Bung Dwiagus dkk ysh,

Masalah hilangnya pulau-pulau kecil akibat efek pemanasan global ini sudah 
sejak tahun 2001 dibahas, tulisan mbak Yuni Ikawati di Kompas tersebut 
sebetulnya mengulang apa yang sudah berkali-kali di bahas para pakar kelautan 
dengan mitigasi bencananya. 

Negara-2 pulau kecil (SIDS) sudah lama mempersiapkan hal tersebut (silahkan 
baca di website.SIDS), namun untuk menghadapinya mungkin yang paling aman harus 
pindah tempat agar tidak 'keleleb', karena fenomena alam ini tidak bisa (sulit) 
dilawan dengan teknologi atau butuh biaya mahal. Bagi kita mungkin masalah 
naiknya paras air laut tidak hanya akan menenggelamkan beberapa pulau kecil, 
tetapi akan banyak prasarana & sarana di pesisir pulau besar juga akan 
tenggelam, contohnya di kota Semarang yang kena 'rob' alias air laut naik ke 
daratan dan bertambah tinggi terus setiap tahunnya, mungkin kota-kota lain yang 
berada di kawasan pesisir akan mengalami hal yang sama juga, tentunya 
tergantung lokasinya. Masalahnya, saya kira tidak sekedar pengadaan peta skala 
detail (1:1000 - 1:5000), tetapi lebih penting perlunya pendataan kenaikan 
paras air laut yang teliti/akurat dan kontinyu setiap bulan di setiap 
pelabuhan/dermaga baik di pulau kecil maupun pulau besar, sehingga dapat 
diketahui perkiraan kapan akan terjadi kawasan tersebut tenggelam atau masih 
bisa atau harus diselamatkan dengan kemampuan teknologi yang ada seperti di 
pulau kecil terluar yang berfungsi sebagai titik batas NKRI, atau memang harus 
siap-siap memindahkan semua bangunan sarana & prasarana yang ada beserta 
penduduknya. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Wassalam,

Onnos
 


To: [email protected]; [email protected]
From: [email protected]
Date: Thu, 12 Mar 2009 16:05:00 +0700
Subject: [referensi] [kompas]Selamatkan Pantai dan Pulau Kecil







 

----------------------------
 
Selamatkan Pantai dan Pulau Kecil
/
 
KAMIS, 12 MARET 2009 | 13:09 WIB
Oleh YUNI IKAWATI

KOMPAS.com - Naiknya permukaan laut akibat pemanasan global telah merendam 
pantai di berbagai wilayah Indonesia, terutama di Paparan Sunda dan Paparan 
Sahul. Di Paparan Sunda ada Pulau Jawa yang perlu mendapat perhatian lebih 
karena pertimbangan ekologis dan ekonomis.

Gas-gas rumah kaca (GRK), terutama karbon dioksida yang terus teremisikan ke 
atmosfer tanpa henti bahkan terus merangkak naik sejak tiga abad lalu, telah 
menampakkan dampak buruknya secara nyata.

Beberapa negara kepulauan telah melaporkan kehilangan pulau-pulau kecilnya. 
Papua Niugini, misalnya, melaporkan ada tujuh pulaunya yang berada Provinsi 
Manus telah tenggelam. Adapun Kiribati telah kehilangan tiga pulaunya, sekitar 
30 pulau lainnya juga mulai menghilang dari permukaan laut.

Kiribati bukan satu-satunya negara kecil yang tergabung dalam SIDS (Small 
Islands Development States) yang terancam hilang dari muka bumi ini. 
Diperkirakan dari 44 anggota SIDS, 14 negara di antaranya akan lenyap akibat 
naiknya permukaan laut.

Di Samudra Pasifik ancaman itu selain dihadapi Kiribati juga dialami 
Seychelles, Tuvalu, dan Palau. Adapun di Samudra Hindia ada Maladewa yang 
bahkan akan kehilangan seluruh pulaunya. Menghadapi ancaman hilangnya 
kedaulatan wilayahnya, belum lama ini Presiden Maladewa yang berpenduduk 
369.000 jiwa menyatakan akan merelokasikan seluruh negeri itu dan mengharapkan 
uluran tangan negara lain untuk mereka menyewakan wilayahnya.

Sementara itu, nasib yang sedikit beruntung dialami Vanuatu yang didiami 
212.000 penduduk. Negara ini masih memiliki lahan untuk merelokasi penduduknya 
yang tinggal di kawasan pesisir yang terendam.

Kerugian Indonesia

Di antara negara kepulauan di dunia, agaknya kerugian terbesar bakal dihadapi 
Indonesia, sebagai negara yang memiliki jumlah pulau terbanyak. Pada tahun 2030 
potensi kehilangan pulaunya sudah mencapai sekitar 2.000 bila tidak ada program 
mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, urai Indroyono, Sekretaris Menko Kesra 
yang juga mantan Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP.

Saat ini belum diketahui berapa sesungguhnya jumlah pulau di Nusantara ini yang 
telah hilang karena dampak kenaikan permukaan laut. Namun, pengamatan Badan 
Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) menunjukkan penciutan 
daerah pantai sudah terlihat di pulau-pulau yang berada di Paparan Sunda dan 
Paparan Sahul, ungkap Aris Poniman, Deputi Sumber Dasar Sumber Daya Alam 
Bakosurtanal.

Paparan Sunda meliputi pantai timur Pulau Sumatera, Kalimantan Barat, dan 
Kalimantan Selatan serta pantai utara Pulau Jawa. Adapun Paparan Sahul berada 
di sekitar wilayah Papua. Penjelasan Aris didasari pada pemantauan pasang surut 
yang dilakukan Bakosurtanal di berbagai wilayah pantai Nusantara sejak 30 tahun 
terakhir.

Menghadapi ancaman hilangnya kawasan pantai dan pulau kecil yang kemungkinan 
akan terus berlanjut pada masa mendatang, Aris yang juga pengajar di IPB 
menyarankan penyusunan peta skala besar, yaitu 1:5.000 dan 1:1.000.

”Saat ini baru tiga kota besar, yaitu Jakarta, Semarang, dan Makassar, yang 
memiliki peta berskala tersebut,” ujarnya. Pada peta tampak detail wilayah 
pantai yang terbenam di tiga kota tersebut. Peta ini disusun Bakosurtanal 
bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA).

Selain itu, pembuatan peta skala besar juga dilaksanakan untuk wilayah barat 
Sumatera dan selatan Jawa-Bali-Nusa Tenggara. Hal ini terkait dengan 
pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami (TEWS). Sementara itu, untuk wilayah 
timur Sumatera dan wilayah lain yang tergolong rawan genangan air laut akibat 
pemanasan global peta yang ada masih berskala kecil, sekitar 1:25.000.

”Pembuatan peta genangan perlu menjadi prioritas agar setiap daerah dapat 
melakukan langkah antisipasi dan adaptasi pada wilayah yang bakal tergenang 
dalam 5 hingga 20 tahun mendatang,” ujarnya.

Data spasial dan penginderaan jauh yang merekam dampak pemanasan global juga 
akan menjadi materi untuk pengambilan kebijakan di setiap instansi terkait pada 
waktu mendatang, urai Indroyono.

Skenario usia bumi

Tanpa perubahan pola konsumsi manusia dan perilaku manusia, serta tanpa upaya 
mereduksi emisi GRK untuk mengatasi pemanasan global, Intergovermental Panel on 
Climate Change (IPCC) memperkirakan usia bumi tinggal seabad lagi.

Proyeksi itu berdasar tren kenaikan suhu udara hingga 4°C. Tingkat itu dapat 
tercapai bila emisi GRK terus bertambah dalam beberapa dekade ke depan karena 
tidak ditegakkannya kebijakan mitigasi perubahan iklim dan pola pembangunan 
ramah lingkungan.

Bila melihat data emisi GRK pada kurun waktu 1970-2004, emisi GRK naik 70 
persen. Tingkat itu disumbangkan dari sektor energi yang mencapai peningkatan 
145 persen.

Bila temperatur udara naik menjadi 4°C, dampaknya antara lain hilangnya 30 
persen lahan basah, naiknya kasus penyakit akibat udara panas, banjir, dan 
kekeringan, mengakibatkan angka kematian naik drastis.

Ancaman itu, menurut IPCC, dapat dicegah dengan beberapa skenario untuk 
menurunkan GRK hingga tahun 2030. Skenario terbaiknya adalah menahan kenaikan 
suhu bumi hanya 2°C-2,4°C sampai 23 tahun ke depan. Untuk mencapai itu, 
konsentrasi GRK harus distabilkan pada kisaran 445-490 part per million (ppm).

Skenario lain menyebutkan, kenaikan dibatasi sekitar 3,2°C hingga 4°C pada 
kurun waktu yang sama, dengan menjaga jumlah GRK 590-710 ppm. Saat ini tingkat 
GRK telah melampaui itu semua. Tahun 2005 konsentrasi GRK 400-515 ppm.

Menurut IPCC, target itu bisa dicapai jika diterapkan kebijakan mitigasi 
perubahan iklim di tiap negara, yang harus diambil di sektor energi, 
transportasi, gedung, industri, pertanian, kehutanan, dan juga manajemen limbah.

 
 
 
Best Regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
http://bdwiagus.blogspot.com
http://bdwiagus.multiply.com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  [email protected] 
Find also Indo-MONEV in facebook: 
http://www.facebook.com/group.php?gid=34091848127&ref=ts 
 








_________________________________________________________________
NEW! Get Windows Live FREE.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke