Pak Suhadi ysh, sangat berharga pandangan bapak berdasarkan pengalaman
yang panjang, untuk mohon dilanjutkan. Rujukan saya adalah Arnold
Toynbee <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/660>  yang
pernah diceritakan Pak Wawo
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1702> , dan reviewnya
disampaikan Gde Raka
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1028> . Jadi puncak
peradaban masyarakat itu ditunjukkan oleh 3 hal: 1) jiwa superioritas,
2) need of achievement, dan 3) kreativitas. Saya memang merencanakan
untuk mempelajari ulang dan membaca lagi Toynbee. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], suhadi hadiwinoto <diditsuh...@...>
wrote:
>
> yth Bapak-Ibu para pakar di milis Referensi.
> Perkenalkan, sebetulnya saya sudah lama mengikuti/membaca berbagai
bahasan di milis ini tetapi sebagai pemerhati saja. Kali ini saya agak
tergelitik untuk urun rembug sebagai pendatang baru yang awam. Mohon
maaf kalau mengganggu perbincangan disini.Saya kira kalau kita ingin
melestarikan budaya dan melestarikan arsitektur kita, tidak berarti
bahwa kita semua harus kembali memakai bentuk borobudur, prambanan,
rumah joglo, rumah bagonjong, atau gaya arsitektur pada abad "keemasan"
suatu daerah. Hidup dan budaya kita selalu berkembang, sehingga tidak
mungkin dan tidak boleh ekspresi arsitektur di suatu daerah itu
dibekukan pada masa tertentu.
>
> Yang penting adalah bahwa kita harus meneliti dan memperlajari apa
yang kita dapat dari masa lalu. Kita harus memahami mengapa suatu bentuk
terjadi/apa latar belakangnya/mengapa itu menjadi pilihan/apa maknanya
dalam kehidupan masyaraka/pelajaran apa yang dapat kita serap dari situ.
Kita harus menghayati pengaruh lingkungan dan budayanya, kita harus
menghormati nilai-nilai luhur yang dikandungnya, serta melestarikan dan
memeliharanya agar generasi mendatang juga dapat melihat, merasakan
kehadirannya, dan mempelajarinya untuk menyerap bagian yang relevan
dengan kehidupan pada masa mendatang. Pusaka atau aset sejarah dari masa
lalu bukan hanya milik kita tetapi juga milik dari berbagai generasi
mendatang. Kita tidak boleh menggunakan sesuka hati sehingga merusak
aset yang seharusnya dapat diteruskan kepada generasi mendatang.
> Karena itu kita harus melindungi dan mengamankan berbagai aset yang
sangat bernilai. Kita harus mencegah seorang pelukis baru melukis diatas
kanvas yang berisi lukisan masterpiece dari Affandi atau Sudjojono. Kita
tidak boleh membiarkan ruko dibangun diatas lahan yang telah berisi
karya besar dari masa lalu. Kita tidak boleh maju selangkah dan
menghancurkan jalan satu langkah di belakang kita. Disini para ahli
penataan ruang harus berperan dalam mencegah perusakan aset sejarah dan
budaya kita. Pembangunan kota tidak hanya mencakup besaran luas, tinggi,
kepadatan dan perletakannya. Ia sangat terkait langsung dengan nilai
kehidupan yang tak terukur (intangible), bagaimana masyarakat
menggunakan dan menghidupinya. Kita juga harus berusaha membawa berbagai
aset sejarah itu untuk tampil dan berperan dalam kehidupan masa kini
agar mereka tetap mempunyai arti dalam kehidupan nyata masyarakatnya
> Kita tidak bisa memaksa semua warga Nias di Gunung Sitoli untuk
membangun rumah dengan arsitektur tradisional seperti di Bawomataluo,
hanya karena mereka merepresentasikan puncak arsitektur Nias pada
masanya. Bahwa ada beberapa warga yang punya nostalgia ke masa lalu dan
ingin membuat rumah tradisional di Gunung Sitoli itu adalah merupakan
hak.pribadinya, tetapi memaksakan semua warga berbuat serupa juga bukan
merupakan kebijakan yang positif. Kita dapat saja menggunakan pola,
warna, dan ragam hias yang paling disukai. Sebaliknya, kalau kita
membangun di tengah suatu desa tradisional dimana terdapat jajaran rumah
tradisional kayu yang sangat serasi, tentunya kita tidak boleh tiba-tiba
membangun rumah beton beratap datar yang merusak keserasian desa
tradisional itu. Kita harus mengembangkan kearifan menempatkan diri,
meyerasikan dengan lingkungan disekitar kita, membangun harmoni yang
lebih luas..
