Pak BTS ysh, 

Saya kira soal-soal yang kita anggap ghaib: sulap Copperfield, sihir, ilmu 
kebal, "kebetulan", termasuk jin, bakteri, virus, dan gelombang elektromagnetik 
pada masanya insya Allah akan dapat dijelaskan oleh ilmu pengtahuan. Saya ambil 
contoh dulu bakteri itu ghaib bagi kita, tidak kasat mata, sebelum  Anthony Van 
Leeuwenhoek menemukan mikroskop. Teori Geosentris Ptolomeus pun "gugur" dengan 
ditemukannya teleskop oleh Galileo Galilei - yang juga pada akhirnya 
disempurnakan sehingga tidak lagi ghaib bagi kita bahwa ada jutaan matahari 
juga di galaxy lain. Pendapat bahwa ukuran alam semesta ini tetap begini saja 
"runtuh" setelah Stephen Hawking menegaskan bahwa "the universe is expanding".

Kemudian, permainan kuda kepang, misalnya, itu tidak melulu karena "kesaktian" 
para pemainnya, namun ada syarat bahwa pecahan kaca itu tidak boleh tegak lurus 
terhadap kaki, maksimal bersudut 45 derajat terhadap lantai. Papan paku untuk 
para fakir sakti di India juga paku-pakunya harus rata, kalau ada yang menonjol 
satu saja, dijamin si fakir akan berteriak. :-)

Kisah pemindahan istana Ratu Saba' (Balqis) juga bisa diterangkan secara 
ilmiah. Energi menurut Einstein berbanding lurus dengan massa, dan pada tataran 
quantum, energi dan massa tidak bisa dibedakan: energi ya massa, dan massa ya 
energi. Dan yang tahu cara mengkonversinya adalah hamba Tuhan yang saleh yang 
bukan cuma jago ibadah ritual, tetapi juga ahli ilmu pengetahuan. Dan 
dijelaskan juga bahwa pada saat Nabi Sulaiman hendak memindahkan istana Balqis, 
yang akhirnya dipakai jasanya ternyata adalah hamba Tuhan yang saleh itu, bukan 
jin Ifrit yang sudah lebih dahulu menawarkan diri untuk membantu:-). Dan, 
hasilnya, pemindahan jauh lebih cepat, hanya dalam sekedipan mata, sementara 
kalau pakai "jasa" jin Ifrit butuh waktu beberapa menit. (Di sini terkandung 
hikmah: jin memang ghaib bagi kita, dan kita tidak ghaib bagi jin, namun kita 
tetap lebih pintar dan berilmu daripada ilmu -- lha namanya juga khalifah. :-)

Saya percaya bahwa tidak ada yang kebetulan di alam ini. Kalau dipandang dari 
Teori Chaos, maka segala kejadian di alam semesta ini adalah berhubunga: "the 
flaps of the wings of a butterfly in California contributes to the tornado in 
Arizona, no matter how far, how small, and how could it be":-) 

Dan menurut saya, yang menarik dari kasus Masjid yang tetap kokoh diterjang 
tsunami di Aceh sebenarnya bukanlah bagaimana pondasinya, seberapa kuat 
material, bukan itu sebenarnya. Tetapi mengapa di saat bangunan di 
sekelilingnya hancur lebur, Masjid itu tetap berdiri.:-) Kebetulan? Well, I 
ain't got the nerves to say that.:-)

Saya kira cukuplah saya akhiri tulisan saya dengan pernyataan seorang Albert 
Einstein -- seorang yang mengaku "a deeply religious atheist" -- yakni, 
"Religion without science is lame, (but) science without religion is blind." 

Salam dari Medan,
Andri

 
Sent from my BlackBerry® Bold  smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung 
Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>

Date: Tue, 31 Mar 2009 02:52:53 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Dongeng seputar situ-situ [rovicky.wordpress.com]


Nambahin  stori tentang mesjid yang tetap berdiri. Analisis tentang sebuah 
mesjid yang tetap berdiri kokoh dekat tanggul yang jebol  sebelum menjadi 
sebuah dongeng :
 
Setiap musibah sering ada cerita yang menarik atau aneh. Dulu waktu ada Tsunami 
di Aceh, begitu banyak bangunan hancur,..tapi banyak mesjid yang tetap tegak, 
tidak roboh. Itu memang kekuasaan Allah. Tapi soalnya bukan karena mesjid, 
karena mesjid di Aceh itu terbuka, tidak banyak dinding-dinding yang masif, 
sehingga ketika diterjang bah, ya pintunya jebol, tapi  mesjidnya tetap utuh. 
Jadi tidak ada yang aneh. Sementara banyak juga mushola2 yang hancur kena 
tsunami karena dindingnya masif.

Kali ini juga ada kejadian aneh di Situ Gintung. Begitu banyak bangunan roboh 
diterjang tumpahan air danau, tapi mesjid persis di depan tanggul jebol itu 
masih utuh, hanya pagernya yang roboh. Koq bisa ya?

Ternyata tidak ada yang aneh. Walaupun mesjid itu berada di depan tanggul 
yang   jebol, letaknya menyudut dan agak ke pinggir , sehingga air hanya 
mengenai dinding samping saja. Kecuali itu, karena berada dekat sekali dengan 
tanggul jebol itu, kecepatan atau tekanan  arusnya masih rendah, tapi sekitar 
100 meter sesudahnya akan terdapat arus yang kuat karena gaya resultante 
(dorong mendorong) dari begitu besar volume yang tumpah  menghantam rumah-rumah 
penduduk yang umumnya semi permanen (bangunan liar) itu. Air deras itu kemudian 
berakhir menghantam tembok tebal (rumah mewah penduduk) dan bukit kecil 
kuburan. Ini terjadi persis di kampus UMJ. Di sini terjadi pusaran dan tekanan 
tinggi. Maka kalau ada orang terseret arus air ini, sulit untuk selamat. Kini 
korban mendekati angka 100. Kita berduka.
 
Thanks. CU. BTS.


--- On Tue, 3/31/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]> wrote:


From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <[email protected]>
Subject: [referensi] Dongeng seputar situ-situ [rovicky.wordpress.com]
To: [email protected]
Date: Tuesday, March 31, 2009, 9:36 AM








Buat nambah referensi atau stori,.. 
 
Sumber:
http://rovicky. wordpress. com/2009/ 03/30/dongeng- seputar-situ- 
situ-di-indonesi a-beauty- and-the-beast- 1/
http://rovicky. wordpress. com/2009/ 03/30/dongeng- seputar-situ- 
situ-di-indonesi a-beauty- and-the-beast- 2-energinya- 90-ton-tnt/
 
Dongeng seputar Situ-situ di Indonesia : “Beauty and the Beast” (1)
30 Maret 2009 at 12:15 pm | In Bencana Alam, Dongeng 
Geologi, Environment, Longsor, banjir | 
Tags: Gintung, situ
 
Pertama yang akan dicari bagi seorang ahli adalah definisi. Apaan sih SITU ?
Menurut Dept PU tentang Penataan Ruang :
22. Situ adalah wadah genangan air di atas permukaan tanah yang terbentuk 
secara alamiah dan atau air permukaan sebagai siklus hidrologi, dan merupakan 
salah satu bagian yang juga berperan potensial dalam kawasan lindung;
Sedangkan dari sisi pengairan didefinisikan :
Waduk :
Adalah bangunan untuk menampung air pada waktu terjadi surplus air di sumber 
air agar dapat dipakai sewaktu-waktu terjadi kekurangan air, sehingga fungsi 
utama waduk adalah untuk mengatur sumber air. Yang termasuk jenis bangunan ini 
antara lain adalah:
1.    Waduk buatan/bendungan
2.    Waduk lapangan (pengempangan mata air)
3.    Embung (sejenis waduk kecil di NTB)
4.    Situ (sejenis waduk kecil di jawa barat)
Dengan mengetahui definisi-definisi diatas tentunya akan mempermudah para ahli 
ini untuk mengerti sebuah bangunan, konstruksi ataupun bentang alam bentukan 
dari proses alamiah.
Dari definisi diatas dapat kita ketahui bahwa yang disebut seitu pada awalnya 
sebuah tubuh air bentukan alam. Tentusaja dengan ciri-ciri bentukan alam yang 
berntuknya alami serta “bangunan”-nya terususun oleh material-material alam. 
Bendung yang dibuat biasanya minimalis, atau sedikit modifikasi. Namun 
modifikasi inilah yang seringkali diluar kontrol karena sering manusia 
menganggap bahwa segalanya yang bserasal dari alam ini “aman”.
Aman untuk sebuah konstruksi alamiah semestinya tidak melenakan, Harus 
dimengerti juga bahwa alam juga menyimpan potensi petaka ketika manusia tidak 
mengerti perilakunya. Tentusaja, selain potensi petaka, alam juga menyediakan 
keindahan dan kenikmatan yang dapat diambil oleh manusia.
Saat ini di Indonesia banyak situ-situ yang masih berfungsi sebagai penyeimbang 
alam, bahkan banyak situ-situ yang dipergunakan sebagai sarana irigasi.. 
“Danau” mini ini menyimpan air cukup banyak yang mampu dipakai untuk mengairi 
pertanian (sawah).
The Beauty. 
Keindahan situ-situ ini banyak yang telah menikmatinya. Tidak hanya menikmati 
keindahan pemandangan alamnya seperti diatas itu, tetapi juga fungsi pengaturan 
air untuk irigasi dijaman dulu. Namun fungsi irigasi ini sudah beralih. Saat 
ini tidak ada lagi tempat buat si Gintung membuang “hajat”.
Salah satu penyebab runtuhnya dinding urugan di sebelah utara ini sangat 
mungkin karena “penuhnya” air Si Gintung. Biasanya Si Gintung akan dikeeluarkan 
hajat airnya secara berkala untuk pengairan. Tentusaja pengairan sawah yg konon 
dulu ada di bawah si Gintung. Namun karena air ini justru ditahan supaya airnya 
dinikmati keindahannya, si Gintung tidak tahan menahannya.
Kalau saja si Gintung diberi keleluasaan mengeluarkan “hajat”nya, mungkin dia 
tidak akan marah.
Tahukah kamu bahwa energi yang dikeluarkan oleh si Gintung kemarin itu setara 
dengan 90 Ton TNT ?
 
 
 
ongeng seputar Situ-situ di Indonesia : “Beauty and the Beast” (2) “Energinya 
90 Ton TNT”
30 Maret 2009 at 5:10 pm | In Bencana Alam, Dongeng 
Geologi, Energi, Nggrundel, banjir | 
 
Ketika si Gintung mengamuk, sejumlah energi setara dengan 90 Ton TNT telah 
dikeluarkannya dalam waktu singkat. Energi sebesar inilah yang merusak 
rumah-rumah, mengangkat mobil serta meluluh-lantakkan daerah hingga sejauh 2 Km 
lebih. Kecepatan air ketika lepas dari jebolnya dam bisa mencapai 70 Km/jam.
 “Wah dengan 90 Ton TNT, kalau saja energi itu dikelola semestinya bisa 
menghemat energi ya, Pakdhe ?”
Dibawah ini salah satu cara yang saya dan  Marufin lakukan menghitung dan 
memperkirakan energi yang maha dahsyat ini menghancurkan hampir segala sesuatu 
yang dilewatinya.
Seberapa besar ukuran Si Gintung ?
 
