Mungkin yang lebih menyedihkan daripada simpulan dari analisis berjudul satire 
di bawah adalah mandulnya sebagian (besar?) dari para aktivis mahasiswa 
penentang Orba ketika mereka sudah keluar dari kampus.  

Idealisme yang sudah bertemu dengan realitas hidup ternyata cenderung berubah 
menjadi pragmatisme. 

Salam,
MAB

Sent from my AXIS BlackBerry®

-----Original Message-----
From: "daengrusle" <[email protected]>
Date: Sat, 26 Sep 2009 13:43:28 
To: Milis ID-BB mks<[email protected]>; Panyingkul 
Milis<[email protected]>; Jurnalisme 
milis<[email protected]>; BUGINESE Milis<[email protected]>; 
Milis IA ITB Jkt<[email protected]>; Kuyasipil 
milis<[email protected]>
Subject: [milis kuyasipil euy] KPK "Pantas" Diamputasi!!



KPK "Pantas" Diamputasi    

26/09/2009 17:25 Luky Djani 

Polemik mengenai keberlangsungan agenda pemberantasan korupsi dan independensi 
KPK seyogyanya segera diakhiri. Para penentang tak paham tentang big picture 
dari penguasa. Ya, sebagai pemenang pilpres satu putaran, pemimpin tertinggi 
bangsa ini tinggal selangkah lagi untuk menyempurnakan transisi demokrasi. 
Masalahnya, KPK (dan agenda antikorupsi) berpotensi menghalangi trajectory 
penguasa. 

Huru-hara yang dialami KPK--kecuali kasus yang dihadapi mantan ketua 
KPK--adalah langkah rasional yang diambil. Alasan valid atas langkah institusi 
kepolisian dan kejaksaan serta sikap pemerintah dalam mengeluarkan Perppu patut 
dikemukakan. Di sinilah big picture dari prahara KPK diletakkan dalam konteks 
kepentingan yang lebih besar. 

Mari kita kembali menyimak pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa tahun 
lalu: "Pemberantasan korupsi jangan menimbulkan ketakutan yang besar dan 
membuat ekonomi ambruk" (Koran Tempo, 5 Desember 2006). Kegalauan Wapres sangat 
beralasan dan juga diamini penyelenggara negara lain. Apakah pernyataan ini 
hanya isapan jempol? 

Pandangan ini memiliki "akar rasional" secara akademis. Pada akhir dekade 60-an 
sampai awal 80-an, beberapa akademisi, pengamat politik-ekonomi serta pandangan 
lembaga keuangan internasional ataupun lembaga kerjasama pembangunan, seperti 
Bank Dunia, memandang korupsi mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan 
ekonomi negara-negara berkembang (Huntington, 1968 dan Leff, 1964). 
Argumentasinya, pertama, korupsi memotong atau memperpendek prosedur birokrasi 
sehingga melancarkan dunia usaha (Bardhan, 1997). Kedua, melalui lobi dan 
kickback, kelompok bisnis dapat "menyakinkan" pemerintah untuk membuat 
kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi (Myrdal, 1964). Ketiga, mampu 
menyeimbangkan pasar karena memperbanyak pemain yang memperoleh kesempatan 
bisnis (Tilman, 1968). Terakhir, dengan memberikan imbalan materi, pengusaha 
mendapatkan proteksi sehingga mengurangi ketidakpastian dalam berusaha dan 
investasi (Leff, 1964). 

Argumentasi di atas berlandaskan kalkulasi politik-ekonomi jangka panjang, 
ketika hubungan patronase politik-bisnis hanya bertumpu pada kelompok yang 
mampu mengelola bisnis secara inovatif dan efisien sehingga akan menopang 
proses industrialisasi (Leff, 1964). Selain itu, diyakini, keuntungan ekonomi 
dari bisnis masih dapat menutupi biaya suap (Nye, 1967). Salah satu contoh 
sukses adalah Korea Selatan, ketika industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi 
berkembang pesat dalam kerangka patronase penguasa dan chaebol (konglomerat). 

Diakui pula, korupsi politik sangat tergantung dari orientasi kekuasaan dan 
kepentingan kelompok yang memiliki akses terhadap jabatan publik. Walau 
demikian, pengamat Barat masih meyakini penguasa negara ketiga akan memilih 
kebijakan dan keputusan yang berorientasi menguntungkan publik (Leff, 1964). 
Bahkan, Samuel Huntington mengatakan, dalam dosis terbatas, korupsi diyakini 
dapat berperan sebagai bagian dari modernisasi (dikutip dalam Harris, 2003). 
Pendek kata, korupsi "berguna" untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

Pekerjaan rumah rezim SBY-Boediono di ranah politik adalah melakukan 
konsolidasi dan memupuk stabilitas politik. Pertikaian dan kompetisi antar 
kelompok politik tentu tidak akan menelurkan kebijakan yang bijaksana. 
Gontok-gontokan politik hanya akan memperlambat pengambilan keputusan dan 
ujung-ujungnya penanganan masalah bangsa telantar. Bahkan pemikir sekaliber 
Huntington (2002) juga percaya korupsi di kalangan politisi dapat menjadi 
perekat yang akan menurunkan potensi konflik politik sehingga secara tidak 
langsung meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

KPK jelas "berdosa." Langkah-langkah komisi ini menunda terjadinya pemusatan 
kekuasaan. Mengapa? Sebagai komisi negara yang independen, KPK tidak dalam 
"koordinasi" pemimpin tertinggi. Ini berbeda dengan institusi penegak hukum 
lain. Beberapa contoh kasus bisa dijadikan ilustrasi. Jika ada kepala daerah 
bermasalah secara hukum -- dan ditangani oleh institusi kejaksaan -- berlaku 
situasi kompromi. Proses hukum akan diambangkan jika yang bersangkutan membantu 
atau bergabung dalam gerbong partai politik berkuasa. Simbiosis ini membantu 
penguasaan pusat yang membutuhkan interlocutor di daerah dan memberikan 
proteksi politik buat politisi daerah (Devas and Delay, 2006). 

Kita tentu enggan menghadapi instabilitas politik. Preseden mani pulite 
(operasi tangan bersih) yang mengguncang tatanan politik di Italia akan 
menghambat konsolidasi demokrasi. Operasi pembersihan politisi nakal menelan 
korban lebih dari lima ratus orang, di antaranya perdana menteri, menteri 
kabinet, politisi, pejabat birokrasi, aparat kepolisian, jaksa, hakim dan konco 
bisnis mereka. Juga tidak ketinggalan empat partai koalisi pemerintah 
membubarkan diri atau bahkan "menghilang." Puluhan politisi dan pengusaha bunuh 
diri dalam tahanan atau guna menghindari jeratan hukum. Secara total, operasi 
tangan bersih menyeret dan menghukum 582 orang. Bayangkan jika kepala daerah, 
anggota dewan, menteri dihukum. Siapa yang akan bekerja untuk rakyat?

Apakah kasus pengerdilan KPK akan berdampak bagi citra pimpinan tertinggi dan 
negara kita di kancah internasional? Rasanya tidak. Ingat, ini masa bakti kedua 
dan terakhir. Jadi, tesis bahwa politisi akan peka terhadap opini publik 
(Kriesi dkk, 1995) menjadi tidak relevan. Di masa terakhir berkuasa, politisi 
biasanya tidak terlalu risau akan tindak tanduknya, karena tidak perlu lagi 
bermuka manis kepada pemilih. 

Beberapa pihak masih khawatir dengan persepsi komunitas internasional atas 
prahara KPK. Tapi, pentingkah pandangan internasional ini? Beberapa lembaga 
donor tentu akan bereaksi. Tetapi jika dicermati "keinginan" hakiki mereka 
adalah negara kita dapat menjamin investasi dan operasi perusahaan-perusahaan 
multinasional. Jadi yang terpenting adalah terintegrasinya ke pasar global (De 
Maria, 2008). 

Agar tetap berkiblat pada good governance, kita bisa meniru trik jitu Filipina. 
Sejak 1950 sampai saat ini, Filipina telah memproduksi 14 lembaga anti korupsi 
(Gonzales dan Medoza, 2004) dengan life-span rata-rata dua tahun. Bahkan, 
semasa pemerintahan diktator Ferdinand Marcos, terdapat empat lembaga 
antikorupsi. Tak perlu repot, bikin saja lembaga baru demi mengikuti "anjuran" 
para donor. 

Alasan-alasan di atas adalah landasan rasional mengapa KPK menjadi penganggu 
kepentingan nasional jangka panjang. Sadar atau tidak, KPK telah mengganggu 
trilogi pemerintah (ini tidak ada kaitannya dengan trilogi pembangunan Orde 
Baru yang tersohor itu). Pemberantasan korupsi jelas menghambat pembangunan 
ekonomi, mempersulit konsolidasi, dan menciptakan instabilitas politik. Karena 
itu, KPK "pantas" diobok-obok. 

Penulis adalah mantan wakil koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) dan 
kini mahasiswa Ph.D di Asia Research Center, Murdoch University, Australia.

salama'


-- 
drusle'
http://daengrusle.wordpress.com

::: People are enemies of what they don’t know - Imam Ali kw:::


------------------------------------

Media komunikasi kuyasipil
============================================================
http://kuyasipil.net/web/ < web kuyasipil
http://kuyasipil.net/web/wp-login.php?action=register < daftar

email command: [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
admin: [email protected]
============================================================Yahoo! Groups Links





------------------------------------

Komunitas Referensi
http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/referensi/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke