Milisters ysh, Si jangkung kurus yg dekat dihati saya…. nama panjangnya Abdul Rahman Saleh… nama pendeknya Arman…… Kini Dubes di Eropa… Flashback kebelakang….sebelumnya ia adalah Jaksa Agung.. sebelumya lagi adalah Hakim Agung… Pengacara dan Notaris.. pernah main film pula spt "Kabut Sutra Ungu" dsb....dan ketika muda Arman sempat menjadi salah satu tokoh penting pengembang LBH bersama Buyung dan Moh. Assegaf……. Saya teringat ketika pada tahun 1976-an berkunjung kekantor LBH (masih di Jln. Kebon Binatang III Cikini) utk suatu keperluan konsultasi hukum…. Saya datang pas jam istirahat (maklum sambil memanfaatkan jam istirahat kantor saya yg tak jauh dari situ)…… Namanya jam istirahat tentu hampir semua staf sdg pada keluar nyari makan siang…… namun beruntung saya jumpa si Arman yg mudah saya kenali dari wajahnya yg pernah muncul dikoran dan tv….. Sambil saya basa basi bilang “Wah sedang jam istirahat ya?” (sdh tahu kok nanya)… Arman langsung menjawab “Ada keperluan apa?”… dan setelah saya jelaskan perkaranya secara singkat….. Arman tanpa prosedur2 resmi apapun kontan memberikan konsultasi hukumnya secara gratis dan panjang lebar sambil ia berdiri menyandarkan punggungnya keambang pintu dan lutut kanannya ditekuk kebelakang dan telapak sepatunya ditempelkan pula keambang pintu dibelakangnya sambil kedua tangannya masuk kesaku celananya………. Ketika sekitar tahun 1990-an saya berkunjung kekantor Arman di Jl. Kramat II…. Lalu tak lama saya diterima dan duduk diruang tamu resminya…. diatas ditembok dibelakang punggungnya terlihatlah foto hitam putih berbingkai bagus berukuran lumayan besar dan panjang nampak foto si Arman muda tepat ditengah foto dengan latar belakang jilatan api yg besar dan langit yg penuh asap hitam membubung yg sedang melumat bangunan-bangunan liar (saya lupa apa difoto juga ada atau tidak gambar warga2 yg sedang berlarian menghindari api sambil membawa harta2 bendanya bak spt gambar difilm2 perang vietnam atau saya malah jadi teringat poster film Rambo dgn SIlvester Stallone dgn scene yg lk. sama)……….. Suasana Jl. Kebon Binatang III thn 1976 berbeda dgn hari2 ini bila anda berkunjung kekantor LBH di Jln Diponegoro…. Setelah melewati satpam dan mengangguk... anda harus mengisi segala buku tamu dan kalau anda akan menyampaikan kasus hukum ataupun ingin sekedar berkonsultasi masalah hukum saja… anda harus membeli karcis yg tidak malah sih… dan harus mengisi dulu formulir daftar panjang pertanyaan…… lalu menunggu sampai salah seorang pejabat disana…..biasanya anak2 muda hukum lelaki perempuan yg magang atau jadi voluntir disana utk bbrp tahun…. Sambil berharap dimasa magang itu ada kasus pembelaan hukum bagi sikecil dan simiskin yg kalau bisa yg cukup amat dramatislah kisahnya….hingga akan ada peluang besar utk anda akan sering diliput oleh media sokur yg besar (bayangkan, sekarang ada belasan TV swasta dan puluhan media cetak)…. Dan bila nasib anda mujur esok lusa wajah anda akan muncul diteve atau koran… dan tak sampai 2 tahun anda akan segera mempunyai ‘nama terkenal’….. dan kalau anda kemudian melamar bekerja dikantor pengacara2 ternama setidaknya tak akan terlampau sulit utk anda diterima.. dan ketika anda nanti sudah senior anda boleh buka sendiri kantor pengacara….. dan nama besar serta uang banyak (kalau mau juga wanita) pastilah ditangan anda……. (tapi kalo kasus yg anda bawa samasekali tak mengandung unsur dramatik sedikitpun jangan kaget pula bila anda sesekali mungkin saja lihat wajah mereka yg menerima bisa terlihat spt senyum2 pahit asem)…….. Proses penggusuran lokasi2 ‘simiskin kota’ ditengah kota Jakarta dgn bobot dramatiknya yg woww kini spt semakin jarang saja ditemui…..Ketika belum pernah ada mode demikian sebelumnya…….. selepas tahun 1970-an Adnan Buyung Nasution muda memulai debut dan mode pembelaan simiskin kotanya dgn mengambil lokasi awal Simprug (Senayan/Kebayoran Baru)…yg kini menjadi kompleks perumahan besar2… (tempat Artalita bersama Urip Tri Gunawan pernah digerebek KPK) …….Arman kalau tak salah ambil kasus penggusuran Pulogadung (yg foto kenangannya bisa mirip poster film perang dgn aktor utamanya dia sendiri spt diatas)…….. Dasar dizaman orba dan kantor Komnas HAM dan LBH jg belum ada pula … maka unsur2 ketidak-adilan tempat Buyung muda melakukan pembelaan dilepas thn 1970-an memang menonjol disana….. proses ganti rugi belum selesai lokasi sudah digusur dgn buldoser (dasar masih era tahun 1970-an…. beruntung Buyung dkk tidak perlu sampai nyari lokasi2 empang muara sungai dgn air hitam pekat dan berbau busuk spt kali Adem)…….. dan lengkaplah sudah kegiatan pembelaan hukum Buyung…. Membela sikaya dpt uang demi kewajaran kelangsungan kehidupan rumah tangganya .. dan membela simiskin gratis demi pengabdian kemanusiaannya……. Langkah mulia Buyung itu kini menjadi panutan demikian banyak masyarakat pembelaan hukum yg ingin sukses…… hampir semua sekolah tinggi hukum memiliki lembaga pembelaan hukum gratisnya utk praktek mhsnya…..banyak anak muda kini mendirikan yg sama…… hanya masalahnya sekarang…… jumlah lokasi2 potensial digusur dan yg memiliki bobot dramatik serta ‘ketidak-adilan’ yg woww semakin tak sebanding dgn jumlah lulusan mahasiswa2 hukum atau sosiologi yg terus tercetak tiap tahunnya…. Dasar rezim2 pemerintah pasca reformasi semakin demokratik dan semakin manusiawi saja ….. maka mencari obyek2 pembelaan sikecil atas ketidak-adilan bagi mencetak nama2 besar pendekar hukum seperti Buyung, Arman atau Moh Assegaf dilokasi ibukota yg dekat dan strategis kini semakin kurang beruntung saja……. Kalau mau yg jauh2 tentu dipelbagai pelosok tanah air ini akan banyak saja kasus2 dramatiknya…. tapi khan jauh dan belum tentu dekat dgn pemberitaan….. sementara itu kalau mau yg dekat2 diseputar Kota Jakarta dgn potensi dramaturgi yg lumayan woww dan dekat dgn markas2 besar industri2 berita seperti koran dan teve ya diantaranya tinggal lokasi2 spt Kali Adem dgn air hitam pekat dan berbau itu…… mau?!?............ Salam, Ekadj wrote : FYI --- On Tue, 6/2/09, sulistyowati <su...@...> wrote: All, Aduh, saya masih ter-bengong2 mengingat betapa tadi siang kami pergi ke daerah kumuh, perkampungan nelayan di Kali Adem, Muara Angke. Hanya 20 menit dari Pluit Mega Mall, yang benar2 megah dan tak terkatakan mewahnya, dan lokasi perkampungan elit yang benar2 super megah ! Rumah mereka berada di bantaran kali, tidak ada RT dan RW (karena illegal). Sudah 4 kali mengalami penggusuran. Keluarga yang tinggal (kembali lagi) sekitar 149 keluarga, inilah yang menjadi fokus penelitian saya. Para lelaki adalah nelayan, sehingga tempat ini disukai untuk tinggal, dekat dengan laut, dan dekat dengan Tempat Pelelangan Ikan. Rumah mereka (lebih tepat bedeng, terbuat dari papan2 bekas), tidak permanen, didirikan di atas tumpukan sampah, dan hampir setiap hari banjir dari air laut (rob). Karena terdiri dari papan2 bekas, bisa2 tiba2 ada yang kejeblos, dan kalau kejeblos masuk ke air kotor, yang ada di bawah rumah. Rumah mereka dikelilingi air kotor dari banjir rob (air laut pasang). Warna air hitam dan kotor bercampur sampah. Daan..tentulah termasuk sampah pembuangan kotoran manusia... Dan di air yang tergenang itulah kami berjalan menyusuri rumah demi rumah, untuk sampai ke "balai pertemuan" lebih tepatnya, tempat pertemuan publik, tempat mereka berkumpul, dan sering juga berfungsi sebagai mushola. Terbuat dari papan2 bekas juga. Sangat sempit, (4 x 2,5 meter ?) utk disebut sebagai balai pertemuan. (Catatan: Dan ketika jalan di air rob menyusuri rumah2 itu, isi perut rasanya ingin keluar, karena kotor dan mencium bau tidak enak... Yang aku lakukan bersama teman2 adalah jangan lihat airnya, jangan lihat kakimu yang terendam di air kotor...mendongak ke atas...jalan terus...jalan terus..) Saya dua kali pergi ke tempat ini. Sementnara teman2 saya sudah melakukan penelitian tahun yang lalu. Dan ada teman2 saya yang mendampingi mereka, yaitu LBH Masyarakat, terutama Sdr Dhoho Sastro. Oleh karena ada Dhoho dkk, maka kami bisa masuk ke tempat ini dengan mudah. Artinya, diterima. Dhoho lah yang mengajari mereka membuat pemerintahan sendiri (karena tidak ada RT dan RW), memiliki koperasi simpan pinjam di antara mereka, mengajari pembukuan sang bendahara, mengajari punya tabungan kolektif untuk menghadapi penggusuran. Gila, anak muda itu hebat sekali ! Tadi siang di "balai pertemuan" bekrumpul lebih dari 20 perempuan, di antaranya ada yang bersma bayi dan anak2nya... Gambaran umum perempuan di situ: · Perempuan pada umunya kawin muda, umur 13, 15 atau 17 tahun · Punya anak dua atau lebih · Umur 40 an sudah punya cucu · Bekerja di sektor informal, jualan kecil atau menjadi PRT, menjadi penopang besar bagi penghasilan suami yang tidak jelas hasilnya dari laut Teori2 Access to Justice runtuh ! Mereka punya surat lahir anak2nya, yang dikeluarkan oleh puskesma (bukan Akte Lahir, karena mahal), KTP (bahkan banyak yang punya dua, dari desa asal dan dari Jakarta..dengan cara "menembak", yang cukup mahal 200 ribu sampai 400 ribu). Mereka juga bisa menyekolahkan anak dan kalau sakit ke puskesman (Sekoah dan Puskesman) sangat dekat dari tempat tinggal mereka.Di sinilah runtuhnya teori2 Acces to justice ! yang antara lain dipromosikan oleh Hernando de Soto. Mereka punya hampir semua legal identity itu... tetapi mengapa mereka miskin ? Mencari ikan hari ini untuk makan hari ini Tidak punya apa2, kecuali sedikit baju, perabotan alat masak Perahu untuk mencari ikan, disewa dari taoke Dan mereka hidup di tempat yang tidak bisa dibayangkan. ..mungkin itulah neraka dunia ! Dan mereka tidak pernah didengar, tidak pernah ditanggapi, tidak pernah diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan di berbagai tingkat kebijakan... . (Ini juga meruntuhkan konsep2 ttg kemiskinan.. .yang terlalu berat ke soal ekonomi, 2 dolar sehari, dll) Penelitian (Post Doc) saya sebenarnya adalah ttg waris. Hancur lebur ! Tidak bisa bicara soal waris, karena mereka tidak punya apa2. Konsep waris yagn digagas oleh para ahli hukum, dan hukum adat, juga hancur lebur dalam konteks kemiskinan ! .Mereka tidak punya apa2 untuk warisan... ! Mungkin waris dalam pengertian non-material: daya tahan hidup, semangat2, harapan2 ! PAra perempuan itu ingin punya anak2 yang tidak mengalami nasib seperti mereka. Itukah warisan nya ? Wah, maaf, cerita ini cuma catatan2 yang tidak karuan...nanti kalau sudah jadi dalam bentuk tulisan, boleh baca. Salam, SI