Luas “danau” Situ Gintung menurut peta dari Google (wikimapia) adalah seluas 
0.23 Km2 (2 hektar). Menurut media kedalaman rata-rata waduk ini 10 meter. 
Artinya di bendung sebelah utara yang jebol ini mungkin kedalamannya akan 
sekitar 15 meter !. Untuk mempermudah dipakai rata-rata kedalaman 10 meter.
Karena kasus Situ Gintung bukanlah tsunami, maka kita tidak bisa menerapkan 
persamaan Carayannis untuk energi tsunami (E = (1/6)*rho*g* V*h dengan rho = 
densitas air, g = percepatan gravitasi, V = volume kolom air yang terusik, h = 
deformasi vertikal) disini, sehingga hanya persamaan mekanika Newton saja yang 
diterapkan.
Sebelumnya kita ambil asumsi danau ini punya kedalaman genangan yang homogen, 
yakni 10 m dari puncak tanggul, sementara ketinggian puncak tanggul dari 
pemukiman warga dibawahnya dianggap homogen 20 m. Artinya ada selisih 
ketinggian sebesar 10 m antara dasar danau dengan pemukiman warga. Volume danau 
adalah 2 juta meter kubik, sementara lebar tanggul yang terkoyak (jebol) adalah 
70 meter. Diasumsikan jebolan tanggul itu tepat berbentuk segiempat.
 “Whadduh … Pakdhe sama Pak Lik Marufin mulai ngutek-utek, nih”
Dengan menerapkan kesetimbangan energi potensial dan energi kinetik massa air 
danau di permukaan dan di dasar danau lewat persamaan
m*g*h = (1/2)*m*v*v,
Geometri Si Gintung
Maka kita mendapatkan kecepatan air yang mengalir dari Situ Gintung saat jebol. 
Pada wal mulanya, kecepatan air mengalir dari Situ Gintung sebesar 19,8 m/detik 
atau 70 km/jam.Kecepatan ini kemudian kian melambat seiring dengan kian 
menurunnya kedalaman genangan. Dan pada akhirnya, ketika hampir semua simpanan 
air Situ Gintung telah terkuras, kecepatannya menurun jauh menjadi tinggal 14 
m/detik atau 50 km/jam. Ini merupakan kecepatan yang cukup besar.
Sebagai pembanding, kecepatan rata-rata tsunami ketika sudah memasuki daratan 
‘hanya;ah’ 20 - 30 km/jam saja, terkecuali tsunami besar produk gempa 
megathrust Sumatra-Andaman 26 Desember 2004 silam yang menyerbu kota Banda Aceh 
pada kecepatan 50 - 60 km/jam. So dengan kecepatan yang besar, maka daya 
rusaknya (tekanannya) pun juga besar dan sepertinya inilah penyebab kenapa 
kerusakan demikian parah.
 
Bagaimana debitnya? Jika dianggap alirannya laminar, maka perilaku air Situ 
Gintung bisa didekati dengan persamaan kontinuitas. Dengan lebar tanggul 70 m 
dan tinggi tanggul 10 m dan diasumsikan pada saat-saat awal tinggi “koyakan 
awal” tanggul adalah 3 m (dihitung dari puncak tanggul), maka luasan 
permukaannya adalah 210 meter persegi.
Dengan kecepatan awal 19,8 m/detik, maka debit awalnya adalah4.150 meter 
kubik/detik. Dan dengan merujuk pada persamaan pembangkitan daya air terjun P = 
rho*Q*g*h (Q = debit), maka daya yang dihasilkan pada saat-saat awal 
sebesar 690 megawatt.Kira-kira setara dengan kemampuan PLTU Paiton !
Namun daya ini dengan cepat meluruh nilainya seiring dengan penurunan kedalaman 
genangan. Hanya, untuk mengetahui berapa nilai persisnya penurunan daya dari 
waktu ke waktu, kita perlu memodelkannya secara matematis lewat persamaan 
differensial untuk mengetahui fungsi debit terhadap waktu, fungsi kecepatan 
aliran terhadap waktu dan pada akhirnya fungsi daya terhadap waktu. Untuk hal 
itu tentunta perlu perhitungan njlimet.
 “Iya lah Pakdhe, yang mumet biar yang berwenang. Kita ini cuman bisa 
membayangkan segitu besarnya energi yang dilepaskan Si Gitung ketika melepas 
hajatnya”.
 
