Pak Eka, saya ingin menambahkan. Sejauh apapun ilmu pengetahuan (teori-teori) 
ingin menyingkapkan kebenaran yang terkait dengan Allah, tetap saja ada 
batasnya, yaitu selalu ada perkara yang tidak pernah bisa diungkapkan 
(misteri). Menurut saya, misteri ini merupakan hak prerogatif Allah yang tidak 
bisa kita masuki, kecuali Beliau sendiri berkenan mewahyukannya kepada kita. 
Jadi, silahkan diperdalam dan kita sudah tahu tidak akan mampu atau sampai 
kepada kebenaran yang sebulat-bulatnya. Mendekatinya saja kita sudah sangat 
berbahagia.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Sun, 11/29/09, - ekadj <[email protected]> wrote:

From: - ekadj <[email protected]>
Subject: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu
To: [email protected], [email protected], 
[email protected]
Date: Sunday, November 29, 2009, 11:29 AM







 



  


    
      
      
      Pak Koes, Bang Thalhah, Pak Freddy, Pak Djarot, Pak Risfan, Harya, dan 
rekan-rekan lainnya. Terima kasih atas sharingnya, mudah-mudahan menambah 
pengetahuan kita bersama. Saya hubungkan lagi komunikasi lintas milis ini 
semata-mata untuk menjalin silaturrahmi di antara kita. Terakhir adalah diskusi 
(meta)-fisika mengenai hubungan ruang dan waktu yang cukup menarik, 
terus-terang ingin saya dalami ke depan dalam khazanah ilmu sosial. Hal penting 
yang kita temui dari para fisikawan ini adalah manusia dengan segala 
kepandaiannya bisa menciptakan apa saja yang hampir menyerupai Al Khaliq; namun 
hanya satu yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia, yaitu 'kebenaran'.

Demikian dulu, dan salam.
 
-ekadj

 
2009/11/29 <thal...@indosat. net.id>


  



Kalau dibilang teori itu terlelu cetek, memang benar karena tidak tentunya 
tidak ada teori sains yg benar2 bisa menjelaskan hakikat, namun mudah2an bisa 
menambah pemahaman kita dengan adanya pendekatan sains.
Yang aku maksud bukanlah kelengkungan ruang-waktu menyebabkan kita dekat dengan 
Allah, tapi justru sebaliknya. Kedekatan dengan Allah bisa mengubah 
kelengkungan ruang waktu, bahkan bisa meniadakannya (menjadi nol, seperti pada 
kondisi sebelum bigbang, terbebas dari ikatan dimensi ruang-waktu) . Makanya 
ada fenomena orang2 yg dekat denganNya memiliki kemampuan yg bisa menembus 
ruang-waktu.

Comment sedikit ttg kehampaan agar tidak salah persepsi, yg dimaksud hampa 
bukan berarti kosong melompong,tapi kesadaran dimensi rendah menjadi nol, semua 
menjadi tidak ada yg ada hanya Allah, karena merasa sangat dekat dan indah 
bersamaNya. Jadi kosong tapi isi, isi tapi kosong. 

Kenapa kita sulit selalu merasa dekat denganNya? Karena kita tidak mau kosong, 
tidak mau nol. Akal / hati kita diisi dengan dunia, padahal dunia harusnya 
cukup dalam genggaman tangan, bukan di hati. 
Jadi kalau bang Eka prihatin dengan kondisi bangsa, inilah penyebabnya. Hanya 
sedikit orang yg mau menjadi nol. Kosong inilah keikhlasan. Apa yg mau 
dikhawatirkan, kan sebenarnya kita memang kosong, tidak punya apa2 seperti 
halnya bayi yg baru lahir. 


Wassalam

Thalhah 

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT


From: "ffekadj" <4ek...@gmail. com> 

Bang Thalhah, mohon pencerahannya untuk tanggapan berikut. Salam.

-ekadj

--- In AlumniMuslimITB@ yahoogroups. com, "Freddy P. Zen" <fp...@...>

wrote:

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Mohon maaf, ikut nimbrung. saya bukanlah seorang sufi, cuma seorang yang
belajar fisika. Saya ingin komentar tentang teori Newton, Einstein dan
kaitannya dengan lengkungan ruang-waktu dan kedekatan dengan ALLOH SWT.


Menurut saya, teori2 diatas kurang pantas (utk tidak menyebut tidak
tepat)
utk mengaitkannya dengan kedekatan dengan sang Khalik. Teori diatas
terlalu "cetek sekali" dipakai untuk menjelaskannya.


