Bang Hot ysh. Kita mendapatkan banyak pelajaran yang salah tentang kenegarawanan, atau belum tersedia contoh tentang 'karakter kenegarawanan'. Petuah Batak mengatakan: "marbisuk songon ulok, maroha songon darapati", berpikir seperti ular, berperasaan seperti burung merpati; belum menjadi acuan dalam komunikasi politik, semuanya ulok. Banyak hal yang perlu diperbaiki dalam sistem perpolitikan nasional kita, apa perlu kita ramai-ramai eksodus ke dunia ini untuk turut membenahi? Salam.
-ekadj --- In [email protected], hotasi simamora <hotasisimam...@...> wrote: > > Pak Eka, dan rekan-rekan ysh > Apa yang dipertontonkan para elite belakangan ini merupakan cermin kepribadian sebagian besar anak bangsa. Coba bandingkan saja dengan perilaku masyarakat kita di jalan raya, tidak beda jauh dengan perilaku para elite politik. Bedanya, kalau di jalan raya terjadi kecelakaan, maka yang akan disalahkan adalah kendaraan dengan hirarki yang lebih tinggi, meski pun itu kesalahan disebabkan karena perilaku pengendara dengan hirarki yang lebih rendah, sedangkan di politik, yang akan disalahkan adalah partai2 kecil yang perolehan suaranya kecil. > Tapi, dalam hal yang terjadi belakangan ini, disinilah letaknya blunder Pak SBY. Beliau merasa terlalu PD, sehingga lupa bagaimana kultur elite politik bangsa kita. Sesungguhnya, dalam sistem politik kita masih menggunakan pola sebagaimana dalam pepatah Batak "Sitogu na Jonjong, si tunjang na gale" yang artinya rame2 mendukung yang kuat dan menginjak-injak yang lemah. > Kalau sudah rame2 partai tengah eksodus atau melakukan gerakan asal bukan SBY, ini akan menjadi bola liar, dan sisa masa pemerintahan yang tinggal beberapa bulan ini, terutama dalam waktu menjelang Pilpres, akan sangat berbahaya. > > Dan yang menjadi tanda tanya lagi, partai2 yang tidak lolos PT, ikut pula berkoalisi. Emangnya apa mereka nanti di legislatif? > Hot Asi > > > ________________________________ > From: ffekadj 4ek...@... > To: [email protected] > Sent: Tuesday, May 12, 2009 5:35:49 > Subject: [referensi] Re: Koalisi > > > > > > > Pak BSP, Pak Risfan, dan rekan-rekan ysh. > > Memperhatikan analisis real-time ini kelihatannya situasi politik kita > masih ngebabalieut ya. Saat ini sudah sampai pada priode tari jaipong > yang menampilkan 'kegenitan politik', setelah sebelumnya ada priode tari > poco-poco, tari burung merak, dst. Kalau menontonnya, kata Pak BSP, > seperti nonton sinetron, klimaks-anti klimaks-klimaks- dst. Apakah > berakhir bahagia atau tragedi, sepenuhnya berada di tangan Raam Punjabi. > Kurang tahu apakah ini disebut kematangan berpolitik, ataukah keamatiran > berpolitik. Sebagai penonton kita boleh merasakan apa saja, tapi sebagai > rakyat, kita seharusnya merasa lelah. > > Sebelumnya terima kasih, mohon rekan-rekan jangan jemu-jemu meng-update > informasi. Salam. > > -ekadj

