Rekan Erwin Fahmi ysh,



Mohon maaf terlambat menanggapi kembali krn sempat bbrp hari tak 
berhubungan dgn komputer…..

Sungguh tak disangka dan merupakan suatu
kehormatan bagi saya bhw anda berkenan mengappreciate tulisan2 saya………

Saya kadang hanya berpikir mencoba turut
meramaikan atau ---meminjam bahasa masjid---   memakmurkan milis…… utamanya 
dikala milis nampak
agak sunyi……

Tugas anda di Aceh dan Nias tentu membuat
anda sering jauh dari hiruk pikuk Jakarta….. dan ttg perubahan yg terjadi pada
status penerimaan surat2 milis khususnya dari referensi tentu menimbulkan
pertanyaan….. tapi kiranya itu bisa disebabkan krn semata masalah gangguan 
teknis
….dan itu kiranya perlu segera diketahui oleh moderator milis kita….

Tentang puisi Rendra itu….. maafkanlah.... saya
hanya mengutipnya saja dari sebuah sumber… hingga boleh jadi ttg masalah
tanggal dan tahun itu andalah yg benar……… tapi kalaupun catatan ttg tanggal itu
salah…. saya percaya kiranya kita tetap sepakat bhw itu tak mengurangi 
sedikitpun
keindahan maupun daya ledak dari puisi itu……..

Salam,



--- On Mon, 8/10/09, Erwin Fahmi <erwin.fa...@.........> wrote:

From: Erwin Fahmi <erwin.fa...@.........>
Subject: Re: [kebudayaan] Re: Sajak Sebatang Lisong Dari Rendra
To: [email protected]
Date: Monday, August 10, 2009, 11:30 PM






 




    
                  Pak Aby ysh, 
Pertama, terimalah apresiasi saya atas tulisan-tulisan anda yang saya ikuti 
baik dari milis Referensi  maupun Kebudayaan. Tulisan-tulisan itu menggugah 
saya berfikir dari perspektif yang lain. Hanya, saya memang nyaris tidak pernah 
lagi bereaksi, khususnya ke Referensi (sejak 2005) karena, pertama, sejak awal 
tahun itu saya berkecimpung  di keriuhan R/R Aceh dan Nias; dan, kedua, status 
saya (mungkin sejak 2006 akhir) kok sepertinya telah berubah -- hanya menerima 
kumpulan tulisan, bukan lagi tulisan/posting satu persatu. Entahlah... mungkin 
saya harus bertanya ke rekan Ekadj atau moderator milis itu...

 
Kedua, tentang Sajak Sebatang Lisong ini. Betul, ini sajak yang 'membakar' era 
1970-an akhir itu. Namun, saya kok agak kurang yakin ya itu ditulis 19 Agustus 
1978... Apalagi ditambah tulisan, bahwa sajak itu dibacakan dlm salah satu 
adegan "Yang Muda Yang Bercinta". Alasannya sederhana, krn shooting film itu 
dilakukan, kalau tidak salah, 1976 atau 1977, pada masa Dewan Mahasiswa ITB Mas 
Kemal Taruc. Masa DM Mas Kemal Taruc inilah dicetuskan Gerakan Anti 
Kebodohan/GAK oleh aktivis ITB/Bandung, yang sepertinya menjadi semangat Sajak 
itu.

 
Sekedar usaha melacak konteks suatu sajak dan zaman... 
 
Salam, EF


2009/8/9 hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com>


  








Sajak Sebatang Lisong 

menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak – kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan – pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis – papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak – kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana – sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan
dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
gunung – gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes – protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam
aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair – penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak – kanak tanpa pendidikan

termangu – mangu di kaki dewi kesenian
bunga – bunga bangsa tahun depan
berkunang – kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta – juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra

……………………………
kita mesti berhenti membeli rumus – rumus asing
diktat – diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa – desa
mencatat sendiri semua gejala

dan menghayati persoalan yang nyata
inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan


RENDRA
( itb bandung – 19 agustus 1978 )


* ) Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa Institut Teknologi Bandung 
dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “Yang Muda Yang Bercinta” yang 
disutradarai oleh Sumandjaya.







-- 
Erwin Fahmi

Cell. (+62) 812 199 3233





 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke