Pak Risfan sudah di Bandung? Saya baru bisa bergerak jam 2-an nanti.
Sampai sekarang masih mencari teman seperjalanan. Dalam kondisi seperti
ini saya teringat cerita biologi lagi, tentang pola altruistik lebah
madu. Teorinya adalah evolusi merupakan proses random, tidak terdapat
'kemajuan' atau gerakan umum ke arah 'superior'. Jika seleksi alam
bekerja pada individu, perilaku bunuh diri tidak akan menyelamatkan
spesies lebah dalam proses seleksi. Sejumlah anggota yang altruistik
akan menyelamatkan induk lebah, tidak menguntungkan secara individual
tetapi membantu kelompok secara keseluruhan. Salam.

-ekadj

--- In [email protected], Risfan Munir <risf...@...> wrote:
>
> Uda Ekadj dan rekans ysh,
>
> Mengenai buku saya "Samurai Sejati" saya titipkan ke panitia bazar
Plano-50 Sambil kontribusi ke panitia.
>
> Ada endorsement Pak Wawo, yang pasti menarik: "Shibaraku no yo-o,
nogare keri, fuyu gomori" (he he he, apa artinya silahkan baca).
>
> Juga dari Pak ATA:
> "Menarik sekali. Mulai dengan kisah dua samurai dengan keteguhan dan
kepekaan yang berbeda, secara mengalir penulis mampu mengupasnya menjadi
acuan keberhasilan yang meyakinkan. Bacalah semoga Anda dapat menjadi
samurai ketiga yang melalui keberhasilan diri mampu menyumbang bagi
keunggulan bangsa .."
>
> Uda dan rekans, terkait diskusi kita. Diantara kesimpulan seminar
internasional "Positioning Planning in Global Crises" ini yang dapat
saya tangkap ialah - terjadinya perubahan konteks sosekpolink mesti bisa
direspons oleh para planner dan pendidikan planning dengan perubahan
paradigma pula. Termasuk memadukan kuantitatif dengan kualitatif. Juga
pentingnya pengayaan tools, tak hanya analytical tools, tapi juga
"communication" tools, mengingat pendekatan "governance" memerlukan
skill untuk bisa komunikasi lebih baik dengan komunitas (stakeholders).
Dinyatakan bahwa yang diperlukan bukan sekedar tambahan kuliah
sana-sini, tetapi pendekatan yang utuh untuk hadapi context yang
senantiasa berubah ini.
> Termasuk perubahan ini: Dari sisi lingkungan - climate change yang di
kota2 pantai mulai terasa dampaknya, run-off yg naik meningkatkan risiko
banjir dan ikutannya.
> Dari sisi sosial terjadinya fragmentasi kehidupan dan fisik lingkungan
kota berdasarkan kondisi sosial penghuninya.
> Dari sisi ekonomi, agenda regional economic yang menghadapi soal
inequalities, rural-urban relation yang bukan membaik.
> Dari sisi politik, jelas otonomi dan demokratisasi, serta perilaku
aktor pembangunan kota/daerah terjadi perubahan besar.
> Dari segi pembiayaan, makin terasa kebutuhan untuk melibatkan peran
swasta, investor.
> Semua sisi perubahan context itu membutuhkan respons dari planner di
lapangan dan akademisinya.
>
> Selintas saya tangkap uraian bahwa kurikulum sekolah planning
(Planologi/PWK) sekarang kalau dibanding 50th yang lalu juga sudah
bergeser jauh sesuai perkembangan konteks dan kebutuhan yang berjalan
bertahap. Dari fokus siteplan, land-use...hingga sekarang yang mencoba
melihat kota/daerah sebagai entitas utuh yang berkembang. Hingga selain
butuh ilmu tapi juga kemampuan imajinatif, visioner kedepan.
>
> Sabtu siang saya kebagian sebagai pembicara, akan mengangkat
"Mengefektifkan Knowledge Management Perencanaan Wilayah dan Kota",
salah satu kasus "refere...@yahoogroups" sbg media knowledge sharing.
>
> Salam,
> Risfan Munir
> Salam,
> Risfan Munir
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: ffekadj 4ek...@...
> Sent: Friday, November 13, 2009 11:26 PM
> To: [email protected]
> Subject: [referensi] Re: Proyek Nasionalisme
>
>
> Pak Risfan ysh, selamat atas penerbitan bukunya. Wah kelihatannya
Referensiers sudah banyak yang menjadi penulis buku. Saya pengen
memiliki bukunya pak, tapi yang ada tanda tangan penulisnya.
> Saya dulu pernah ikutan juga kuliah Arsitektur, tentang konservasi dan
preservasi, dosennya Pak Danisworo. Tapi kok lebih ke arkeologi ya
dengan 'stonehenge'-nya. Mengenai Koentjaraningrat, belum sampai kesana
pak pelajaran saya, khususnya terkait materialisme kebudayaan. Dalam era
relativisme memang sepertinya formulasi unsur kebudayaan Pak Koen sangat
menonjol, yaitu: ide/gagasan-aktivitas-karya. Namun formulasinya Pak
Koen ini masih berpengaruh di Indonesia saat ini. Mungkin Pak Yando dkk
berkenan menjelaskan.
> Sewaktu mudik kemarin, saya sempat membawa beberapa buku tua dari
perpustakaan ayah saya, seperti terjemahan dari "Inleiding tot de
Culturelle: Anthropologie van Indonesie" door Dr. H.Th.Fischer, termasuk
juga buku "Ilmu Bumi Militer Indonesia" Jilid I itu. Seharusnya
referensi ini dapat memperkaya kajiannya Pak Aby, kapan waktu saya
kopikan. Memang pendekatan teori kebudayaan jauh berbeda, dan semakin
berkembang. Seperti misalnya pada era Pak Koen, telah tumbuh kesadaran
mengenai meningkatnya 'kompleksitas' masyarakat, yaitu perubahan dari
kondisi homogen ke heterogen. Inti penguraian kompleksitas ada dua:
membangun relasional dan penggalian konteks. Namun hingga saat ini
lingkup antropologi semakin longgar, malah batas-batasnya 'terkesan
kabur', termasuk era posmo-nya Foucault. Namun bagi antropolog seperti
Pak Yando itu masih bisa menarik benang merahnya. Seperti contoh, kalau
ada buku yang tidak ada unsur 'kultur'nya, pasti deh masuk keranjang
sampah.
> Kalau kita mencermati perjalanan Pak Wawo menuntut ilmu, ilmu kedua
yang seharusnya dipelajari oleh perencana adalah Antropologi. Ilmu
ketiga adalah Ekonomi, ditunjukkan dengan dipilih dan dikirimnya
Sugijanto Soegijoko ke Amerika. Dst.
> Demikian sementara waktu pak, mudah-mudahan Sabtu sore ini kita
ketemuan di Bandung ... kopi darat, katanya mau difasilitasi Prof Boy
Kombaitan. Namun kita perlu agendakan juga pak acara 'nonton bareng
2012'. Salam.
> -ekadj
>
> --- In [email protected], "risfano" risfano@ wrote:
> >
> > Rekans ysh,
> >
> > Ajakan Ekadj ini jadi mengingatkan kuliah Pengantar Arsitektur dan
Ilmu Sosial (PAIS) dari Jur Arsitektur. Bukunya kebanyakan dr
Kontjaraningrat (kenapa dia tdk diacu juga?).
> >
> > Saya baca Ruth, seperti saya katakan sebelumnya karena ingin tahu
adakah 'ruh' budaya Samurai Masih berpengaruh. Jadi saya lebih hafal isi
buku The Book of Five Rings karya Miyamoto Musashi dlm beberapa versi
interpretasi ( he he he) daripada bukunya Ruth yang pernah ditranslate
sebagai "Pedang Samurai dan Bunga Seruni".
> >
> > Point yang saya ingat dari Ruth ialah "budaya malu" yang kuat pada
budaya Jepang. Etikanya didasari kuatnya "rasa malu", sehingga terkenal
adanya tradisi seppuku itu, lebih baik mati drpd menanggung rasa malu.
