Pak Risfan, Mbak Franciska,

Urun rembug sedikit, saya kira selama ekonomi di negara tsb masih bersifat 
dualistic (dual economy) maka adanya kemiskinan dan kawasan kumuh di sekitar 
kota2 pertambangan, perkebunan, maupun kota2 besar, tidak dapat dihindarkan... 
Jadi solusinya bukan pd perencanaan kotanya, tapi pd modernisasi, pertumbuhan, 
dan distribusi ekonomi...

salam..

Eko.

--- On Fri, 11/27/09, Risfan Munir <[email protected]> wrote:

From: Risfan Munir <[email protected]>
Subject: RE: [referensi] curitiba-brazil-sustainable city
To: [email protected]
Date: Friday, November 27, 2009, 12:20 PM







 



  


    
      
      
      Terima kasih,
That's what I mean. Land banking dari dulu masih cita-cita disini. Padahal 
sebetulnya sebagian kota kita ada yang mampu membeli tanah selagi murah. 
Terutama di luar Jawa. Di beberapa kota Perumnas juga melakukannya, sehingga 
punya banyak deposit dulu.

Tapi kejadiannya sering sebaliknya, prasarana dibangun dulu, maka harga tanah 
melonjak. Akibatnya Pemda tak mampu beli tanah untuk sarana umum.

Tapi unsur lain seperti public transport layak dipikirkan untuk kota-kota 
Sumatera yang katanya trend pertumbuhannya mulai menguat.

Salam,
Risfan Munir

Penulis buku "Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" 
(Gramedia, Nov '09)



Salam,





From: franciska windy <franciska_windy@ yahoo.com>
Sent: Friday, November 27, 2009 4:17 PM
To: refere...@yahoogrou ps.com
Subject: Re: [referensi] curitiba-brazil- sustainable city




 Halo Risfan,

 Menarik sekali pertanyaannya. 
 Maaf saya masih agak bingung dengan definisi kota biasa dan new town yang 
ditulis di sini.(karena dari definisinya beberapa hal overlap,definisi tentang 
kata 'kota' sendiri juga terkadang rancu)
 Tapi saya akan coba jawab

 Apakah ini new town? 
 dalam hal ini kriteria paling jelas umur kota tersebut.
 Sebenarnya kalau dari segi umur, Curitiba ditemukan pada tahun 1693 

 tapi seperti banyak kota2 di development country, kota2 tersebut mengalami 
perkembangan penduduk.
 Banyak dari kota2 tersebut tidak 'siap' dan menjadi cheos.

 Untuk Curitiba,tahun 1970 walikotanya membuat perencanaan yang significant 
bagi kota tersebut -->mempersiapkan kotanya sebelum populasi meledak 2 kali 
dalam 30 tahun
 dari cerita ini, saya asumsikan, sebelum curitiba sebelum 1970 lebih merupakan 
village dari pada city (dalam kontext jumlah penduduk)

 Apakah ini kota yang dirancang untuk kalangan khusus?
 setiap perancangan kota idealnya kontekstual, termasuk kontekstual dalam hal 
tipe penduduknya.

 Yang menarik dan 'pintar' dari perancangan kota Curitiba di sini, pada waktu 
merancang mereka tidak hanya merancang pada konteks saat itu (pada saat 
curitiba masih sedikit penduduknya) . Akan tetapi mereka melihat jauh ke depan 
dan mempertimbangkan saat curitiba meledak populasinya.

 contoh:salah 1 intervention yang sangat vital bagi kota tersebut: BRT-->Bus 
System.bekerja seperti light rail system tapi 10 kali lebih murah








 Banyak warga miskin Curititiba benar-benar terbantu dengan sistem ini.

 Studi kasus Indonesia soal kota minyak/tambang.
 Dalam hal ini saya tidak bisa berkomentar banyak karena saya tidak melakukan 
studi mendalam soal itu.
 tapi saya bisa cerita berdasar pengalaman saya di soroako,sulawesi (tambang 
nikel).
 Kota tambang soroako sendiri memang terlihat bagus.kota tersebut dibangun oleh 
perusahaan Canada untuk para karyawan yang bekerja di perusahann tersebut.
 Untuk para karyawan di sana memang menyenangkan. infrastrukturnya baik, dapat 
fasilitas hunian yang bagus dan fasilitas lainnya.Di danaunya para karyawan 
bisa menggunakan segala fasilitas gratis (snorkling,kapal layar, kayak,baju 
selam dll)

 
 contoh hunian karyawan (di sana rumah panggung karena banyak gempa)



 danau matano (kalau tidak salah danau terdalam)

 tapi apakah itu perancangan yang bagus?
 belum tentu.
 buat karyawan inco itu seperti 'heaven on earth'
 punya fasilitas bagus,di saat yang sama ada nature yang wah... 

 sebenarnya soroako sudah ada penduduk lokalnya.
 dan dalam perancangan mereka seperti terabaikan.( dalam hal ini saya setuju 
dengan risfan karena memang surrondingnya tidak terurus)

 kondisi rumah penduduk lokal

 dalam perancangan yang ideal, seharusnya bukan hanya memikirkan kota bagi 
karyawan inco tersebut, tetapi bagaimana integrasi dengan penduduk lokal.
 bagaimana pembangunan kawasan pertambangan ini tidak hanya menguntungkan bagi 
developer, tetapi juga menaikan taraf hidup penduduk lokal.

 wah jadi panjang
 semoga jawabannya membantu

 franciska windy



From: Risfan M <risf...@yahoo. com>
To: refere...@yahoogrou ps.com
Sent: Fri, November 27, 2009 8:32:23 AM
Subject: Re: [referensi] curitiba-brazil- sustainable city

Francisca ysh, Terima kasih atas kiriman best-practice nya, saya kira 
kota-kota/daerah kita perlu banyak contoh apa yang sudah 'berjalan' seperti 
ini. Juga best practices partials seperti Tarakan yang mengatasi krisis 
listrik, Solo yang menangani PKL secara berbudaya, dst. Tapi tentang Curitiba 
ini saya ingin tanya. Ini kota biasa (dengan orang miskin dst) atau New Town 
yang dirancang khusus untuk kalangan khusus. D Indonesia enclave kota 
minyak/tambang/ petrokimia biasanya kotanya juga bagus, teratur dan lengkap. 
Atau kalau BSD, Lippo Cikarang, Kota Legenda dst, atau bahkan (new) Kuala 
Lumpur dianggap "kota" tentu juga bagus, tapi sorrundingya?  Tapi apapun, kita 
perlu koleksi best-practice yang menginspirasi ini. Salam,Risfan MunirPenulis 
buku "Jurus Manang dalam Karier dan Hidup ala Samurai Sejati" (Gramedia, Nov 09)




    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke