Empu Gandrung yg lagi di Yogya. Mungkin sisi lain dr City Marketing, atau jangan2 bukan seperti ini yg dimaksud city Marketing. Saya punya pengalaman marketing tapi ini tdk setara kalau dibandingkan dgn City Marketing. Saya pernah diminta ut meningkatkan tingkat okupasi Wisma di Bali, caranya mudah pd waktu, cukup bikin Leaflet mengenai Wisma tsb dgn desain yg bagus, taruh di Airport, di Travel Agent dan Supir2 Taxi. Hasilnya luar biasa wisatawan berdatangan, tapi sesampai di Wisma mereka balik lagi, kecewa krn kondisi dan fasilitas tdk memadai yg wisma tsb. Jd ngga sampe sebulan udah selesai lah. Barangkali demikian untuk kota, mangkanya Yogya mempersiapkan MICE nya dulu sebelum marketing. Tapi beda dengan kota Bandung, mungkin pemerintah kota tidak tahu bahkan tdk aware terhadap apa yg diperlukan. Kota Bdg tdk diapakan, tapi mempunyai daya tarik yg luar biasa; wisata alamnya, FO, culiner, music, olah raga, MICE apalagi mojangnya. Tapi sayang ketidak siapan kota Bandung, akibatnya macet, perambahan, uncontrol konversi land use dsb. Demikian pula kasus kota Batam, kota yg the most attractive city, tanpa melakukan marketing apa2, kota Batam menjadi kota yg tercepat pertumbuhannya di Indonesia. Tapi kembali kota Batam tdk siap sehingga muncul kawasan Rumah Liar, konversi land use dsb. Cirebon ada Keraton, Batik dan Culinernya, Brebes ada bawang dan telor asinnya, Pekalongan ada Batiknya, Semarang ngga tahu apanya, Solo ada Jokowinya, Yogya tanya Empunya, Salotiga, Pacitan, Kendiri, Malang Suroboyo, kalau Bali yah hebatlah.
Tabek. Powered by Telkomsel BlackBerry® -----Original Message----- From: "[email protected]" <[email protected]> Date: Tue, 30 Jun 2009 11:10:45 To: <[email protected]> Subject: Re: [referensi] Re: city marketing Rekan milisters ysh, Urun rembug tentang city marketing. Sebenarnya saya malu karena ini hanya share entah bisa disebut pengalaman yang gagal atau pengalaman yang berhasil atau yang so-so. Silahkan diartikan sendiri. Dan saya mohon maaf yang sebesar2nya kepada mas Aby karena bisanya saya mengambil contoh dari kota dimana saya tinggal, yaitu Jogja. Waktu tahun 2000-2006 yang lalu DIY sangat getol dengan city marketing, meskipun itu dilakukan ditingkat propinsi. Pertama membangun brand image ... terlepas berhasil atau gagal, waktu itu berhasil membangun kerjasama dengan Ogilvy dan Landorp. Ini 2 perusahaan ternama dunia untuk memasarkan DIY. Muncullah Jogja Never Ending Asia dengan logonya. Yang tersisa saat ini hanya logo Jogja saja. Never Endingnya entah sudah jalan2 kemana. Berkaitan dengan ini, dilakukan pemasaran (road show) ke Australia, Jepang dan Eropa. Alhamdulillah terjadi peningkatan turis ke jogja. Kedua, memanfaatkan event internasional di Jogja. Untuk itu ATF yang semula akan diadakan di Kamboja ditarik dan dilaksanakan di Jogja tahun 2002. Hasilnya ada JEC dan dampak pada masyarakat munculnya exportir dari DIY yang semula hanya 4 sekarang sudah menjadi 200an. Saya tidak tahu apa mereka semua sekarang masih aktif. Ketiga, DIY mencoba mnejadi economic hub di Jawa Tengah Selatan. Waktu itu memanfaatkan keterpurukan Solo akibat kerusuhan sosial 1999. Maka ada 1 tim yang diminta untuk mempelajari pasar di Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur/Barat. Hasilnya saat ini adalah munculnya turis mingguan dari wilayah Purwokerto/Cilacap dibagian barat, Pacitan/Madiun di wilayah timur, dan Semarang dari utara. Hasil akhirnya adalah kemacetan dimana-mana. Itu hanya sebagian kecil contoh2 yang pernah terjadi... mungkin pelajaran yang bisa dipetik adalah bahwa apa yang secara teori kelihatan bagus, ternyata dalam praktek bisa berbeda sama sekali. Teori adalah teori dan praktek adalah praktek... praktek tanpa teori memang akan kisruh ... tapi teori tanpa praktek hanya mimpi ... Matur nuwun dan maaf bambang sp

