Sahabat H. Ekadj ysh, 
 
Kalau tempo hari ada yg meminta maaf krn  ‘mementahkan kerja keras 
anda”......... saya sebaliknya.. tertarik utk ganti  ingin membesarkan hati 
anda (dan hehe… ganti meminta maaf kpd sahabat yg mementahkan kerja anda)..... 
mendorong anda utk kembali mematangkan kerja keras anda itu..........
Saya kira tak mudah membandingkan Indonesia dgn 235 juta penduduk dan 10% angka 
pengangguran serta GNP dibawah 4500 dollar.... mencontoh/ membandingkannya dgn 
sebuah negara kolonialis (dgn budaya industrialisasi  dan urbanisasi lbh 100 
tahun didepan kita) berpenduduk 60 juta jiwa dgn GNP 30,000 dollar dgn angka 
pengangguran 4.7% (katakanlah angka pengangguran 1,5 juta TK)...........
Lebih tak mudah lagi membandingkan pengembangan model kota2 pada pulau Great 
Brittain yg tak kurang besarnya dari pulau Kalimantan dgn penduduk 60 juta 
jiwa.......  dgn pulau Jawa... yg hanya 1/5 Kalimantan  dimana  jumlah 
penduduknya mencapai lebih 100 juta jiwa........ dan Jawa masih menjadi fungsi 
pemasok 50% produksi padi nasional kita...........
Sudah program migrasinya keluar Jawa nggak digalakkan..... program Kbnya pun 
juga kendor..... masih  pula perencanaan kota2nya menginginkan sistem jalan utk 
pejalan kaki yg serba lebar mirip model ‘forest city’ di Inggris itu……
Penduduk kita, utamanya Jawa… terkenal mudah “nrimo” dgn keadaan yg buruk… dan 
“mudah bersyukur” utk “sedikit karunia kemudahan hidup”…..
Kalaupun dlm contoh diceritakan ttg kota MK di Inggris yg ideal….. yg semula 
bersemboyan gedung2 tidak lbh tinggi dari pepohonan…..tapi belakangan kota itu 
juga bikin pencakar langit juga.. sebuah gedung berlantai 14… dgn alasan utk 
landmark kota….. dan pada proyek gedung itu pedestrian underpassnya konon juga 
ditutup……
Kalau kota Cambridge tempat prof kita pernah ngendon disana…. Ya tentu saja 
kawasan arkeologik kotanya terlampau berharga utk tidak dipertahankan … sebab  
pemukiman disana berdiri konon bahkan sejak abad ke-1…. Lalu universitas disana 
konon  juga  telah berdiri bahkan sekitar abad 13……
Kita saja yg tak banyak memiliki peninggalan kota2 kuno yg patut dipertahankan… 
krn bangunan2 pada kota2 kuno kita nampaknya lbh banyak terbuat dari kayu, 
bukan batu… sehingga banyak lapuk  dimakan  usia…..
Lagian kita khan lbh perlu menggalakkan pengembangan kota2 diluar Jawa..... 
93.3%  WNRI (bukan lbh banyak di Jawa) ….. dimana justru nampaknya dibanyak 
kawasan terpencil wilayah kita tak banyak peninggalan arkheologik yg ditemukan 
sehingga kita  hampir tak perlu hrs pusing membuat desain kota mirip MK atau 
Cambridge itu… dimana tepat ditengah2 kotanya bangunan2 tetap dipertahankan….. 
lalu jalan2 dibuat mengelilinginya….
Bhw dilontarkan kritik “mengapa ‘sistem jalan’ cenderung berbasis kendaraan 
pribadi”…….. jangan salah…..  justru sistem jalan di Milton Keynes itu  tetap 
saja konon menurut arsitek pendiri kota itu (Derek Walker) pada dasarnya tetap 
“berbasis car ownership/ dan e-commerce…. mengambil inspirasi  dari Californian 
urban theorist Melvin M. Webber….
Tentang “jalan orang lbh dari jalan kendaraan bermotor”….. saya kira rakyat  
kita akan terlebih dulu milih “keadaan ekonomi yg lumayan baik” dan “pekerjaan 
yag mudah didapat” serta “good  governance/ pemerintahan bersih” lebih dari 
mengutamakan “jalan yg serba lebar utk pejalan kaki” (apalagi di Jawa yg sempit 
dan padat)…… tetapi “pekerjaan tetap susah didapat”……dan “biaya utk anak 
sekolah susah”….
Salam persahabatan,


      

Kirim email ke