Dear All,
Terus terang saya baru tahu kalau referensi untuk "local development n 
antrhopo-social".
Saya kira cuma untuk "tata ruang", soal permukiman saja jarang dibahas. 
Termasuk keplanologian yang lain: housing, local/regional economic.

Terimaksih penjelasannya.

Salam
Risfan Munir

-----Original Message-----
From: ffekadj <[email protected]>
Sent: Saturday, May 23, 2009 9:36 PM
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: Menakar Kesan Bahasa Arab, Inggris dan Latin (1)



Pak Mod Eko ysh, saya kira `mazhab' milis ini masih seperti yang dulu, yaitu 
local development dan `anthropo-spatial' 1 2 3, yang sudah tidak layak lagi 
berada di pinggiran. Beberapa pendalaman yang laten terkait mungkin diperlukan, 
supaya sampai pada inti filosofik.
Saya sebenarnya tertarik dengan penjelasan Pak Eko, bila setiap umat itu ada 
nabi dan kitabnya sendiri (2:213) dan tentunya dengan bahasanya sendiri, namun 
segolongan mereka sebenarnya menyembunyikan kebenaran (2:146). Sehingga faktor 
`bahasa universal' menjadi penting, dan karena itu diturunkan dalam bahasa Arab 
(41:3, 43:3) yang nir-distorsi; dan yang terpenting: pemilihan secara 
anthropo-spatial (lugu, naïf, bahlul, dll) adalah pekerjaan keilahiatan yang 
luar biasa.
Sebenarnya ada eksperimen yang dilakukan Tuhan, yaitu ketika petunjuk itu 
diberikan kepada `bangsa tercerdas' di dunia; sehingga sangat banyak nabi/rasul 
diturunkan di gurun Sinai. Bangsa ini sangat banyak mendapatkan nikmat 
(2:47-73, 14:4-20) dan bukti keilahiatan, seperti:  kedatangan banyak nabi, 
selamat dari kekejaman Pharaoh, melintasi Laut Merah, melihat `betis' Tuhan, 
mendapatkan hidangan surga, intensifikasi pertanian seketika, dll.  Namun 
ditinggalkan Musa selama 40 malam saja, bangsa ini sudah berubah keyakinan, 
karena begitu cerdas dan rasionalnya. Mohon dilihat juga 46:12 dan beberapa 
ayat sebelumnya, yang membenarkan kitab/keyakinan terdahulu.
Sehingga sampai pada aspek teori lokasi (abaikan anthropo-spatial), sebenarnya 
didasarkan pada do'a (14:35-41, 2:126-129), sehingga mampu mengubah orientasi 
(2:144). Allahu alam.
Demikian saja Pak Mod Eko, sedikit penafsiran, mohon maaf atas kesalahan. Salam.
-ekadj

