Saya telah punya pendapat
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3028>  sendiri tentang
hal ini, setelah menimbang Rumah Muumbi
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1207>   dan sejarah
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4831> , dan bagaimana
seharusnya anak bangsa bersikap
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1210> .


--- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> wrote:
>
> --- On Wed, 2/4/09, Kandipi KAORI kand...@... wrote:
>
> From: Kandipi KAORI kand...@...
> Subject: Re: [plbpm] Re: (2) DAK, DAU dan Wamena
> To: [email protected]
> Cc: "hengky abiyoso" watashi...@...
> Date: Wednesday, February 4, 2009, 6:00 PM
>
>
>
>
>
>
>
> Nayak Pak Aby , Pak Eka DJ dan milister
>
> Membaca tanggapan Pak Aby, pikiran terbang ke diskusi para pendiri
Negara RI. saat itu ada perdebatan antara Mohamad Hatta dgn Mohamad
Yamin mengenai apakah perlu Papua dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia.
Mohamad Hatta menyarankan agar Papua jajahan Netherlands tidak
dimasukkan ke dalam Indonesia karena mereka berbeda ras dengan bangsa
Indonesia. Namun untuk kepentingan negara RI, Mohamad Yamin memaksakan
agar Papua dimasukkan ke dalam negara RI karena dua alasan. pertama,
Papua akan menjadi pintu gerbang timur Indonesia untuk kawasan Pasifik.
kedua, sumber daya alam yang melimpah di sana. Akhirnya, sidang saat itu
memutuskan agar papua masuk ke negara RI. Pemikiran itu membuat saya
tidak kaget, jika Pak Aby mengajak kami utk tidak memikirkan manusia
Papua di Wamena yang jumlahnya tidak sebanding dengan manusia yang
ratusan juta di pulau kecil dan hidup dalam keadaan yang memprihatinkan
Pak Aby - juga. Bukankah manusia di papua tidak seharga manusia
> di jawa ? Bukankah harta kekayaan di alam kami lebih penting bagi
bangsa Indonesia ketimbang manusianya yang baru dibangun oleh Belanda
pada tahun 1900-an? Pantaslah menjelang kematian ayah saya, seorang
peserta Penentuan Pendapat Rakyat pada tahun 1969, memohon maaf padaku.
Katanya: "anak - bapak dan tete punya perjuangan untuk kamu tidak
berhasil. Bapak mohon maaf". Tiga bulan kemudian beliau dipanggil oleh
Yang Kuasa.
> Terima kasih Pak Aby. Pendapat Pak Aby adalah motivasi bagi kami untuk
menunjukkan kepada dunia (bangsa dan negara lain), bahwa kami bangsa
papua punya hak yang sama dengan bangsa-bangsa lain di dunia, termasuk
di Indonesia.
>
> Salam perjuangan dari Papua,
>
> kandipi
>
> --- On Thu, 2/5/09, hengky abiyoso watashi...@... wrote:
>
> From: hengky abiyoso watashi...@...
> Subject: [plbpm] Re: (2) DAK, DAU dan Wamena
> To: [email protected]
> Cc: [email protected]
> Date: Thursday, February 5, 2009, 7:46 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Sahabat  H. Ekadj dan milisters ysh,
>
> Posting kedua ini menyangkut ttg kritik atas perhatian berlebih pada
Wamena…….
> Dpt dimengerti bhw keserba-mahalan harga2 yg ekstrim di Wamena menjadi
keprihatinan… .. dan kita mengerti.. sebabnya karena kota itu hanya
dpt dicapai lewat jalur udara saja……..
