> 
> +++: Kata psikolog, kalau kita bilang "anti Jakarta" itu membuat 
pikiran bawah sadar kita ingat Jakarta terus, karena bawah sadar 
tidak mengenal negasi (tidak, bukan, anti). Tapi kalau kita 
> bilang "tumbuhkan daerah", maka pikiran bawah sadar akan 
mengarahkan kita untuk berfikir "pembangunan daerah." 
> >>>: Masalah kita bukan sekedar masalah psikologis semata…… tetapi 
juga pendekatan enjinering keruangan yg jelas lebih bersifat fisik, 
teknikal dan konkrit …..dan menjawab masalah ketimpangan "Jkt dan 
daerah"  juga memerlukan jawaban `mobilitas/ migrasi manusia,  
migrasi dan relokasi  sebagian aktivitas, dan tentu saja transfer 
aset investasi" keluar Jawa…… justru karena terus mengingat bahwa 
primacy Jakarta harus dilawan, dilawan dan dilawan……. 
dimana `dilawan' itu artinya tidak harus `ditundukkan'…. tapi yg 
jelas perlu  ada langkah konkrit yg berupa bukan "pembiaran"……..
(selesai).

Saya sefaham dengan Bapak dalam tujuan,

Tapi kalau kita bertolak dari anti JAKARTA, benci JAKARTA yang ada 
di kepala kita JAKARTA, JAKARTA, JAKARTA. Tiap hari, tiap detik kita 
mikir, cari bahan tentang JAKARTA. Seluruh energi kita tercurah ke 
JAKARTA walau untuk melawan.

Lain kalau kita bertolak dari DAERAH, cari bahan-bahan untuk DAERAH, 
cari ide untuk DAERAH... sehingga terkumulasi pengetahuan, ide-ide, 
tentang DAERAH. Akhirnya menjadikan DAERAH kuat, arah pembngunannya 
lebih baik, sehingga terjadi pemerataan yang dicitakan.

Kita tidak bisa merencana DAERAH dengan bergunung-gunung data 
mengenai JAKARTA, yang kita perlukan adalah segunung info tentang 
inovasi dari/untuk DAERAH.

Maaf reply nya terputus-putus kerjaan.

Salam,
Risfan Munir

>  
> Salam,
> aby 
>  
>


Kirim email ke