Bung Eko dan Rekans ysh.,

Setuju dengan Anda. Salah satu strategi pengentasan kemiskinan memang melalui 
aspek gender.
Pada lapisan itu biasanya perempuan lebih rentan, sementara bicara perempuan 
berarti anak-anak yang diasuhnya juga. Kemiskinan biasanya multi dimensi, 
ekonomi, pendidikan, kesehatan.

Sering  program bantuan disabot bapaknya. Bantuan susu saja di DKI saat krisis, 
oleh bapaknya dijual buat beli rokok. Sehingga dirubah jadi inkind untuk gizi 
ibu dan anak.
Soal kredit mikro atau dana bergulir terbukti perempuan lebih gemi dan amanah.
Sehingga dimanapun strategi  pengentasan selalu melibatkan perempuan. 
Tantangannya seperti dihadapi Grameen Bank, masih banyak perempuan yang 
dihalangi dan ditiadakan haknya untuk berkomunikasi dengan orang di luar rumah 
Atau kalau disini belum dipercaya untuk memperoleh pinjaman dan mengelola uang 
keluarganya.

Jadi soal gender bukanlah soal kegenitan, buka-bukaan atau eksploitasi 
perempuan. 

Salam,
R Munir 





-----Original Message-----
From: Eko B K <[email protected]>
Sent: Saturday, May 23, 2009 3:14 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Re: Berantas Kemiskinan Dulu Atau Kegenitan Gender 
Dulu?



Pak Aby dan referensiers ysh.,

Kalau jawabannya harus salah satu sih menurut saya jelas memberantas kemiskinan 
dulu, karena masalah gender utamanya adalah menghapuskan diksriminasi/ 
inequality yg menimpa salah satu jenis sex (wanita)...jadi masalahnya lebih ke 
social justice...bisa saja kedua jenis sex tsb tidak miskin (secara rata2)... 
saya ambil contoh di Prancis yg secara rata2 cukup makmur sebagai negara maju, 
gender inequality masih ada, misalkan penghasilan wanita di posisi profesional 
yg sama lebih rendah dari pria...ini hal yg umum diketahui dan di media juga 
sering diulas bahwa kesetaraan gender di negara2 utara: Belanda, Jerman, 
Skandinavia, tampaknya lebih baik dari pada di negara2 Latin: Prancis, Italia, 
Spanyol...tapi sekali lagi, secara umum mereka tidak miskin...

Sementara, masalah kemiskinan itu bukan sekedar masalah social justice, tapi 
juga menyangkut tingkat survivalitas seseorang/ kelompok masyarakat...pd 
tingkat yg ekstrim ini menyangkut hidup dan mati...sehingga bisa dikatakan 
nilai prioritas penanganannya lebih tinggi... dan yg terkena dampaknya pun 
lebih luas, tidak hanya salah satu jenis sex tapi kedua2nya...

TAPI, seringkali kedua masalah ini berkaitan: masalah gender dan kemiskinan, 
masalah social justice dan kemiskinan... Grameen Bank misalnya yg mencoba 
mengurangi kemiskinan dgn antara lain fokus memberikan pinjaman pd wanita.. 
atau pemberian BLT di beberapa negara Afrika yg diberikan utk wanita karena 
ternyata wanita (dianggap) lebih bertanggungjawab dan mampu mengelola uang tsb 
utk kepentingan keluarga, dibandingkan pria yg punya kecenderungan membeli 
minuman keras dan berjudi...

salam.



--- On Sat, 5/23/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: Berantas Kemiskinan Dulu Atau Kegenitan Gender Dulu?
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Date: Saturday, May 23, 2009, 4:31 AM

Membaca posting dari rekan Moh. Andri Budiman berikut dibawah, membandingkan 
dgn diskusi berpanjang lebar tentang gender bbrp hari ini, saya jadi teringat 
perbandingan antara para ulama dan para sufi……..
Seperti dikatakan oleh  Yusuf al Qardawi : “……Para ulama saling berdebat 
tentang siapa diantara mereka yang lebih hebat pengetahuannya tentang agama….  
sementara itu para sufi meninggalkan perdebatan dan dalam diam mereka mencoba 
berbuat sebanyak banyak kebajikan”…………
 
Melihat ironi kisah sedih dibawah ini, saya jadi bertanya-tanya….. manakah yg 
sesungguhnya lebih  mendesak…… mendahulukan penanggulangan kemiskinan (yang 
didalamnya tercakup perjuangan gender) …. .. ataukah mendahulukan bergenit2 
dalam perjuangan gender sampai kedalam relung2nya yang terdalam?... ..... 
justru karena sang pejuang tak dililit  kemiskinan?. ......... .
 
Salam,
 
[futurologi] Menakar Kesan Bahasa Arab, Inggris dan Latin (2)
Friday, May 22, 2009 6:05 PM
From: "Mohammad Andri Budiman" <mand...@gmail. com>
To: kuyasi...@yahoogrou ps.com
 
,,,,,,,Berikut adalah tulisan saya tertanggal 21 April 2009 menanggapi sebuah 
berita yang memaparkan adanya "oknum Abu Jahal" di Puncak -- yang sekali lagi 
membuktikan bahwa Arab tidak identik dengan Islam and vice versa -- yang erat 
kaitannya dengan ketiga poin pemikiran Bapak Rachmad di tulisan pertama.

--begins--
Assalamu'alaikum wr wb,

Artikel dari Hidayatullah. com yang barangkali bermanfaat untuk kita renungkan.
 
Media Arab Bahas Maraknya Nikah Mut’ah di Indonesia

Monday, 20 April 2009 09:42
Banyaknya pria Saudi yang menikahi wanita Indonesia dengan tujuan
dicerai alias untuk bersenang-senang, disinggung media-media Arab
Hidayatullah. com--Nikah berjangka (semacam mut`ah) pria Arab dengan 
wanita-wanita Indonesia, dibahas beberapa media Arab Saudi baru-baru ini.
"Pernikahan semacam ini cenderung meningkat jika ulama gagal memberikan 
keputusan yang jelas melarang mereka," kata Khaled Al-Arrak, Kepala Konsuler 
pada Kedubes Arab Saudi di Jakarta, yang dikutip harian Arab News edisi Sabtu, 
18 April hari ini.
"Beberapa orang Indonesia miskin menikahkan gadis mereka dengan orang Arab 
Saudi dan berharap akan mengakhiri kemiskinan dan penderitaan mereka. Jika 
Dewan Ulama Senior Islam Arab Saudi tidak melarang jenis perkawinan ini, maka 
sesuatu di luar kontrol akan terjadi, " kata Al-Arrak.
Banyak kantor di Indonesia yang memfasilitasi perkawinan semacam itu. Menurut 
harian Al-Watan, perkawinan dilakukan di hadapan saksi dan seorang wali. 
Perempuan ini tidak tahu bahwa pernikahan mereka akan berakhir dalam waktu 
beberapa hari dan mereka harus menanggung anak-anak dari orang yang akan 
meninggalkan mereka. Tahun lalu, di Kedubes Saudi di Jakarta menerima 82 
anak-anak hasil perkawinan sesaat ini. "Kami telah menerima pengaduan 18 wanita 
yang menjadi korban," kata Al-Arrak. Kedubes Saudi mengatakan, kasus-kasus yang 
terdaftar di Kedutaan hanya 20 persen.
Aysha Noor, 22, seorang wanita Indonesia asal Sukabumi (ditulis Arab News 
dengan Sikka Bhumi), 160 km sebelah timur Jakarta, menikah muda dengan 
laki-laki Saudi. Ketika itu ia berumur 16 tahun. Menurutnya, perkawinan itu 
akan memberi manfaat bagi keluarga mereka dan mengakhiri kemiskinan.
"Kita di Indonesia menganggap orang-orang dari Mekah dan Madinah
sebagai orang yang diberkati. Dia memberi saya mahar Rp. 6 juta
(sekitar 2.024 Riyal). Mahar itu membantu kita memecahkan beberapa
masalah ekonomi. Keluarga saya tidak tahu jika laki-laki Saudi itu
hanya ingin mengawini sementara. Setelah beberapa hari dia bayar kami sisanya 
Rp 3 juta, kemudian ia meninggalkan kami,” katanya. Noor kemudian menikah lagi 
dengan laki-laki Saudi, sebelum ia menjadi penyanyi dan penari pada sebuah 
kelab malam.
Ada banyak perempuan Indonesia yang memiliki cerita serupa. Beberapa dari 
mereka sulit mengurus anak-anak mereka dari suami warga Arab Saudi.
 

Kirim email ke