yth Bp Watashiaby, Saya mohon maaf, ada beberapa catatan yang ingin saya tambahkan pada tanggapan Bapak. Saya cuma ingin menyampaikan bahwa dalam kehidupan yang sangat kompleks dengan sumber daya sangat terbatas kita perlu menghindari "kami paling penting" dan "kami paling benar". Kita perlu bijak melihat seluruh road map nya dan memahami bagian mana yang kurang mendapat perhatian dan bagian mana yang sudah "over" dibicarakan setiap hari. Kita bergembira bahwa isu sanitasi, transportasi, permukman kumuh, air minum, tenaga listrik, ruang terbuka hijau, penggerogotan kawasan lindung oleh berbagai penggunaan komersial, keserasian pembangunan wilayah dll sudah sering dibahas dan mendapat perhatian besar. Kita bergembira bahwa bahwa isu kemiskinan, kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, pembinaan usaha kecil, pembangunan koperasi, investasi industri, perbankan, tingkat bunga, nilai tukar, mendapat banyak perhatian. Sektor ini sangat menarik karena menyangkut perut, dompet, dan rekening bank di luar negeri. Kita kurang bergembira karena isu budaya seolah terlupakan dan terabaikan, seolah budaya hanya urusannya para seniman, sastrawan, sutradara, aktor/aktris dsb. Kita lupa bahwa budaya itu adalah seluruh totalitas hasil perasaan, pemikiran, perencanaan, dan pekerjaan manusia yang menggambarkan bagaimana tingkat kehidupan masyarakat itu. Kita cenderung cepat menyimpulkan bahwa berbagai carut marut budaya itu disebabkan kurangnya sarana dan sumber daya. Memang kekurangan sarana sering mendorong sikap dan perilaku yang negatif, tetapi banyak juga kita lihat kelompok masyarakat yang masih kekurangan bersikap lebih arif daripada mereka yang berkecukupan. Banyak orang yang hidup sederhana bisa menahan diri untuk tidak mencuri, sementara mereka yang sudah gemuk dan punya puluhan mobil masih suka korupsi dan mencuri aset negara dan milik rakyat.Masyarakat desa dengan pendidikan sederhana bisa memahami kearifan lingkungan, sementara banyak industriawan yang berpendidikan tinggi dan perpendapatan tinggi mengabaikan pencemaran yang ditimbulkannya.Masyarakat yang lugu di lapisan bawah masih banyak yang bisa bersikap dan bercakap santun, sementara para pemimpin politik yang hebat-hebat justru tidak dapat bersikap santun, selalu menganggap dirinya paling benar, dan selalu melecehkan lawannya.Pelanggaran tataruang tidak selalu dilakukan oleh mereka yang sangat miskin, tetapi juga oleh para konglomerat pengembang yang dengan berbagai cara dapat melakukannya secara "legal". Sikap dan perilaku negatif tidak selalu disebabkan oleh kurangnya sarana dan sumberdaya tetapi lebih banyak disebabkan oleh sikap masabodoh, tidak peka, tidak peduli, kurang pembinaan, masyarakat yang permissive, dan mekanisme penegakan hukum yang tidak efektif . Ini terjadi karena masalah ini tidak cukup mendapat perhatian, pada waktu seluruh daya upaya kita dicurahkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan membangun prasarana fisik. Yang kita inginkan adalah suatu keseimbangan fisik-ekonomi-budaya dalam pembangunan agar masyarakat kita tidak hanya kaya dan berotot kuat tetapi juga berotak dan berhatirurani. Pada waktu kita kekurangan ruang dan kekurangan dana sebetulnya banyak yang bisa dilakukan dengan inovasi dan kreatvitas. Dengan ruang yang ada, dengan ruang yang terbatas, dengan anggaran yang kecil, sebetulnya kita bisa berbuat banyak untuk membangun kota dengan kehidupan budaya yang lebih semarak dan bergairah. Sayangnya