> Banyak sekali aset sejarah dan budaya kita yang rusak dan hilang
karena langkah pembangunan yang sembrono, tanpa pemahaman dan pengkajian
sosial budaya, hanya mau cepat dan gampang mengikuti standar kaku yang
ditetapkan dari pusat. Banyak dana bantuan yang disalurkan dengan maksud
baik untuk membantu, tetapi justru merusak aset budaya yang tak
ternilai. Penataan ruang, peraturan lingkugan, peraturan bangunan, dan
panduan penyaluran bantuan di kawasan bencana harus lebih cermat
memperhatikan hal ini. Bagaimana menyerap nilai-nilai dan inti sari dari
berbagai kearifan masa lalu untuk dibawa ke masa kini dan masa depan,
itu merupakan tantangan yang perlu kita tanggapi dengan bijak. Pada
dasarnya itu akan terkait pada bagaimana masyarakat memahami dan
menghormati budayanya.
> Demikian pula berbagai proyek revitalisasi kawasan bersejarah
diharapkan lebih memperhatikan pengembangan kehidupan sosial budaya dan
ekonomi secara nyata, disamping berusaha melakukan perbaikan fisik
lingkungannya. Berbagai penguatan riil di bidang sosial budaya dan
kegiatan ekonomi sering tidak tercapai (atau memang tidak ingin dicapai)
karena alasan administrasi keproyekan yang sederhana. Banyak yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan hasil guna dan daya guna proyek-proyek
pembangunan tetapi tampaknya hal ini belum merupakan prioritas. Kita
tidak memerlukan revolusi yang menjungkirbalikkan tatanan yang ada. Kita
dapat meluncurkannya dengan teratur, dengan memperbaiki step by step
program dan mekanisme yang ada.
> Demikian sedikit catatan secara awam.Mohon maaf kalau menggangu
perbincangan para pakar.Wasalam
> Suhadi
>
>
> --- On Sun, 5/31/09, ffekadj 4ek...@... wrote:
>
> From: ffekadj 4ek...@...
> Subject: [referensi] warna budaya kita
> To: [email protected]
> Date: Sunday, May 31, 2009, 11:43 AM
>
>
> Pak Risfan ysh,
> Mencari yang `asli' tentunya sulit, karena disebutkan telah ada
akulturasi dan asimilasi dengan berbagai peradaban dsb. Sehingga
sebenarnya pencarian dilakukan pada titik di saat perubahan itu mulai
terjadi. Yaitu suatu titik puncak kejayaan pada masa itu dan telah mulai
terjadi pergeseran karena akulturasi dan asimilasi. Saya melihat proses
ini tidak seragam berlangsung di seluruh Indonesia. Catatan saya titik
ini untuk Aceh 1917, Batak 1886, Minang 1821, Jawa 1602, Bugis dan NTB
1904, Maluku 1512, Papua 1953. Sehingga perlu dinilai pembiasan dari
titik itu sampai 1945 misalnya. Termasuk juga kemampuan resilience
masing-masing adat budaya.
> Pilihan mengangkat arsitektur tradisional sebagai jatidiri setempat
perlu menimbang kondisi pada titik tersebut. Saya kurang tahu pilihan
Gubernur Ismail mengangkat tema atap Joglo, atau Joglosemar kalau mau
mengakomodasi juga Pajang. Atau Jatim dengan gapuranya. Kalau di
Pekanbaru Riau kelihatannya sudah ketemu, hampir mirip dengan Bugis,
namun anehnya berbeda dengan Melayu Deli. Yang kontradiksi misalnya
Maluku, apakah mau mengangkat tema ulisiwa atau ulilima, walau ada
siwalima yang belum kelihatan formatnya. Kalau masalah warna, di Papua
saya selalu terbayang warna biru muda dan coklat muda; warna-warna
orient. Di Minang hitam dan merah. Di Riau hijau dan kuning. Di Jawa
sepertinya coklat dan … Kurang tahu untuk Kepri, sudah lama juga
tak singgah ke sana, Pak Nuzul, tapi sepertinya warna-warna orient.
