas, tapi jangan lupa mereka punya saudara stanah air di NTT, NTB, Maluku, Sultara dst, yang minus. Departemen Keuangan sudah menyatakan bahwa total dana transfer ke daerah (DAU, DAK dan lainnya) mulai th 2009 sudah lebih besar dari total dana ke departemen (sektor). Sekali lagi mesti dibedakan antara Jakarta (& Bodetabek) dengan nasional. Supaya jelas, kalau kritis iu kepada siapa. Kepada pemerintah pusat? Kira-kira pengambil kebijakan nya siapa? Kalau Pemda DKI dan Bodetabek, ya tidak salah toh kalau mengurusi pelayanan bagi warganya. Maunya Pemda DKI hanya ngurusi warga yang ber-KTP saja (yang lain diusir, huniannya dibongkar, dst) tapi tak bisa kan, nyatanya urbanisan datang terus. Intinya perspektinya mesti dikembangkan, bagaimana mengembangkan daerah, bukan menyederhanakan persoalan. Saat ini kebanyakan masyarakat pencari kerja juga lebih suka ke luar negeri kok. Bagaimana mengembangkan SDA, SDM daerah sesuai potensi masing- masing. Sudah banyak inovasi dilakukan oleh erbagai daerah. Tapi, dari pengamatan saya memang milist 'referensi' ini masih didominasi wacana tahun 1970-80an, counter-magnet, pindahkan ibukota, dst. Menurut penelitian SMERU, sebetulnya rasa ketidak-puasan akan ketimpangan antar daerah itu sebagian besar adalah masalah "persepsi". Karena nyatanya kalau dilihat per-kapita, pendapatan maupun alokasi anggaran pemerintah beda antar daerah tidaklah mencolok. Dalam hal ini Cak Andri betul, persepsi ini antara lain dipicu tontonan TV yang seolah menunjukkan kemewahan ibu kota. Banyak teman se daerah saya setengah tidak percaya kalau banyak gubuk dan perkampungan padat di Jakarta. Dikiranya rumah orang Jakrta bagus- bagus seperti di sinetron semua. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], "Mohammad Andri Budiman" <mand...@...> wrote: > > Rekan-rekan ysh., > > Berikut tanggapan beberapa rekan di milis jurnalisme (baru dua sampai saat > ini karena saya baru mengirim artikel "Ibukota RI *Tetap* Jakarta" atau > "Kami, Jakarta" siang ini, sementara milis itu dimoderasi). > Saya tidak tahu apakah kita tetap hendak berkutat di tataran teori saja, > membenarkan "wong semua sudah sesuai peraturan si anu", dan tetap merasa > lebih benar sebagai perencana, sementara kenyataan di stakeholders yang > paling terpengaruh (masyarakat) sudah berubah. Melalui televisi, majalah, > dan Internet, masyarakat Indonesia non-Jakarta sudah bisa membandingkan > sendiri kemajuan di Jakarta dengan daerahnya. > > Akankah kita tetap bersemedi di puncak gunung bak si tua berjanggut putih, > sang know-it-all nan bijaksana, dan bersikukuh tidak (mau) berbuat sesuatu? > > Salam, > Andri > > > Re: [jurnalisme] Kami, Jakarta > > Itulah Mas Andri, kenapa saya setuju wacana pemindahan ibukota negara dari > Jakarta ke tempat lain. Sayangnya wacana ini masih kuncup, belum mekar. > Memang > akan banyak biaya dan tenaga yang akan dikeluarkan. Namun untuk jangka > panjang > akan sangat membantu mengatasi ketimpangan pembangunan dan mengurangi > kemacetan > Jakarta yang kian menggila. > Saya sendiri sungguh mau pindah dan menetap di luar Jakarta. Tapi buat saya > Jakarta masih menjadi gula, yang sulit sekali saya temukan gantinya di > daerah. > Dulu pernah ada wacana federalisme, yang disuarakan oleh Amien Rais. Saya > juga > setuju itu. Sayangnya kita masih terikat dengan konstitusi yang dikeramatkan > itu. Malah ada pihak yang mencap bahwa pendukung wacana itu sebagai > penghianat > terhadap NKRI, sesuatu yang menurut saya tak ada hubungannya. > > Re: [jurnalisme] Kami, Jakarta > > sedikit menyebalkan ya... > sebenarnya di bilang sirik sih enggak juga.... > tapi kesal pastinya.... > > habisnya... saya berasal dari riau yang bisa di bilang penghasil beberapa > jenis > minyak (minyak bumi dan sawit).... > > tapi pembangunan kurang terasa.... kadang - kadang saya suka berfikir.. > gimana > ya kalo kekayaan alam di suatu daerah 80%nya untuk mereka... baru sisanya > untuk > jakarta... > tapi kalo di pikir2 juga emangnya apa sih sumbangan daerah jakarta sendiri > untuk > Indonesia??? > > > > 2008/12/19 risfano <risf...@...> > > > Mbak Nita dan temans ysh, > > > > Bener nih kalau diminta pindah ke Deltamas "berontak"? Bagaimana > > kalau diberi rumah dinas yang nanti bisa ditebus nyicil tanpa bunga > > tanpa DP. Lalu biaya pindah sekolah anak (yang kualitasnya lebih > > baik) ditanggung, juga biaya-biaya terkait kepindahan tersebut. Lalu > > di kompleks tersebut dilengkapi fasilitas kesehatan lebih baik, > > murah, dekat dari tempat tinggal sekarang. Juga fasilitas belanja > > dan lainnya. Tapi tak mungkin kan Pemda menyediakannya. > > > > Intinya. Biasanya eksternalities nya kok warga atau karyawan sendiri > > yang nanggung biayanya. Enak yang pegang proyek pembangunanan ibu > > kota baru nya. > > > > Tapi, diskusi teman-teman itu sebetulnya apakah: (1) Bagaimana agar > > penghuni ibu kota lebih nyaman dengan kota tidak diserbu pendatang? > > Atau, (2) pemerataan pembangunan regional? Kalau yang kedua ini > > sasarannya, saya kira nambah satu ibu kota tidak akan significant. > > Sekarang saja ada Medan, Surabaya, Makassar, berarti nanti nambah > > satu lagi saja. Mungkin perlu 30 ibu kota. Tapi mungkin bukan ibu > > kotanya yang perlu tetapi kekuasaan pemerintah pusatnya yang perlu > > disebar ke gubernur-gubernur. Tapi sudah juga itu kekuasaan disebar, > > tapi kok ya belum ngaruh ya. > > > > Menurut saya, sebagai forum keplanologian, sebaiknya "referensi" > > mengulas pertimbangan faktor-faktor lokasi dan rekayasanya untuk > > mengurangi 'beban' ibu kota atau kesulitan penyebaran regional. Dari > > pada olok-olok, atau mencari kesalahan "tulis" (redaksional, > > pengertian) di antara milisters, terus itu yang diperdebatkan, terus > > nyimpang substansinya. > > > > Semua sarjana mesti memperjuangkan "pengentasan kemiskinan", > > atasi "keterbelakangan". Bukan planner saja, bukan kita-kita saja. > > Di dunia ini ada Ruwanda, Pantai Gading, Somalia, ada Nepal, tapi > > juga ada Jepang, ada China. Ada desa kecil di hulu Kapuas, di Lembah > > Baliem, di Larantuka, ada Bandung ada Jakarta. Itu memang ciptaan > > Tuhan. Di semua kitab suci juga selalu disebut ada kaya miskin. Jadi > > bukan kesalahan pemimpin terpilih, bukan kesalahan gubernur manapun, > > bukan kesalahan pemilih atau siapapun. > > > > Para insinyur ini mungkin sudah waktunya banyak belajar tentang ilmu > > sosial politik. Pada birokrat belajar ilmunya advokasi LSM. Cross- > > cultivation, supaya balance. Sehingga, tidak terlalu menyederhanakan > > masalah memindahkan kota seperti melingkari peta. Tidak berkhayal > > menguliahi seluruh politikus, ekonom, artis untuk pindah ibu kota. > > Ingat, seluruh agama di dunia berabad-abad menganjurkan manusia di > > bumi untuk ke sorga, menjauhi neraka. Toh ya gitu-gitu saja > > hasilnya..... > > > > Jadi bekerja saja lah semampunya. Kok repot.... > > > > Salam, > > > > > > --- In [email protected] <referensi%40yahoogroups.com>, arinynta > > <arinynta@> wrote: > > > > > > untuk tinggal dimana, itu terserah, suka2 setiap orang... tidak > > bisa dipaksa dong. kecuali orang itu diberi "iming2" bahwa di tempat > > yg baru, dia akan hidup dgn lebih layak, lebih sejahtera, lebih > > berkualitas, lebih sesuai dengan gaya hidupnya, pokoknya yg serba > > lebih... dari yg dia terima saat ini. > > > > > > bagaimana agar itu bisa terjadi, sediakan semua yang mereka akan > > (harus) bisa dapatkan sejak awal. dan siapa yg harus menyediakan, > > tidak harus pemerintah. sekarang sudah jamannya P3 alias public > > private partnership. > > > > > > tapi jg hrs diingat, banyak pengalaman, memindahkan ibukota > > kabupaten saja, setengah mati repotnya. kenapa demikian, karena > > dilakukan setengah2. > > > coba saja lihat Deltamas yang sudah dijadikan pusat pemerintahan > > kab Bekasi. sudah ramaikah sekarang? apakah rumah2nya dihuni oleh > > para PNS dari kantor-2 pem tersebut? apakah ada aktivitas lain yang > > membuat profesional non PNS mau datang dan tinggal di sana? jawabnya > > belum. > > > > > > jujur saja, kalau saya "dipaksa" pindah ke Deltamas sekarang, saya > > akan berontak... > > > > > > salam > > > nita > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > ________________________________ > > > From: Benedictus Dwiagus S. <bdwiagus@> > > > To: [email protected] <referensi%40yahoogroups.com> > > > Sent: Friday, December 19, 2008 12:11:50 > > > Subject: RE: [referensi] Ibukota RI *Tetap* Jakarta > > > > > > > > > Bung Andri,.. > > > Kalau mau sih, salah satu dari kota di luar jawa « mengkudeta » > > > jakarta,…. > > > Dan mengambil alih status ibukota nasional,…. Melalui jalur- > > jalur politk > > > dan kekuasaan perwakilan daerah,.. > > > Itu kalau memang dari daerah luar