Pak BSP ysh,

Dalama skala lebih kecil novel Laskar Pelangi juga memberi berkah bagi wilayah 
Belitong...banyak sekali wisatawan kesana ya, napak tilas jejak tokoh-tokoh 
novel kisah nyata tsb.

Salam,
Risfan Munir




-----Original Message-----
From: [email protected] <[email protected]>
Sent: Saturday, October 31, 2009 4:46 PM
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Development planning atau practical planning ... kasus 
Yulia Robert

 
Rekan milister,

 mungkin ini sebuah perenungan yang cukup menarik dari seorang Dahlan Iskan 
Saya sangat sepakat
 bahwa mungkin kita tidak perlu mbingungi dengan segala tetek bengek sementara 
yang bergerak dan
 mempengaruhi hidup kita justru yang lain. Kasusnya adalah dibidang pariwisata. 
Disanapun mereka
 sedang sibuk tentang bagaimana mengembangkan pariwisata. Tapa apa lacur .. ada 
sebuah fenomena lain
 ... silahkan dinikmati ...

 Salam

 bambang sp

 Dahlan Iskan: Menteri Pariwisata Baru Kita: Julia Roberts!

 INILAH, mestinya, se­buah promosi pariwisata yang dampaknya bisa lebih besar 
daripa­da hasil kerja
 tiga mente­ri pariwisata sekaligus: Ju­­lia Roberts. Peraih Os­car ini bukan 
hanya per­gi ke Bali.
 Julia Roberts tinggal di Bali un­tuk lebih dari satu bulan. Bahkan, dia sedang 
syuting film
 Hollywood sebagai pemeran utama dalam film Eat, Pray, Love.

 Bisa dibayangkan betapa besarnya gema Bali setelah pemutaran film itu nanti. 
Bahkan, mestinya
 sudah sejak pembuatannya sekarang. Kita pasti masih ingat betapa pariwisata 
Selandia Baru mendapat
 durian runtuh ketika film Lord of The Rings dibuat di negeri dingin itu.

 Julia Roberts, Hollywood, dan film yang didasarkan pada novel laris dunia: 
bentuk pro­mosi apa
 lagi yang lebih hebat daripada itu? Seluruh APBN kita di bidang pariwisata pun 
(tahun 2009 hanya
 sekitar Rp 1,4 tri­liun) belum tentu cukup untuk merayu Hollywood agar mau 
bikin film yang bagus
 untuk mempromosikan Bali. Itu, kedatangan Julia Roberts itu, tidak mencuil 
sedikit pun APBN kita.
 Padahal, Malaysia saja harus menghabiskan dana besar agar "Gedung Jagung" 
(baca: menara kembar
 Petronas) yang menyandang gelar sebagai gedung kembar tertinggi di dunia itu 
bisa menjadi latar
 belakang atau setting film Entrapment, yang dibintangi aktris Catherine 
Zeta-Jones dan aktor Sean
 Connery, salah satu bintang film James Bond. Padahal, dalam film itu, Gedung 
Jagung hanya kelihatan
 beberapa kilas.

 Kita sungguh harus berterima kasih kepada Julia Roberts. Tentu juga kepada 
Hollywood. Lebih khusus
 lagi kepada Elizabeth Gilbert yang telah menulis novel dengan setting Bali, 
khususnya Ubud
 (Gianyar) dan Jimbaran (Badung). Tapi, sampai hari ini, saya belum melihat ada 
orang Indonesia yang
 se­cara terbuka mengucapkan terima kasih ke­pada mereka. Kalau saja saya 
presiden In­donesia, saya
 akan menjamu Julia Roberts. Se­tidaknya kalau saya menteri pariwisata Kita 
buat Julia Robert
 sangat terkesan selama di Bali. Kita buat Julia Roberts "menteri pa­ri­wisata" 
kita yang baru.

