Pak Aby ysh, puisi ini memiliki kesan tersendiri bagi saya. Kalau tidak
salah masuk dalam antologi "Potret Pembangunan dalam Puisi", cetakan
pertamanya saya beli pada tahun 1979-1980. Beberapa antologi Rendra yang
lain saya koleksi, dan mempengaruhi semangat saya menulis puisi juga masa
itu. Guru seni saya mengatakan langgam balad Rendra dipengaruhi Federico
Garcia Lorca <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/318>. jadi
memang style romansa, dan juga mempengaruhi aliran Referensi kita.

Pada sekitar tahun 1989-an Rendra menyelenggarakan pembacaan puisi tunggal
di Gelora Saparua Bandung, tidak lama setelah keluar dari penjara. Saya
ingat pada waktu itu harus berdesakan masuk, dan untungnya di depan saya ada
seorang mojang cantik. Terakhir bertemu tahun lalu di Citayam waktu
menikahkan puteranya.

Mengenai shooting "Yang Muda Yang Bercinta", saya kira rekan-rekan di milis
ini ada yang masih ingat, seperti Pak Koes dll untuk bisa cerita juga. Saya
dulu sewaktu menjadi kru LFM pernah dapat cerita bila 'take'-nya harus
diulang berkali-kali, karena setiap 'action' selalu diganggu mahasiswa yang
selalu bersorak dan berkerumun. Akhirnya pengambilan gambar diambil
diam-diam, seperti kamera diletakkan dalam tas dan kameramannya berjalan
cuek masuk ke dalam kampus, dst.

Allahummaghfirlahu ...

-ekadj
2009/8/9 hengky abiyoso <[email protected]>

>
>
>   Sajak Sebatang Lisong
>
> menghisap sebatang lisong
> melihat Indonesia Raya
> mendengar 130 juta rakyat
> dan di langit
> dua tiga cukong mengangkang
> berak di atas kepala mereka
>
> matahari terbit
> fajar tiba
> dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
> tanpa pendidikan
>
> aku bertanya
> tetapi pertanyaan – pertanyaanku
> membentur meja kekuasaan yang macet
> dan papantulis – papantulis para pendidik
> yang terlepas dari persoalan kehidupan
>
> delapan juta kanak – kanak
> menghadapi satu jalan panjang
> tanpa pilihan
> tanpa pepohonan
> tanpa dangau persinggahan
> tanpa ada bayangan ujungnya
> ……………………..
>
> menghisap udara
> yang disemprot deodorant
> aku melihat sarjana – sarjana menganggur
> berpeluh di jalan raya
> aku melihat wanita bunting
> antri uang pensiunan
>
> dan di langit
> para teknokrat berkata :
>
> bahwa bangsa kita adalah malas
> bahwa bangsa mesti dibangun
> mesti di up-grade
> disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
>
> gunung – gunung menjulang
> langit pesta warna di dalam senjakala
> dan aku melihat
> protes – protes yang terpendam
> terhimpit di bawah tilam
>
> aku bertanya
> tetapi pertanyaanku
> membentur jidat penyair – penyair salon
> yang bersajak tentang anggur dan rembulan
> sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
> dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan
> termangu – mangu di kaki dewi kesenian
>
> bunga – bunga bangsa tahun depan
> berkunang – kunang pandang matanya
> di bawah iklan berlampu neon
> berjuta – juta harapan ibu dan bapak
> menjadi gemalau suara yang kacau
> menjadi karang di bawah muka samodra
> ……………………………
>
> kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
> diktat – diktat hanya boleh memberi metode
> tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
> kita mesti keluar ke jalan raya
> keluar ke desa – desa
> mencatat sendiri semua gejala
> dan menghayati persoalan yang nyata
>
> inilah sajakku
> pamplet masa darurat
> apakah artinya kesenian
> bila terpisah dari derita lingkungan
> apakah artinya berpikir
> bila terpisah dari masalah kehidupan
>
>
> RENDRA
> ( itb bandung – 19 agustus 1978 )
>
>
> * ) Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi
> Bandung dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang
> Bercinta” yang disutradarai oleh Sumandjaya.
>
>
>
> __._,_.
> .
>

Kirim email ke