Milisters ysh,
 
+++: Ah ikut nimbrung ah..walaupun nantinya "dicincang" juga.
>>>: Ekh…. Kalo ada posting yg baik mestinya gak boleh dicincang tuh….. nanti 
>>>kalo ada yg nggituin mesti dilaporin tuh ke pak Eka atau mas EkoBK  aja ….. 
>>>atau kalo nggak laporin aja ke pak Wawo atau ke pak Risman juga boleh…… saya 
>>>ada alamat emailnya kok….
 
+++: Apakah yang dikemukakan  industri ontel, mesin kapal, sepeda motor... 
apakah trickling down.. apakah afiliasi.... . apapun...menurut saya pola 
pikirnya Teori Koldib (Koleksi Distribusi) diramu dengan Input-output. 
... sedikit banyak mirip dengan Teori Pengembangan Wilayahnya Pornomosidhi. Dan 
pola pikir macam ini posisinya ...atau sudut pandangnya masih berpijak di 
Jakarta (Jawa).
>>>: Sulit utk seandainya ganti disuruh nurut meng’iya’kan pola pikir 
>>>demikian….. maksud saya  sulit utk saya ganti disuruh ikut logika (yg dikira 
>>>benar)… disuruh milih antara  (pake istilah : posisi, sudut pandang)  
>>>“berpijak di Jkt”  atau “berpijak tidak di Jkt”…… krn saya justru 
>>>“mensinergikan keduanya”…... over energi di Jabodetabek ingin dibagi ke 
>>>Mamminasata…... Padahal kalaupun  iya atau tidak (saya gak tau dan blm  
>>>tentu spt pak Purnomosidi, bukan Pornomosidhi)…..  
Yg penting khan bgmn caranya meramu strategi tepat demi untuk “kemajuan 
pembangunan nasional”…… yg berdimensi “keseimbangan kemajuan antar wilayah” 
atau “mengurangi kesenjangan antar wilayah”….. yg itu merupakan tujuan utama 
dari “pembangunan wilayah”…… 
Caranya sih boleh saja spt polanya pak Risfan misalnya….. lsg berbicara ttg 
daerah sambil mungkin tak usah bicara ttg pusat…... atau kalau menurut saya 
beda lagi… dsb…. Semuanya khan bisa saling bersinergi…… krn volume “pembangunan 
wilayah” (KTi saja sudah separuh Eropa)…  apalagi “pembangunan  nasional” itu 
khan demikian  amat besarnya….. sehingga tak mungkinlah hanya dipake satu 
metoda saja (misalnya hanya punya anda) …. Dan metoda lainnya harus 
disingkirkan jauh2……..   
 
+++: Misalnya kita berpijak di KTI, say di Makassar. Kita pake Teori Persaingan 
saja, misalnya SWOT. Apa sih kekuatan Makassar, apa kelemahannya, apa 
peluangnya, dan terus tantangannya seperti apa? Tapi hati-hati, kalau analisis 
SWOT jangan "stand alone", tapi harus ada konstelasi pesaing-pesaingnya. . 
Kalau analisis SWOT itu "stand alone", atau independent, maka hasilnya bisa 
misleading. Yang dianggap sebagai kekuatan, malah bisa menjadi kelemahannya. 
Misalnya di Makassar itu kekuatannya SDM, tetapi ternyata pesaingnya, misalnya 
Jabodetabek, SDMnya lebih bagus. Jadi yang dianggap kekuatan malah menjadi 
kelemahannya. Analsis SWOT tidak cukup, harus pula dilihat "environment" nya 
juga, kondusif atau tidak.
>>>: Emangnya siapa yg mau dan mampu ....“berpijak  (say) di Makassar”  .... 
>>>lalu dengan sombongnya (tapi pasti rada loyo) tak mau menarik energi 
>>>sedikitpun dari Jabodetabek yg sudah jelas2 over utk ukuran daerah?........ 
 
+++: Misalnya benar diperoleh bahwa industri manufaktur sepeda motor adalah 
salah satu Strategi Progresif (kombinasi S-O), maka lanjutnya adalah analisis 
finansial (Financial IRR), apakah benar bagi pengusaha itu mendirikan pabrik di 
Makassar lebih profit? Jangan masuk ke analisis ekonomi (Economic IRR), nanti 
rancu,..karena soal afiliasi industri...apapun namanya.. adalah aspek 
finansial... orientasi profit bukan benefit...dedikasi ke stockholders. ..bukan 
stakeholders.
>>>: Pertama….. ini sudah yg ke-2 (dua) kalinya  dlm posting ini disebutkan 
>>>tentang “afiliasi (industri)”….. padahal pokok pangkal atau hulu dari serial 
>>>posting saya ini adalah tentang “filial--isasi (industri)”…. Padahal  
>>>“afiliasi” dan “filialisasi” itu jelas bukan 2 (dua) suku kata yang sama dan 
>>>malah ngalor serta ngidul beda jauh arti maknanya….  Sudah gitu masih 
>>>ditambah pula… “apapun namanya”…. sesuatu yang tidak bisa lain adalah 
>>>merefleksikan suatu sikap arogansi (yg seharusnya pantas mendapat sikap 
>>>setimpal arogansi pula) …..
Sudah gitu masih dengan amat pedenya masih juga disebut sbg “adalah aspek 
finansial”....... padahal ini jelas judul postingnya saja disebut sebagai 
“menyemai industri manufaktur” di KTI…… sesuatu yg sampai hari ini nyaris tak 
pernah terdengar……….
Jadi jelas bahwa misi utamanya adalah  setidaknya misi2 ganda……baik tetap ada 
komersial rutinnya (sekedar agar tak merugi) …. maupun plus misi mulia 
“membangun wilayah”……….. jadi yg penting pertanyaannya sebenarnya bukanlah  
“apakah lebih profit”….. tetapi adalah “apa siiih ruginya”?....... jadi 
silahkan dicari dan hitung ruginya apa (dan berapa)……… dan kalau tidak 
ada...... pertanyaan lanjutnya khan adalah…….lha ”why kok not”…...
 
