++++: Ini kita belum bicara soal atomisasi ruang (istilah yg digunakan Slater), 
bahwa dgn adanya penyebaran pusat ekonomi seperti metropolitan penyeimbang, 
mungkin bisa lebih menyeimbangkan Paris dan 8 metropolitan lainnya,  tetapi 
jelas hal ini menimbulkan kesenjangan baru, yakni antara 8 metropolitan tsb dgn 
wilayah sekitarnya dan wilayah lainnya...
>>>>: saya jadi kurang mengerti jalan pikiran tsb…..dalam kenyataan lapangan 
>>>>bukankah yg namanya ‘daerah’ (region)  dimana saja didunia ini…. yg dlm hal 
>>>>ini boleh disebut sbg didalamnya terdapat kegiatan manusia/ perekonomian 
>>>>ruang…. Bukankah perekonomian ruang atau penggunaan ruang itu tidak pernah 
>>>>homogen adanya?........baik yg dimulai pada kehidupan   ditingkat desa 
>>>>misalnya? …Ataupun terlebih pada tingkat kota amat besar?....... 
>>>>Didesa….bukankah ada yg namanya ladang…. Dan bukankah tidak selalu bahwa  
>>>>setiap petani musti  membuat rumahnya  diatas ladang masing2?.... kalaupun 
>>>>di Eropa kebiasaannya demikian dan itu amat meracuni pandangan anda ….namun 
>>>>bukankah seluruh desa  jg bukan  seluruhnya merupakan  penduduk petani yg 
>>>>menggarap ladang? .... bukankah akan selalu ada yg berprofesi pedagang, 
>>>>pendeta, tukang kayu, ahli teknik, kepala desa, guru, bidan, penjahit, 
>>>>penyuluh pertanian, pengusaha angkutan dsb ….yg kesemuanya
 ini tidak selalu memakai pola rumah tinggal diatas ladang? ....dimana bisa jg 
mereka tinggal ‘mengumpul’ disekitar pusat desa …sehingga walau ditingkat desa 
sekalipun ….bukankah lalu juga terjadi kesenjangan antara ladang ditepi hutan 
yg sepi sunyi dan tak ada rumahnya secuilpun …dan kawasan pusat desa yg lbh 
ramai dan padat penduduknya? .......
Jadi ini  secara keseluruhan kok spt merefleksikan pola pikir yg gak percaya 
pada kenyataanttg adanya ‘hirarkhi ruang’ yg benar2 nyata adanya  dikehidupan 
sehari2 didunia ini gitu ya?..... padahal selain dlm kenyataannya  dimana2 pola 
pemakaian ruang itu selalu hyrarchical dan tak homogen…. Bukankah pola 
penggunaan ruang yg hirarkial itu justru menimbulkan efisiensi?.... justru krna 
sekaligus adanya spesialisasi?.......
Spt bhw didesa….sistem jalan dikawasan perladangan tentu tak harus 
diaspal…namun cukuplah asalkan traktor dan truk atau pickup pengangkut hasil 
ladang dapat lewat saja….lalu sementara itu kawasan pusat desa yg menjadi 
kawasan pemukiman (sekaligus pusat layan desa) …... karena polanya yg memusat 
maka brbagai fasilitas desa dpt dibangun lbh efisien pula dan saling 
berdekatan…. Lalu bukankah kalau dibuat jalan aspal/ semen dpt dibangun dgn 
mileage yg lbih pendek? ....demikian juga dgn jaringan kabel listrik kerumah2.. 
mungkin juga jaringan kabel telpon, gas atau air bersih? ….lalu desa itu dpt 
memiliki kelengkapan infrastruktur yg nyaman mirip dikota dan dpt meningkatkan 
produktivitas kerjanya?.........
Pada tingkat kota besar bukankah lalu terpisah2 pula fungsi2 daripd ruang spt 