> Sama spt Tembagapura pun semula juga menjadi satu2nya lokasi
pertambangan didunia yg pemulaian penyiapan pembangunannya dan
penyediaan peralatan2nya dilakukan serba lwt udara dgn helikopter…
tapi kemudian dpt dibuat jalur darat dari pantainya……
> Kita tentu senang bila saja dpt menemukan  dan menerapkan
`teknologi ruang' yg tepat  bagi  "bgmn mengembangkan
kawasan terpencil"… sehingga daerah2 dgn tingkat kemahalan harga2
diatas normal spt itu dpt dijinakkan……  atau brkli sbg jalan keluar
sementara spt disarankan oleh anda adalah misalnya diberlakukannya
subsidi khusus…..
> Tapi kalau ingat bhw negeri kita ini kelewat luas dgn laut2 luas ganas
ditengahnya… lalu penduduknyapun kelewat banyak pula….  235 juta
atau no. 4 dunia…. Dimana 58%  atau 136 jt  tinggal di p. kecil Jawa
lalu dgn itupun terdp kemiskinan serta  angka pengangguran yg tinggi
pula…… lalu dibandingkan dgn kabupaten Wamena yg hanya berpenduduk 
108.500 jiwa…..…. Rasanya tidak fair kalau kita disatu sisi
nampak amat sgt prihatin  pada Wamena… Tolikara…. Sampai
kedetil2nya…. tapi disisi lain spt nampak acuh2 saja dgn kepadatan
serta kemiskinan yg juga melilit p. Jawa 138.000.000 jiwa….. atau
juga atas  "ketertinggalan dari KTI secara umum" (43.000.000
jiwa?)…… dimana "peran" beban terberatnya  serta yg  paling
strategisnya sesungguhnya lbh disandang oleh "kota primat pusat
layannya"…… ialah Makassar…… dan PR (pekerjaan rumah)
terbanyak dalam pembangunan KTI pada "tahap awalnya" juga
sesungguhnya justru
> lebih disandang oleh Makassar (perlunya perletakan dasar / persemaian
industri manufaktur) …… dan bukan pedalaman2nya yg kelewat musykil
utk dicapai…. .
> Dari sisi nasional…..juga dari kacamata  internasional……
masalah2 keterpencilan sudut2 KTI seperti Wamena, Morotai, Sawu, Sumba,
Talaud atau Yamdena saya kira tidaklah harus  menyita perhatian  kita
melebihi perhatian yg seharusnya diberikan pada "kota pusat layan
utama" KTI (makassar)…. Sebagaimana  rekan Indra Budiman pernah
menyinggungnya pula sbg itu pernah menjadi perhatian pula dari Jetro
Jepang pada 1970-an misalnya….
> KTI sbg  separuh wilayah NKRI yg tertinggal, bentang 2500 kilometer x
1500km….. dimana ia (dlm hubungan dgn `Distance' dan
`Density' dari 3-D-nya World Bank, kalau itu dipercaya)
memerlukan memiliki setidaknya 1 buah Greater Metropolis (Makassar) sbg
kota pusat layan yg handal….. lalu kelak kota2 hirarkhi dibawahnya
spt Manado, Jayapura, Sofifi, Kupang, Kendari dsb. (juga dlm rangka
Distance dan Density) juga seharusnya meningkat menjadi kota2 metropolis
tahap awal…….. lalu kota2 dibawahnya lagi seperti  Ende, Waingapu,
Merauke, Luwuk, Poso, Sorong dsb. (msh demi 2-D itu) perlu menjadi
kotamadya yg dinamis pula …dst. … dan hirarkhi "kota"
paling bawah "subkota pusat layan desa" (kompleks rukodesa
swadaya) adalah seharusnya dpt menjadi  60.000 unit  "Urban
Density" swadaya sbg hirarkhi terbawah  sistem kota diseluruh
negeri…… dimana kalau 1/3nya saja atau 20.000 unit dpt di
> Semua rentetan pengembangan kota2 itu perlu lbh dilihat sebagai
pengaruh  "Spill Over Effect" atau kemampuan "Spread
Effect" yg memancar dari dinamika  dan modernitas serta aglomerasi
Greater Metropolis Makassar (juga dari kota2 peringkat dibawahnya kepd
kota lbh bawahnya lagi dst) more than kita ditakut2in oleh ceritaan
momok seram yang bernama "Backwash Effect" yang dikatakan sbg 
dapat menguras banyak SDM dari seluruh pedalaman KTI  yg lalu akan 
mengumpul di Makassar dan Jkt (padahal kalaupun SDMnya kepusat…
setidaknya kiriman uang per bulan atau simpanan/ investasinya msh tetap
ada saja didaerah… dan tetap akan ada yg prefer bertani saja
didaerah krn tak cocok pd budaya kota )…….
