Yth Pak Djarot dan para pakar penataan ruang ysh,
Setelah membaca berbagai uraian Bapak-Bapak Pakar di milis ini, saya mencoba 
membuat catatan awam dari pinggiran. Mohon koreksinya jika keliru:
1. Dalam tingkatan sederhana perencana menghimpun berbagai data, membuat 
analisis, mengadakan konsultasi. Perencana mengolah berbagai statistik dalam 
komputernya dan menyiapkan rencana kota atau wilayah melalui proses yang sudah 
dipelajari dalam studinya. Perencana menyajikan presentasi yang rapih dengan 
ilustrasi yang menarik yang membuat audience kagum dan berdecak.
2. Dalam tingkatan yang lebih baik, perencana dengan tekun dan sepenuh hati 
menggali kekhususan kawasan yang direncanakan, mencermati aspek fisik 
geografis, lingkungan dan prasarana/sarananya, serta perkembangan eknomi, dan 
ssial budaya masyarakatnya. Kekhususan itu mencakup pula proses sejarah 
terbentuknya dan berkembangnya kawasan itu yang berbeda dengan kawasan lain, 
yang akan membawa potensi dan peluang yang berbeda dalam perkembangannya 
kedepan.
3. Lebih jauh lagi, perencana menyadari bahwa kota atau wilayah yang 
direncanakan bukan benda mati, tetapi suatu organisme yang hidup dan 
berkembang, didorong oleh perkembangan hidup dan kegiatan masyarakat di 
dalamnya. Perlu diperhatikan juga bahwa disamping kebutuhan cangkang yang 
secara fisik lebih besar, maka masyarakat kota/wilayah itu "roh" nya juga 
berkembang. Kehidupan sosial-budayanya juga harus dapat berkembang, menjadi 
lebih berkualitas, lebih beradab.Tampaknya aspek ini belum begitu mendapat 
perhatian, karena biasanya yang dipakai adalah ukuran kuantitatif yang mudah 
diukur, sementara ukuran kualitas kehidupannya dianggap ok-ok saja atau 
dipandang terlalu sulit untuk diukur.
4. Lebih meningkat lagi, perlu diperhatikan bahwa disamping hal yang kasat mata 
dan dapat diterangkan secara analitis dalam ilmu-ilmu yang umum berkembang 
sekarang sebetulnya di alam ini ada "kekuatan" lain yang tidak/belum banyak 
difahami.Mengapa kota-kota di masa lalu ditempatkan, ditata, dalam lokasi dan 
arah tertentu, dan pada saat tertentu, sebetulnya dikaitkan dengan pemahaman 
tentang kekuatan ruang dan waktu yang sekarang banyak dilupakanMungkin 
ilmu-ilmu ini perlu dipelajari kembali?
5. Pada zaman dahulu umunya kota/wilayah dihuni masyarakat yang homogen dengan 
pandangan dan keyakinan yang sama, dipimpin oleh raja yang kuat, yang dengan 
saran pujangganya dapat menentukan dengan tegas pola/arah perkembangan 
kota/wilayahnya. Keyakinan yang dianut raja, pujangga, dan masyarakatnya 
melandasi perkembangan kota/wilayahnya secara utuh. Di masa kini kota/wilayah 
dihuni oleh masyarakat yang heterogen dari berbagai kelompok etnis, 
kepercayaan, agama, dan pandangan politik yang berbeda.
6. Adanya kekuatan intangible ruang dan waktu pada lokasi yang spesifik kurang 
difahami dan diyakini masyarakat dan sering cepat diasosiasikan pada ilmu 
klenik. Pada zaman dahulu orang takut pada batu besar, pohon besar, hutan 
angker, gua, gunung dll. Orang Mesir dahulu menyembah Dewa Matahari. Kemudian 
datang agama Tauhid yang meyakini bahwa seluruh alam semesta diciptakan dan 
dikuasai oleh Yang Maha Esa. Ada yang berpendapat bahwa dengan adanya keimanan 
baru itu seharusnya pemahaman tentang adanya berbagai kekuatan di alam ini 
seharusnya semua dikikis dan dihilangkan. Ada yang berpendapat bahwa berbagai 
kekuatan itu memang ada tetapi jauh lebih rendah dan lebih kecil jika 
dibandingkan dengan Yang Maha Esa, yang menciptakan seluruh alam semesta ini.
7. Terlepas dari perbedaan pandangan itu, kiranya berbagai peninggalan sejarah 
perlu dipelihara dan dilestarikan, karena akan sangat berguna sebagai bahan 
kajian masyarakat masa kini dan masa yang akan datang. Berbagai peninggalan itu 
nanti mungkin akan sangat membantu kita memahami "unknown zone" yang sekarang 
masih gelap. Beberapa peninggalan sejarah itu mungkin juga menyimpan kekuatan 
alam yang sekarang belum kita fahami.
8. Apakah ilmu yang mendalami berbagai kekuatan ruang dan waktu (dibawah 
kekuasaan Yang Maha Esa) suatu ketika akan masuk kedalam mainstream ilmu 
Penataan Ruang dan ilmu pengetahuan yang sekarang umum dikembangkan, hal itu 
masih menjadi tanda tanya, karena kedua ilmu itu ada pada jalur yang berbeda. 
Yang satu mengandalkan pemahaman dan pengembangannya melalui pelatihan olah 
rasa dan kepekaan dalam menangkap "Kebenaran", sementara yang kedua menekankan 
pada ananalisis sebab-akibat secara rasional.
9. Sambil menunggu berkembangnya pemahaman yang canggih mengenai kekuatan ruang 
dan waktu itu,barangkali kita dapat secara sederhana mulai dulu dengan 
pemahaman budaya yang melekat dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita perlu 
menekankan bahwa ruang-ruang kota kita bukan hanya merupakan ruang fisik tempat 
kehidupan fisik, bermukim, bermobilitas, mencari nafkah, berbisnis atau 
mengembangkan industri. Ruang kota kita harus dapat meningkatkan kualitas 
kehidupan berbudaya dan beradab. Kita tidak hanya mengukur kecukupan 
kuantitatif tetapi juga kualitatif dalam kehidupan. Apakah itu sudah masuk 
hitungan dalam evaluasi perkembangan kota ?
10.  Dalam periode yang lalu kita sangat mementingkan prioritas pembangunan 
ekonomi dan prasarana. Kita  lihat dampaknya pada perkembangan kota kita. 
Sekarang tiba saatnya kita masuki era pembangunan yang utuh yang mengandung 
physical & environmental sustainabiity, economic sustainability, dan 
sosio-cultural sustainability. Apakah dalam RPJM mendatang kebijakan penataan 
ruang kita masih doing business as usual? Ataukah akan ada perubahan dan 
pembaharuan yang menyegarkan? Apakah isu keadilan, keragaman, kelestarian dan 
kegairahan budaya akan masuk hitungan?

