Milisters ysh,
Sebenarnya pokok pangkal dari saya mendesak2kan terus urgensi masalah ‘hirarkhi 
ruang/ kota’ (utk menuju kata kunci ”kembangkan kota besar diwilayah”)  itu 
adlh krn pembangunan wilayah (tertinggal, lbh dari 80% NKRI) itu pertama 
…mutlak memerlukan faktor migrasi SDM unggulan sbg ujung tombak human economic 
activities (plus pasangannya berupa investasi, dukungan lembaga keuangan, 
syarat mutlak kota besar yg nyaman sbg tapak dan environmentnya dsb..)….. dan 
kedua……. Faktor ‘spillover/ spread effect’ dari kegiatan kota amat besar  (sbg 
hirarkhi tertinggi sistem kota) terbukti paling mampu menyegerakan pembangunan 
wilayah belakang/ pedalamannya (dibanding bila memulai pembangunan dari arah 
sebaliknya, walau 2 arah tentu perlu ) …… bahkan sampai radius ratusan 
km........... sehingga ketiga faktor taktis “tak terpisahkan”  tsb (migrasi, 
SDM unggulan dan kota amat besar/ greater metropolis sbg ‘penggerak’ plus 
'spread effect/
 spill over effectnya) saya pandang merupakan kumpulan komponen paling efektif 
utk menyegerakan pembangunan wilayah (tertinggal)………dan faktor keempat adalah 
adanya  ‘industri memimpin’ / ‘aktivitas memimpin’ (propulsive industries, 
leading activities) spt yg biasa selalu tak pernah ketinggalan disebut dlm 
textbook ttg studi pembangunan wilayah (model spt favorit pak Risfan Munir ttg 
pengembangan UKM lokal sih jelas bagus dan amat patut dihargai… … hanya saja 
karena tak jelas berkait dgn skenario pengembangan “kota besar” sebagai 
“economic engine” …… maka perannya utk menggerakkan migrasi kerah putih dan 
penciptaan aglomerasi baru luar Jawa sepertinya kurang kuat,  padahal 'migrasi' 
itu juga kini amat mendesak)………..
Itu sebabnya  mengapa saya mengusulkan  1) proyeksi pembangunan ‘Greater 
Makassar’ (sbg skala tapak, space, environment utk SDM kelas 
menengah/unggulan)... plus (2) skenario “migrasi SDM kelas menengah/ Unggulan” 
(unsur utama manusianya).... plus  (3) “Filialisasi/ semai industri manufaktur 
memimpin” khas negeri kita  (leading activities)… dan (4) sengaja 
berkonsentrasi mengembangkan “1 titik dulu” (dan bukan “serentak dimana2")  utk 
menyegerakan terbentuknya aglomerasi kuat yg baru (utk kerangka countermagnet 
to primate city) …..  perlu dijadikan kerangka dasar pembangunan  wilayah 
tertinggal…… dan.....
Sebenarnya kita bukankah punya contoh  lain faktual ttg “success story” 
pembangunan wilayah….. dgn faktor 4-in-1 tsb…… ialah Batam (500.000 jwa)…..
Kalau kita perhatikan… bukankah (1) faktor migrasi (penduduk aslinya 13.000 
suku laut dan oknum2 bajak laut..... (2) adanya peran SDM unggulan/ kerah 
putih/ leading acitivities/ leading industries (Habibie cs., Pertamina dsb)….  
(3) faktor “Kota besar Singapore sedekat 20km sbg syarat environtment SDM kerah 
putih….  (4) industri manufaktur….(5) faktor daya spill over effect dari 
Singapura.......  adalah  kata kunci sukses pertumbuhan kawasan Batam (terlepas 
dari 1 ‘kelemahan’ sempitnya pulau Batam Rempang Galang sbg ‘pusat 
pertumbuhan’  regional ya prof. Abim)?....... dan sebaliknya kita juga memiliki 
cukup pelajaran berharga ttg “kegagalan strategi pembangunan wilayah”  yg 
seharusnya cukup memalukan (atau sekedar memprihatinkan… atau biasa2 saja?) 
seperti ttg penetapan strategi “Kapet 13”..... lalu yg tewas 11?...... mana 
sudah begitu ada yg menyebut bahwa  salah satu dari 2 yg hidup itu…… tanpa 
Kapetpun ia akan
 tetap tumbuh krn berbagai faktor lokal yg sejak awalpun memang telah 
mendukungnya……..
Tak bisa disangkal…… bbrpp faktor kegagalan Kapet adalah spt….. (1) ia 
direncanakan “serentak dan dimana2” (contrary to Perroux yg katakan bhw 
“pertumbuhan tidak terjadi serentak dan dimana2”)..…. (2) berbagai kebijakan 
lokasi Kapet itu samasekali tidak didukung oleh skenario mentah / matang ttg. 
pengembangan urban (bukan dominantly agrarian) sbg environment dari SDM kerah 
putih yg nantinya supposed dpt menjadi ‘kelas kreatif’ sbg penggerak 
perekonomian perkotaan lokal… (3) selain direncanakan “serentak dan dimana2”…. 
Tak adanya skenario pengembangan environment urban yg favourable (kota besar) 
bagi migrasi SDM kerah putih … menyebabkan tak mungkin munculnya migrasi SDM 
kerah putih kelokasi2 pusat Kapet tsb…..(4) tak ada pelibatan peran dari 
“industri nasional memimpin” yg kita sebenarnya punyai itu  utk diminta aktif  
pada proyek2 Kapet tsb (tak ada skenario “semai industri manufaktur yg sdh 
berkembang pesat”
 spt industri spdmotor dgn 6,5 juta unit pertahun itu…. Dan Kapet terlalu pede 
dgn  jurus “kembangkan SDA lokal” dan "agrarian" yg terbukti banyak gagal)..……
I I
Dalam kaitan dengan “separation of powers”……. Dimana otoritas penataan ruang 
sama seperti pada sektor lain perlu ‘dibagi’ antara ‘eksekutif’ dan 
legislatif’….. dalam kaitan dgn ‘pembagian kekuasaan’ itu …… saya sih 
samasekali tidak terpikir ttg urgensi  pengawasan oleh legislatif  itu krn  
menyangkut ‘aspek anggaran atau kebocorannya atau korupsi’……. Sama sekali nggak 
gitu….. Tetapi saya lebih cemas ttg aspek  potensi “ketidak tepatan 
pengambilan/ pemilihan  strategi penataan ruang”  oleh eksekutif (spt contoh 
diatas) yg tidak dpt dikoreksi secara memadai oleh legislatif yg sekedar 
terdiri dari para politisi  rindu kursi……..
Benar sekarang ini “separation of powers” antara eksekutif/ pemerintah/ BKTRN 
dan turunannya sampai ke DJPR telah ada “partnership” dgn Komisi V DPR yg a.l. 
membidangi tata ruang…… tetapi bhw anggota parlemen adalah para politisi yg 
jarang mengerti ‘teknologi penataan ruang’ (dan kasarnya sekarang ini mereka 
secara darurat menghire ‘penasehat tata ruang’ yg itu tentu kurang memadai dan 
tak pasti  mrpkn ‘jaminan mutu’ dan kurang terbuka pd masyarakat ) …… maka itu 
sebabnya…… seperti kenapa dibentuk KNKT (Komisi Nasional Keselamatan 
Transportasi) misalnya….. atau KPK,. KPPU dsb…. karena DPR (bahkan juga 
Presiden, utk nama baiknya)  memerlukan “kepanjangan tangan” utk “partnership 
yg setara de\gn eksekutif” yg independen yg dapat bekerja lebih profesional  
dan lebih spesialistik tepat dibidangnya…… dan rakyat dapat kapan saja datang 
kesana……….... 
 
Salam, 
 


      

Kirim email ke