> Sementara demikian dulu. Salam.
> -ekadj
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Risfan M risfano@ wrote:
> >
> >
> > Pak Aby, Pak Djarot & Rekan referensiers ysh,
> >
> > Sambil mengingat tulisan Koentjaraningrat yang menggambarkan diagram
faktor-faktor yang saling pengaruh antara: MANUSIA, ALAM, TEKNOLOGI,
KELEMBAGAAN, NORMA kesemuanya saling mempengaruhi terciptanya BENTUK
FISIK (arsitektur, lingkungan binaan, seni, tradisi).
> >
> > Interaksi manusia dengan alam pesisir, beda dengan alam pegunungan,
karena naluri mereka kan berteduh dari angin, longsong, jarak ke sumber
air, dst. Tentu teknologi yang mereka kuasasi juga mem/dipengaruhi oleh
dirinya dan alam. Ada ungkapan &quot;North sea forms Vikings&quot;.
> >
> > Interaksi yang berlangsung lama membentuk kelembagaan yang disebut
tradisi, aturan, norma. Yang terakhir ini di/mempengaruhi religi.
Sebelum datang monotheisme, mereka menyembah gunung, batu, binatang, dan
&quot;makhluk&quot; yang dianggap menentukan musim dan nasib
hidup/matinya. Singkatnya institusi/ kelembagaan dan religi mempengaruhi
bentuk (arsitektur, tata ruang, seni, dst).
> >
> > Lha kalau BENTUK yang punya latar belakang interaksi &quot;man -
alam - bentuk pertanian - institusi - religi&quot; Sabu misalnya, kita
hadapkan pada kita yang hidup masa kini di kota ini - Bagaimana
hasilnya? Apa unsur asli tradisi yang bisa diambil? Atau mereka ambil.
Sedang kita jarang dapat informasi tentang mereka, sementara mereka tiap
saat bisa nonton TV melihat arsitektur rumah di perkotaan. Ini realita
interaksi yang jadi pertanyaan pada diri saya sendiri.
> >
> > Sementara bangsa kita pernah mengalami interaksi (akulturasi,
asimilasi) antar suku, antar pulau, dengan Belanda tiga abad, masuknya
agama-agama (Hindu, Budha, Islam, Kristen, Protestan). Maka hasilnya
adalah berbagai corak bentuk. Lalu yang mana pula yang kita anggap
&quot;asli&quot; tanpa membuang kearifan perjalanan bangsa yang telah
berupaya mencari solusi atas relasi antar faktor di atas pada masanya
masing-masing. Identitas, mungkin soal hari ini yang coba diatasi dengan
bekal dari perjalanan panjang, bukan seperti pakai &quot;time
machine&quot; kembali ke empat abad yang lalu.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > Subject: [referensi] Re: Sabu: Kabupaten Sekaligus Identitas?
(Andrey Damaledo)
> > Date: Sat, 30 May 2009 11:12:21
> > From: hengky abiyoso watashiaby@ ..
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > CC: pl...@yahoogroups. com
> >
> > Milisters ysh,
> > Ini hanyalah pendapat saya yg awam saja …..
> > Kegelisahan ttg redupnya arsitektur2   lokal tradisional
historik sangatlah bisa dimengerti……   tapi
sementara itu kalau kita perhatikan seperti di Jepang atau dibeberapa
negara Eropa misalnya……. Arsitektur lokal  
disana masih banyak dapat kita jumpai sebagai heritage…. Spt
kalau di jepang misalnya   adalah kuil2 dan kastil para
shogunat….. dan di Eropa adalah gereja2, universitas dan
kastil para raja dan pangeran…… Semua dpt terjadi
selain krn kesadaran   pelestarian budaya yg tinggi….
  bahan2
> > bangunanpun   banyak yg bermutu permanen…...
> > Tetapi ttg bangunan2 baru   dinegara2 tsb……
spt menyangkut gedung2 perkantoran,     pusat perbelanjaan
serta bangunan2 fasilitas   umum…… nampaknya
rata2 tetap saja terbanyak memakai arsitektur modern   futuristik
seperti umumnya bentuk2   kubus itu serta material2 modern
seperti kaca, aluminium dsb…..….
> > Bangunan dgn arsitektur kuno yg kita miliki (dan masih utuh) ÂÂ
dapat dikata   tak banyak lagi   jumlahnya…. Dan
kalau kita perhatikan…. yg masih utuh utamanya krn bahan2nya
  yg bersifat permanen seperti candi2 yg terbuat dari batu
(borobudur, Prambanan, abad VIII;   pura,   dsb)
…. Istana2 (Yogya, Solo, Cirebon, Ternate… tempat2
ibadah (gereja, masjid, pura, kelenteng)…. Selain bahan yg
permanen.. ada jg karena   perawatannya   yg
intensip…… bangunan2 yg kini musnah dan atau terpendam
boleh jadi krn sebab2 spt. bencana alam, peperangan atau pelapukan
(Trowulan, Banten. Muarojambi dsb)…...
> > Kalau kita perhatikan……. Bangunan2 arsitektur
tradisional   kita yg bernilai eksotik banyak memakai atap alang2
atau ijuk (Bali, NTT, Papua dsb.) ….. dan beserta bagian2 atap
lainnya spt   blandar, kaso dan reng……  
jenis material2   tsb sangatlah   mudah
terbakar…… atau atap   dari ilalang setiap
setengah tahun atau setahun sudah mulai lapuk dan perlu
diganti…… ini tentu merepotkan management perawatan
bangunan….… ÂÂ
> > Upaya melestarikan arsitektur lokal saya kira   perlu
disertai visi ttg modernisasi   bahan bangunan… katakan
misalnya ttg perlunya dibuat desain   atap   genteng
bertekstur serta berwarna mirip seperti alang2
misalnya…… tetapi mutu keawetannya agar   dibuat
permanen……   jadi arsitek masih dpt  
memunculkan aspek tradisional pada gaya bangunan spt dengan memunculkan
  gaya atap alang2 misalnya…….dgn begitu
keinginan utk
> > melestarikan arsitektur etnik lokal dapat   sangat
terbantu…… setidaknya itu dapat dipergunakan pada
arsitektur tempat2 ibadah, museum, universitas, kantor pemda atau tempat
2 umum seperti terminal, bandara dsb….…..  
selain juga arsitektur kontemporerpun dapat memanfaatkannya juga (Pizza
Hut dsb.)……... perkara bangunan2 kantor dan bisnis
lainnya memakai arsitektur modern. universal.. biarlah saja... toh
diseluruh dunia kecenderungannya juga demikian.... ... yg penting
janganlah otoritas perizinan kota hari gene meluluskan arsitektur2 barat
kuno seperti gaya romawi utk didirikan disini...... ... ini bisa
membikin perut mual.......
> >
> > Kita mungkin   tak banyak dapat  
‘melestarikan’   heritage
kita….. tapi   akan sgt baik   kalau kita dpt
banyak melakukan ‘rekonstruksi’ arsitektur lokal
yg gawat keberadaannya utk selanjutnya melestarikan katakanlah melalui
arsitektur neo tradisional misalnya……….
> > Biarlah kita tidak harus   sama dgn negara2 lain yg kaya dgn
heritage   itu dimana mereka dpt   terus
melestarikannya…… yg penting biarpun terlambat pokoknya
kita asalkan msh mampu memunculkan juga gaya arsitektur tradisional
kita…… dgn strategi memodernisasikan bahan2 bangunan yg
mudah lapuk/ mudah   terbakar  
misalnya……….
> > Sebuah kelenteng kuno dipojok pasar Tn. Abang Jkt pernah terbakar...
lalu direkonstruksi, rangka atapnya memakai bahan besi dan gentengnya
permanen pula..... bentuk visualnya yg kuno bisa nampak persis seperti
keadaan sebelumnya.. ......
> > ÂÂ
> > Salam,
>


Kirim email ke