Digambarkan, bahwa memberi sesuatu kepada orang Jepang itu bisa jadi
perkara yang merepotkan, karena mereka "malu" kalau tak bisa membalas
pemberian itu. Repotnya kalau penerima ini tak punya resources untuk
bisa membalas pemberian atau budi itu.
> >
> > Pendekatan yang digunakan (maaf ini interpretasi saya yang bukan
Anthropolog) juga berkisah seperti C.Geertz jadi enak membacanya seperti
novel. Yang dibangun dari hasil-hasil wawancara dengan orang yang
mengalaminya.
> > Dalam analisisnya Ruth juga banyak melakukan perbandingan berbagai
tradisi dan pola pikir Jepang dengan Amerika. Kita juga ingat Geertz
juga membandingkan Pulau Jawa dengan Jepang dibagian akhir buku Involusi
Pertanian-nya.
> >
> > Uda Ekadj dan teman-teman. Buku "Samurai Sejati" yang saya tulis
kata Gramedia sudah terbit kemarin, dan beredar di toko buku minggu
depan. Silahkan membaca.
> >
> > Salam,
> > Risfan Munir
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > --- In [email protected], - ekadj 4ekadj@ wrote:
> > >
> > > Pak Risfan ysh.
> > >
> > > Sebenarnya kajian Ruth Benedict ini sangat terkait dan melandasi
kajian Pak
> > > Aby, dan perlu kita apresiasi tersendiri. Saya sudah mencari-cari
buku "The
> > > Chrysanthemum and the Sword" itu, namun belum ketemu. Saya
mengenal dan
> > > mengutip Ruth dari beberapa penulis Neo-Boasian lainnya, seperti
Daniel
> > > Rosenblatt dan Ira Bashkow. Namun dengan adanya pehobby seperti
Pak Risfan,
> > > mudah-mudahan mau mengupas sedikit, siapa tahu bisa berkembang
menjadi
> > > "Jalan Pedang Kaum Perencana Jilid 2".
> > >
> > > Yang saya ketahui sedikit Ruth Benedict mempunyai guru bernama
Franz Boas,
> > > lalu punya murid namanya Talcott Parsons, dan muridnya lagi
bernama Clifford
> > > Geertz, dan muridnya lagi bernama Abiyoso. Jadi cukup jelas
kinship dari
> > > Neo-Boasian ini. Sedangkan buku "The Chrysanthemum and the Sword"
itu
> > > ditulis semasa WW2 dengan menggunakan data-data sekunder, seperti
dari
> > > koran, buku, dll; serta sempat mendapatkan data primer yaitu
wawancara POW
> > > atau tentara Jepang yang ditawan oleh sekutu. Jadi konsep
'national
> > > character' yang dikonstruksi oleh Ruth, saya perkirakan adalah
rumusan
> > > national character-nya Jepang, bukan Amerika. Buku ini selesai
1946 dan
> > > diserahkan kepada Presiden USA, dan menjadi landasan dalam
kebijakan Amerika
> > > setelah itu; dan kemungkinan juga mendasari filosofi terbentuknya
UN.
> > >
> > > Ruth merujuk "The Tale of the Forty-Seven Ronin" sebagai 'national
epic',
> > > termasuk mengidentifikasi karakter moral orang Jepang sebagai
obligasi
> > > universal (gimu) dan kongkrit (giri). Gimu pada kaisar ditunjukkan
dari
> > > tidak mau menyerahnya orang Jepang pada WW2 sebelum kaisar sendiri
yang
> > > mengatakan menyerah. Saya kira Pak Risfan lebih kredibel
menjelaskan, karena
> > > membaca langsung, termasuk juga apresiasi yang dimiliki Pak Indra,
Pak
> > > Irwan, Jehan, dll.
