Dear sobats,
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan para mahasiswa Arsitektur dan
perencanaan S2 dan S3 di UGM banyak kearifan lokal yang sebenarnya paralel
dengan konsep-konsep non-lokal ("barat"), misalnya yang paling kelihatan adalah
tentang pembangunan berkelanjutan...konsep itu sudah ada dan sudah dipraktekkan
pada satuan-satuan budaya di Indonesia sejak berabad-abad yang lalu. Saya kira
nenek-moyang kita sudah punya kearifan itu hanya sementara ini belum menjadi
bahan perbincangan dalama dunia keilmuan yang relevan. Mungkin ya memang tugas
kita untuk mengangkatnya dalam sikap yang tidak bermusuhan dengan teori-konsep
yang sudah lebih dahulu masuk ke wacana ilmu yang relevan tentunya.
Persoalannya, kehidupan dengan karakter urban memang hal baru dalam kehidupan
nasional kita, jadi pengalaman lokal memang barangkali kurang, tetapi apakah
tidak ada hal-hal lokal yang mampu menjadi inspirasi dalam kehidupan
"kampung-kota" kita ? Konon ada sinyalemen bahwa
kehidupan kota hanya meneruskan kecenderungan tata kehidupan di
desa.....misalnya, karakter kehidupan di Malioboro sebagian adalah ekstensi
perilaku orang yang tinggal di kampung-kampung sekitarnya....
Salam,
Djarot Purbadi
http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnusantara.wordpress.com
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
--- On Fri, 5/29/09, ffekadj <[email protected]> wrote:
From: ffekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] marsijunjung baringinna
To: [email protected]
Date: Friday, May 29, 2009, 12:18 AM
Benar Pak Risfan, perlu arif dalam mengembangkan adat budaya kita. Namun
perlu disadari bila republik ini berdiri atas pengakuan masyarakat adat, namun
hingga sekarang belum tersedia kebijakan untuk memberikan uang (: anggaran)
kepada kelompok masyarakat ini agar dapat mengembangkan adat budayanya untuk
tumbuh dengan baik. Karena 'neolib' ataukah karena 'kerakyatan' ? Sudah ada
perjuangan di Sumatera Barat untuk meminta 1% APBD untuk diserahkan kepada
lembaga-lembaga adat.
Bila sedikit dikasih kesempatan, sebenarnya mereka hanya berkata : kami mampu
berdiri, mengatur sendiri, dan mengembangkan pembangunan dengan cara-cara kami
sendiri. Namun tolonglah sedikit dikasih angin ...
Salam,
-ekadj
--- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan M <risf...@...> wrote:
>
> Pak Djarot dan rekans ysh.,
> Â
> Saya mengikuti diskusi "identitas lokal" ini, smbil mencoba memahami yang Uda
> Ekadj sebut "antrhopo-spatial" . Tapi saya agak terganjal kata pak Djarot
> yang seperti anti konsep/teori luar/barat. Menurut saya kalau ilmunya, pisau
> analisisnya kan bisa dari mana saja, dari bumi maupun langit. Tapi yang kita
> gali dan hidupkan content budaya, kearifan lokal.
> Â
> Ilmu antropologi, arsitektur, planning kan kita pelajari dari mana pun. Tapi
> planning/arsitektur standar, style, content dengan ilmu itu kita gali dari
> lokal.
> Â
> Kita juga mesti hati-hati pula dengan obsesi berlebihan atas sesuatu yang
> lokal. Sampai diman, atau apa kriterianya. Mana batas keunikan daerah/etnis,
> mana ke-Indonesia- an. Kalau keterusan, jangan-jangan kita kembali ke
> peradaban lama. Jangan-jangan "suku lain" dianggap musuh.
> Â
> Apakah begitu?
> Â
> Salam,
> Risfan Munir
> Â
> Â
>
>
> --- On Wed, 5/27/09, Djarot Purbadi dpurb...@... wrote:
>
>
> From: Djarot Purbadi dpurb...@...
> Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas?
> (Andrey Damaledo)
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, May 27, 2009, 7:14 PM
>
> Mas Dwiagus, dalam beberapa tahun ini (sejak 2001) saya mengikuti kiprah
> senior saya Pak Sudaryono dari UGM yang mencoba mengembangkan RUANG LOKAL
> sebagai mainstream dalam perencanaan tata ruang. Coba diperhatikan, apakah
> selama ini ada acuan yang jelas dalam planning yang menggarap
> keunikan-keunikan lokal seperti di Sabu ? Kami mencoba menyodorkan bahwa
> fenomena ruang lokal menyimpan konsep-teori yang dibutuhkan untuk pembangunan
> lokal. Untuk menata Sabu semestinya pertama kali ya mencoba mengangkat
> konsep-teori yang pernah berkembang di kalangan masyarakat lokal kemudian
> digunakan sebagai acuannya. Tentu tindakan ini dilandasi oleh sikap hormat
> pada keunikan lokal dan menjauhi tradisi silau terhadap konsep-teori dari
> dunia lain (teori-teori ahli dari luar). Pesannya, kita jangan silau oleh
> teori dari "barat" sebab di lokal sendiri tersimpan jutaan teori warisan
> nenek-moyang yang masih tersembunyi dan menunggu digali kemudian digunakan
> untuk
menata
> ruang kehidupan lokal. Sikap saya ini adalah berusaha menghargai teori-teori
> lokal sejajar dengan teori-teori dalam wacana teksbook di perguruan tinggi
> yang dibangun oleh ahli-ahli luar dan kadang menjadi idola di kalangan
> mahasiswa karena para dosennya mengidolakan. Jadi bukan meremehkan apapun dan
> siapapun supaya kita sunggun jernih melihatnya dan menemukan mutiara yang
> dicari.
>
> Salam,
>
> Djarot Purbadi
>
> http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
> http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
> http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com
>
> --- On Wed, 5/27/09, Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwia...@gmail. com> wrote:
>
>
> From: Benedictus Dwiagus Stepantoro bdwia...@gmail. com>
> Subject: RE: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas?
> (Andrey Damaledo)
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Date: Wednesday, May 27, 2009, 2:41 PM
>
>
>
>
>
>
> Pak Eka dan Pak Djarot yang berboedi,…
> Â
> Sebenarnya, proses yang pakem seperti apa sih dalam penataan ruang yang
> mencoba menggali kearifan lokal yang sebenarnya mungkin sudah tau bagaimana
> memanfaatkan ruang mereka dengan bijak dan benar,…. Penataan ruang seperti
> apa yang mampu menegaskan identitas lokalnya?
> Ada contoh? Biar teman-teman di kabupaten Sabu yang baru terbentuk ini bisa
> terinspirasi
> Â
> salam
> Â
>
> Regards,
> Â dwiagus
> http://bdwiagus. blogspot. com
> http://bdwiagus. multiply. com
> Â
> "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
> watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White
> Â
> :::... Indo-MONEV ...:::
> Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere
> in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work
> on monitoring and evaluation and other related development issues including
> development aid works, particularly in Indonesia.
> Join in by sending an email to: indo-monev-subscrib e...@yahoogroups. com
> Find also Indo-MONEV in facebook: http://www.facebook .com/group.
> php?gid=34091848 127&ref=ts
> Â
>
>
> From: refere...@yahoogrou ps.com [mailto:referensi@ yahoogroups. com] On
> Behalf Of Djarot Purbadi
> Sent: 27 May 2009 04:26
> To: refere...@yahoogrou ps.com
> Subject: Re: [referensi] FW: [NTT] Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas?
> (Andrey Damaledo)
> Â
>