Bagaimana dengan energi totalnya ? Sebenarnya ini juga bergantung kepada rate 
daya persatuan waktu dari model matematis tadi. Namun jika kita hendak 
menyederhanakan perhitungan dan mengambil angka kasar, dengan waktu pengosongan 
genangan Situ Gintung yang tercatat (menurut saksi mata) sebesar 10 menit saja, 
maka kita memperoleh energi yang dilepaskan Situ Gintung adalah :
E = 692*10*60 = 415.200 Mega Joule = 415,2 Giga Joule
atau setara dengan 0,09 kiloton TNT.
Artinya, energi perusak maksimum yang dilepaskan oleh Situ Gintung tatkala 
jebol setara dengan ledakan 90 ton dinamit. Ini estimasi energi maksimum yang 
mungkin, karena nilai riil-nya pastinya lebih rendah dari angka tersebut.
Seperti telah telah disinggung tadi, angka-angka kecepatan aliran, debit, daya 
dan energi total didapatkan secara kasar, dengan mengabaikan banyak faktor yang 
sebenarnya signifikan sepetrti gesekan air dengan dasar tanggul, massa air yang 
lenyap meresap ke tanah, erosi dasar lembah dan beragam variabel lainnya.
Bagimana dibandingkan kejadian masa lalu?
Sedikit flashback ke masa silam, perkara jebolnya dam/bendungan di Indonesia 
sebenranya bukan hal yang baru. Pada 1976 misalnya, Waduk Sempor di Gombong, 
Kebumen (Jawa Tengah), dengan bendungan berupa timbunan tanah, jebol dengan 
sebab yang sama dengan Situ Gintung.
Pada saat itu bendungan Sempor belum dilengkapi dengan spillway sehingga 
pengaturan aliran air hanya dilakukan lewat pintu air dengan kunci yang 
dipegang seorang petugas. Celakanya, suatu hari ketika hujan deras mengguyur 
Jawa Tengah bagian selatan sehingga volume air waduk Sempor meningkat, pintu 
air tak bisa dibuka karena petugasnya sedang pergi ke Semarang. Akibatnya 
bendungan pun jebol, mengguyurkan jutaan meter kubik air ke Sungai Jatinegara 
hingga menggenangi kawasan Gombong utara dan barat, merenggut nyawa setidaknya 
96 orang. Dan kasus yang hampir mirip, dimana sungai terbendung oleh sisa-sia 
kayu hasil pembalakan hutan besar-besaran sehingga membentuk danau dadakan yang 
kemudian jebol akibat curah hujan teramat tinggi, terjadi di Probolinggo dan 
sekitarnya, dengan korban jiwa ratusan.
Ironi dan dagelan yang ngga lutju
Kasus Situ Gintung memang ironi, sebab tubuh bendungan sama sekali tidak 
dilintasi patahan aktif (baik makro maupun mikro), dan juga tidak terdapat 
bidang-bidang gelincir yang bisa menyebabkan bendungan ambles, dan juga tidak 
terhinggapi persoalan differential subsidence sebagaimana yang diderita 
tanggul-tanggul “danau” Lapindo di Porong Sidoarjo sana.
 “Halllah Pak Lik Marufin ini ono-ono wae mau memasang patahan lewat sini”.
 
Dan menjadi lebih ironi lagi ketika keretakan bendungan sudah pernah terjadi 
berkali-kali sebelumnya, terakhir November 2008 sebagaimana temuan BPPT, namun 
tak ada tindakan berarti yang dilakukan. Lebih ironis lagi, karena sudah sejak 
lama sebenarnya juga diramalkan tentang peningkatan curah hujan di Jabotabek 
dan sekitarnya akibat aktifnya Madden Juliajn Oscillation minggu - minggu 
ini.Yah, inilah wajah birokrasi negara ini pak, dimana dengan potensi bencana 
yang sudah ada pun, yang sudah didepan mata, alias dengan probability 100 %, 
tak ada langkah-langkah cepat yang dilakukan untuk mencegah atau memitigasinya. 
Ya langkah-langkah cepat itu ada kalo pas saat bancakan duit saja, entah apapun 
partainya, entah apapun agamanya, entah apapun latar belakangnya.
 “Waaah Pak Lik trus nggrundel … “
 “Thole, ngrrundel positipnya Pak Lik Marufin emang gitu. Kalau mangkel dia itu 
ngambil kalkulator trus ngitung-itung !”
------------ --------- --------- --------- --------- -
 
Regards,
 dwiagus 
http://bdwiagus. blogspot. com
http://bdwiagus. multiply. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com 
Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. 
php?gid=34091848 127&ref=ts 
 















      

Kirim email ke