Tepatnya mungkin: Status quo.
Jalan di tempaaat, graak! ;P

Salam,
Andri





On 12/29/08, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:
> Mau ke mana Milis ini?
>
> Mungkin Milis ini  tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana, atau
> Milis ini ke mana-mana (everywhere), tapi tidak ada di mana.
>
> Thanks. CU. BTS.
>
> --- On Sun, 12/28/08, Mohammad Andri Budiman <[email protected]> wrote:
>
> From: Mohammad Andri Budiman <[email protected]>
> Subject: [referensi] Mau Kemana Milis Ini? (was: Parodi 10 Best
> Practice-TEMPO)
> To: [email protected]
> Date: Sunday, December 28, 2008, 4:23 PM
>
>
>
>
>
>
> Rekan-rekan yth.,
>
> Ada leadership yang menghendaki ketenangan atau stabilisasi baru bisa
> berjalan. Contoh: Orde Baru pimpinan Jenderal Soeharto. Keran
> informasi ditutup -- kecuali bila menguntungkan kelompok tertentu atas
> dasar like-and-dislike. Hasilnya pemerintahan bekerja dengan baik dan
> tenang, korupsi dan kolusi pun demikian, dan polarisasi kesempatan dan
> sentralisasi kekayaan pun terjadi di "lingkungan dekat".
>
> Ada pula leadership militer ala Jenderal yang lain, bernama Colin
> Powell. Tentu saja kita tidak harus sepakat dengan aksi beliau selaku
> Menlu AS yang tentu saja berpihak kepada kelompok tertentu di AS.
> Hanya di internal departemennya, Powell dikenal sebagai orang yang mau
> mendengar pikiran dari staf-stafnya. "Saya ingin mendengar dari Anda,
> saya ingin mendapatkan semua gagasan besar yang ada di Departemen
> ini," seperti dikutip Dr. Oren Harari (2005).
>
> "Ketika para prajurit tidak lagi membawa masalah mereka kepada Anda,
> Anda berhenti memimpin mereka" demikian ujar Powell, seorang yang
> berorangtuakan imigran asal Jamaika. Sistem yang dikehendaki Powell
> justru sistem yang gaduh, sistem dengan keran terbuka yang
> menghasilkan banjir wawasan yang menarik dan provokatif. Orang-orang
> tidak hanya dibiarkan mengemukakan masalah, namun mencari cara-cara
> pemecahannya. Tidak ada informasi yang bersifat "top secret",
> "need-know-basis" , atau "for your eyes only". Powell tahu betul bahwa
> informasi yang ditutup, Unmet Emotional Needs yang diredam, pada
> akhirnya akan menimbulkan saling curiga di antara para anggota yang
> menyebabkan krisis kepercayaan. Dan siap "meledak" sewaktu-waktu
> ibarat reaksi fusi.
>
> Pada saat hampir semua informasi apapu bisa diakses oleh nyaris siapa
> saja di negeri ini termasuk informasi A1 intelijen yang sering kali
> "bocor" berikut alat sadap yang siap merekam tindak-tanduk siapapun
> yang dicurigai KPK dan dimana pun ia berada termasuk di penjara,
> akankah kita di milis ini bersikukuh untuk diam seribu bahasa
> mengamati status quo yang berjalan dan percaya begitu saja bahwa semua
> sudah berjalan sesuai prediksi dan analisis planolog, peraturan dan UU
> yang berlaku, tanpa mau mendengar dampak sebenarnya yang terjadi di
> masyarakat?
>
> Dengan kata lain, manajemen siapakah yang hendak kita tiru, Orde Baru
> yang tertutup atau Colin Powell yang terbuka?
>
> In other words, Sentralisasi atau Desentralisasi?
>
> Salam,
> Andri
>
> On 12/28/08, risfano <risf...@yahoo. com> wrote:
>> Dear refrensiers,
>>
>> Sebetulnya saya tidak ingin berkomentar, tapi tegoda juga:
>> 1. Pertama, semua sudah mahfum kalau ketimpangan antara Jakarta dan Pusat
>> dengan wilayah lain itu ada, semua sudah tahu, dan menganggap itu masalah
>> yang perlu diatasi. Otonomi daerah dan transfer dana, SNPPTR dan
>> sebagainya
>> itu adalah upaya-upaya kesana. Dan itu tidak main-main, dana transfersudah
>> melampaui dana ke departemen. Jadi tidak usah diulang-ulang juga semua
>> sudah
>> tahu.
>>
>> 2. Kalau sinis kepada upaya-upaya daerah dalam membangun, itu tidak
>> betul..
>> Itu sama dengan berkata kepada UKN, percuma saja kalian kerja, tidak akan
>> jadi konglomerat. Ngapain olah raga, toh gak bisa seperti Ade Rae. Ini
>> tidak
>> betul dan sangat naif.
>> Upaya-upaya dan inovasi pembangunan daerah itu perlu diangkat, kalau cocok
>> direplikasi. Sebagai regional planner selayaknya menularkan
>> inovasi-inovasi
>> tersebut. Bukan menanggapi dengan sinis begitu. Regional planning itu
>> tugasnya membangun daerah, bukan bikin Indonesian Idol, atau kontes mirip
>> Jakarta.
>> 3. Menurut saya, pada masa sulit ini tugas regional planner adalah mencari
>> solusi, terutama menghadapi kesulitan ekonomi, menciptakan lapangan kerja
>> di
>> tiap daerah. Kalau sinisme dan apatisme itu tiap hari ada di koran.
>>
>> Tapi bagaimana keluar dari kemelut itu. Bagaimana mengurangi hambatan
>> birokrasi, bagaimana mendaya-gunakan SDA/SDM yang ada. Kepala daerah itu
>> dengan berbagai upayanya inovasinya layak untuk dikaji key success factors
>> nya, apa tantangannya. Ini layak menjadi "referensi".
>>
>> Jadi, Mas Dwiagus, Monev daerah atau kepala daerah ini sebaiknya pakai
>> indikator tingkat inovasi pembangunan darah, good-governance, dst. dengan
>> outcome HDI, MDGs, dst. Sekali lagi, contoh-contoh good parctice seperti
>> ini
>> layak diperbanyak untuk menumbuhkan optimisme dan kepercayaan kepada
>> daerah.
>>
>> Salam,
>> Risfan Munir
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> --- In refere...@yahoogrou ps.com, "Benedictus Dwiagus S." <bdwia...@.. .>
>> wrote:
>>>
>>> Yah,.. semuanya berangkat dari mimpi,.
>>>
>>> Tinggal kita menanti, mimpi siapa yang ter-realisasi
>>>
>>> Yang jelas, merengek-rengek minta ibukota menepi, bukan solusi .
>>>
>>> Hihihihi J
>>>
>>>
>>>
>>> Best Regards,
>>>
>>>
>>>
>>> Benedictus Dwiagus S.
>>>
>>> http://bdwiagus. blogspot. com
>>>
>>> http://bdwiagus. multiply. com
>>>
>>>
>>>
>>> "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and
>>> to
>>> watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White
>>>
>>>
>>>
>>> :::... Indo-MONEV ...:::
>>>
>>> Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
>>> anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised
>>> to
>>> the work on monitoring and evaluation and other related development
>>> issues
>>> including development aid works, particularly in Indonesia.
>>>
>>> Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com
>>>
>>>
>>>
>>> From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:refere...@yahoogrou ps.com] On
>>> Behalf
>>> Of Mohammad Andri Budiman
>>> Sent: 26 December 2008 16:02
>>> To: refere...@yahoogrou ps.com
>>> Subject: [referensi] Parodi 10 Best Practice-TEMPO
>>>
>>>
>>>
>>> Parade dijawab parodi.. :-)
>>>
>>> > - WaliKota Tarakan, pak Jusuf Serang Kasim, dengan mimpi
>>> > menjadikan
>>> kotanya seperti Little Singapore, meng
>>>
>>> BBM = Baru Bisa Mimpi
>>>
>>>
>>> > - WaliKota Jogjakarta, Pak Herry Zudianto, yang menata mulai dari
>>> yang sederhana, menciptakan banyak ruang hijau, menata pedagang kaki lima
>>>
>>> Jogjakarta dan Jakarta, beda namanya dikit, tapi yang satu masih
>>> mengurusi
>>> kaki lima, yang lain bisa ngurusin "kaki tangan aglomerasi"
>>>
>>>
>>> > - Bupati Gorontalo, David B.Akib, yang menggelindingkan mobile
>>> government-nya, dan mendorong produk hasil pertanian
>>>
>>> Ehm, apa bisa mobile dengan baik kalau nggak ada jalan tol dalam kota
>>> seperti Jakarta?
>>>
>>>
>>> > - WaliKota Solo, Pak Joko Widodo, wali kaki lima, yang
>>> > merelokasikan
>>> pedagang kaki lima dengan memanusiakan mereka.
>>>
>>> Sama aja kayak saudara dekatnya, Jogjakarta.
>>>
>>>
>>> > - Bupati Luwu Timur, Andi Hatta Marakarma, yang menjadikan Luwu
>>> Timur lumbung padi
>>>
>>> Sementara Jakarta sudah era informasi, ada juga yang masih era pertanian,
>>> bahkan era industri pun belum (Toffler will have a good long laugh at
>>> this
>>> one)
>>>
>>>
>>> > - WaliKota Makassar, Ilham Arif Sirajudin, yang membawa perubahan
>>> pada pembangunan waterfront di kota Makassar dan public space-nya
>>>
>>> Ya nanti pakai dayung aja, bensin masih susah di sekitar IBT..
>>>
>>>
>>> > - Bupati Jombang, Suyanto, yang menjadikan Puskesmas dan
>>> > Rumahsakit
>>> jadi idaman masy.dan menata kaklilima dengan bijak
>>>
>>> Baru Puskesmas, sedang Jakarta udah punya Dharmais untuk kanker, Siloam
>>> untuk eksekutif dan penjabat penting Indonesia yang memang selalu ingin
>>> terus di Ibukota, dan bahkan bidan (apalagi dokter) sudah bisa menangani
>>> Waterbirth (kelahiran di dalam air) -- satu-satunya di Indonesia?
>>> Dan ... kaki lima lagi? No comment..
>>>
>>>
>>> > - Bupati Badung, A.A.Gde Agung, yangmenyeimbangkan Badung Utara
>>> dengan pertaniannya dan Selatan dengan pariwisatanya. Menjalin
>>> kerjasamadengan kab/kotadisekitarny a
>>>
>>> Sementara Jakarta konon akan bekerjasama dengan New York, Washington DC,
>>> dan
>>> Hollywood, CA tentang bagaimana daerah kemaruk ini bisa tetap menjadi
>>> pusat
>>> bisnis, sekaligus Ibukota, sekaligus kota industri sinetron..
>>>
>>>
>>> > - Walikota Sragen, Pak Untung Sarono, seorang dalang yang gila
>>> digital. Mensetup jaringan online sehingga ia bisa memantau perkembangan
>>> di
>>> tingkat desa/kecamatan.
>>>
>>> Semoga bukan warnet..
>>>
>>>
>>> > - Walkota Blitar, Pak Djarot Syaiful Hidayat, yang melindungi dan
>>> focus pada industry kecil. Melarang mall, tapi memfasilitasi tumbuhnya
>>> UKM
>>> dan kaki lima.
>>>
>>> UKM dan kaki lima bisa mimpi.
>>>
>>> Tapi tetap konglomerat Jakarta yang mimpin.
>>>
>>>
>>> Salam,
>>> Andri
>>>
>>
>>
>>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>

Kirim email ke