--- In [email protected], Eko B K <ekobu...@...> wrote:
>
> Pak Eka ysh.,
> Nimbrung sedikit, penulis artikel itu rasanya terlalu banyak berteori, jelas 
> mengapa Al Quran diturunkan berbahasa Arab ya karena Nabi Muhammad itu orang 
> Arab, kalau beliau orang Minang pasti Al Quran dlm bhs Minang, gitu aja kok 
> repot hehe...
> Tapi milis referensi ini tidak berubah menjadi milis referensi agama Islam 
> kan Pak? :)
>
> salam.
>
> --- On Sat, 5/23/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] Re: Menakar Kesan Bahasa Arab, Inggris dan Latin (1)
> To: [email protected]
> Date: Saturday, May 23, 2009, 6:10 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Cak Andri yang sedang berada di kotanya para wanita, saya cuplikkan sebuah 
> postingan dari sebuah milis mengenai satu masalah yang anda ungkapkan, 
> mudah-mudahan berguna. Salam.
> -ekadj
>  
> .....  Memang lama juga saya memperhatikan tentang sebab Al Qur-an diturunkan 
> di negeri Arab dan dituliskan dalam bahasa Arab. Sebelumnya Allah swt telah 
> mengirimkan banyak rasul, nabi, dan shiddiqien ke berbagai negeri. Namun 
> pilihan kepada Nabi Muhammad saw sebagai rasul terakhir (33:40), dan restu 
> Allah swt kepada dienul Islam (5:3), serta Al Qur-an diturunkan dalam bahasa 
> Arab (41:3) sekurangnya menurut hemat saya sungguh sangat beralasan Pertama, 
> Muhammad saw, "secara kepribadian" , adalah nabi yang shiddiq-amanah- 
> tabligh-fathanah , memiliki kelebihan khusus dibandingkan nabi yang lain. 
> Karena itu Allah menganugerahkan permuliaan "asma" Rasulullah (94:4), 
> sehingga terletak dalam satu kalimat syahadat. Bagi kita, dituntun juga untuk 
> bershalawat, selain berzikir.
> Kedua, pesan Allah ini disampaikan Rasulullah di hadapan masyarakat muslim di 
> padang Arafah yang mayoritas pada masa itu adalah bangsa Arab. Dan ketiga, 
> seharusnya juga dipahami kenapa hal itu terjadi, dan diminta kita untuk 
> memikirkannya (12:2).
> Dengan kata lain adalah suatu rasionalitas terhadap personalitas, serta juga: 
> anthropo-spatial bila syariat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw yang 
> menyempurnakan syariat Nabi Ibrahim as ditumbuhkan dari Makkah-Madinah di 
> dalam masyarakat Arab. Permasalahannya adalah kepercayaan terhadap 
> sustainibilitas nilai ajaran itu bisa disebabkan oleh dua faktor : pertama, 
> bahasa Arab seharusnya adalah bahasa yang sangat gamblang dan lugas, sehingga 
> mudah dipahami secara universal. Kedua, masyarakat Arab adalah masyarakat 
> yang rajin memelihara dan menjaga sejarah, sangat kritis terhadap distorsi, 
> dan kalau boleh saya mengatakan : terlalu lugu. Dengan cara itulah Al Qur-an 
> dan nilai-nilai ajaran Islam sampai kepada kita sekarang ini. Untuk itu perlu 
> juga kita tanyakan kepada dunsanak yang jauh mengenal orang Arab ini, 
> termasuk ahli tarikh, antropolog, dan sejarawan yang mendalami.
> .....
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Mohammad Andri Budiman mandrib@ wrote:
> >
> > Tanggapan saya terhadap tulisan Pak Rachmad (SI93) tentang kesan
> > bahasa (Arab, Inggris dan Latin) sengaja saya teruskan ke milis ITB,
> > Futurologi, Referensi dan Indonesia, siapa tahu bisa menambah kegiatan
> > ngeles .. eh diskusi;p.
> >
> > Salam,
> > Andri
> > SI93
> > @PiccoloHotel- KL
> >
> > **
> >
> > RM:
> > Sebetulnya kalau kita bicara Keesaan Tuhan bisa saja menggunakan
> > bahasa Indonesia dan saya yakin ini lebih dimengerti daripada
> > disampaikan dalam bahasa Arab. Sayangnya kalau sudah disampaikan dalam
> > bahasa Arab sepertinya kalimatnya sudah tidak boleh dibantah lagi
> > kesahihannya :-(
> >
> > Dalam suatu perjalanan tour di daerah Arab sana, sang pemandu
