Siapa sangka, pecahan kaca bisa disulap jadi bbrp jenis kerajinan eksklusif seperti asbak, meja hias, vas bunga bahkan miniatur menara Pisa dan Petronas. Kerajinan kaca pun ternyata bisa menambah keapikan bahkan kemewahan dekorasi sebuah ruang. Dengan berbagai cara, kaca bening dan warna, setelah diolah serta dipadukan dpt diubah menjadi sebuah seni kerajinan, dan mampu melahirkan daya pikat tersendiri. Pecahan kaca, ditangan kreatif Johan Prasetio, mampu membawa rezeki tersendiri. Awalnya, Johan menekuni usaha dengan mendaur ulang limbah seperti kertas, karton dan daun kering untuk diolah menjadi souvenir, kartu undangan hingga pernak-pernik hiasan rumah tangga, furniture, frame foto dan sebagainya. Namun, kreasi produk terus dikembangkan Jo dengan mengolah bahan limbah pecahan kaca. Alasannya limbah kaca sbg bahan baku kaca tidak ada masalah dan selalu tersedia, dan harganyapun murah," ungkap Johan. Dalam produksi, Jo dibantu beberapa masyarakat sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Harga produknya sangat bervariasi, mulai dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Asbak ukuran kecil dijual dengan harga Rp. 12.000,-, lampu seharga Rp. 250.000,- dan miniatur menara Pisa berbobot setengah kilogram dijual dengan harga Rp. 500.000,-. Pembelinya tak hanya sebatas konsumen dalam negeri saja, negara ASEAN pun melirik kerajinan pecahan kaca bernilai seni tinggi tersebut. Umumnya pembeli asing mengetahuinya dari acara pameran. Kini Jo telah menghasilkan kurang lebih 200 item kerajinan pecahan kaca di bawah naungan lebel “Jo Art” dengan omset mencapai Rp. 40 juta per bulan. Ia jg memiliki ide untuk membuat miniatur tujuh keajaiban dunia dan sejumlah bangunan bersejarah di dunia dari limbah kaca. Baru-baru ia telah membuat miniatur Twin Towers Malaysia (Menara Petronas, red) seharga Rp. 3 juta yg secara khusus dipesan untuk Malaysia, ungkapnya.

