Milisters ysh, Walau dari seluruh 92 pulau terluar yg disebut oleh prof. Ono sbg berpeluang dikuasai asing masih belum jelas uraian ttg keterancamannya dan kita sedang tunggu kejelasan dari beliau… tapi yg jelas perairan Ambalat yg juga jelas2 termasuk sebagai salah satu “titik terluar” dari wilayah RI saat ini jelas2 sdg terlibat sengketa aktif dgn tetangga kita Malaysia (karena kandungan minyak dibawah lautnya) …… dan beda dgn Sipadan Ligitan yg ‘terlepas’ dari kita dimana mereka ‘hanya’ berbentuk pulau dan utk kegiatan rekeaasi …. Kalau sampai perairan Ambalat ini terlepas sekali dan dikuasai Malaysia… kita lebih sakitnya akan bukan kepalang…….. Untung saja akhirnya sementara ini kita telah berhasil mendirikan satu unit anjungan mini disana dari konstruksi besi…… yg dicat merah-putih …. Menandakan bahwa itu “kita anggap” atau “kita tunjukkan” sbg milik kita……walau konstruksinya ‘mengapung’ atau berdiri diatas laut… tapi gbmnpun akhirnya terbentuk disana secuil platform yg dapat kita anggap sebagai semacam “daratan”…….. Hanya karena letaknya masih cukup jauh dari daratan Kalimantan (200km-an) …..maka kecuali ‘anjungan’ tsb selalu dipatroli tanpa henti oleh pihak RI… status ‘anjungan’ tersebut saya kira rawan untuk setiap saat bisa diduduki oleh Malaysia…. Terutama kalau saja mereka kebetulan melihat bahwa patroli oleh RI kita sedang lengah atau sedang tidak ditempat……… dan sekali saja patroli kita lengah …… dan sekali saja mereka berhasil menduduki anjungan tsb. saya kira utk kita mengusir mereka saya kira bukan suatu perkara mudah…… atau kita harus berperang besar dgn mereka……. Dan kalau ingat alutsista kita saat ini serta APBN yg rapuh….. perang itu akan sangat mahal dan bila sampai kita kalah… maka malu dan sakitnya akan sulit diobati sampai tujuh turunan…… Patroli oleh pihak Malaysia baik dengan kapal perang maupun dengan pesawat terbang kecil saya kira adalah dalam kerangka mereka “mengintai” menunggu saat dimana anjungan tsb ‘kosong’ dan mereka akan dengan kilat segera mendudukinya dan jangan harap mereka akan pernah meninggalkannya barang semenitpun atasnya sesudahnya……. Kita (RI maupun Malaysia) sudah sama2 belajar bahwa kalau menyengketakan pulau dan membawanya ke mahkamah intenasional….. MI akan mempertimbangkan siapa yg defakto menduduki dan banyak melakukan kegiatan atasnya…… kita tempo hari terlampau sopan utk melakukan kegiatan atas pulau2 yg sedang disengketakan (Sipadan Ligitan) dan memilih reses… sementara itu Malaysia nggak pake sungkan2 terus saja melakukan kegiatan atasnya… dan ternyata malah dimenangkan oleh MI……. dan karenanya kita sekarang proaktif dgn perairan Ambalat itu... dgn membuat anjungan mini diatasnya dan terus mempatrolinya tanpa henti……… Dalam kerangka memantapkan kegiatan tsb….. saya kira teknik keruangan kita perlu lebih banyak dipakai disana….. biaya yg dikeluarkan saya kira tak seberapa nilainya dibanding apabila kita harus sekali lagi kehilangan Ambalat………. Pada pokok garis besarnya…… cara mengeksplorasi atau melakukan kegiatan di Ambalat adalah saya kira (1) …..anjungan yg ada diperluas tapaknya menjadi katakanlah 300 – 500 m2… kalau tidak bisa seketika ya dicicil dibuat kelilingnya dulu…. Intinya agar dapat dibuat shelter katakanlah dapat menjadi tempat berteduh, tempat menyimpan air bersih, tempat utk masak2 air minum, memasak supermi atau menanak nasi dan bikin telur ceplok, tempat bermain pingpong dan agar dapat dibuat barang 1 atau 2 bak tanah untuk menanam pohon……. Sebuah generator listrik mini dan sebuah televisi saya kira akan dapat melengkapi fasilitas kenyamanan ‘tinggal’ disana…… Dgn itu kapal patroli mempunyai variasi kegiatan lain ialah “turun kedarat” dianjungan mini Ambalat….. Kegiatan selanjutnya (2) kecuali terus memperluas anjungan agar dapat menjadi fasilitas helipad…… perlu dibuat juga semacam mini market tempat orang dapat membeli rokok, minuman atau permen….. saya kira kegiatan kenelayananpun dapat mulai dilakukan disana….. walau katakanlah awalnya dilakukan oleh TNI-AL saja dulu (ingat dwifungsi ABRi dimasa orba dulu)……..tiang anjungan dapat menjadi tempat menambatkan kapal2 nelayan…… Kalau peta rinci kedangkalan (kedalaman) perairan dapat diperoleh…… saya kira enjinering teknik sipil dapat berbuat lebih banyak seperti bgmn mengupayakan agar perairan Ambalat dapat menjadi ‘pulau mini Ambalat spt dengan membuat konstruksi utk menampung urugan batu2 disana agar menjadi ‘daratan mini’…… dan agar selanjutnya kegiatan manusia yg lebih permanen dpt dilakukan atasnya….. Mudah2an ini adalah utopia rekayasa teknik keruangan yg dapat dimaafkan……. Mengingat biaya yg dikeluarkan cukup murah tak sebanding dgn ancaman kerugian akibat kehilangan Ambalat bila sampai direnggut oleh Malaysia itu….. dan bila sengketa ini dibawa ke Mahkamah Internasional … saya kira tak mungkinlah Malaysia akan terus dimenangkan bila kita nampak aktif mengeksplorasi ruang disana……… dan bila kegiatan banyak manusia telah dapat dilakukan disana….. saya kira Malaysia akan semakin tak memiliki peluang utk merebut Ambalat……. Salam,
--- On Wed, 5/27/09, malikusworo hutomo <[email protected]> wrote: From: malikusworo hutomo <[email protected]> Subject: Re: [plbpm] Sebanyak 92 PULAU TERLUAR BERPELUANG DI KUASAI ASING To: [email protected] Cc: [email protected], "Dr Suharsono" <[email protected]>, "Dirhamsyah Dirhamsyah" <[email protected]>, "Anugerah Nontji" <[email protected]>, "M.Kasim Moosa" <[email protected]> Date: Wednesday, May 27, 2009, 7:05 AM Dear teman-teman P2O-LIPI, Bersama ini saya forward diskusi di milist plbpm yang berisi pernyataan Prof Ono Sumadhiharga tentang rawannya 92 pulau terluar terhadap penguasaan asing. Saya fikir ini perlu diklarifikasi oleh yang bersangkutan. Terima kasih Salam Hutomo Pada 27 Mei 2009 17:36, Sapta Putra <sapta_ginting@ yahoo.co. id> menulis: Mungkin perlu dijelaskan Pak Ono bagaimana pihak asing itu bisa menguasi 92 puilau terluar tsb, sehingga menjadi pertimbangan utuk mengatasinya. Karena upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia dalam tiga tahun terakhir dalam mengelola ke 92 pulau tsb telah memperkuat eksistensi Indonesia di 92 pulau tersebut, termasuk mendaftarkannya di PBB. Cheers, Sapta ----- Original Message ----- From: Ilegal Fishing Indonesia To: undisclosed recipients: Sent: Monday, May 25, 2009 10:57 PM Subject: [plbpm] Sebanyak 92 PULAU TERLUAR BERPELUANG DI KUASAI ASING Sebanyak 92 Pulau terluar di Indonesia saat ini perlu diamankan karena sangat berpeluang diambil alih pihak asing.” Kalau tidak (diamankan), nasib 92 Pulau itu akan sama dengan (Pulau) Sipadan dan Ligitan,” kata peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Dr. Ono Kurnaen Sumadiharga di Jakarta Selengkapnya di http://mukhtar- api.blogspot. com www..p2sdkpkendari. com Salam Lestari Mukhtar, A.Pi. M.Si Yahoo! Mail Sekarang Lebih Cepat dan Lebih Bersih. Rasakan bedanya! Akses email lebih cepat. Yahoo! menyarankan Anda meng-upgrade browser ke Internet Explorer 8 baru yang dioptimalkan untuk Yahoo! Dapatkan di sini! (Gratis)

