Ysh Pak Risfan dan milister semua.
 
Dari peneltian saya terhadap hampir 350 kabupaten/kota bahwa :
 
1. Selama ini dividen BPD walaupun dicatat sebagai pendapatan asli daerah 
lainnya, kenyataannya   tidak diterima oleh Daerah karena langsung menjadi 
penyertaan modal BPD bersangkutan pada tahun anggaran bersangkutan.
2. Daerah yang mempunyai surplus tinggi tidak hanya mereka yang mempunyai DBH 
Bukan Pajak (SDA) yang tinggi, tetapi hampir semua. Rata-rata surplus 12,6%. 
Kalau APBD daerah yang kecil saja sekitar Rp 300 milyar, maka ada surplus 
sebesar Rp 37,8 milyar pada satu tahun anggaran.
3. Surplus itu memang bukan soal yang besar. Boleh jadi malah hasil efisiensi 
(sisa hasil tender).  Jadi surplus itu bisa bagus. Tidak perlu APBD itu harus 
habis. Yang penting itu bagaimana mengelola kumulatif surplus (yang umumnya 
berupa Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran atau Silpa)  ini yang kenyataannya dari 
tahun ke tahun terus meningkat. Tahun 2006 sekitar 40 T dan tahun 2007 
meningkat menjadi 45T yang sebagian besar diletakkan dalam SBI yang tidak 
produktif.
4. Hasil Surplus, dalam standar akuntansi pemerintahan,  tidak boleh dipakai 
secara langsung untuk pembangunan gedung. Yang diperkenankan adalah untuk 
kegiatan yang memberikan pengembalian seperti : deposito, membeli obligasi, 
penyertaan modal, ditempatkan ke SBI, memberi pinjaman (misal untuk mikro 
kredit), dan investasi serta penyertaan modal).
 
Thanks. CU. BTS.

--- On Sat, 4/25/09, Risfan M <[email protected]> wrote:


From: Risfan M <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Menkeu: BPD Betul-betul Beternak Uang
To: [email protected]
Date: Saturday, April 25, 2009, 2:06 AM








Bung Dwi, BTS,

Saya hanya nimbrung, yang "uenak tenan" itu kan milik Daerah. Jadi untungnya 
jadi pendapatan daerah.

Jangan lupa BPD, dalam koridor BI, tapi tetap punya misi pembangunan daerah, 
kalau perlu invest di prasarana dasar. Ada beberapa daerah yang mengenerate 
listriknya sendiri, bahkan menjual surplusnya ke PLN.

Surplus pendapatan, umumnya karena bagi hasil SDA. Banyak yang sangat besar 
(surplus) karena kaya SDA. Ini kan beda dengan anggaran, jadi tak harus 
dihabiskan dalam tahun itu juga. Idealnya sih untuk mendorong/stimulan ekonomi 
lokal. Tapi kalau tidak, dalam waktu tertentu memang lebih baik diparkir 
sementara , untuk biaya multiyear projects misalnya.
Dulu ditaruh di SBI karena dirasa paling aman, tapi sekarang instrumen SUN, 
dst. Asal transparan, dan tidak eksesif kan baik. Daripada untuk pembangunan, 
tapi yang dibangun kantor gubernur/bupati terus.

Salam,
Risfan Munir




From: Bambang Tata Samiadji <btsamia...@yahoo. com>
Sent: Friday, April 24, 2009 11:12 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] Menkeu: BPD Betul-betul Beternak Uang












Bung Dwiagus, menurut saya ada sedikit kekeliruan dalam Berita Detik Finance 
yaitu :
"Mereka selama ini  mau memudahkan urusan kinerja dengan hanya memarkirkan 
dananya di Surat Utang Negara (SUN) atau Sertifikat Bank Indonesia  (SBI)".
 
SUN itu tidak sama dengan SBI. SUN itu obligasi atau surat utang yang 
diterbitkan oleh Negara. Surat Utang ini oleh negara dipakai untuk hal yang 
produktif, misalnya untuk membiayai pembangunan infrastruktur, dana bergulir, 
dan pembiayaan lainnya. Jadi sangat produktif. Sedangkan SBI itu hanya upaya BI 
untuk menyerap uang yang beredar agar terjadi kestabilan tingkat inflasi. Jadi 
SBI itu tidak produktif, apalagi tenorya hanya 1-3 bulan saja. Yang dikritik 
Menkeu mestinya pemarkiran dana pemda ke SBI, bukan ke SUN karena yang 
menerbitkan SUN itu Menkeu sendiri.
 
Memang benar sih kalau BPD itu beternak uang. Tapi itu nggak salah karena bank 
itu ya beternak uang. Hanya saja cara beternak uang gaya BPD memang uueenak 
tenan. Antara lain :
1. Kalau bank-bank lain berupaya menggaet uang masyarakat dengan berbagai 
iming-iming; kalau BPD diam saja setiap tahun dapat giro sekitar 5-10 triliun 
yang berasal dari rekening APBD daerah-daerah.
2. Kalau bank-bank lain berusaha menjual uangnya dengan berbagai iklan 
kemudahan, tingkat bunga, dan likuiditas yang dijanjikan; BPD sih tenang-tenang 
saja karena setiap kontraktor yang mendapat pekerjaan dari pemda (sebagai 
stockholder BPD), modalnya harus pinjam BPD dengan bunga yang cukup tinggi dari 
pasaran.
3. Kalau bank-bank lain berusaha tidak kekurangan likuiditas; BPD selalu 
kelebihan likuiditas karena sisa-sisa uang Pemda yang menumpuk dari surplus 
tiap tahun dari APBD yang rata-ratanya 13% dari APBD. Sisa-sisa uang itu 
kemudian di SBI-kan. Dari SBI ini dapat bunga sekitar 6-8% per tahun.
4. Kalau bank-bank lain berusaha menambah modal sampai pada "public offering" 
segala, kalau BPD sih terus menerus dapat penyertaan modal tiap tahun dari para 
pemegang saham, yaitu pemda-pemda sendiri yang berasal dari dividen-dividennya 
pemda dan penyertaan modal tambahan diluar dividen.
 
Akhirnya BPD mau juga ikut mendukung pembangunan PLN. Sepintas ini kesannya 
luar biasa karena BPD mau ambil risiko memberi pinjaman PLN. Tapi sebenarnya 
tidak ada yang luar biasa karena pinjaman BPD ke PLN itu dijamin Pemerintah. 
Uueenak tenan.
 
Thanks. CU. BTS.
 
 




--- On Fri, 4/24/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com> wrote:


From: Benedictus Dwiagus Stepantoro <bdwia...@gmail. com>
Subject: [referensi] Menkeu: BPD Betul-betul Beternak Uang
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Friday, April 24, 2009, 5:18 AM






 
BPD  peternak uang yang handal rupanya???
 
 
 
Jumat, 24/04/2009 10:34 WIB
Menkeu: BPD Betul-betul Beternak Uang
Suhendra - detikFinance

Foto: Wahyu Daniel/detikFinance
Jakarta - Menko Perekonomian yang juga Menteri Keuangan Sri Mulyani kembali 
menyindir bankir dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang dianggapnya selalu 
ingin mengambil cara gambang. 

Mereka selama ini  mau memudahkan urusan kinerja dengan hanya memarkirkan 
dananya di Surat Utang Negara (SUN) atau Sertifikat Bank Indonesia  (SBI).

Sindiran itu disampaikan Menkeu dalam acara pendanaan 10.000 MW oleh  BPD 
kepada  PLN di Gedung Depkeu, Jakarta, Jumat (24/4/2009). 

"Mentalitas dari bankir yang memudahkan ini lah yang akan menghalangi aktivitas 
ekonomi," ucap Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, label  BPD yang selama ini hanya terkesan menerima 
muntahan dana-dana  APBD daerah  yang tidak terpakai pakai masih melekat.. 
Sehingga tanpa harus harus bersusah-susah dan  berkeringat sudah dapat dana 
kelolaan yang cukup besar.

"Bahkan yang buruk lagi meminjamkan ke bank lain terutama ke bank kecil. Jadi 
dia  (BPD) betul-betul  beternak uang," ujarnya.

Sri Mulyani mendesak agar  BPD harus lebih agresif lagi dalam upaya mendukung 
pembangunan ekonomi termasuk dengan pendanaan infrastruktur seperti PLN dan 
lain-lain Ia mendesak mentalitas buruk dari bankir BPD harus dirubah termasuk 
dalam menyikapi penjaminan pendanaan PLN yang kebetulan di jamin oleh 
Departemen Keuangan sehingga agar tidak berleha-leha.

"Menkeu untuk menjamin itu,  menekan persepsi terhadap risiko, tidak dengan 
tujuan jaminan itu untuk teralisir, kalau perlu sampai akhir saya jadi menkeu 
tidak terealisir (jaminan)," harapanya.

Dalam kesempatan kali ini, BPD mendanai pembiayaan infrastruktur termasuk 
kepada PT PLN sebesar Rp 4,7 triliun untuk 10.000 MW. Menkeu pun memberikan 
apresiasi kepada BPD yang telah berani dan agresif untuk membiaya pendanaan 
10.000 MW program pemerintah melalui PLN.

"Bahwa ini konsorsium bank pembangunan  daerah yang pertama kali dalam dua 
jenis pinjaman rupiah dan valas. Ini langkah maju dari  BPD," puji Sri Mulyani.



(hen/qom)
 
Regards,
 dwiagus 
http://bdwiagus. blogspot. com
http://bdwiagus. multiply. com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
 
:::.... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com 
Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group. 
php?gid=34091848 127&ref=ts 
 

















      

Kirim email ke