Milister ysh, Sebuah posting menyatakan : ++++: Memang benar sih, kata peneliti-peneliti Bank Dunia (Menata Ulang Geografi Ekonomi) bahwa konsentrasi kegiatan ekonomi tidak dapat digerakkan di seluruh daerah atau lokasi. Jadi jangan bangun sembarang kota di sembarang lokasi. >>>>: Saya tidak menolak.. tapi ya baru setengah-setengah setuju saja dulu >>>>pada pernyataan ttg “jangan bangun sembarang kota di sembarang lokasi” itu… >>>>karna selain masih belum seberapa mantap…. setengahnya lagi saya jadi >>>>teringat juga pada semboyan-semboyan lain yang agak mirip gak mirip atau >>>>senada gak senada bunyinya….… yaitu seperti semboyannya para pendekar >>>>silat itu…l.k. “musuh sih tak dicari.. tapi kalau terpaksa bertemu pantang >>>>dihindari”….. atau juga semboyan dari tentara tapi juga entah agak senada >>>>juga atau gak….spt… “Tentara harus mampu bertempur disegala macam medan >>>>perang yang bagaimanapun permintaannya”…. dst. dst…. Terlepas dari masalah layak/ tidaknya….. termasuk demi pertimbangan pro-ekologi atau kontra-ekologi dsb…….Saya pikir planner (sebagai teknolog ‘ruang’) mungkin juga harus bersemboyan agak mirip begitu juga…. “tidak mau bangun sembarang kota di sembarang lokasi”….. tetapi misalnya “kalau planners harus di/ terpaksa bangun suatu kota disuatu lokasi/ wilayah yg bagmnpun sulit dan berat medannya”… barangkali plannerspun harus bersemboyan juga….. “siap…. dan pantang menolak…. dan pantang menyerah“……. Itu karena kadang dalam hidup ini kita memang sering tidak bisa milih-milih hanya apa yang kita sukai atau hanya apa-apa yang ideal saja……. Contohnya di”perairan Ambalat” yang kaya minyak bumi dan dipersengketakan dgn Malaysia itu (namanya juga ‘perairan’…. tentu ya tanpa daratan) ….. karena takut dalam mahkamah internasional nanti ‘kalah lagi’ seperti kasus Sipadan dan Ligitan…… maka RI kali ini mau nampak lebih aktip dalam “memanfaatkan ruang” Ambalat sebgmn Malaysia dulu begitu juga pada Sipadan dan Ligitan.... Maka pada perairan (dangkal) Ambalat itu (tanpa pulau, jauhnya tak kurang 200km sebelah timur daratan Kalimantan) lalu didirikan anjungan… dan saat konstruksinyapun perlu dikawal kapal2 TNI-AL… sebab pernah terjadi pekerja yang tidak dikawal dipukuli oleh tentara Malaysia…….. Tak kurang para nelayanpun dihimbau untuk agar sering2 main-main diatas perairan Ambalat itu (padahal khan 200km jauhnya dari Kalimantan)….. Berhubung ingat planolog khan adalah teknolog keruangan milik bangsa…..dan tentu menjadi ‘harapan bangsa’….. maka bisa saja pertanyaannya dari bangsa ini khan adalah …. pada perairan yg tak ternilai kekayaan bawah lautnya itu…. Sebelum ia pada saatnya akan dieksplorasi…. Dapatkah diatasnya dibuat saja dulu “permukiman diatas laut”….. agar supaya syarat “mengokupasi dan memanfaatkan” di Ambalat itu nampak jelas dan agar dimahkamah internasional nanti klaim kita itu dimenangkan…… Nah… apakah disini kita akan pilih menjawab “jangan bangun sembarang kota di sembarang lokasi” (entah krn gak mampu maka gak mau, ataukah mampu tapi gak mau)…… ataukah krn sebagai bangsa merasa wajib technically harus mampu menjawab berbagai tantangan maka barangkali pilih menjawab “lho lha kalau memang terpaksa…lha ya why not?” ……. Memang bukan kolam susu, namun wilayah kita memang terlampau luas (1.9 juta km2 daratan plus 5.8 juta km2 laut) dan hutan kita cukup penuh pohon kayu dan bambu dan sungai –sungai penuh batu dan pasir untuk tidak perlu dibangun kota-kota dan perumahan rakyat….. karena saat ini tak kurang 80 juta penduduk miskin kota kita tak mampu membeli rumah tipe 21/60 (padahal ‘hanya’ perlu space seluas 1600km2 saja)…… Kalau planners bisa bersemangat urus itu….. maka 80 juta penduduk miskin kota kita akan bisa memiliki (beli murah) rumah tinggal dikota-kota..… dalam persebarannya diseluruh Indonesia…….sebagiannya bisa berwiraswasta dirumah…..disektor informal.. dan perekonomian nasional kita mungkin akan amat sangat terbantu perbaikannya……… Salam, aby