Memang menurut Einstein (persamaan medan Einstein) tensor Einstein (yang
berupa penjumlahan tensor Ricci dan scalar Ricci) menyatakan
kelengkungan
ruang-waktu sebanding dgn distribusi materi di jagat raya. Jadi materi

menyebabkan kelengkungan ruang-waktu. Cuma, saya tidak jelas bahwa
kelengkungan ruang-waktu menyebabkan lebih dekatnya kita kepada Sang
Khalik. Sepengetahuan saya (tlg koreksi saya jika salah), ketaqwaan dan
keimanan seseoranglah yang mendekatkannya kepada Sang Khalik, bukan

kelengkungan ruang-waktu.

terima kasih. Maaf sekaili lagi jika mengganggu keasyikan diskusinya.

Freddy P. Zen

.....(deleted) ......
> *"Re: pertemuan ruang dan waktu
> *
> *
> Beruntung sekali bang Eka bisa merasakan kehampaan tersebut yg berarti

> merasakan sepenuhnya tentang kefanaan makhluk.
> Mencoba memahami pertanyaan bang Eka, mungkin maksudnya bukan
pertemuan
> ruang dan waktu, karena ruang waktu memang bertemu. Tetapi yg
dirasakan

> itu
> adalah kelengkungan ruang-waktu yg beda dari biasanya.
> Menurut fisika Newton gaya gravitasi disebabkan oleh adanya masa dari
> sebuah
> benda. Tapi menurut Einstein, gravitasi disebabkan oleh kelengkungan

ruang
> waktu. Jika teori ini dapat diterima maka besar kecilnya gaya
gravitasi
> tergantung sebesar apa jari2 kelengkungan tersebut. Pada saat khusyuk
> merasa
> sangat dekat (tanpa jarak) denganNya, tubuh terasa ringan (seolah2

> gravitasi
> berkurang) dan hampa (suasana tanpa gaya tarik) karena kelengkungan
ruang
> waktunya berubah. Kedekatan kepadaNya membuat makhluk lain (termasuk
> gravitasi) menjadi tiada arti dan hilang...Laa illa ha illallah...yg

ada
> hanya Allah. Ruang waktu melengkung ini, salah satu akibatnya adalah
jika
> kita bisa maju ke masa depan sejauh2nya maka kita akan muncul lagi
dari
> masa
> lalu. Secara fisika teoritis mesin waktu itu ada, namun harus bergerak

> mendekati kecepatan cahaya yg tidaklah mungkin dilakukan oleh tubuh
fisik.
> Ruang-waktu sendiri tercipta pada saat big bang, sehingga sebelum itu
> tidak
> ada ruang waktu. Artinya tidak ada masa lalu dan masa depan serta

tidak
> ada
> jauh dekat, inilah alam singular. Kekhusyukan saat wukuf bisa membawa
kita
> masuk ke alam singular, sehingga ruang waktu menjadi tidak ada,
apalagi
> gravitasi, sehingga memberikan sensasi yg baru / terasa hampa.

>
> Mengenai asmaul husna, memang manusia tidak mungkin menyamai sifatNya,
> tapi
> manusia boleh meniru dan meminjam sifatNya, tentu saja tetap dalam
konteks
> sbg makhluk. Contohnya seperti al Khaliq, meminjam sifat ini Insya

Allah
> bisa membuat kita menjadi orang yg kreatif. Sehingga para penemu
adalah
> orang2 yang dipinjamkan Allah sedikit sifat Al Khaliq. Wallahu 'alam.
>

...........( deleted). ......... ..


--- End forwarded message ---


 
2009/11/29 muhammad koeswadi <m_koesw...@yahoo. co.uk>


  