jakarta memang berminat untuk > > jadi > > > Ibukota loh,…. > > > Jangan-jangan mereka gak berminat juga menjadikan kota > > kesayangannya > > > menjadi Ibukota,… > > > > > > Bagaimana,…. Ajak daerah untuk revolusi? > > > hehehehhe > > > > > > Best Regards, > > > > > > Benedictus Dwiagus S. > > > http://bdwiagus. blogspot. com > > > http://bdwiagus. multiply. com > > > > > > "The most difficult thing in the world is to know how to do > > > a thing and to watch somebody else doing it wrong, without > > comment." - T. H. White > > > > > > :::... Indo-MONEV ...::: > > > Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian > > > People anywhere in the world who are interested, dedicated, and > > profesionalised > > > to the work on monitoring and evaluation and other related > > development > > > issues including development aid works, particularly in Indonesia. > > > Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib > > e...@yahoogroups. com > > > > > > From:refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. > > com] On Behalf Of Mohammad > > > Andri Budiman > > > Sent: 19 December 2008 00:06 > > > To: refere...@yahoogrou ps.com > > > Subject: [referensi] Ibukota RI *Tetap* Jakarta > > > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, > > > "Mohammad Andri Budiman" > > > <mandrib@> wrote: > > > > Mengapa tidak berpikir untuk meyakinkan para penguasa, artis- > > artis > > > > sinetron, kaum berduit, dan berpengaruh di negeri ini untuk > > berhenti > > > > tinggal di Jakarta? > > > > > > > > Salam, > > > > Andri > > > > > > > > > > Mohon maaf. Saya salah. Tidak ada yang bisa memaksa mereka tinggal > > di > > > manapun. Itu hak azasi orang per orang. > > > > > > Lagi pula, siapa yang mau tinggal di daerah kalau sudah makmur? Di > > > daerah tidak ada "entertainment". (Orang daerah pun bingung > > > "entertainment" itu bahasa apa?). > > > > > > Di daerah kalau ada apa-apa susah dapat perhatian Pemerintah > > Pusat. Di > > > Sumbagut, misalnya, sudah pemadaman lampu bergilir bertahun- tahun, > > > siapa yang peduli? (Di Jakarta cukup satu hari mati lampu untuk > > > membuat Bapak Wapres berkomentar dan cukup satu pemadaman di > > Stadion > > > Gelora Bung Karno untuk membuat Bapak Presiden menelepon Bapak > > Menteri > > > ESDM dan kemudian Bapak Dirut PLN pun terbirit-birit meninjau > > lokasi). > > > > > > Di daerah orangnya sirik-sirik. Wajar saja mereka sirik, sumber > > daya > > > alam ada di mereka, tapi uangnya ada di Jakarta. 75% uang nasional > > ada > > > di Jakarta? 60%? Angka tidak penting: ada gula ada semut, > > urbanisasi > > > ke Jakarta makin meningkat. (Mereka orang-orang daerah yang datang > > > (belakangan) ke Jakarta tidak tahu diri, siapa mereka itu, bikin > > > macet, usir saja, Bapak Gubernur!). > > > > > > Kalau tidak ada investasi masuk ke daerah, itu bukan salah > > Pemerintah > > > Pusat. Salah sendiri, rakyat daerah kok memilih Gubernur atau > > Bupati > > > yang tidak pandai menarik investor. (Jakarta lain. Investasi apa > > aja > > > bisa, balik balik modal juga gampang, wong investor pasti yakin > > > uangnya ada di situ. Bisnis tol dalam kota? Cuma ada dan hanya > > bisa di > > > Jakarta!) > > > > > > Problem Jakarta adalah Problem Nasional. Problem daerah? Kan sudah > > ada > > > desentralisasi? Urus diri sendiri dong. Mau nambah anggaran buat > > APBD? > > > Silakan berebut dengan daerah-daerah lain, kami sedang fokus untuk > > > proyek MRT di Jakarta. > > > > > > Mari tingkatkan Pemusatan Segala-galanya di Jakarta. Uang. > > Kekuasaan. > > > Hiburan. Utang -- upps, maaf, yang terakhir ini tentu harus tetap > > > ditanggung bersama-sama secara Nasional. > > > > > > Kami berhak. Mereka tidak. Ibukota RI tetap kami, Jakarta. > > > > > > Jadi, daerah-daerah Kasta Sudra, berhentilah kalian berteriak dan > > > bergolak! > > > Sing podo rukun. > > > Biar kami, Jakarta, yang "menikmati" macet harian dan banjir > > tahunan > > > ini..:-) > > > > > > Salam, > > > Andri > > > > > > > > > New Email addresses available on Yahoo! > > > Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and > > @rocketmail. > > > Hurry before someone else does! > > > http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ > > > > > > > > > > ------------------------------------ Komunitas Referensi http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

