Pak Onnos dan Rekans ysh,

Salu dengan pandangan jernihnya. Kalau mengikuti ulasan budayawan kita memang 
selalu dalam pergeseran budaya. Banyak produk budaya, seni, pola pikir kita 
berbasis ritme kegiatan agraris. Setelah pindah ke kota, atau tiap hari nonton 
TV nasional, global, maka mungkin harapan dan pola pikir berubah, seni yang 
ditonton berbeda. 
Pertanyaan klasik/ retoriknya apakah budaya Indonesia itu? Sunda, Jawa, Batak, 
Banjar, Bugis? Kumpulan dari itu? Bagaimana belajarnya?
Kalau kita menikah antar suku, dan merantau ke kota besar spt Jakarta, 
Surabaya, Medan, Makasar, lalu tradisi mana yang layak diterapkan untuk anak 
kita? Tradisi Indonesia yang mana? Dalam pencarian ini tiap hari keluarga kita 
nonton MTV, nonton Bollywood, Hollywood. Kita juga melihat model Campur sari 
(bahasa daerah campur Indonesia, dan ritme pop), juga lagu rap, hip-hop, 
country yang berbahasa Indonesia, dan solusi campuran lainnya.

Pak Onnos, pada sisi lain sejak jaman sejarah (Majapahit, Sriwijaya) anak 
bangsa kita juga menyebar. Dalam penyebaran itu mereka juga membawa seni 
tradisi mereka. Sehingga suatu saat di negeri itu kesenian yang berasal dari 
negeri kita sudah dianggap kesenian setempat. Maka pada titik ini kita harusnya 
high profile, menyatakan bahwa kesenian atau budaya bangsa kita menyebar luas 
ke negeri-negeri lain. Ekstremnya, negeri itu ada di bawah pengaruh budaya 
besar bangsa kita. 
Dengan kampanye, iklan yang high profile, maka dunia akan tahu mana pusat mana 
pinggirannya.

Cara melihat yang lain adalah dari seni bela diri. Disini banyak orang belajar 
karate, aikido, wusu, dst. Dalam turnamen internasional sering orang kita 
menang. Tapi jangan lupa seni bela diri pencak silat kita juga menyebar sampai 
benua Eropa. Pencak silat ada jaringan perkumpulannya, ada turnamen 
internasonalnya. Sehingga biar nyebar, dunia tahu karate dari mana, taekwondo 
dari mana, pencak-silat dari mana aslinya.

Apakah tak mungkin ada jaringan/perkumpulan kesenian gamelan, tari Jawa, tari 
Bali, tari Minang yang anggotanya dari berbagai negara. Juga perkumpulan 
pembatik, penenun ikat, pengukir, dst. Kan di banyak negara ada kegiatan 
sejenis.

Salam,
Risfan Munir










-----Original Message-----
From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]>
Sent: Wednesday, September 02, 2009 9:26 AM
To: [email protected] <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] Re: (2) Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme 
Compang-Camping

 
Mas Djarot, Eyang Abi dan rekan-2 ysh,
 Sepertinya kita ini memang sedang dalam proses mencari bentuk 'nasionalisme', 
ada benarnya kalau 'founding father' Bung Karno berkata bahwa 'Kemerdekaan ini 
adalah Jembatan Emas', karena setelah kita melewatinya ternyata banyak sekali 
lubang-2 jalan yang harus ditambal 'agar jalannya kemerdekaan ini mulus'. Kalau 
peta NKRI kita taruh diatas peta benua Eropa (dengan skala yang sama lho), maka 
akan terdapat banyak negara didalamnya. Sepertinya memang tidak mudah mengelola 
negara sebesar NKRI dengan wilayah laut yang luasnya 2/3 daratan dan 
bertaburan ribuan pulau ini. Di jaman 'orba' dengan model terpusat sudah kita 
alami 'plus-minus'nya, sekarang memasuki 'era reformasi' dengan model otonomi 
daerah yang sudah berjalan 10 tahun apakah akan lebih baik ? 
 Ada teman yang pernah studi banding di Inggris, negara Kerajaan (seluas Jawa 
Tengah) dengan model sosialis-liberalis (?), katanya mereka butuh waktu 200 
tahun untuk dapat mencapai stabilitas, nasioalisme & kesejahteraannya Ibarat 
permainan sepak-bola (permainan ini katanya juga ciptaan orang Inggris), pemain 
di-'adu' dilapangan 11 orang lawan 11 orang dengan satu wasit dan 4 penjaga 
garis, kita sebagai 'penonton' sering teriak-teriak merasa lebih pandai dari 
pada para pemain yang lari pontang-panting kesana kemari kejar bola. Sepertinya 
kita-kita ini memang 'baru jadi penonton' belum jadi 'pemain' dalam mengisi 
kemerdekaan untuk mencari arti nasionalisme ? Mohon maaf kalau saya salah ya.. 
mumpung masih puasa ramadhan.
 Wassalam,
 Onnos
 
To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Tue, 1 Sep 2009 17:45:13 -0700
Subject: Re: [referensi] Re: (2) Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme 
Compang-Camping

  
Eyang Aby, saya tertarik menanggapi soal nasionalisme kita belum selesai (?). 
Bagaimana penjelasannya  ?  Pakar  siapa yang menyatakannya, mohon dijelaskan 
supaya  penyingkapan  gagasannya bisa agak jelas dan "tidak misterius". Maaf 
saya benar-benar nggak tahu. Jika Eyang menggunakan pola atau teknik dongeng 
dalam diskusi ini, yang  biasanya mengakhiri suatu episode tayangan dengan 
situasi penuh tanda tanya untuk mengundang  rasa ingin tahu dan penasaran  para 
pendengar saya kira bagus juga.

Bagi saya, meskipun beberapa bagian masih samar-samar, nasionalisme sudah 
selesai dalam rumusan singkat yaitu cinta tanah air. Saya yang lahir di bumi 
Nusantara cinta tanah air bagaikan sesuatu yang given, nggak bisa dihindari. 
Nah, karena tidak bisa mengelak seinchi sekalipun, maka berlaku pepatah Jawa 
"tresno mergo kulino" cinta karena terbiasa bergaul. Peristiwanya mirip dengan 
jaman kuno ketika seorang pria atau wanita dikawinkan secara paksa oleh orang 
tua mereka. Ya itu harus diterima dan selesai ! Proses untuk mencintai itulah 
yang semestinya menjadi penting.

Hal ini tentu berbeda jika kita orang asing, tidak ada kaitan dengan Nusantara 
sama sekali, lalu "terpaksa" hidup di Indonesia. Baginya ada peluang untuk 
terus mencintai atau memutuskan putus hubungan, seperti kata iklan putus 
hubungan dengan nyamuk ! Jika kasusnya seperti ini, barangkali nasionalisme 
belum selesai bagi dirinya.

Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnusantara.wordpress.com
http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Wed, 9/2/09, hengky abiyoso <[email protected]> wrote:

From: hengky abiyoso <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: (2) Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme 
Compang-Camping
To: [email protected]
Date: Wednesday, September 2, 2009, 4:45 AM

  
+++++: Indonesia (what ever that is) adalah sangat jamak.. bukan hanya Agama, 
Suku, etnis, bahasa.. tapi juga kelas..
sayangnya, dokumen-2 sejarah pembentukan bangsa ini sering melupakan realitas 
bahwa didalam masyarakat pribumi pun ada kelas..
penindasan oleh pribumi kelas borjuis terhadap pribumi kelas proletar jarang 
sekali dianggap sebagai bentuk 'penjajahan' .. sehingga ketika 'merdeka' 
dianggap sebagai negasi dari 'penjajahan' ... penindasan oleh pribumi borjuis 
tetap lestari..
>>>>>: Sementara pakar mengatakan bahwa nasionalisme Indonesia adalah 
>>>>>nasionalisme yang belum selesai…. Setidaknya tak kurang dari 32 tahun 
>>>>>kekuasaan orba…. nasionalisme kita bukan semakin dimatangkan tapi justru 
>>>>>dirusak…. Wajar bhw hari ini nasionalisme kita jadi menurun dan belum 
>>>>>dapat dibanggakan…..

+++++: apa arti kemerdekaan bagi si-miskin yang sejak pra-1945 masih miskin?
apa arti nasionalisme bagi mereka yang luntang-lantung menyabung nyawa untuk 
sekeping ringgit?
>>>>>: Saya kira artinya bisa macam2….. setidaknya simiskin sejak pra 1945 bisa 
>>>>>katakan bhw setelah merdeka mereka tak lagi perlu takut pada kebengisan 
>>>>>tentara belanda seperti westerling ….. atau  mereka tak lagi perlu setiap 
>>>>>kali lewat tangsi tentara jepang harus membungkuk atau kalau tidak akan 
>>>>>dihajar habis……. 
Bagi simiskin lainnya sekelas TKI yg harus menyabung nyawa dinegeri orang…. 
wajar bila mereka tak terlampau berpikir yg muluk2….. maklum.. namanya juga 
simiskin yg tak jarang juga sekaligus tak berpendidikan tinggi dan mungkin juga 
tak sedikit yg berkecerdasan kurang…… jadi wajar kalau visinya cekak dan 
dangkal…... 
Saya kira yg perlu ditanyakan justru apa arti kemerdekaan (dengan nasionalisme 
yg belum selesai ini) bagi sikaya dan bagi kelas menengah kita yg telah cukup 
berpendidikan (apalagi bagi yg pernah duduk disekolah2 tinggi terbaik negeri 
ini dgn kelas2 terbatas)  dan berpenghasilan lumayan dan tinggal dikompleks2 
perumahan2 hasil dari kemerdekaan dan bukan tinggal dirumah kumuh…..….. saya 
lihat teknologi tinggi seperti blackberry atau mailinglist masih sekedar 
dipakai utk keperluan murahan berhaha-hehe saja atau sekedar utk sibuk 
mendiskusikan masalah2 yang menyangkut kepentingan2 pribadi saja yg sedang 
terganggu... . seperti misalnya perkara parkir 1000 naik jadi 2000  dan  
diskusi berbagai perkara ecek2  pribadi lainnya yg tentu memalukan kalau hanya 
itu2 saja yg dapat diperbuat oleh kelas menengah dari bangsa kita…… yg supposed 
seharusnya menjadi ujung tombak pembaharuan……….

+++++: Nasionalisme hanya jadi alat legitimasi elite nasionalis untuk tetap 
berkuasa.. PDIP merapat ke Demokrat saja dianggap Taufik Kiemas sebagai langkah 
penyelamatan Pancasila dan Nasionalisme. . apa-apa-an ini?
>>>>>: kalau nasionalisme salah satunya adalah spt cerita yg diekspos tsb 
>>>>>diatas….. bolehlah kalau kita mau geleng kepala…… tapi saya kira 
>>>>>nasionalisme kita bukan hanya perkara2 negatip semacam itu saja……. Ada 
>>>>>juga misalnya airmata yg menetes haru tatkala pada pesta olimpiade dunia 
>>>>>sang merah putih berkibar disana….. 
Satu hal yang amat penting bagi bangsa ini saya kira adalah apa sumbangan anda 
atau kita semua bagi pembentukan nasionalisme kita yang belum selesai 
ini......... dan anda atau kita ini  menjadi bagian dari kelompok yg mana?…. Yg 
akan turut bekerja keras menyempurnakan nasionalisme kita….. ataukah hanya akan 
puas menjadi bagian dari kelompok mereka yg hanya akan selalu bersikap sinis 
dan mengejek saja terus pada nasionalisme kita yang belum selesai ini...... 
sementara anda atau kita lahir dan tinggal dinegeri yg namanya Indonesia ini 
dan sekali dua anda atau kita telah dibesarkan dengan nasi yang biji padinya 
tumbuh ditanah negeri ini…. lauk ikannya dulunya hidup dari air sungai dan laut 
negeri ini …...dan tatkala haus anda atau kita minum dgn air negeri ini 
pula…….... 
 
Trims atas tanggapannya dan salam,
 

--- On Tue, 9/1/09, Harya Setyaka <harya.setyaka@ ........> wrote:

From: Harya Setyaka <harya.setyaka@ .........>
Subject: Re: [referensi] Re: (2) Indonesia : Negeri Dgn Nasionalisme 
Compang-Camping
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, September 1, 2009, 7:45 AM

Indonesia (what ever that is) adalah sangat jamak.. bukan hanya Agama,
Suku, etnis, bahasa.. tapi juga kelas..
sayangnya, dokumen-2 sejarah pembentukan bangsa ini sering melupakan
realitas bahwa didalam masyarakat pribumi pun ada kelas..
penindasan oleh pribumi kelas borjuis terhadap pribumi kelas proletar
jarang sekali dianggap sebagai bentuk 'penjajahan' .. sehingga ketika
'merdeka' dianggap sebagai negasi dari 'penjajahan' ... penindasan oleh
pribumi borjuis tetap lestari..

apa arti kemerdekaan bagi si-miskin yang sejak pra-1945 masih miskin?
apa arti nasionalisme bagi mereka yang luntang-lantung menyabung nyawa
untuk sekeping ringgit?

Nasionalisme hanya jadi alat legitimasi elite nasionalis untuk tetap berkuasa..
PDIP merapat ke Demokrat saja dianggap Taufik Kiemas sebagai langkah
penyelamatan Pancasila dan Nasionalisme. . apa-apa-an ini?


Salam,
-K-


On 8/30/09, hengky abiyoso <watashi...@yahoo. com> wrote:
> Milisters ysh,
> Sumpah Pemuda  28/10/1928 adalah Proklamasi ttg Kebangsaan Indonesia yang
> merupakan ikrar tentang eksistensi bangsa (nation) dan  rasa kebangsaan
> (nationalism) Indonesia  yg telah tumbuh puluhan tahun sebelumnya dlm upaya
> perjuangan melawan kolonialis Belanda…...
> Perjuangan bangsa Indonesia tsb pada 17/8/1945 mencapai titik kulminasinya
> dengan diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia oleh
> Soekarno-Hatta……menunjukan bhw nasionalisme Indonesia sudah menjadi semangat
> perjuangan menuju berdirinya sebuah ruang geografis bernama negara Republik
> Indonesia….
> Ada 2 substansi penting Nasionalisme Indonesia : Pertama….. kesadaran ttg
>  persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang terdiri atas banyak suku,
> etnik, bahasa daerah dan agama……. Kedua…… kesadaran bersama bangsa Indonesia
> dalam menghapuskan segala bentuk penjajahan dan penindasan dari bumi
> Indonesia………
> Semangat dari kedua substansi tsb  tercermin dalam teks Proklamasi
> Kemerdekaan pada tanggal 17/8/1945 spt dengan jelas dinyatakan  “atas nama
> bangsa Indonesia”…… maupun dlm Pembukaan UUD 1945 yg secara tegas dikatakan
> : …."Segala bentuk penjajahan dan penindasan di dunia harus dihapuskan
> karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. "…………
> Salam,
>
>
>


------------ --------- --------- ------

Komunitas Referensi
http://groups. yahoo.com/ group/referensi/ Yahoo! Groups Links






With Windows Live, you can organize, edit, and share your photos.

Kirim email ke