Jadi kedua…..
Kalau masih juga  tetap muncul pertanyaan …” apakah benar bagi pengusaha itu 
mendirikan pabrik di Makassar lebih profit?”...... jelas bahwa ada dugaan bbrp 
kemungkinan….. pertama nggak  pernah mau mbaca secara lengkap posting saya (ya 
krn arogansi itu ato gak teliti)… kedua mbaca lengkap tapi nggak kunjung ngarti 
juga ….ketiga entah .. sebab lain yg hanya Tuhan dan paranormal saja yg tahu……
Saya jelas sdh berulangkali katakan…..motif ”more profit” hampir  “tidak”  utk 
“industri memimpin” itu bila seyogyanya  diminta membuat “cabang kecil jauh” di 
KTI (filial) …..  tapi mereka akan “rugi dan blangsak” pun tidak juga….. dan 
ini bolehlah dianggap sbg “saatnya” industri memimpin ganti memberi “balas 
jasa” atau “bersikap sopan dan beradab” kepada negara dengan bentuk “ yg nggak 
rugi2 amat” tapi cukup”proporsional dan reasonable dan mulia dan terhormat”…. 
Yaitu dgn cara “filialisasi” (bukan afiliasi, man) cabang kecil kekawasan 
tertinggal……..
Sayapun pernah katakan bbrp kali….. belum  tentu juga kalo para  “industri 
memimpin” itu diminta utk “filialisasi” mereka tak sambut hangat………banyak 
shareholdernya maupun para eksekutipnyapun  ingin juga perusahaan mereka juga 
”berbakti utk negara”….. setidaknya ada “yayasan toyota astra” misalnya yg 
memberi bea siswa… dan kalo kpd mereka disodorkan visi “filialisasi” demi utk 
membangun KTI… bukan tak  mungkin merekapun akan segera  sambut hangat…… karena 
mereka juga kenal CSR (company social responsibility)….. Jadi mereka itu tidak 
animal –animal amat,  man….. 
Jadi mungkin pakemnya memang sudah nggak (pernah mau) nyambung…. Saya pake 
unsur “leading industries” sbg bagian dari teori regional development …….  
sedangkan sana samasekali nggak mau pake  itu (mungkin yg penting tampil beda) 
…. dan malah pake logika “kaki nginjeknya kekampung mana”………   
 
+++: Nah coba disimulasi saja.... baru nanti bisa didiskusikan lagi.
>>>: Wah ini kok seperti omongannya otoritas keruangan dengan kekuasaan atau 
>>>kepiawaian  yg luar biasa tingginya saja ya……. Sudah nggak pas banget… sudah 
>>>gitu masih bisa dengan mudahnya me-nentu2kan  mana diskusi yg boleh lanjut… 
>>>mana yg tak boleh lanjut……
 
Salam,
aby
 
 
"Bambang Tata Samiadji" btsamia...@....... wrote :
 
Dear all.
 
Ah ikut nimbrung ah..walaupun nantinya "dicincang" juga.

Apakah yang dikemukakan  industri ontel, mesin kapal, sepeda motor... apakah 
trickling down.. apakah afiliasi.... . apapun...menurut saya pola pikirnya 
Teori Koldib (Koleksi Distribusi) diramu dengan Input-output. ... sedikit 
banyak mirip dengan Teori Pengembangan Wilayahnya Pornomosidhi. Dan pola pikir 
macam ini posisinya ...atau sudut pandangnya masih berpijak di Jakarta (Jawa).

Misalnya kita berpijak di KTI, say di Makassar. Kita pake Teori Persaingan 
saja, misalnya SWOT. Apa sih kekuatan Makassar, apa kelemahannya, apa 
peluangnya, dan terus tantangannya seperti apa? Tapi hati-hati, kalau analisis 
SWOT jangan "stand alone", tapi harus ada konstelasi pesaing-pesaingnya. . 
Kalau analisis SWOT itu "stand alone", atau independent, maka hasilnya bisa 
misleading. Yang dianggap sebagai kekuatan, malah bisa menjadi kelemahannya. 
Misalnya di Makassar itu kekuatannya SDM, tetapi ternyata pesaingnya, misalnya 
Jabodetabek, SDMnya lebih bagus. Jadi yang dianggap kekuatan malah menjadi 
kelemahannya. Analsis SWOT tidak cukup, harus pula dilihat "environment" nya 
juga, kondusif atau tidak.

Misalnya benar diperoleh bahwa industri manufaktur sepeda motor adalah salah 
satu Strategi Progresif (kombinasi S-O), maka lanjutnya adalah analisis 
finansial (Financial IRR), apakah benar bagi pengusaha itu mendirikan pabrik di 
Makassar lebih profit? Jangan masuk ke analisis ekonomi (Economic IRR), nanti 
rancu,..karena soal afiliasi industri...apapun namanya.. adalah aspek 
finansial... orientasi profit bukan benefit...dedikasi ke stockholders. ..bukan 
stakeholders.

Nah coba disimulasi saja.... baru nanti bisa didiskusikan lagi.

Thanks. CU. BTS.
 


      

Kirim email ke