kawasan (a) menjadi pelabuhan atau bandara (lalu kurang cocok utk dicampur dgn 
kawasan tinggal, krn brisik/ bisa ketiban pesawat) … kawasan (b) utk  pusat 
industri sekaligus utk melokalisir pengolahan limbahnya…., kawasan (c) menjadi 
CBD…, kawasan (d) jadi perumahan tinggal…, (e) utk rekreasi dan hutan kota 
dsb…… lalu bukankah dimana2 memang selalu akan terjadi kesenjangan… 
heterogenitas ruang dan itu wajar?......... 
Sebenarnya yg diperkarakan dalam masalah kesenjangan ruang itu  saya kira 
bukanlah masalah bahwa ruang2 kok  pada senjang satu sama lainnya…. .namun 
adalah lbh pd masalah ‘kok jarak perjalanan bagi seorang penduduk disatu negara 
utk mencapai sebuah macem jasa layanan tingkat tinggi kok amat timpang satu dan 
lainnya?.....spt bhw kalau misalnya saja di Indonesia yg namanya universitas 
hanya adanya di Jkt dan Yogyakarta saja (spt dimasa penjajahan) ……maka anak yg 
tinggal di Jatinegara masih bisa kuliah di Salemba hanya dgn naik sepeda dan 
tiap hari pulang kerumah kumpul dgn ortunya….. sebaliknya anak seorang petani 
cengkeh kaya raya di Bandaneira misalnya harus berlayar ribuan kilometer dulu 
jauhnya utk itu dan pastilah harus ngekos utk pola rumah tinggalnya……dan sianak 
hrs berpisah dari ortunya utk sekian lamanya……..
Sebaliknya kalau di Ambon ada universitas .. maka sianak Bandaneira kalaupun 
harus berlayar tidaklah akan terlampau jauh …. Ia akan dpt lbh sering pulang 
kampung atau sebaliknya ortunya akan dpt lbh sering menengoknya ditempat 
kostnya di Ambon  dari Bandaneira ……dan tentulah itu menjadi kehidupan yg lebih 
nyaman ……blm lagi kalau di Ambon jg ada industri manufaktur  perkotaan 
…sipemuda setelah lulus sekolah tak harus mencari pekerjaan kewilayah yg lebh 
jauh spt ke Jkt, Bdg atau Surabaya (krn di Makassarpun blm tentu ada)……….
Dalam hal Paris dan 8 kota penyeimbangnya …..sayang mengapa  anda  melihatnya 
kok dgn kacamata terbalik terus …. Tetap saja melihat yg ada adlh  
‘kesenjangan’ yg abadi.. dan bukannya melihat bhw utk penduduk desa sekitar 
kota kecil Sisteron berpenduduk 9000 jiwa ditenggara Perancis dibawah kota 
metropolitan baru Marseille   misalnya…  yg semula jaraknya dari Paris sekitar 
600km dan seorang pemuda anak petani kota kecil itu utk kuliah dan kelak 
bekerja dikantoran di Paris akan berpisah dari ortu/ klgnya didesa dan  harus 
menempuh jarak  sejauh itu menuju metropolitan Paris …. maka setelah dilakukan 
desentralisasi/ penataan sistem  kota scr nasional dgn dibentuknya metropole 
d’equilibrium itu lalu propinsinya sipemuda mendapat jatah pengembangan kota  
metropolitan Marseille ….bukankah sipemuda dpt  memperoleh semuanya itu dalam 
jarak yg lbh dekat atau menghemat jarak menjadi sekitar  100an km/ lbh sedikit 
……demikian juga
 ortunya yg petani bukankah dpt menjual hasil ladangnya kekota besar Marseille 
yg lbh dekat  (hanya 100km dibanding semula 600km ke Paris) …..bukankah begitu 
esensinya pengembangan sistem kota secara nasional itu?.........

++++: Perroux beda dgn Marxist pak, Perroux mendukung pemusatan investasi di 
pole2 tertentu utk pertumbuhan ekonomi nasional, Marxist melihat adanya 
pemusatan2 kapital ini sebagai fenomena logis dr kapitalisme dan meng-condemn 
nya...(sy bukan Marxist, jd sy tdk meng-condemn) ...
>>>>: lha iyalah……terserahlah… saya sih nggak mendalami pemikiran dari para 
>>>>French Economist atau Social Theorist itu satu-persatu spt  Rousseau, 
>>>>Charles Fourier,  Henri de Saint-Simon,  Pierre-Joseph Proudhon,  Flora 
>>>>Tristan,  Louis Blanc … dsb. 

Salam, aby
 
 
Posting sebelumnya :
Re: (6): Planologi dan Ibu Pertiwi

++++: karenanya yg diusulkan bukan usaha menyebarkan aktifitas2 ekonomi, tapi 
upaya mengurangi kesenjangan kesejahteraan rata2 penduduk antar wilayah..nah sy 
percaya ini... 
>>>>: keduanya seharusnya sama2 terjadi  bareng2 dan tak mungkinlah kalau hanya 
>>>>dpt terjadi salah satunya saja sedang satu yg lainnya  samasekali tak 
>>>>terjadi (ibarat btepuk sblh tangan) …..kesenjangan kesejahteraan antar 
>>>>wilayah berkurang krn masing2 wilayah sama2 memiliki potensi kesempatan 
>>>>kerja yg memadai …msg2 memiliki potensi kemajuan yg hampir seimbang ….semua 
>>>>itu tak mungkin akan terjadi kalau awalnya sengaja atau tak sengaja tak 
>>>>terdapat dekonsentrasi kegiatan perkotaan dan ekonomi memimpin (leading 
>>>>industries, bukan asalkan perusahaan ecek2) dari wilayah maju kewilayah yg 
>>>>kurang maju …..bukan dalam artian sekwintal butir2 jagung disebar secara 
>>>>merata secara matematik kesebidang tanah seluas X m2 ….namun ibarat bgmn 2  
>>>>buah tv umum desa terpencil akan ditempatkan ….agar seluruh penduduk desa 
>>>>dpt  memiliki kedekatan jarak relatif sama… dan dpt menonton tv dgn 
>>>>menempuh perjalanan yg relative sama jaraknya dari rumah masing2…. 
++++: permasalahannya kita juga perlu hati2 menyikapi hal tsb... 
>>>>: setuju… tentu saja sikap hati2 hrs terus dipelihara kapan saja dimana 
>>>>saja oleh siapa saja……. 
++++: antara lain dgn melihat kasus Prancis dan metropolitan penyeimbangnya…..  
 
>>>>: iya betul… itu kalau utk para pemula  dan intermediate studi pembangunan 
>>>>regional ….sekalian saja biasanya selain pengalaman Perancis jg utk 
>>>>kelengkapannya ya perlu jg  ditengok pula pengalaman2 Italia (Mezzogiorno) 
>>>>, Bld (Ranstad), Kopenhagen (Finger Plan), Israel, Guyana, AS, Malaysia 
>>>>(Felda) dsb (Kapet juga dong sekalian …..walau gagal ….krn khan itu sdh 
>>>>jadi bagian dr riwayat sejarah praktek  regional planning dunia?)…… 
++++: dosen sy mengatakan bahwa tanpa 8 metropolitan tsb.,  maka saat ini 
agglomerasi Paris pasti akan lebih dahsyat...  jadi dlm konteks ini bisa saja 
metropolitan tsb dianggap sukses...  tapi ini pendapat tanpa basis studi yg 
mendalam...   
>>>>: ini sih sdh bukan lagi gossip bukan rumor …kalau anda baca papernya Budhi 
>>>>Tjahjati  dan Imron Bulkin (1994) … disebutkan bhw dgn itu angka primacy 
>>>>kota Paris turun jadi kalo tak salah menjadi 6.8%...... pd paper yg sama 
>>>>disebutkan pula ttg angka primacy New York 8.7% (lbh 25 jt penduduk, 1990) 
>>>>dan Los Angeles 6.4% (mendekati 20jt penduduk, 1990)…… smntr itu angka 
>>>>primacy dinegara2 sdg berkembang banyak diatas angka 35%..... atau kalau 
>>>>utk Jakarta menurut Sri Winarti (2005) sejak 1980 smp 2000 angka primacynya 
>>>>nangkring rata2 50% (terendah 0.48% pd 2000; tertinggi 0.52 pd 1985)....... 
>>>>.  
++++: yg jelas saat ini kebijakan tsb sudah dihentikan oleh Pemerintah 
Prancis...   
>>>>: Lho lha iya tentu saja dong… lha wong sudah berhasil?…….. 
++++: dan di dunia rasanya tdk banyak kebijakan seperti ini... 
>>>>: ya jelas saja…. Pertama tak semua negara didunia memiliki kesenjangan 
>>>>antar wilayah yg tajam ….kalaupun punya …situasinya jg saling beda satu 
>>>>sama lain  tak bakalan sama ..…maka tentu solusinya tak akan sama pula 
>>>>…..kedua, tak semua negara yg miliki kasus demikian banyak uangnya dan 
>>>>memiliki cukup smart planners yg menjadi otoritas keruangan utk atasi 
>>>>masalah demikian…… jd jelas bhw ini bukanlah masalah every country in the 
>>>>world……      
++++:  yg disebut oleh WDR 2009 adalah kasus Sovyet... 
>>>>:  oke…….. 
++++: kita punya kasus juga sebetulnya, yakni KAPET... apakah KAPET berhasil? 
saya tdk tahu... 
>>>>: Lha kalau Kapet itu totalnya 13… lalu yg 11 sudah dinyatakan tewas …lha 
>>>>ya kita ini mbok ya tidak usah kura2 dalam perahu terus dan ewuh pakewuh 
>>>>saja dong ya ….bilang aja gagal total gitu kenapa ya? ......paling kurang 
>>>>kalau ia jalan khan smp saat ini masih ada dan justru tambah berkembang.. 
>>>>.....  
Kapet gagal (11 tewas) justru krn selain ia sekaligus direncanakan disebanyak 
13 lokasi (tersebar, SaMeMiTe)  sambil uangnya tak ada…. Ia samasekali tak 
melibatkan national leading activities dan national leading industries kita  
….krnnya ia tak berhasil menumbuhkan aglomerasi atau aplgi membangkitkan 
migrasi kerah putih….mereka yg 13 itu terbanyak tak berbasis pengembangan 
urban  dan brbasis SDM kerah putih serta manufaktur perkotaan …….(walhasil) ia 
tak berhasil menarik migrasi ……dari 2 yg berhasil itu misalnya tercatat ada yg 
katakan ….bhw tanpa Kapetpun memang yg 2 itu akan tumbuh dgn baik …krn sejak 
awal sikonnya memang tlh mendukung….. 
++++: nah selama belum pernah dibuktikan bahwa upaya penyebaran konsentrasi 
ekonomi secara paksa di dunia ini ada yg berhasil, tentu saya tdk bisa percaya 
begitu saja... 
>>>>: kiranya tak semua hal didunia bisa pakai logika demikian ….para scientist 
>>>>(apalagi yg sekolahannya di eropa) justru umumnya tertantang utk 
>>>>membuktikan apa2 yg belum pernah muncul buktinya didunia……. Yg gampang 
>>>>saja… masak iya setiap anak gadis baru bersedia dinikahi oleh seorang laki2 
>>>>kalau laki2 itu benar dpt membuktikan dapat menghamilinya/ memberinya 
>>>>anak?.... masak iya Mega, SBY dan GusDur jg dulu pake ditanya2 sdh pernah 
>>>>pada jadi  presiden apa belum kok pada berani2nya nyalon?....…kenapa kok 
>>>>NASA dulu nggak dicecer dgn pertanyaan apakah udah pernah nglabeng kebulan 
>>>>dan pulang dgn selamat apa? …kok mau pada jalan kesana?  .....seorang 
>>>>scientist seyogyanya tak melanjutkan memelihara  logika2 demikian …..namun 
>>>>kiranya akan baik bila dpt mengembangkan hipotesa2 baru namun yg masuk 
>>>>diakal dan terukur…….sekian dulu, lanjutannya nyusul dan…. salam, 
aby 
 



      

Kirim email ke