Terima kasih pak Eka, wah saya sebetulnya nurut anda saja asal di Jakarta, tapi kalau boleh milih kita enaknya ketemuan di TIM sekitar jam ke-2 atau ke-3 hari sabtu, bagaimana ?
Wassalam, Onnos. To: [email protected]; [email protected] From: [email protected] Date: Thu, 13 Aug 2009 09:47:00 +0700 Subject: [referensi] Re: Merantau - nobar Pak Risfan dan Pak Aslim ysh, Terima kasih atas informasinya. Mengenai kopi daratnya mohon Pak Risfan dan Pak Onnos menentukan tempat dan waktunya dari tabel ini: Bioskop Studio Jam 1 Jam 2 Jam 3 Jam 4 Jam 5 Blok M Plaza 3 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Pondok Indah 2 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Kelapa Gading 4 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Citraland 2 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - Atrium Senen 3 12:00 WIB 14:45 WIB 17:30 WIB 20:15 WIB - Metropole XXI 2 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Setiabudi 1 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - Cilandak 3 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - Hollywood KC 5 13:30 WIB 16:15 WIB 19:00 WIB 21:45 WIB - TIM 2 13:00 WIB 15:45 WIB 18:30 WIB 21:15 WIB - Palladium 1 13:00 WIB 15:45 WIB 18:30 WIB 21:15 WIB - Tunjungan Surabaya 5 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Puri Indah Mall 7 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Plaza Senayan XXI 4 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Kalibata 1 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Empire BIP Bandung 2 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - BSM Bandung 4 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Bintaro 2 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - Int'l Plaza Palembang 2 13:30 WIB 15:45 WIB 17:55 WIB 20:30 WIB - Studio Yogyakarta 4 10:30 WIB 13:15 WIB 16:00 WIB 17:45 WIB 21:30 WIB Mega Bekasi XXI 6 13:00 WIB 15:45 WIB 18:30 WIB 21:15 WIB - Tamini 1 12:00 WIB 14:45 WIB 17:30 WIB 20:15 WIB - Ciwalk XXI Bandung 8 13:15 WIB 16:00 WIB 18:45 WIB 21:30 WIB - Ayani Pontianak 3 12:45 WIB 15:30 WIB 18:15 WIB 21:00 WIB - Detos 1 12:15 WIB 15:00 WIB 17:45 WIB 20:30 WIB - Pacific Place Blitz Megaplex 4 12:30 WIB 15:30 WIB 18:30 WIB 21:30 WIB - Paris Van Java Blitz Megaplex 2 12:30 WIB 15:15 WIB 18:00 WIB 20:45 WIB - Grand Indonesia Blitz Megaplex 12 13:00 WIB 16:00 WIB 19:00 WIB 21:45 WIB - Diharapkan kalau bisa Pak Aslim (Sekjen IPSI) bisa ikut menemani. Sementara demikian. Salam. -ekadj 2009/8/13 ASLIM NURHASAN <[email protected]> Bp/Ibu (mohon maaf saya samar2) Eka, yang mulia; Menurut info yang beredar dari Guru Gadang ke Guru Gadang ada 600 aliran silat di Indonesia (sumber Bp Eddie M. Nalapraya), sementara di Minangkabau juga beredar info bahwa aliran silat si sana juga ada 600 aliran; wallahualam; mdh2an rencana riset yang sedang kami rancang, sekaligus akan buat ensiklopedi silat tradisi indonesia (audio, auido-visual, dan buku) segera terwujud; Bagi anggota milis yang ingin bersinergi, silahkan kontak; Silat Harimau, memiliki kelebihan sebagaimana Harimau; ada kecepatan, kelincahan, waspada, sabar, mematikan, dan tentu saja ada kekuatan; Silat Harimau, memang agaka berbeda dengan Silek Kumango yang diformulasikan oleh Syech Abdurrahman Al-Khalidi (Syech Kumango) dalam rumusan "Alif Lam Lam Ha, Min Ha Min Dal"; Mudah2an berkenan; selamat nobar; Salam ta'zim; ASLIM NURHASAN +62811103234 Berbuat Nyata, Produktif, Positif, Konstruktif, dan Sinergis® From: "ffekadj" [email protected]> Date: Thu, 13 Aug 2009 01:17:01 -0000 To: <[email protected]> Subject: [kebudayaan] Merantau Pak Aslim Nurhasan ysh, Saat ini sedang beredar film 'Merantau' yang mengetengahkan seni silat harimau. Boleh bertanya ada berapa jenis silat di Minangkabau, dan apa kelebihan dari silat harimau ini? Ada rencana kita mau nonton bareng nih, butuh referensi sebelumnya. Terima kasih. Salam. -ekadj --- In [email protected], "risfano" <risf...@...