PARIWISATA : Pemerintah Undang 100 Kapal Pesiar JAKARTA. Pemerintah menempuh berbagai cara untuk menggaet wisatawan asing. Salah satunya, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) akan mengundang 100 kapal pesiar asing untuk berlayar ke Indonesia. Sebagai perbandingan, tahun lalu, ada 80 kunjungan kapal pesiar ke Indonesia. Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar Firmansyah Rahim bilang, Maret lalu, ada sejumlah kapal pesiar asing masuk ke Indonesia. Antara lain Amadea, Costa Allegra, Crystal Serenity, Delphin Voyager, dan Clipper Odyssey. Kapal pesiar itu singgah di pelabuhan yang memiliki standar internasional. Antara lain: Belawan, Medan; Tanjung Priok, Jakarta; Tanjung Emas, Semarang; Tanjung Perak, Surabayal Benoa dan Tanjung Bay, Bali; serta Pelabuhan Seokarno-Hatta di Makassar. "Jelas harapan kami adalah mengundang mereka dan memperkenalkan pariwisata kita," ujar Firmansyah, di Jakarta, Senin (13/4). Akhir April ini, dua kapal pesiar juga akan mengunjungi kawasan wisata kepulauan Karimunjawa dan Pulau Komodo, yakni: Volendam dan Silver Shadow, masing-masing milik Holland America Lines dan Silver Shadow. Selain ke Karimunjawa dan Pulau Komodo dua kapal itu juga akan menyambangi Semarang, Benoa, dan Padang Bay. Namun, Didien Junaedy, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Wisata Bahari Indonesia (Caswari) mengatakan, upaya ini akan terhambat aturan bea cukai yang meminta kapal pesiar asing yang masuk ke Indonesia untuk membayar jaminan sebesar 5% dari harga kapal. Menurut Bea Cukai, ini merupakan jaminan atas aktivitas kapal pesiar itu di Indonesia. "Kebijakan pemerintah seperti ini (meminta jaminan 5%) justru kontraproduktif terhadap semangat memajukan wisata bahari," ujar Didien. Namun, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Departemen Keuangan Anwar Supriadi menolak mengomentari masalah ini. "Saya belum komentar dahulu," ujarnya singkat. (Yudho Widiyanto, Kontan)