> > bercerita panjang lebar tentang lokasi-lokasi penting yang tercatat
> > dalam sejarah Islam. Cerita ini disampaikan dalam bahasa Arab dan
> > peserta tour bolak-balik mengamini cerita tersebut :-)
> >
> > Minggu lalu saya jalan-jalan ke Taman Bunga Nusantara dan istri saya
> > bilang kalau bulan ini adalah bulan perkawinan orang-orang Arab
> > didaerah Cipayung. Ternyata benar saja, begitu banyak anak muda arab
> > sdi seputaran daerah tersebut dan menurut JK ini baik untuk perbaikan
> > keturunan (?)
> >
> > Perbaikan yang dimaksud JK memang bias karena bisa saja:
> >
> > 1. Perbaikan biar wajah keturunan orang sunda+arab jadi mancung dan
> > tinggi tubuhnya
> >
> > 2. Perbaikan agar moral orang sunda jadi lebih agamis karena dikawin
> > orang arab (?)
> >
> > 3. Perbaikan keturunan Arab yang diarab sana moralnya diragukan biar
> > jadi lebih santun mirip orang Indonesia (?)
> >
> > Dan banyak lagi turutannya yang bias :-)
> >
> > MAB:
> > Di saat-saat seperti ini saya sebenarnya sedang menantikan bahwa "Mas
> > MD", PhD yang pernah kuliah di Stanford akan menjelaskan panjang lebar
> > beberapa gagasan postmodernisme bahwa kebenaran adalah hak segala
> > bangsa (baik jin dan manusia:), universal dan bukan milik Islam doang,
> > apalagi Arab, dsb, dst, dll, lengkap dengan kata-kata mutiara yang
> > diambil dari bahasa Latin dan Anglo Saxon agar kelihatan, ehm, ilmiah
> > dan "suci":).
> >
> > Begitulah, yang namanya stereotyping, di mana si bias pun akan
> > menanggapi si bias, dengan dalil khas "de gustibus non est
> > disputandum" alias "selera tidak untuk diperdebatkan" dan "kebenaran
> > adalah universal -- terutama kebenaran yang datang dari orang yang
> > sedang mengatakannya" ;p.
> >
> > Bila seorang Bill Bryson ditanya bagaimana the nature of our many
> > languages on earth, maka jawabannya adalah sebuah buku tebal berjudul
> > "Mother's Tongue". Lalu, bagaimanakah sebuah bahasa bisa menjadi suci
> > atau bahkan unholy? Mari kita bahas.
> >
> > **
> >
> > Nabi Isa as atau Yesus berbahasa Aramaik alias berbahasa Yahudi kuno.
> > Ucapan Yesus yang terkenal sewaktu "disalib" adalah "Eli, Eli, lama
> > sabakhtani" alias "Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkanku. "
> >
> > Lalu, mengapa orang Katolik Roma menggunakan bahasa Italia Kuno alias
> > bahasa Latin dalam menuliskan naskah-naskah suci Kristiani, bukannya
> > bahasa Aramaik, bahasa Yesus sendiri?
> >
> > Jawabannya ada pada sejarah -- dan ingat peribahasa, "While in Rome,
> > do what the Romans do." Kemudian, try answering these questions: (1)
> > "Did the Romans speak Aramaic?" and (2) "When and where exactly they
> > compiled early Christian manuscripts? "
> >
> > Kedua pertanyaan yang sama bisa ditujukan kepada Islam. (1) "Did the
> > Arab during the period of Muhammad speak (let say) Java?" and (2)
> > "When and where exactly they compiled early Islamic manuscripts? "
> >
> > Thus, Latin adalah Latin, Kristen adalah Kristen, Arab adalah Arab,
> > dan Islam adalah Islam. Sucikah bahasa Arab dan Latin? Jawabannya:
> > Netral, orang yang memakai bahasa itulah yang menjadikan kata-kata itu
> > sebuah kebenaran nan suci atau sebuah hujatan tak berdasar dan makian.
> > Dan bila pertanyaannya diubah, sucikah Kristen dan Islam? Agama
> > *harus* suci; kalau tidak, ia bukan agama.
> >
> > Last but not least, perhatikan bagaimana saya sendiri mencampuradukkan
> > ungkapan dari bahasa Latin, Aramaik dan Inggris. Lalu pikirkan kesan
> > apa yang sebenarnya ingin dibuat;). Thus, bahasa tidak hanya
> > menentukan bangsa. Bangsa pun juga menentukan bahasa.
> >
> > **
> >
> > [Cont'd]
> >
>

Kirim email ke