Demikian tadi beberapa catatan awam dari pinggiran.Kurang lebihnya mohon 
dimaafkan.
Suhadi

--- On Wed, 8/12/09, Djarot Purbadi <[email protected]> wrote:

From: Djarot Purbadi <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Wednesday, August 12, 2009, 5:33 AM












 
 




    
                  Pak Ekadj, salah satu syarat untuk mampu memandang dengan 
cara fenomenologi adalah wening atau dalam terminologi saya "murni". Salut dan 
terima kasih, panjenengan justru mampu menemukan terminologi lokal yang pas 
banget untuk mengungkapkan "murni" yang berasal dari gagasan Husserl itu. 
Syarat kedua, kita memang harus terbiasa berpikir adanya kebenaran plural, yang 
mengakui banyak kebenaran pada dirinya sendiri karena konteks maupun sudut 
pandang yang beragam dari si empunya kebenaran. Nah dengan bekal kedua syarat 
ini, bagi saya tidak ada rasa atau pikiran terganggu jika harus menghormati 
hal-hal yang lokal sejajar dengan hal-hal yang universal atau yang 
internasional. Mbah Surip dalam konteks kesadaran saya sama dengan seniman lain 
yang berasal dari dunia manapun. Saya kira untuk berfenomenologi juga harus 
latihan memenuhi kedua syarat ini. Artinya, teori
 lokal ya harus disikapi sejak dalam pikiran sama dan sejajar dengan teori lain 
yang sudah lebih dahulu terkenal. Tetapi secara terbuka memang harus 
didialogkan atau diperbandingkan secara khusus. Oleh karenanya, proses 
berfenomenologi setelah menemukan teori lokal ya harus dilakukan tahap lanjutan 
berupa dialog teoritis, yang berusaha melihat keunikan teori kita terhadap 
teori lain yang barangkali sudah monumental. Teori Magersari misalnya, ada 
dimana-mana, lha kita bisa memperbandingkannya dengan teori lain yang berasal 
dari khasanah dunia pustaka yang kiranya sudah lebih dahulu terkenal. Jadi 
dilakukan posisioning temuan teori lokal kita terhadap teori lain.

Demikian Pak.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnu santara.wordpres s.com

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Wed, 8/12/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:

From: ffekadj <4ek...@gmail. com>
Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Wednesday, August 12, 2009, 12:40 AM






 

    
                  Pak Djarot, Pak Onnos, dan rekan-rekan ysh. Mohon maaf ikutan 
ngobrol sedikit. Saya sebenarnya sudah hampir merumuskan sedikit tentang 
diskusi ini, namun sepertinya terkunci dengan pernyataan Pak Djarot mengenai 
'think locally, act locally'.
Saya kira, secara pendekatan fenomenologi yang Pak Djarot sampaikan, ada simpul 
budaya yang dapat dikembangkan secara positif. Misalnya, keanekaragaman budaya 
dan peristiwa di masa lampau mendalilkan penafsiran universal tentang jagad 
yang dapat digunakan di mancanagara sesuai dengan harapan Pak Onnos. Saya 
sebenarnya ingin memasukkan ke dalam kategori 'wening' untuk root 'intuisi' 
kajian fenomenologi ini. Dari sini kita bisa masuk ke dalam sistem keunggulan 
bangsa, seperti misalnya : ekonomi bejo yang rentan terhadap berbagai mazhab 
ekonomi dunia, dll. Namun 'kunci locality' terkesan negatif. Bila dibawa ke 
sistem nasional maupun global rasanya bisa memaksakan primat lokalitas. Mohon 
pencerahannya pak. Salam.
-ekadj
--- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Onnos, mungkin sintaktiknya sama tetapi semantiknya bisa berbeda. Jika 
> sekarang disintaktikkan dengan think locally do locally ditambah kesadaran 
> tentang globally saya kira berbeda jika think locally do locally tanpa 
> embel-embel kesadaran global itu. Kesungguhan menggarap yang lokal dibayangi 
> dengan kesadaran global, maksudnya begitu.....sama ya dengan think globally 
> act locally....enggak, think nya tetap locally, act nya locally tetapi di 
> dalam think locally tadi terdapat awareness yang globally.... .piye ta 
> iki...hahahahahaaa. ...
> 
> Salam,
> 
> 

        
         
        
        




        




        
        


        
        
        




      

Kirim email ke