YSH Pak Nuzul Achyar,
 
Sekedar sekelumit kota Pittsburgh. Kota Pittsburgh memang merupakan kota hasil 
rekonstruksi ekonomi yang berbasis industri baja (steel industry) yang saat ini 
telah jenuh atau istilahnya sunset industry di Amerika, berubah total menjadi 
industri software, robotik, dan jasa lingkungan. Bukti nyata dari kedigdayaan 
ekonomi baja tersebut terlihat pada gedung Catheral of Learning di University 
of Pittsburgh.... yg telah berdiri sekian puluhan tahun dgn warna luar gedung 
hitam ke coklat-coklat akibat asap dan hujan asap dari pembakaran batubara. 
Hasil industry baja ini dikirim melalui sungai yg cukup besar melintasi kota 
ini, yaitu allegheny river, ohio river, dan monghangela river, sering disebut 
the three river city.
 
Sekarang kota Pittsburgh menjemah menjadi kota yg bersih dan menarik dengan 
teknologi yg cukup canggih, terutama dengan adanya carnegie melon university 
(CMU) dan Pittsburgh University, dimana kami bersekolah. Industri software 
sangat menjamu di kota ini dan menjadi standar bagi semua orang, ditambah lagi 
dengan CMU dengan keberhasilannya memberikan kontribusi robotik yg menjelajah 
planet mars (pathfinder). Kota ini seperti kota-kota di AS juga memiliki taman2 
yg sangat luas dan teratur, sehingga sangat memberikan live of standar yg 
tinggi.
 
Keberhasilan lain dari ekonomi Pittsburgh adalah keterbukaan kota ini dengan 
investor asing khususnya dari german. Sekarang banyak sekali industri dari 
german yang berpindah ke kota ini berikut orang-orang germannya. Konsep yg 
dipergunakan mereka di sana adalah regional excellence ~ yg membuka diri dgn 
bekerjasama sesama wilayah di sekitarnya untuk menangkap peluang ekonomi global 
dari german. Kenyataannya berhasil. Regional excellence mereka mencakup 4 hal, 
yaitu: standar lingkungan, kebijakan investasi, penggunaan lahan, dan 
transportasi.
 
Demikian dulu, oh ya... ini juga ada oleh2 dari pittsburgh, yang kami sebut 
juga sebagai upaya melakukan benchmarking pembangunan perkotaan di Indonesia, 
mau lihat di Pittsburgh, please link to: www.pittsburghtoday.org
 
Salam, Budi Situmorang/Steelers fans

--- Pada Sab, 26/9/09, Nuzul Achjar <[email protected]> menulis:


Dari: Nuzul Achjar <[email protected]>
Judul: [referensi] G-20 dan Revitalisasi Ekonomi Regional
Kepada: [email protected]
Tanggal: Sabtu, 26 September, 2009, 9:50 PM













Sahabat Referensiers Ysm,
 
Masih suasana iedul fitri, terlebih dahulu izinkanlah kami mengucapkan Selamat 
Iedul Fitri 1430H, Mohon maaf lahir dan bathin jika ada hal-hal kurang 
berkenaan selama berinteraksi secara virtual di milis ini. 
 
Karena berita G-20 di Pittsburgh sedang hangat-hangatnya, saya kirim tulisan 
sisi lain dari G-20 yaitu revitalisasi ekonomi Pittsburgh dan imajinasi untuk 
Kepulauan Riau. Sebuah kenangan ketika meliwati Pittsburgh dari Washington DC 
kembali ke Illinois.
 
Rekan-rekan mantan Pittsburgher seperti Lae Budi Situmorang dan lain bisa kasih 
komen tentang kondisi ekonomi kota Pittsburgh pada era 1990an yang tampaknya 
mengalami kemunduran, tingkat pengangguran tinggi, polusi industri juga tinggi. 
Saat ini Pittsburgh konon katanya satu di antara kota-kota terbaik di 
AS. Kuncinya: innovasi. Terikasih juga untuk Lae Tiar yang saya 
kutip informasinya dalam tulisan ini.
 
Salam hangat penuh hormat.
 
