Seorang rekan menulis :
“……Seperti kata rocker Tina Turner, "We don't need another hero." Kalau toh
perlu hero, menurut saya adalah orang biasa yang memakai "produk dalam negeri",
yang mematikan lampu kalau gak perlu. Karena 80 persen konsumsi listrik adalah
rumah tangga. Dan langkah-langkah kecil yang konkrit seperti itu…….”.
Amat sepakat dgn itu …..namun agar itu dpt menjadi etos nasional …diperlukan
jalannya yg panjang menuju kesana……..Memang setelah kita merdeka kini ….yg itu
berarti nasionalisme dibidang politik berupa ‘perlawanan kpd penjajah’ dan
keinginan utk merdeka serta kesadaran berbangsa satu, berbahasa satu serta
bertanah air satu telah tercapai…… maka setelah itu…. pasca kemerdekaan …
nasionalisme memang seharusnya segera bergeser penekanannya ke bidang
nasionalisme ekonomi…yg selanjutnya jg nasionalisme dibidang sosial, budaya,
hukum, teknologi …. dsb…….
Bhw manusia adlh makhluk yg ketika lahir tak bisa baca tulis dan tak mengerti
banyak norma2/ etika kehidupan lainnya yg baik…. Maka manusia mengembangkan
budaya didik ….dan mengajarkan apa saja banyak sekali nilai2 yg baik bagi
generasi penerusnya…….
Sedini mungkin sedari kecil manusia dididik utk agar mampu baca tulis, agar
mengerti Tuhan dan agama…. Dan tentu saja juga agar mengenal sejarah
kebangsaan, bangsa dan negaranya, dan agar kelak mampu memelihara
keberlangsungan kehidupan bernegara dan berbangsanya…..
Tiap2 negara berbeda metodanya…dan berbeda pula materi ajaran nasionalismenya
……krn latar belakang yg serba saling berbeda….. hanya sayang dalam prakteknya
proses perjalanan itu tak selalu mulus jalannya……tak jarang juga melalui
lorong2 gelap yg menyedihkan …… dan itu dialami oleh banyak bangsa dan negara
didunia ini…….
Orang Jepang misalnya….yg pernah juga melewati lorong2 gelap ajaran
nasionalisme oleh pemimpin mereka…..shg mereka pernah terperosok dgn
imperialisme dan jugun ianfu dsb.... mrk tak akan diajarkan ttg bgmn hrs
mencintai bangsa dan negaranya krn alasan bhw mrk pernah dijajah oleh bangsa
lain … krn mrk tak pernah ditindas dan dijajah bangsa lain…...
Mrk tak perlu terlampau diajar ttg kesadaran ‘kesatuan bangsa’ krn mereka tak
terdiri dari bermacam etnis dan agama macam kita gini (melayu, china, india,
arab, papua dsb) ….materi ajar nasionalisme mrk jelas amat berbeda
…..setidaknya adlh bhw mereka diajarkan pengertian ttg mrk adlh bangsa
keturunan dewa matahari…. Mrk (kira) harus diatas dn lbh tinggi dari bangsa2
lain … mereka harus memimpin dunia …. Dan berhubung negeri mereka tak banyak
memiliki lahan yg subur bagi tanaman pangan (hanya lk 15% yg dpt ditanami
tanaman pangan) dan tak memiliki sumberdaya alam dan bahan tambang apapun …
maka penekanan nasionalisme mereka dibidang ekonomi memang krn tak ada pilihan
lain…….….
Jelas bhw pertama mrk harus mutlak mempertahankan swa sembada pangan dgn cara
memaksimalisasikan produksi pangan …dan sebaliknya mrk hrs menekan jumlah
penduduknya (nyatanya penduduk Jepang yg kini 120 juta, ditahun 1950 adlh 80
jt, ditahun 2100 akan disusutkan menjadi tinggal 65 juta jiwa saja. Thn 2006
telah mulai trend menyusut)……
Mereka harus mengimpor bahan mentah… mengolahnya dan selain mengkonsumsi
sendiri.. selebihnya mrk hrs mengekspornya dan hrs memperoleh nilai tambah yg
tinggi …… itu sebabnya utk keberlangsungan hidup bangsa dan negaranya mereka
hrs menanamkan pula kesadaran ttg high technology minded…..selain jg nomor
satu adlh kesadaran ttg etos swadesi (pakai barang buatan dalam negeri) …
kemudian etos export minded…krn itulah kewiraswastaan dan industri menjadi
bagian terpenting dan menjadi tulang punggung dari ajaran nasionalisme
mereka……..
Utk disadari …...kita memang pasti akan menuju kesana … hanya saja jalan kita
sendiri masih panjang…… banyak agenda koreksi, agenda peredaan saling
menyalahkan dan saling curiga yg hrs diklarifikasi dulu……...
Salam, aby
Posting sebelumnya :
Re: (13) Indonesia : Proyek Nasionalisme Yg Blm Selesai
Milisters ysh,
Setelah Irian Barat sah menjadi bagian dari NKRI…….entah mengapa (mungkin
Sukarno terlanjur kelewat muak dgn tingkah laku kolonialis) tak lama kemudian
Sukarno jg terobsesi dgn ‘Ganyang Malaysia’….dan terobsesi dgn seruan ‘Bantu
perjuangan rakyat Kalimantan Utara’ (jg terobsesi utk berpetualang dgn banyak
wanita) …. Dan nasionalisme rakyat kita yg telah terbentuk sedemikian rupa krn
muak juga dgn penjajahan oleh Bld dan Jepang dan mungkin bangga dgn ‘kemenangan
rebut Irian Barat’…. Sebagian spt tersulut juga….dan kembali lagi tentara dan
sedikit sukarelawan kita sempat juga berangkat keperbatasan …..2 marinir kita
menyusup ke Singapura, tertangkap dan dihukum gantung…...
Tentunya mjadi Kepala Negara yg dirongrong terus oleh partai2 politik
diparlemen yg terlampau liberal memang repot juga ….maka lalu Sukarno
membubarkan parlemen dan mengeluarkan Dekrit ….namun semenjak Dekrit Presiden
1959 tentu saja kadar demokrasi kita memang semakin melorot turun kebawah saja
…...namun yg jelas rakyatpun tentunya capek juga…..
Semenjak dari pra kemerdekaan 1945 ….sampai masa pasca penyerahan kedaulatan
1949 …pasca penyatuan semua negara2 boneka dan RI menjadi NKRI pd 17-8-1950…..
sampai masa Sukarno dijatuhkan oleh Suharto …..rakyat lbh banyak didoktrin dgn
perjuangan melawan penjajah dinegeri kita ..…lalu belakangan jg didoktrin utk
‘membantu rakyat dinegara sebelah spt Malaysia dan Kalimantan Utara …agar kita
membantu rakyat disana utk melawan penjajah ….
Nah disini rakyat yg ekonominya susah terus dan tak kunjung diajak beralih
kepembangunan ekonomi dan boro2 kok menikmati hasil pembangunan ekonomi (yg
biasa makan nasi beras malah dalam rangka swasembada pangan diajarin makan nasi
jagung) ….pastilah rakyat capek juga ……hanya saja tak lama kemudian timbul G30S
dan Sukarno dijatuhkan oleh Suharto……dan bergantilah era pemerintahan dgn orde
baru yg kita semua sdh tahu ceritanya…..
Soal ‘integrasi’ TimTim kedalam RI pada sekitar 1976 kiranya bukan lagi masalah
nasionalisme kita yg berkobar2…. Tapi lagi2 krn kepentingan AS….takut daripada
TimTim jatuh ke Soviet dan menjadi komunis… dan Suharto tentu bangga juga kalau
ia dpt dicatat dlm sejarah kita bahwa ia telah memperluas wilayah RI dgn
tambahan TimTim itu….. namun dalam kenyataannya selain menurut PBB itu cacat
hukum….masalah TimTim juga ibarat kerikil dalam sepatu …..kecil tetap selalu
merepotkan dan menyakitkan….belum lagi bagi orang TimTim sendiri ‘negeri’ dgn
mayoritas agama Kristen/ Katolik tentu tidak nyaman menjadi bawahan negeri dgn
mayoritas Islam……
Singkat cerita TimTim yg bermasalah sudah dilepaskan dari RI dimasa
Habibie….dan masalah GAM yg berdarah2 jg sudah diselesaikan dgn damai…. Lalu
apa agenda nasionalisme kita kedepan selanjutnya? ......cukupkah dan patutkah
dgn hanya mengecam dan mencacimaki kekurangan2 yg sudah sambil diri sendiri
bagai anak kecil belum menyumbang apa2 dan tak mengambil peran apa2 namun dgn
mulut besar hanya mencaci maki terus perkara2 yg sudah?.........
Nasionalisme utk bangsa dan negara harus digalang dan dibangun sepanjang masa
…...para pemimpin boleh datang dan pergi ….ada yg baik sekali dan ada yg
brengsek jg yg berbuat kesalahan dan bahkan mendegradasi kemajuan yg telah
diperoleh …..namun generasi berikutnya tak pantaslah kalau hanya merengek
merajuk saja ….mencacimaki yg sudah dan ia sendiri tak menyumbang apa2 utk masa
depan nasionalisme kita ……
Proses nasionalisme (yg belum selesai) harus terus berlanjut …..menuju kearah
dan capaian yg lebih baik dari yg sudah ……bekerja keras dan bekerja keras utk
bangsa dan negara dan menataplah kedepan seperti para jong di Soempah Pemoeda
1928 itu …...dan janganlah menengok terus kebelakang sambil terus menggerendeng
macem pecundang……
Salam,