invoasi dan kreativitas seolah sudah padam, dan yang lebih parah lagi adalah pandangan yang mendasar bahwa budaya tidak perlu dibahas selama kemiskinan belum teratasi. Perlu diingat bahwa penataan ruang tidak hanya menciptakan ruang mati dengan gedung dan prasarana kota, Penataan ruang menciptakan ruang kehidupan dimana masyarakat mengembangkan kehidupan yang beradab, yang beriteraksi satu sama lain dalam kerangka budayanya. Karena itu penataan ruang tidak hanya berkutat dengan perhitungan fisik dan ekonomi, tetapi juga dengan nilai-nilai budaya yang mendasar. Ini memang bukan hal yang mudah, tetapi inginkah kita menunda terus tugas penting itu hanya karena hal itu sulit dan sangat kompleks? Wasalam, Suhadi
--- On Mon, 6/8/09, [email protected] <[email protected]> wrote: From: [email protected] <[email protected]> Subject: [referensi] Re: warna budaya kita To: [email protected] Cc: [email protected] Date: Monday, June 8, 2009, 7:01 AM Pak Suhadi dan milister ysh, Dari kutipan paragraf berikut : ++++: “………Budaya sering dilihat sebagai kemewahan, sebagai sesuatu yang akan dibahas setelah kemiskinan diatasi, sesuatu yang akan digarap setelah pemerintah menyelesaikan hal-hal yang lebih penting. Tidak disadari bahwa kekuatan budaya sebetulnya justru merupakan kekuatan utama sebagai landasan pembangunan, sebagai pendorong dan pendukung pembangunan……..”. >>>>>: Dari serial bbrp postings anda….. apa yg anda katakan ttg gambaran kota >>>>>yg ideal adlh benar semuanya…… tapi masalahnya adalah jumlah ruang kota2 >>>>>kita secara total nasional dibanding dgn derasnya arus manusia yg bergerak >>>>>dari desa dan kota lebih kecil utk berpindah tempat menuju kota lbh besar >>>>>adlh masih sangat kurang sekali jumlahnya…… utk itu diperlukan banyak uang >>>>>dan kalau bisa tanpa memperbesar hutang……… Arus urbanisasi manusia di Indonesia yg hari ini berpenduduk 235-an juta jiwa… yg pada 1980 masih kurang dari 20%nya yg tinggal diperkotaan….. lalu sejak 2008 telah sebesar 50%nya tinggal diperkotaan… nanti pada 2025 bisa menjadi sekitar 60%..... dan sgt pasti pada dasa warsa2 berikutnya angkanya terus bergerak saja menuju 80-85%...... . Ibarat seperti situasi disaat mudik lebaran disetasiun Senen…… jumlah penumpang (penduduk perkotaan) yg mau berangkat pada jam yg sama tak sebanding dgn jumlah gerbong (kota) yg ada…… bukannya orang2 tak mengerti ttg pentingnya budaya….. masalahnya adalah jumlah gerbongnya kurang….. jadi bgmn kita disaat spt itu akan bicara lbh dulu ttg budaya berkereta api yg ideal….. budaya cara memasuki gerbong dan menuju tempat duduk yg ideal…… budaya cara duduk dikereta yg sopan dan tak berebutan….. budaya utk tak bergelayutan dipintu gerbong kereta, diatap kereta, atau dilokomotip. .......cara memelihara toilet dikereta yg ideal… dst…… +++++: “…..Dari pimpinan nasional sudah diisyaratkan bahwa budaya akan menjadi kekuatan utama di masa depan. Apakah dari sisi tataruang akan ada upaya menggali, menterjemahkannya dalam perkembangan kota dan wilayah? Ada beberapa upaya seperti perencanaan kawasan pelestarian borobudur, tetapi kebijakan pengembangan kota berwawasan budaya belum jelas duduknya……”. >>>>: Dari sisi tata ruang saya kira cara melihatnya adlh pertama….. tak >>>>sekedar jumlah dan luas kota2 bahkan kepadatan kota2 perlu terus ditambah >>>>sesuai dgn pertambahan jumlah penduduk yg berpindah tempat dari desa dan >>>>kota lbh kecil menuju kota2 lbh besar…… tapi distribusi/ persebarannya… >>>>bahkan sistem jarak2nyapun juga perlu diperhitungkan/ dikembangkan…….… >>>>tak hanya itu….. mereka yg sesampainya dikota blm punya pekerjaan dan >>>>melakukan transformasi pekerjaan dari semula pertanian/ perkotaan khas kota >>>>kecil…. lalu menjadi pekerjaan perkotaan/ khas kota besar….. teknik >>>>keruangan jg hrs turut memikirkan ttg bgmn mendorong persebaran perkotaan dan industri secara nasional…… mencari jalan keluar agar pengangguran tak menjadi2…. sebab keterpusatan yg berlebih (di Jawa) akan akhirnya menjadi kontra produktif juga……. Krn banyaknya konflik multisektoral……. penataan ruang mengupayakan agar hasil PR yg baik memungkinkan manusia dpt hidup berbudaya dgn lbh baik sbgmn yg anda harapkan.... ... tanpa PR yg baik sulit membayangkan bhw cara hidup bangsa yg berbudaya baik spt keinginan anda dpt terwujud.... .... I I I Seorang arsitek/ budayawan brkali bisa lsg berbicara/ menilai ttg kondisi buruk (pada) sebuah kota besar yg “kok tidak berbudaya”….. lalu dpt dgn tenang lbh dulu berbicara ttg bgmn cara menata (pada sebuah) kota yg ideal dan agar berbudaya (demikian juga analog....seorang ahli lingkungan dpt dgn tenang memulai dgn "Ciliwung Bersih" misalnya)…. Bgmn mengarahkan cara penduduk kota mengisi waktunya agar berbudaya.. dsb….. tetapi situasi kota, mahalnya apa2 dikota dan situasi kecilnya pendapatan penduduk sering memaksa penduduk hrs tinggal jauh dipinggir kota… hrs berangkat kerja dipagi buta dan pulang dilarut malam….. atau yg bekerja menjadi TKW/ PRT diluar negeri malah banyak lbh buruk lagi……. Walau pola hidupnya adalah one-stop living….. bangun tidur lsg sdh berada ditempat kerja….. tetapi keharusan bangun pukul 4.00 pagi dan baru bisa tidur pada jam 1 malam dan harus bekerja spartan sepanjang hari bahkan juga hrs turut berpuasa dibulan Ramadhan (smntr nyonya rumahnya bisa molor sepanjang hari)…. agak sulit utk banyak manusia dimasa sesudah revolusi industri ini dpt hidup berbudaya yg ideal selagi mereka masih teramat miskin…….. Masyarakat arsitektur dan budaya mungkin bisa tak nomor satu peduli ttg angka pengangguran dan kemiskinan serta kelaparan…. Mungkin bisa tak nomor satu peduli (atau sebatas prihatin) dgn kenaikan harga BBM atau PHK atau inflasi…. Karena sebaliknya dari masyarakat ekonomi dan industri….. kepedulian masyarakat budaya adlh bhw budaya adlh nomor satu dan perekonomian serta lainnya boleh nomor dua…….. masyarakat sosial ekonomi melihat bahwa yg namanya kelaparan dan keadaan menganggur (apalagi punya anak istri ortu dan mertua) itu tak bisa diurus menunggu sampai esok lusa……. Masyarakat hukum juga mirip masyarakat budaya…. Melihat bhw yg pertama dan terpenting adalah bukan ekonomi (mungkin juga bukan budaya)….. tapi adlh penegakan dan kepastian hukum……..masyarakat hankam sama juga melihatnya… masyarakat boleh kaya atau miskin atau berbudaya atau kurang berbudaya…. Tapi yg terpenting bg mereka adlh kedaulatan negara dan kepastian kepemilikan batas negara yg aman adlh nomor satu…… dan budaya menghormati garis batas negara kita oleh tetangga sebelah adalah dimata mereka nomor satu pula…….. utk itu sebagian dari kita boleh tak peduli….. tapi mereka bahkan hrs mempertaruhkan nyawa……. Boleh dibayangkan…. apakah anak dan istri mereka para prajurit dirumah juga tidak sedang mempertaruhkan nyawa ayah2 atau suami2 mereka tercinta?... ... bukannya orang tak mengerti.... . tapi msh sempatkah semuanya berpikir cerdas bhw budaya adalah nomor satu dan diatas segalanya?.. ....... Salam,