 

G-20 DAN MOMENTUM REVITALISASI PEREKONOMIAN REGIONAL
Oleh:
Nuzul Achjar

Perhatian dunia selama 23-24 September 2009 tertuju pada kota Pittsburgh, 
kawasan di barat daya negara bagian Pensylvania, Amerika Serikat, tempat 
diadakannya Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) negara kelompok G-20. Indonesia 
termasuk salah satu negara anggota G-20 yang hadir dalam KTT tersebut yang 
langsung dipimpin oleh Presiden SBY. Pertemuan di Pittsburgh ditujukan untuk 
membicarakan masalah energi, lingkungan, pemanasan global, dan upaya untuk 
mengatasi dampak sistemik krisis yang ditimbulkan kredit perumahan (subprime 
mortgage) di  AS yang dampaknya sangat terasa secara global.   
Latar belakang keputusan tuan rumah presiden AS Barrack Obama yang menetapkan 
Pittsburgh sebagai tempat pertemuan berskala besar semacam G-20 menarik untuk 
disimak. Mengapa bukan kota besar yang sudah sangat dikenal di AS seperti 
Washington DC, New York, Los Angeles atau Chicago sebagai ajang  pertemuan ini?
Rupanya alasan Obama cukup sederhana namun jitu, antara lain bahwa pertemuan di 
Pittsburgh diharapkan dapat membangkitkan kembali (revitaliasi)  perekonomian 
kota ini. Kota ini mendapat publikasi secara luas dari kegiatan skala besar. 
Pihak kota sendiri diperkirakan mengeluarkan anggaran sekitar US$25 juta. 
Kegiatan ini akan memberikan dampak pengganda (multiplier) yang besar bagi 
kegiatan ekonomi kota  Pittsburgh dan sekitarnya. 
Selama tiga dasa warsa terakhir,  Pittsburgh mengalami kemunduran ekonomi 
karena  peranan industri baja, yang pernah menjadi primadona kota ini sudah 
semakin pudar (sunset industry). Walau demikian, perusahaan baja  di  kota ini 
masih menempati ranking ke 10 produksi baja terbesar dunia. Bukan suatu 
kebetulan jika masalah baja diperkirakan akan menjadi salah satu agenda 
pembicaraan bilateral antara AS dan Cina pada pertemuan G-20.
Dapat dibayangkan, hotel di Pittsburgh akan penuh terisi oleh tamu-tamu, tidak 
hanya oleh para rombongan peserta resmi, tetapi juga juru warta, petugas 
keamanan dan lainnya dari delapan penjuru angin, termasuk masyarakat dari 
negara bagian lainnya yang mempunyai kepentingan langsung atau tidak terhadap 
pertemuan ini.
Perusahaan rental  kendaraan akan dibanjiri oleh penyewa. Para tetamu  akan 
menyantap makanan di restoran, membeli souvenir, mengunjungi atraksi budaya dan 
kesenian, museum dan lainnya. Pajak yang diterima dari kegiatan ekonomi, sosial 
dan budaya sebagian akan menjadi  pendapatan kota Pittsburgh dan negara bagian 
Pensylvania.
Jika suasana kesibukan Pittburgh selama pertemuan G-20 ini  kita bawa menjadi 
sebuah imajinasi untuk Kepulauan Riau, khususnya Batam, Bintan dan Karimun 
(BBK) , maka hal tersebut hendaknya dilihat dari semangat yang terkandung di 
baliknya. Jika Pittsburgh adalah kisah tentang revitalisasi kegiatan ekonomi, 
maka untuk BBK, semangat Pittsburgh adalah upaya untuk memberi gairah 
(vitalisasi) untuk menggali potensi ekonomi regional BBK, tidak hanya melalui 
kegiatan industri manufaktur tetapi juga jasa, termasuk jasa logistik dan 
pariwisata bahari.   
Di negara maju, proses transformasi ekonomi telah lama bergerak dari industri 
manufaktur menuju ekonomi jasa (service economy). Demikian juga halnya dengan 
Pittsburgh. Kota ini tidak hanya dikenal dengan sebutan sebagai kota baja 
(steel city) tetapi juga sudah bergerak menuju kota jasa. Di kota inilah 
terletak kegiatan  jasa berskala global seperti K&L Gates, Reed Smith, and Burt 
Hill, dan jasa keuangan terkemuka seperti PNC dan Federated Investors. Tidak 
boleh dilupakan bahwa Pittsburgh adalah lokasi di mana pendidikan tinggi 
terkemuka berada seperi Universitas Carnegie Mellon (CMU), Universitas 
Pittsburgh, dan University of Pittsburgh Medical Center (UPMC). 
Lima strategi yang dilakukan oleh kota Pittsburgh sehingga cukup berhasil 
melakukan revitalisasi ekonomi mereka yaitu: pertama, inovasi dan 
kewirausahaan; kedua, iklim investasi yang kompetitif; ketiga, kualitas 
pendidikan; keempat, peningkatan kualitas hidup; dan kelima, promosi dan 
pemasaran.
Untuk memberi vitalisasi perekonomian regional Kepulauan Riau, pembangunan 
infrastruktur tampaknya perlu langkah cepat melalui kegiatan (event) berskala 
nasional. Namun tentunya tidak mengorbankan anggaran untuk peningkatan kualitas 
pendidikan yang harus mendapat prioritas paling tinggi. 
Melalui Pekan Olah Raga Nasional (PON), kota Palembang memperoleh manfaat dari 
meningkatnya kapasitas infrastruktur, demikian juga halnya dengan kota 
Pekanbaru yang saat ini sedang mempersiapkan PON. Tidak sedikit pula efek 
pengganda yang ditimbulkannya bagi perekonomian daerah. 
Bagi Kepulauan Riau, proses transformasi menuju sektor jasa mungkin tak harus 
secepat di negara maju mengingat sektor industri baru saja berkembang dan masih 
memerlukan pendalaman (deepening). Karena Pittsburgh mempunyai  universitas 
terkemuka dunia seperti Carnegie Mellon, ataupun pusat riset medis yang 
terkenal, maka di sinilah kita mempunyai motivasi lain bahwa Kepulauan Riau 
kelak dapat mempunyai pusat riset di bidang maritim yang tidak boleh dipandang 
sebelah mata.  
Dalam sebuah diskusi dengan penulis,  seorang pengamat mengatakan bahwa salah 
satu peluang BBK adalah tempat labuh jangkar kapal-kapal kontainer yang antri 
menuju pelabuhan Singapura. Walaupun pelabuhan Singapura memiliki teknologi 
canggih dan cepat dalam bongkar muat kontainer, namun karena Singapura sangat 
ketat dalam kebijakan laut bersih (clean ocean), beberapa tahun belakangan ini 
banyak kapal-kapal tersebut berlabuh di pesisir Barelang. Hal ini merupakan 
peluang untuk menangkap biaya labuh jangkar sebelum sandar di dermaga 
Singapura. 
Pembicaraan pada KTT G-20 di Pittsburgh tentang lingkungan hidup mejadi relevan 
pula bagi Kepualuan Riau, bukan lagi sebuah imajinasi, tapi nyata adanya. 
Provinsi ini  harus benar-benar memperhatikan persoalan lingkungan hidup, 
belajar dari kesalahan daerah lain sebelum menjadi sesal yang tak berguna.
Khususnya Kota Tanjung Pinang bahkan Kabupaten Bintan, izin pertambangan 
bauksit perlu dipertimbangkan kembali karena sudah terlihat tanda-tanda bahwa 
kerusakan lingkungan, lebih besar mudaratnya dari pada manfaat. Tanjung Pinang 
perlu mencari alternatif pengembangan ekonomi yang tidak tergantung pada 
pengelolaan tambang bauksit. Dampak yang akan ditimbulkannya justru akan 
merugikan kota ini dalam jangka menengah dan panjang. 
Tanjung Pinang harus tetap konsisten untuk pengembangan industri berbasis 
maritim, termasuk pariwisata bahari, dan sektor jasa lainnya. Dengan luas areal 
yang relatif tidak besar, daya dukung Bintan, khususnya Tanjung Pinang sangat 
rentan terhadap kerusakan lingkungan. Kasus sungai Pulai sebagai daerah 
tangkapan air yang semakin terkulai seharusnya memberikan kita pelajaran 
penting untuk tidak menggeser peruntukan lahan, apatah lagi mengekspoitasi 
sumber daya alam secara tidak proporsional.
Kenangan pada senja yang temaram, dari sebuah bukit di tepi kota Pittsburgh, 
memandang jembatan yang melintasi pertemuan sungai Allegheny dan Monongahela,  
sungguh membangkitkan imajinasi dan inspirasi tentang Kepulauan Riau. Kelak di 
senja yang temaram, dari bukit pulau Dompak dan bukit Senggarang, kita akan 
memandang pula  keindahan jembatan penghubung kota Tanjung Pinang dengan pulau 
Dompak, serta jembatan Batam-Bintan. Namun imajinasi dan inspirasi itu akan 
pudar jika bukit-bukit Tanjung Pinang terkelupas karena eksploitasi sumber daya 
alam untuk kepentingan jangka pendek.***
 
  

 





      Mencari semua teman di Yahoo! Messenger? Undang teman dari Hotmail, Gmail 
ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/

Kirim email ke