> wrote: Uda Ekadj dan Rekans ysh, Kelabihan puisi yang bagus memang bisa diartikan dari multi-dimensi dan interpretasi. Culture shock terkait urbanisasi dan globalisasi. Ada peralihan budaya. Soal "merantau" saya pernah baca disertasi Muhtar Naim, yang pakai metode sejenis fenomenologi (?), ternyata dibalik romantisme budaya merantau orang Minang, asalan mendasarnya keterbatasan sumber daya (ekonomi) juga, disamping keleluasaan lelaki secara adat. Soal "malin kundang" dalam salah satu analisis (fenomenologi?) budayawan AA Navis pernah mengatakan bahwa yang salah bisa saja ibunya. Bukankah umumnya do'a ibu supaya anaknya menjadi "orang kaya, pembesar" seperti idolanya (lepas dari sikon asalnya). Tidak fair kalau anak sudah jadi yang dicitakan Amak nya, setelah sampai di Rotterdam, tiba-tiba diharapkan berlaku persis spt ketika masih di Rangkas. Gitu kali? Bagaimana kopi daratnya? Salam, Risfan Munir --- In [email protected], "ffekadj" 4ekadj@ wrote: > > > Pak Risfan ysh, sekarang tentang puisi. Apa yang saya tangkap dari puisi > itu adalah 'culture shock' yang tidak bisa dihindarkan. Anak > Rangkasbitung itu berada dalam persimpangan, setelah terbiasa dengan > locality kemudian menatap sistem budaya yang jauh berbeda. Keinginannya > sih pengen tetap menjadi anak kampung, namun godaan untuk menjadi Malin > Kundang <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/187> juga > cukup besar. Saya kira fenomena ini dihadapi oleh siapa pun yang pernah > 'merantau', termasuk seorang sahabat saya yang lagi nongkrong di > Champs-Élysées dsk. > > Mungkin perbenturan budaya bisa melahirkan kreativitas, siapapun yang > pergi merantau cenderung lebih kreatif, seperti Shibusawa Eeichi > <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/3433> . Nah ini menarik > dalam kajian budaya kita. Beberapa sistem budaya kita juga menyuruh > anak-anak muda untuk pergi merantau : kerakap madang di hulu - berbuah > berbunga belum - merantaulah bujang dahulu - di rumah berguna belum. > > Ah bicara merantau, saya melihat di bioskop ada poster baru : film > "Merantau <http://www.youtube.com/watch?v=jPEOXiXVlbI&feature=related> > ". Teringat ajakan Pak Onnos untuk kopi darat, bagaimana kalau kali ini > kita nonton bareng. Yuuk. > > -ekadj > > > --- In [email protected], "risfano" <risfano@> wrote: > > > > Rekans ysh, > > > > Mungkin untuk merasakan benturan budaya "desa vs global" dalam > pemahaman seseorang bisa dirasakan dalam potongan Sajak WS Rendra > berjudul "Doa Seorang Pemuda Rangkasbitung di Rotterdam" (Kompas, 9 > Agustus 2009). Dalam kajian kualitatif pengalaman seseorang kan jadi > obyek observasi juga (?). Sajak yang ditulis tahun 1990 ini bisa juga > dianggap sebagai potret yang bisa diproyeksikan ke depan ala futurolog > seperti Toffler, Naisbitt, dst. > > > > "................... > > Aku merindukan desaku lima belas kilo dari Rangkasbitung. Aku > merindukan nasi merah, ikan pepes, desir air menerpa batu, bau khusus > dari leher wanita desa, suara doa di dalam kabut. > > > > Musna. Musna. Musna. Para turis, motel dan perkebunan masuk desa. > Gadis-gadis desa lari ke kota bekerja di panti pijat, para lelaki lari > ke kota menjadi gelandangan. Dan akhirnya digusur atau ditangkapi > disingkirkan dari kehidupan. Rakyat kecil bagaikan tikus. Dan para > cukong selalu siap membekali para penguasa dengan semprotan antihama. > Musna. Musna. Musna. > > > > Kini aku di sini. Di Rotterdam. Menjelang subuh. Angin santer. Jendela > tidak terbuka, tapi tirainya aku singkapkan. Kaca basah. Musim gugur. > Aku mencium bau muntah. Orang Negro histeri ketakutan dikejar teror > orang kulit putih di tanah leluhurnya sendiri di Afrika Selatan. > Kekerasan. Kekuasaan. Kekerasan. Dan lantaran ada tambang intan di sana, > kekuatan adikuasa orang-orang kulit putih juga termasuk yang demokrat, > memalingkan muka, bergumam seperti orang bego, dan mengulurkan tangan di > bawah meja, melakukan kerja sama dagang dengan para penindas itu. Dusta. > Dusta. Dusta. Ya, Allah Yang Maharahman! Tanganku mengambang di atas air > bersama sampah peradaban. > > > > Apakah aku akan berenang melawan arus? Langit nampak dari jendela, Ada > hujan bulu-bulu angsa. Aku hilang di dalam kegagapan. Ada trem lewat. > Trem? Buldoser? Panser? Apakah aku akan menelpon Linde? Atau Adrian? > Berapa lama akan sampai kalau sekarang aku menulis surat kepada Makoto > Oda di Jepang? Sia-sia. Musna. Dusta. > > > > Rotterdam! Rotterdam! Hiruk-pikuk suara pasar di Jakarta. Bau daging > yang terbakar. Biksu di Vietnam protes membakar diri. Perang saudara di > India yang abadi. Aku termangu. Apakah aku akan menyalakan lampu? > Terdengar lonceng berdentang. Berapa kali tadi? Jam berapa sekarang? > Ayahku di Rangkasbitung selalu bertanya: Kapan kamu akan menikah? Apakah > kamu akan menikah dengan perempuan Indonesia atau Belanda? Kapan kamu > akan memberiku seorang cucu? Apakah lampu akan kunyalakan? Di > Rangkasbitung pasti musim hujan sudah datang. Kenapa aku harus punya > anak? Kalau perang dunia ketiga meletus nuklir digunakan, angin bertiup, > hujan turun, setiap mega menjadi ancaman. Jadi anakku nanti harus > mengalami semua ini? Rambut rontok. Kulit terkelupas. Ampas bencana > tidak berdaya. Ah, anakku, sekali kamu dilahirkan tak mungkin kamu > kembali mengungsi ke dalam rahim ibumu! > > > > ......................." > > > > (selangkapnya bisa diklik di > http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/09/02555438/sajak-sajak.rendra > ) > > > > Salam, > > Risfan Munir > > > > --- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote: > > > > > > Rekans, > > > > > > Kalau gak salah para futurolog juga mendeteksi adanya "global > paradox", makin global masyarakat dunia, justru lebih menyukai hal-hal > yang berbau lokal, karena bagi mereka yang sering bepergian adanya > gejala "seragam" dalam hal musik, fashion, makanan "membosankan" > sehingga merindukan hal-hal yang punya nuansa lokal. Toffler juga > bilang,justru di tengah globalisasi banyak muncul koran-koran > komunitas/lokal. > > > Saya pernah mendampingi expatriat yang setiap masuk hotel dan > restoran selalu protes ke pengelolanya supaya jangan muter musik itu > (Kenny G. waktu itu). Muak katanya, di LA, di Beijing, di Bangkok, di > Solo kok semua hotel/cafe musiknya itu. > > > > > > Masyarakat kita umumnya (termasuk yang di pelosok) pengetahuannya > tentang berita global mungkin lebih luas dari mereka yang di negara > maju, karena program global disini banyak ditayangkan/ditonton. > Sebaliknya masyarakat di negara maju malah cuma nonton acara lokal > mereka saja. Pengetahuan global ini bisa membuka pikiran,tapi juga > menciptakan harapan berlebihan,sehingga mereka (yang muda) resah dan > memilih pindah ke Jakarta/Jawa. > > > > > > Di sisi lain, kalau mau mengembangkan produk kreatif (lokal), juga > pariwisata, selain mengenali dan menonjolkan budaya lokal, harus tahu > pula bagaimana "perilaku" pelancong dalam menikmati, menggunakan produk > kreatif budaya lokal tersebut. Mungkin cara menikmati/menggunakannya > beda dengan komunitas (pemilik) nya. Artinya produk lokal perlu dikemas > sesuai selera global. > > > > > > Pemasar HP misalnya mempelajari (mungkin dengan etnografi) perilaku > pengguna HP di Indonesia yang gandrung model baru itu. Sehingga yang > ditojolkan adalah hal yang disukai masyarakat disini,misalnya Facebook. > Sehingga dalam iklan-iklan sekarang untuk kelas produk tertentu yang > ditonjolkan adalah tersedianya fasilitas Facebook,dari pada keunggulan > lainnya. Ini produk global yang di"lokal"kan penggunaannya disini. > > > > > > Ada juga istilah "glocal",nah apapula ini..... > > > > > > Salam, > > > Risfan Munir > . _________________________________________________________________ What can you do with the new Windows Live? Find out http://www.microsoft.com/windows/windowslive/default.aspx