Pro Mas Ekadj, Mas Djarot, dan rekans 
Nambahin obrolan dari mas Ekadj Cs yang amat berisi dan bermakna. 
Bersyukurlah mas Ekadj telah merasakan adanya suatu ‘pencerahan’ ketika di 
Arafah…Tidak semua yg ada di situ memperolehNya. Adanya harmonisasi antara 
kesiapan diri masing-masing selaku tamu undangan istimewa dari sang Pemilik 
(duyyufur Rahmah) dengan kehendak sang Pengundang ini yang amat sangat beragam 
(boleh dimaknai sulit). Ketika saya menulis ini, ‘ruang saya’ berada di sekitar 
Makkah…langsung badan saya bergetar sekuat2nya.. .. Jujur saya belum pernah 
membayangkan fisik (zat) mas Ekadj, akan tetapi rasanya ada pertalian kuat 
dengan (terutama) mas Ekadj yang lagi di tanah Haram dan mas-mas Thalhah, mas 
Djarot, mas Risfan. Mengapa demikian? Inilah yang agaknya disebut annashir yang 
lebih kurang adalah materi alam beresonansi dengan keadaan diri. Tidaklah sulit 
bagi sesiapa yang mau melatih, banyak methodanya,. .akan tetapi sangat perlu 
(wajib) ada  pembimbingan. . Contoh simple adalah manakala kita survey di suatu 
lokasi yang asing (belum
 pernah dikunjungi), ada response dari mahluk2 yang lain, dengan caranya 
masing-masing… yang umum mereka merelease wewangian ataupun siulan burung. 
Contoh lain agak ngelantur sedikit.    Manakala kita mendengar lagu-lagu 
tertentu..seperti lagunya Bimbo (kata mas Risfan dan mas Djarot), atau bila 
mendengar degung (Sunda) ataupun klenengan (Jawa, Asmorondono, Wulang Reh 
misalnya), maka indra hati kita ‘terbang ke alam keagungan’..malah sering juga 
berlinang air mata dalam kesadaran. Mengapa demikian? Saya memahami bahwa kita 
yang sedang menikmati (berikut seluruh indra) mengalami proses penyatuan diri 
dengan alam sekitar (annashir). 
Inilah kekuatan daya cipta para leluhur yang penciptaannya dibarengi ‘laku’ 
(suara hati). Mereka sesungguhnya adalah para AuliaAllah (khalifah/pemegang 
amanah menurut mas Ekadj) yang terbukti karyanya abadi hingga esok. Demikian 
ini berkait dengan para pelakunya yang berada pada jalur sunatullah 
(bersesuaian dengan kaidah alam dan kehidupan). Kiranya, karya-karyanya tidak 
semata-mata hasil produksi otak, akan tetapi merupakan resultant dengan hati 
dan hidayahNya. Nah, Planner atau ilmuwan yang karyanya dilambari (refers) laku 
semacam ini, insya Allah karyanya lebih abadi dan sedikit salah. Pernahkan kita 
berlaku semacam ini walau ‘sedikit?’ 
Mas Ekadj, keseluruhan setting utama berHajji  adalah ‘meluruskan ketauhidan 
yang bengkok-bengkok.’ Yang tidak ada hubungannya dg pelurusan ini, dihindari. 
Semoga saja mas Ekadj dan para ilmuwan sepulangnya dari event Hajji dapat 
mewujudkan karya-karya baru berwarna sunnatullah sebagaimana kehendak mas Ekadj 
yang ditulis melalui milis ini dari bumi ‘tanah Haram’. Amanah yang saya 
rumuskan saat itu adalah memelihara dan menegakkan sunnatullah dalam kehidupan 
di bumi ini….(Ekadj).   
Proses ‘perjumpaan’ (istilah mas Djarot), di dalam khasanah Islam sesungguhnya 
tidak tabu, atau boleh dibilang sesuatu yang lumrah saja dan sering dibicarakan 
(dialami) oleh kaum tertentu. Tabunya ini dikarenakan para ulama membatasi 
umatnya agar tidak keliru memahami ‘manunggaling kawulo lan Gusti’. Bila 
meminjam alur cerita wayang kulit (kisah Dewo Ruci/Bimo Suci) seperti yang mas 
Djarot sebut, adalah benar bahwa Bimo (Werkudoro) menerima amanah dari keluarga 
Pandawa mencari air suci (proses pensucian diri)…dan akhirnya menemukan… 
(seingat saya bukan hanya Bimo, ada 2 nama wayang yg lain, satu di antaranya 
Hanoman yang mengalami prosesi semacam ini). 
Apakah meditasi / kontemplasi dalam spiritualitas Islam ujungnya adalah 
kehampaan ? (mas Djarot). Tidak. Meditasi/kontemplas i sangat biasa / sering 
dilakukan oleh siapa yang mau. Ujung meditasi tidak harus kehampaan. Para 
pemula memang sering mengalami kehampaan. Selanjutnya, yang agak terlatih malah 
memiliki kesadaraan penuh.  Hal ini bersesuaian dengan misalnya kekhusu’an 
shalat. Puncak kontempelasi yang paling sempurna adalah shalat. Shalat yang 
paling sempurna adalah shalat para Nabi. Dan shalat ini dilakukan terus menerus 
sepanjang hayat. Beliau2 mengajari dan mempraktekkan dalam kesadaraan penuh. 
Begitu pula para wali Allah, para zuhud, para wara’, para ulama, dan kita2. 
Adapun meditasi yang berujung kehampaan juga boleh saja…dst. Hanya di sini, 
perlu diwaspadai.. bahwa proses meditasi hingga mencapai kehampaan ini sangat 
berpotensi ‘berbelok/nyeleweng’ . Pada fase ini justru iblis mudah sekali 
beresonasi. Inilah yang kemudian para
 ulama (yang belum berkompeten) khawatir sekali membicarakan ini, apalagi 
dengan murid2nya. Jadi, seperti yang saya sebutkan di atas, wajib ada 
pembimbing yang memadai.   
Sedikit ulasan saya ini semoga tidak keliru. Mohon dimaafkan bila ada keliru. 
Salam, 
 
Koeswadi, JKT.
 


    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke