Milister ysh,

Dari contoh ungkapan spt  berikut :
“…Kalau begitu saya juga nitip untuk warga miskin (tuna lahan), juga pelaku 
sektor informal yang tak mampu sewa ruko dan terpaksa buka usaha rumahan. 
Karena bidang permukiman membina, bidang KUKM membina, tapi bidang Taru 
cenderung melarang/ mengusir…..”.
Kita dpt lihat disini walau trdpt  keprihatinan ttg (dikatakan sbg) bidang Taru 
cenderung melarang/ mengusir  (sptnya  bukankah  itu lebh mrpkn kerja bidang 
tramtib dan satpol pp?) lalu trdpt  simpati besar oleh planner ttg upaya 
pengembangan UKM……. Bahkan yg lbh menggembirakan lg adlh trdpt  ungkapan 
bersifat spatial ttg ketakmampuan sewa ruko shg muncul solusi kreatif  ttg 
penggunaan rumah sbg ruang usaha………  Sayang bahwa saya kok spt melihat bhw  
keprihatinan ttg nasib UKM ini  kok kenapa masih cenderung lbh berat (mandeg?)  
kpd aspek perkembangan usahanya (non-spatial aspect) lbh daripada  pemikiran 
planner ttg solusi teknologi/ teknik/ kutak-kutik  keruangan yg lbh tepat guna, 
fundamental dan berjangka panjang  bagi sikecil UKM ………. Sebab menyangkut aspek 
non-spatial spt ttg  usahanya, financingnya maupun teknik produktivitas serta 
marketingnya… tentu sdh terdapat lembaga dan masyarakat ilmiah yg lbh relevan 
utk
 memperhatikannya……… dimana masyarakat nonspatial itu kemungkinan besar kurang 
mengerti ttg penguatan aspek teknik spatial dari UKM…… dan tentu mereka lbh 
harapkan itu dilakukan oleh masyarakat teknik keruangan……...
Kalau benar keprihatinan pd UKM itu oleh masyarakat planners memang 
menginginkan perbaikannya scr fundamental….… saya kira membahas aspek teknik 
keruangannya akan semakin lbh mulia dan lbh patriotik saja dibanding bila hanya 
(ikutan) memikirkan aspek nonspatialnya yg itu sdh ada mereka yg lbh relevan 
mengurusnya……..….…..
Spt kita tahu… scr historis…… akibat kebijakan kolonial yg buruk…. UKM kita 
telah dikuasai oleh etnis china yg hanya 5% populasi nasional kita……… dimana 
kita tahu minoritas itu konon menguasai 50% dari peredaran uang nasional 
kita……. Jadi suka tidak suka….. pada dasarnya pengembangan sektor UKM itu juga 
sama saja dengan pengembangan UKM pribumi (melawan minoritas scr sehat, bukan 
secara rasial)….. dan kita tahu.. semenjak berpuluh tahun UKM ini telah 
didominasi oleh minoritas tak hanya secara finansial….. namun juga  scr 
legendaris aspek spasialnya………  
Pemecahan scr spasial di Jawa adalah ngoyoworo….. krn lokasi2 sudah terlampau 
strategis dan terlampau mahal utk dibagikan/ dijual murah kepada UKM… selain 
daya dukungn ekologis Jawa jg sudah termehek2 ……. Dan satu2nya cara hanyalah 
pemecahan diluar jawa yg 93.3% wilayah nasional atau di KTI yg adalah 50% 
wilayah nasional………
Krn pengembangan UKM dlm bentuk spasial (ruko hak milik ditepi jalan ekonomi)   
tak bisa berjalan sendiri secara monosektoral (perlu kerjasama multi sektoral 
yg luas temasuk peran kerah putih, efek trickle down dsb)  dan pemecahannya 
memerlukan lahan yg luas (hrs diluar Jawa, dan kita punya 1.9 juta km2 ruang, 
sementara itu  1 unit ruko hanya butuh 100m2,  sekalian  mengejar banyak 
idealisme lainnya yg tercecer) ……. Maka itu kepedulian yg total (bukan 
setengah2 dan partial)  dan tuntas pada UKM  tidak bisa ditempuh hanya dgn 
cara2 eksplisit  saja………..
Haruslah ditempuh... suka tak suka.... cara ibarat permainan karambol………. Mau 
mengincar bola merah  A (UKM)  tapi hrs muter2 mulai dgn  menyodok bola B dulu 
(migrasi, peran kerah putih)  agar mengenai C (tumbuhnya industri manufaktur 
dilokasi baru sbg ‘gula’) dan barulah C mengenai  target utama A (UKM 
berkembang, sikecil memiliki ruko dikota, menghadap jalan besar)…..…..
Sementara  itu dalam kiasan permainan karambol yg sama……. Mengincar peran serta 
kerah putih (ingin sodok A1)….. memerlukan  trlebih dulu pengembangan 
environment  yg dimaui  utk habitat kerah putih dan keluarganya (sodok bola B1, 
sudah jauh2 diluar jawa, tentu  bukan dikota kecil jg serba kurang 
infr.strukturnya)…. Yg itu berarti perlu mencakup pengadaan pekerjaan kerah 
putih (industri manufaktur memimpin, artinya sodok bola C1)……. Dan barulah C1 
diharapkan dapat menyodok target utama… ialah bola merah A1………Saya sendiri sih 
tak ngerti dan tak suka permainan karambol.... tapi kelihatannya ini 
adalah bukan masalah suka tak suka.......

Salam,
 



      

Kirim email ke