 Dengan kehadiran bintang film top dunia di Bali itu, apalagi untuk waktu yang 
lama, apalagi untuk
 syuting film bagus, apalagi mengenai daya tarik Bali, apalagi jalan cerita­nya 
sangat menarik,
 rasanya baru kali ini Bali mendapat promosi gratis ke seluruh dunia lewat 
media yang sangat abadi
 ini: film. Memang, Bali pernah mendapat promosi melalui penyanyi Filipina, 
Maribeth, dengan lagunya
 Denpasar Moon. Namun, lagu itu tidak mendunia.

 "Saya tidak jadi menyesal membeli properti di Bali," ujar seorang pengusaha 
Surabaya. "Harga
 properti di Bali pasti akan naik," tambah­nya. Pengusaha itu memang pernah 
mengeluh setelah terjadi
 bom Bali. Kini ke mana-mana dia bercerita mengenai Julia Roberts yang lagi 
syuting film di Bali.

 Begitu serunya pengusaha tersebut bercerita, sampai-sampai saya harus membeli 
no­vel yang sedang
 difilmkan dengan judul yang sama itu: Eat, Pray, Love. Cover novel itu sendiri 
sudah menarik:
 tulisan Eat-nya meng­gunakan keju. Pray-nya menggunakan untaian tasbih atau 
rosari. Love-nya
 menggunakan rangkaian kelopak bunga anggrek. Itulah novel karya penulis 
Amerika Serikat bernama
 Elizabeth Gilbert. Itulah novel yang masuk dalam daftar buku terlarisnya The 
New York Times. Itulah
 novel yang meski di­tulis pada 2006, tapi masih terus menjadi per­bincangan di 
Amerika. Terutama di
 kalangan yang khusus ini: wanita, umur 30-40-an tahun, mapan, dan berstatus 
janda. Jumlah mereka
 ini tidak kecil di AS mengingat kebiasaan cerai dan menjadi single mother 
sangat umum di sana.

 Novel itu memang berkisah mengenai wanita pada umur yang mudah goyah tersebut. 
Kegoyahan yang
 berakibat pada gangguan kejiwaan yang sangat berat. Liz, yang akan diperankan 
oleh Julia Roberts,
 seperti layang-layang putus setelah bercerai dari suaminya. Dia begitu benci 
kepada suaminya itu
 sampai-sampai dia menolak kata-kata bijak "kalau engkau mau mengetahui lebih 
banyak tentang
 suamimu, maka ceraikanlah dia". Dia benar-benar bercerai justru karena ingin 
berhenti mengetahui
 lebih jauh mengenai suaminya.

 Sebagai orang Kristen KTP, dia memang percaya Tuhan. Tapi, dia merasa belum 
pernah bisa bertemu
 Tuhan. Sampai-sampai dia ragu bagaimana harus menyebut Tuhan: He (dia untuk 
laki-laki) atau She
 (dia untuk perempuan). Dia begitu ingin bertemu Tuhan dan mendapatkan 
kedamaian jiwa. Dia mengelana
 ke Italia, India, dan akhirnya ke Bali. Di Bali, Liz menemui Ketut Liyer yang 
dia anggap bisa
 menjawab pertanyaan dasar yang sulit ini: bagaimana bisa menyatu dengan Tuhan, 
di­cintai dan
 mencintai Tuhan seumur hidup tapi tidak harus jadi pendeta atau ulama dan 
tetap bisa menikmati
 segala kenikmatan dunia.

 Bali mendapat promosi yang luar biasa. Bali yang digambarkan di novel itu 
sebagai satu-satunya
 surga di dunia, yang bisa menyelesaikan persoalan rumit Liz: dia mendapatkan 
ketenteraman jiwa dan
 kemurnian cinta dari seorang pria asal Brazil yang tinggal di Bali dengan 
alasan yang sama.

 Julia, maafkan kalau sampai Anda pulang nanti, tidak ada sambutan hangat untuk 
Anda dan rombongan.
 Maafkan kalau kami kurang berterima kasih kepada Anda...
 __._,_.

Kirim email ke