Milisters ysh,
Kekhawatiran tentang bias pandang gejala pembangunan kontinental sentrisme
dan urban sentrisme yg marak dikepulauan
Riau itu bisalah dimengerti ….
Mengingat 95% dari luas propinsi kepulauan Riau yg 250.000an km2 itu terdiri
dari laut dan terdapat 2400an pulau2 didalamnya….. sebuah pertanyaan adalah
kenapa dibuat segala rencana jalan tol dan jembatan penyeberangan sekalian
nebeng rencana jalan kereta api dari
Batam ke Bintan melalui pulau Tj. Sauh dan juga jembatan dari Tj.Pinang ke P.
Dompak
sepanjang 0.92km….(6 jembatan malah sudah
dibuat dari Batam sampai ke Rempang dan Galang)…..namun kekhawatiran itu
sebenarnya tidaklah perlu…...
Yg paling amat penting adalah asalkan pemda
Batam Bintan dan Karimun tidak arogan dan sekali2 tidak pernah lupa utk
menyisihkan
ruang daratan itu utk proyek2 pembangunan
bagi sikecil…… khususnya menyangkut model rumah2 murah disela2 proyek2 besarnya
disana..…..
Yg jelas memprihatinkan adlh bhw sejak
semula perencanan ruang utk sikecil di Batam dpt dibilang sangat kurang…… semua
krn semua mata lebih menengok kepada akomodasi kepentingan2 sektor modern dan
sektor high added value.. sesuatu yg sebenarnya bisa dibuat subsidi silang utk
sikecil ini (pokoknya dosa amat besar kalau sampai tak ada proyek utk
sikecil)…….
Kembali kpd kekhawatiran ttg pembangunan
berorientasi daratan…. Justru mentang2 krn propinsi Kepri itu 95% terdiri dari
lautan…..
maka janganlah pula lalu habitat manusianya juga harus sekalian dibangun diatas
air seperti bentuk rumah2 panggung dipantai misalnya…… lalu semua lalulintas
hrs pake motorboat…..
Untuk penduduk asli maupun utk keperluan
turisme spt homestay sih boleh saja dan itu harus ada… tapi utk investasi2
besar bersifat bisnis internasional/
nasional tentu yg namanya pembangunan2
urban sentrisme dan kontinental sentrisme itu tentulah wajar dan perlu… krn
secara internasional kebiasaan habitat manusia serta transaksi2nya adalah
didaratan dan bukan diatas
air (dikapal indukpun juga diair tapi dgn suasana kota besar) ….….
Lagipula yg namanya cita2 lama pembangunan regional IMT-GT (Indonesia
Malaysia Thailand Golden Triangle)
maupun BIMP-EAGA
(Brunei, Indonesia, Malaysia, Philipine - East Asean Growth Area) itu juga
bukannya sudah
tewas lho ……. Bisa saja konkretisasinya nanti tidak persis sekali sama
dgn kedua konsep regional economic
development itu (lucunya disini Singapura tidak dimasuk di kedua konsep
regional itu ya?...
apa ada yg berkenan memberi informasi kenapanya?)…..…..
Kalau
saat ini Asean merasa bhw Asia Timur/ China (bersama Jepang, Korea, Taiwan)
sangat
mendominasi pertumbuhan ekonomi dunia…. Wajar kalau Asean pengin juga…. Dan
salahsatu
strategi dari cita2 itu adalah digalangnya persiapan penggalakan ‘perekonomian
daratan’ segitiga Selat Malaka seperti dimunculkannya rencana jembatan2 dari
Johor ke Singapura (sudah ada) lalu menyambung ke pulau Lazarus (Singapura) ,
Berhanti
dan Sambu (Indonesia), lalu dari situ nyabang kekiri (Batam lalu Bintan,
Barelang sdh nyambung) dan kekanan kepulau Karimun, p. Panggang, P. Panjang,
lalu kedaratan Riau…. Dan kalau jembatan Selat Sunda jadi maka nyambunglah pula
Asia dan Indonesia…… dan BIMP-SEAGA atau IMT-GT itu bukanlah lagi EGP……..
Salam,