> Daripada termakan oleh provokasi `backwash effect' yg lalu
malah visi kita ttg `sistem kota secara nasional'  menjadi
gelap, buram dan blangsak….. lalu kita sampai detil (tapi tak
strategis) memperdebatkan konsep ekonomisasi harga2 wilayah atap negeri 
dikaki langit yg  sulit dijangkau semacam Wamena (108.500 jiwa)…
dimana padahal riwayat dari beberapa pemukiman suku2 yg  lokasinya
sangat sulit dicapai… awalnya ada yg karena kebiasaan perang
suku…. sehingga bbrp suku  sengaja memilih naik keatas gunung
ketempat2 yg terjal dan sulit dicapai… agar tak mudah diserang suku
lain………..
> Saya kira ditengah angka kemiskinan yg masih puluhan juta jiwa dan
pengangguran angkatan kerja sampai 9 jutaTK dan tambahan 1,5 juta TK
angkatan kerja baru per tahun……… kita seharusnya perlu lbh
menekuni memahami fenomena  `Spread/ Spill Over Effect'nya
dinamika pengembangan kota besar pusat layan KTI… dengan membangun
aglomerasinya yg lebih kuat…  yg justru diharapkan dapat memancarkan
kemajuannya sampai kerelung2 dari wilayah2 belakangnya spt tersebut
diatas barusan (dan bukannya ditonjolkan backwash effectnya)………
dimana ini tentu masih perlu dibarengi dengan penegakan sistem
"hirarkhi kota"  maupun sistem prinsip jarak2 antar kota dan
desa…….
> Kalau saja kita mau bergeser lebih keaspek sosial ekonomi ruang….
dan tak hanya mengerami aspek fisik saja terus…..
> Kalau saja  kita mau utk tidak mudah tinggi hati dgn terlalu mudah dan
terlalu banyak menolak (padahal nggak bisa bikin)  teori2 spt
`Prinsip Jarak' dan `Hirarkhi Kota' dari Christaller
misalnya…… yg memperlihatkan pada tabelnya…. bahwa seyogyanya
jarak dari 2 (dua) buah kota metropolitan seyogyanya adalah sekitar
200-an km (dan jarak antar 2 pusat desa seyogyanya 7-12km)…….. yg
artinya sebuah kota metropolitan melayani radius layan sekitar
100km……. dalam rangka kemudahan kewiraswastaan dan
aglomerasi…..
> Ini seperti gambaran tentang jarak 2 metropolis `Jakarta' dan
`Bandung' yg sekitar 200km…… atau antara `Semarang'
dan 'Surabaya' (225km) misalnya…… dimana kita melihat bahwa
"daerah2 pedalaman"  diantara  Bdg dan Jkt… atau diantara
Smg dan Sby….  atau bahkan diantara Jkt-Crb….diantara
Crb-Smg… atau antara Yogya-Sby atau antara Yogya-Bdg misalnya…..
> Semuanya nyaris tidak ada yg mengalami "keterpencilan" yg luar
biasa … dibandingkan dgn ---tak usah jauh-jauh--- poros
BdrLampung-Plmbg atau Plbg-Jambi.. atau Jambi-Pekanbaru atau
Plb-Bengkulu misalnya……. dimana pada jarak2 300an km lebih…… 
kota2 tsb ini belumlah menjadi kota2 metropolis yg dinamis….. kita
lihat pedalamannya masih banyak mengalami keterpencilan………
> Pada kawasan dengan (entah sengaja direncana or tidak oleh kolonial
Bld) "prinsip jarak dan prinsip hirarkhi kota  sesuai
Christaller" misalnya seperti di Jawa…… spt layaknya di Jerman
Selatan….. kita lihat …… Hasil2 pertanian dari wilayah paling
`terdalam' dengan ringan dapat dikirim ke `pusat'
kepasar induk di Jkt, Sby, Smg, Bdg hanya dlm bilangan bbrp jam
saja….. anak2 petani (asal ada uangnya) mudah saja utk bersekolah
utk selanjutnya bekerja di Jkt, Sby, Smg  atau Bdg dan hubungan dengan
`pedalaman' termasuk `transfer uang'.. pendanaan proyek
"pertanian didesa dgn modal dari Jkt"…. Atau "pengaspalan
jalan desa dgn dana TKW dari LN atau dari pejabat sukses"… dsb.
… cukup mudah sepanjang tahun……..
> Semua ini lebih terlihat sebagai akibat "spread effect"
kemajuan kota metropolis…. dibanding dgn ceritaan gambaran suram ttg
"backwash effect" yg menyedot habis SDM dan SDA dari pedalaman
dan membangkrutkan kota2 kecil dipedalaman…….
> Kita tak boleh naif dgn terlihat amat tekun mendiskusikan hal2 tidak
terlampau strategis seperti kasus Wamena  (walau nampaknya tragis)
sampai demikian mendetailnya… sambil  lupa mendiskusikan hal yang
jauh lebih strategis……… ialah dinamisasi kota pusat layan KTI yg
walau punya seabreg program S2-S3….. tapi tak punya industri
manufaktur perkotaan kecuali industri sirup dan makanan kering…...
> Wilayah tertinggal butuh infrastruktur… . Tapi wilayah tertinggal
juga butuh industri manufaktur dlm rangka utk membentuk aglomerasi dan
memperbanyak populasi kelas menengahnya……
> Karena nyatanya kita2 ini toh doyan modernitas…… saya kira kita
perlu menjadi bangsa yg "terus lapar dan haus utk belajar" dan
menatap agak keatas…. "mudah utk menimba masukan"…..
dibanding menjadi bangsa yg walau sedang blangsak…. tapi terlalu
mudah utk tinggi hati menolak-nolak dan terlalu mudah menganggap-anggap
buruk berbagai teori keruangan semacam Christaller's yg dinegara
asalnya sana juga dimasa jadulnya  dulu telah menuai sukses besar dan
justru  menjadi fundamental  dari pembangunan mereka
selanjutnya……….
> Atau sebaliknya …. saya yg ganti bingung…. Kok kita terlalu
mudah terkagum2 pada gubernur yg sukses mengajak rakyatnya menanam
jagung dikebun kita (cangkul yg dalam)….…pdhal bukankah itu
wajar saja?....
> Atau masyaallah astagfirullah… . sampai menyebut2 kebesaran nama
Allah segala hanya sekedar krn kekaguman pada seorang yg a.l.
berpendidikan planning lalu menjadi manager HRD dari perusahaan properti
yg  membangun central distrik di Pluit sana…..
> Padahal bukankah  kita sebenarnya perlu lbh kagum pada anak cucu
migran dari tiongkok sana itu… yg dulu sekedar menjadi buruh
penambang emas dinegeri kita….. dimana  kini anak cucunya sbg para
pemilik saham dan  sbg bos dari kawan yg kita kagumi itu sendiri malah
tidak belajar planning sedikitpun…… tapi mereka kok bisa memimpin
seorang planner dari ITB utk membangun dan lalu dikagumi oleh
kawan2nya………
>
> Salam dari aby


Kirim email ke