Mas Is ysh,

Membicarakan pemukim rumah susun sesungguhnya membicarakan komunitas lain
dengan rumah daratan. Sama seperti membicarakan rumah di atas air berbeda
dengan di daratan.

Kita telah mulai membangun rumah susun, artinya kita telah memperkenalkan
budaya hidup lepas dari muka tanah. Konsep ini berbeda, sehingga
mempelajarinya mungkin baru layak bila terhadap generasi yang dari lahir
telah hidup demikian (Misalnya masyarakat rumah susun dinegara-negara lain
yang mungkin justru belum pernah tinggal di darat). Apalagi kalau jalan
antar bangunan dilantai atas juga sudah menjadi kehidupan sehari-harinya.
Kita akan menjumpai banyak kebun atau tempat memelihara binatang di atas
atap. Bahkan nanti akan ada rumah mewah hingga slum di bangunan bertingkat.
Dunia yang berbeda. Sama juga kalau rumah atau kota terapung berkembang
bersama dengan berkurangnya luas tanah kepulauan akibat kenaikan muka laut
di masa datang kelak. Disini peran dan kearifan perancang ruang fisik (3 - 4
Dimensional) akan lebih berperan dalam penataan ruang kota daripada
perencana zonasi (darat atau laut) yang 2 Dimensional.

Kalau soal luas yang dibangun itu isu lain. Kelayakan tempat hidup tidak ada
kaitannya dengan harga komoditi atau kemampuan membayar konsumen (serta
keuntungan usaha menurut perhitungan pedagang). Kalau kelayakan dan
kesehatan ruang hidup setiap orang 15 m2 misalnya, kalau tidak dapat dibeli
ya di sewa saja, atau subsidi pemerintah (seperti di Inggeris atau
Australia, rumah keluarga miskin cukup lega walau tidak dimiliki). Bahkan
konsep rumah tiga generasi, yang lebih sehat dan berkelanjutan dari segi
kekeluargaan dan perkembangan budaya komunitasnya daripada konsep rumah
jompo, tidak mungkin dipenuhi oleh model "rumah susun" Indonesia saat ini
yang konsepnya dikuasai oleh nilai rupiah pengembangnya.

Salam,
ATA


2009/6/8 <[email protected]>

>
>
>  Bung BST and Eka ysh.
> Kalau ayam/kambing ditaruh dlm kadang kecil dikasih pakan yg cukup dan
> bergizi akan gemuk dan sehat, tapi orang pastinya berbeda. Dulu terkenal ada
> namanya anak kolong atau anak tangsi, pada umumnya mereka nakal nakal,
> kenapa? Ya karena mereka tinggal di rumah kecil kecil. Demikian kantung
> kantung kriminalitas pd umumnya berasal dr pemukiman pemukiman kumuh.
> Stipulasi kita semua betul, kekhawatiran thp pendekatan penyediaan perumahan
> sekarang, yg penting target kuantitas tercapai, kualitas gimana nanti.
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> ------------------------------
> *From*: Bambang Tata Samiadji
> *Date*: Sun, 7 Jun 2009 08:51:38 -0700 (PDT)
> *To*: <[email protected]>
> *Subject*: Re: [referensi] Re: Rusun, ruang dan budaya
>
> Bung Eka, untuk rusun sederhana jangan dibayangkan seperti kita. Mereka itu
> umumnya anaknya banyak, lebih dari 3, sementara kamarnya cuma 1. Pernah saya
> survey, malam hari sekitar jam 8-9. Saya lihat banyak anak-anaknya yang
> masih pelajar berada di luar rumah. Saya tanya mengapa koq nggak belajar?
> Jam segini koq masih di luar?. Jawabnya :"Bapak dan emak lagi di rumah, kita
> disuruh tunggu di luar dulu".
>
> Thanks. CU. BTS.
>
> --- On *Sun, 6/7/09, ffekadj <[email protected]>* wrote:
>
>
> From: ffekadj <[email protected]>
> Subject: [referensi] Re: Rusun, ruang dan budaya
> To: [email protected]
> Date: Sunday, June 7, 2009, 2:47 PM
>
> Dear Referensiers,
> Pengembangan rusun bisa jadi tidak berguna,
> bila tidak disertai program pembangunan keluarga sejahtera.
> Satu rumah untuk satu 
> keluarga<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/92>
> .
> Satu rumah dengan 2 kamar untuk pasutri dengan 1 anak,
> satu rumah dengan 3 kamar untuk pasutri dengan 2 anak,
> demikian seterusnya.
> Untuk jomblo, tipe studio saja.
> Jadi kita tidak menghitung tipe dan ukuran,
> karena rusun dibangun dengan budaya urban.
> Sehingga perlu program pengaturan dan penertiban.
> Demikian sedikit saran.
>
> -ekadj
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, isoedradjat@ ... wrote:
> >
> > Yaitulah pak Koes, yg dimukimkan bukan culture sbgmana dipesankan pak
> Suhadi, semata - mata perhitungan ekonomi, tanpa secara cermat implikasi dr
> capasitas masyarakat kumuhnya. Jd nanti yg terjadi adalah siapa yg mampu itu
> yg menghuni.
> > Powered by Telkomsel BlackBerry®
> >
> > -----Original Message-----
> > From: muhammad koeswadi m_koesw...@. ..
> >
> > Date: Sun, 7 Jun 2009 03:13:29
> > To: refere...@yahoogrou ps.com
> > Subject: Re: [referensi] Rusun, ruang dan budaya
> >
> >
> > Pro Referenser
> >
> > Setuju kang Risfan. Sekarang mulai rame2 mendirikan rusun sederhana
> (wa/mi) yang sebagian di antaranya ditempatkan pada lahan ex kumuh ataupun
> ex lahan pemda. Targetnya penyediaan hunian dan kalo bisa mengurangi suasana
> kumuh...Ada hal penting dan sulit (saat ini) teratasi: yaitu hal keadilan
> hak, menjamin seluas2nya  bagi ex penghuni kumuh untuk memperoleh kesempatan
> menghuni/memiliki rusun tersebut. Sering kali banyak yang tidak kebagian
> dari awal. Penghuni dan atau pemiliknya bertukar sedari awal. Mereka
> ujungnya pada pindah ke lokasi kumuh lainnya...  Jadilah rusun bertambah,
> kumuhnya pindah. Adakah mekanisme "mengawasi hak penghunian ataupun
> pemilikan" yang dikhususkan, diprioritaskan, didisain dan ditawarkan sesuai
> kemampuan mereka. Barulah sisanya dilepas ke masyarakat umum. Di Forkim hal
> ini masih terus didalami untuk mendapatkan cara praktis. Di Kuala Lumpur,
> misalnya di sekitar Ong Tai Kim ataupun Idaman Komplek, program rusun
> sederhana
> > terus berlangsung, dan area kumuhnya menyusut secara nyata (hampir
> habis).  Penghuninya dari berbagai latar belakang budaya (mayoritas: Melayu,
> Cina, India) dan sisanya budaya Timur Tengah. Mereka bisa saling
> menyesuaikan, termasuk cara menjemur, ngasuh anak, menghargai hak publik
> dst.
> > Salam. MK
> >
> > --- On Sun, 7/6/09, Risfan M risf...@... wrote:
> >
> >
> > From: Risfan M risf...@...
> > Subject: [referensi] Rusun, ruang dan budaya
> > To: "refere...@yahoogro ups.com" refere...@yahoogrou ps.com
> > Date: Sunday, 7 June, 2009, 7:56 AM
> >
> > Dear referesiers ysh,
> >
> > Bicara budaya jadi ingan rumah susun (rusun). Dua puluhan tahun lalu saat
> rusun dikenalkan, kampanye pola hidup di lingkungan baru itu banyak
> didiskusikan. Sampai ada film &quot;Cintaku di Rumah Susun&quot; (Eva
> Arnaz?). Sekarang saat banyak dibangun justru tak ada bahasan untuk itu.
> > Rusun apalagi dengan target 1000 tower, tentu kalau terbangun 1/3 nya
> saja jadi fenomena besar di perkotaan. Masalah prasarana, terutama air,
> masalah ruang terbuka, dan bangkitan lalu-lintas akibat konsentrasi penduduk
> tersebut.
> > Dari segi kehidupan komunitas warganya, tentu timbul persoalan dan
> romantikanya sendiri.
> > Rusuna dengan ukuran 21 m2 pada satu tower yang memuat lebih dari seratus
> unit, merupakan perkampungan padat, yang membutuhkan pola hidup dan
> kedisiplinan tertentu, dalam menjaga kebersihan, menjaga diri tak mengganggu
> tetangga, saling tenggang rasa. Soal buangan sampah, jemuran, suara musik
> dan teriakan anak-anak - adalah hiruk pikuk yang sudah terbayangkan dari
> rusuna yang ada. Juga pengelolaan ruang bersama di lantai dasar.
> >
> > Memang diskusi tata ruang biasanya terbatas konsepsi rencana, standar
> dari pemerintah dan peraturan perundangan, tapi fenomena kehidupan atau
> budaya konemporer perkotaan seperti ini mungkin perlu dilirik pula.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> >
>
>
>   
>

Kirim email ke