> > >
> > > Saya hanya fokus pada konsep Neo-Boasian yang dibawa oleh Ruth
yang masih
> > > merujuk pada konsep difusi dan integrasi, yang pada kenyataannya
masih
> > > relevan dengan globalisasi dan patut direvitalisasi (a.l. seperti
kajian
> > > yang dilakukan oleh Abiyoso). Sebagaimana dengan misi teori-teori
kebudayaan
> > > lainnya, Ruth mengembangkan pendekatan kebudayaan untuk menghadapi
> > > uniformality (keseragaman sosial yang dipaksakan). Pendekatannya
lebih maju
> > > dari eranya, yaitu telah menggunakan agency dan society, yang
sebenarnya
> > > mirip dengan pendekatan Bourdieu; termasuk dalam kategori
'theories of
> > > practice'.
> > >
> > > Konsep inti dari Neo-Boasian adalah mempercayai difusi (historical
> > > particularism) dan konfigurasi (integration), jadi tidak
mengabaikan
> > > internal variation, sehingga juga bisa fokus pada tindakan
orang(-orang).
> > > Neo-Boasian memperhitungkan 'boundaries', namun tidak berbentuk
'spatial',
> > > walaupun saya berpendapat sebaliknya. Satu pengertian yang saya
peroleh dari
> > > Rosenblatt adalah "Boundaries help give conceptual order to the
world, but
> > > they do so in ways that reflect how those who create them already
order the
> > > world". Kalau saya terjemahkan secara bebas kurang lebih:
"batasan-batasan
> > > dibuat supaya kehidupan menjadi tertata, dibangun melalui
cara-cara yang
> > > mencerminkan keteraturan yang telah terbentuk sebelumnya".
> > > Saya kira hal ini yang menjadi point dari 'proyek nasionalisme',
bahwa
> > > Indonesia bukanlah dibentuk oleh Soekarno-Hatta dan tim-tim pada
masa itu;
> > > tetapi merupakan cerminan berbagai suku bangsa dan lapisan
masyarakat yang
> > > menghendaki tatanan keteraturan yang lebih luas.
> > >
> > > Bila theory of practice-nya untuk kondisi kekinian mengarah pada
> > > integrasi/konfigurasi pendidikan-pangan-energi, saya harap Pak
Risfan dapat
> > > melanjutkan thesisnya.
> > > Sementara demikian dulu. Salam.
> > >
> > > -ekadj
> > >
> > > 2009/11/9 Risfan M risfano@
> > >
> > > >
> > > >
> > > > Uda Ekadj, Pak Aby dan rekans ysh,
> > > >
> > > > Eka, saya baca Ruth Benedict karena ingin mengenal budaya
samurai lebih
> > > > jauh dan karena hobi saja. Soal East-West tentunya Pak Wawo
lebih fasih
> > > > karena pernah jadi santri di kepulauan di Pacific yang letaknya
di tengah
> > > > kancah East dan West itu.
> > > >
> > > > Tentang proyek nasionalisme (ini karena kadung reply) kalau
menurut saya
> > > > mesti dilihat kondisi obyektif masa kini juga kali ya. Maksud
saya situasi
> > > > Poleksosbudlinktek + Dana nya. Terlepas dari retorika atau
teorinya.
> > > >
> > > > POLITIK - ada hubungan pusat - daerah; daerah - daerah; regional
dan
> > > > internasional. Hubungan pusat daerah sedang dalam proses tarik
menarik
> > > > desentralisasi berbagai urusan. Hubungan daerah-daerah juga
sedang menikmati
> > > > eforia otonomi baru dan coba-coba dengan identitas daerah (ada
yang mencari
> > > > akar etnik, ada yang agama). Serta situasi regional Asean++,
masuknya
> > > > Indonesia ke G20, "kemesraan" China-USA. Semua ini tentu ada
pengaruhnya.
> > > >
> > > > EKONOMI. Kenyataan bahwa banyak perusahaan besar di dalam negeri
(termasuk
> > > > perbankan, eksploitasi SDA, pelayanan publik) dimiliki sahamnya
oleh asing
> > > > dan diperjual belikan. Keharusan ekspor, ketergantungan pada
impor. Lapangan
> > > > kerja, angka kemiskinan. Pengaruhnya kepada kegiatan dan corak
kehidupan
> > > > kita tentu besar.
> > > >
> > > > SOSIAL. Angka kemiskinan dan pengangguran yang tinggi.
Kesenjangan tingkat
> > > > kesejahteraan antar kelompok, antar daerah. Pelayanan kesehatan
dan
> > > > pendidikan yang masih jauh dari harapan.
> > > >
> > > > BUDAYA. Sebetulnya aspek budaya yang selalu jadi tema
"nasionalisme"
> > > > (menjadi Indonesia). Karena kalau orang tua memberi pesan kepada
generasi
> > > > muda "kembali keakar budaya kita". Lah akar budaya kan berarti
Jawa, Sunda,
> > > > Minang dst. Tapi tak boleh kesukuan. Jadi yang mana? Sementara
itu acara TV
> > > > yang bisa dikatakan ekspresi budaya kan isinya "budaya barat dan
pop
> > > > ibukota". Itu yang ditonton di seluruh tanah air dari
metropolitan sampai
> > > > desa terpencil. Buat kita yang membesarkan anak di Jabodetabek
dan kota
> > > > besar lain, apalagi yang kawin antar suku, soal budaya ini ya
"apa yang
> > > > terjadi"lah. Apalagi budaya kaum marginal di kota besar
(urbanisasi) lebih
> > > > kompleks lagi.
> > > >
> > > > LINGKUNGAN. Konon kita hidup di "ring of fire", untaian
pulau-pulau,
> > > > dataran rendah dan pegunungan yang memang berisiko. Karena
ekosistem,
> > > > wilayah "perairan dalam" nyatanya yang lebih layak dijadikan
sarana
> > > > interaksi, karena "perairan luar" menghadapi ombak samudera yang
besar, dan
> > > > belakangan tzunami dan gempa bumi. Soal lingkungan juga soal
sulitnya
> > > > mengendalikan keserakahan orang telah banyak merusak lingkungan
di hutan,
> > > > gunung, dataran, laut dan kota. Perlu jadi agenda nasional yang
urgen juga.
> > > >
> > > > TEKNOLOGI. Teknologi komunikasi seperti TV menyajikan harapan
(janji) besar
> > > > kepada orang desa terpencil sekalipun, akan indahnya, mewahnya
hidup di
> > > > kota. Orang desa jadi melihat lingkungan hidup, ekonomi, budaya
sekitarnya
> > > > begitu papa.Teknologi transportasi bagus di Jawa, tapi di
Kalimantan, Papua,
> > > > apalagi di kepulauan masih jauh dari harapan.
> > > >
> > > > Dan terakhir, menyangkut ANGGARAN. Adakah anggaran yang memadai
bagi
> > > > (utamanya pemerintah tentu) untuk melaksanakan suatu Grand
Design apapun?
> > > > Apakah masih ada keleluasaan memilih-milih model, orientasi, dst
tanpa
> > > > risiko kedodoroan?
> > > >
> > > > Tidak berlebihan kalau ada yang mengingatkan akan pentingnya
fokus
> > > > prioritas kepada "PENDIDIKAN, PANGAN, ENERGI' karena boleh jadi
kedaulatan
> > > > (nasionalisme) kita masa kini dan mendatang tergantung pada tiga
hal itu.
> > > >
> > > > Faktor pengikat lainnya barangkali kesamaan nasib hidup di "ring
of fire"
> > > > yang berisiko ditambah risiko banjir yang terjadi dimana-mana
karena
> > > > gundulnya hutan (hampir semua kita menyukai kayu untuk
bangunan). Budaya dan
> > > > etika yang mendesak diterapkan barangkali ya "hemat energi,
kurangi
> > > > pemakaian kayu", sadar lingkungan, sadar kelangkaan, sadar anti
korupsi
> > > > (kirim bingkisan mungkin adalah contoh budaya korupsi paling
nyata dalam
> > > > budaya kita). Bagaimana pula sikap kita terhadap sumber energi
nuklir? Serta
> > > > kampanye kemandirian energi dengan teknologi tepat guna
(appropriate)
>



Kirim email ke