Betul sekali, saya kebetualn merasakannya tanggal 9 tersebut... ...walau memiliki berbagai kultur asal yang berbeda semua yang hadir dapat mencair menjadi satu dalam waktu-ruang tersebut...bukan main.... ...sedangkan sebelum dan sesudahnya, dalam waktu-ruang-kultur berbeda, padang Arafah sepi melompong....tidak ada apa-apanya....
Wassalam, ATA 2009/11/27 muhammad koeswadi <[email protected]> > > [Attachment(s) <#125349cb29691ba4_TopText> from muhammad koeswadi > included below] > > Nambahin sedikit keterangan Mas Ekadj. Tepat sekali Arafah adalah nama yang > membawa makna adanya event pertemuan: ruang dan waktu dan kesejajaran dan > ‘kematian’. > > Di sini pula mensyaratkan seluruh hadirin (sebagai tamu Allah/*dhuyufur > rahmah*) berstatus sama. Waktunya 9 *dzulhijjah* (hari Arafah) bukan 10 * > dzulhijjah*, jamnya dhuhur (mulai sekitar 12.15 waktu setempat hingga > sore). Tempatnya padang Arafah yang umumnya panas ini memiliki batas > adminstrasi tegas (menurut sumber ditetapkan Malaikat Jibril as.). Siapapun > yang berhaji (*wukuf*) harus masuk di dalam wilayah administrasi ini. Di > luar batas ini batal (tidak syah). Di luar batas waktu ini batal juga. > > Juga, siapapun berkostum seragam khusus, umumnya putih polos (tak berjahit) > menyimbulkan kesamaan derajad dunia. Juga, siapapun harus menjaga lingkungan > hidup, menghargai kehidupan dan sekaligus dilarang mencabut/menebang rumput, > pohon; dilarang membunuh binatang sekalipun sekecil semut. Bahkan dilarang > mencabut/menebang bagian organ hidup kita sendiri, misalnya kuku, rambut. > > Juga, siapapun dilarang berpolemik soal dalil apapun termasuk ilmu > pengetahuan (*jidal*). Bila ingin berdalil bukan di masa hajji (5 hari, > 9-13 dzulhijjah). Intinya merasakan ‘kematian’. Semua pelanggaran kena > saknsi denda (*dam*). > > Semoga mas Ekadj dan rekan2 berhasil mencapai tapak-tapak kenabian (Ibrahim > as.). (Sedikit informasi agak detil, bisa lihat attachment table > Peristiwa Hajji). > > Wassalam. Koes, JKT. > > --- On *Fri, 27/11/09, - ekadj <[email protected]>* wrote: > > > From: - ekadj <[email protected]> > Subject: [referensi] Re: pertemuan ruang dan waktu > To: [email protected] > Cc: [email protected], [email protected], > [email protected] > Date: Friday, 27 November, 2009, 14:03 > > > Bang Thalhah, terima kasih untuk jalinan kasihnya. Kaji ma'rifat abang > sepertinya cukup mendalam, untuk mohon penjelasan lebih lanjut, terutama > dari aspek fistek. Khususnya menyangkut 'ruang dan waktu', bagaimana hal itu > terumuskan dari Einstein sampai Hawking, dan secara sosial mulai Bakhtin > sampai Giddens? Dan bagaimana menarik hikmah dari momentum/quantum itu? > > Saya terus terang belum mencapai seperti yang abang gambarkan, semata-mata > berupaya ikhlas, dan ternyata itu sulit pula. Jazakallah al khair. > > -ekadj > 2009/11/27 <thal...@indosat. > net.id<http://uk.mc244.mail.yahoo.com/mc/[email protected]> > > > >> Wukuf di arafah adalah proses pertama dalam perjalanan ke dimensi >> tertinggi, dimensi spiritual. Situasi dimana tidak ada polaritas >> (pengkutuban) , yg ada hanya singularitas. Tempat segala sesuatu menjadi >> tidak ada, yg ada hanya Allah. Ini dicapai dengan pernungan, meditasi, zikir >> dalam keheningan. Yg ada hanya Dia. >> Dilanjutkan dengan melempar jumrah untuk membuang sifat2 setan dalam diri >> maka lengkaplah perjalanan menjadi makhluk 'langit', berada dalam situasi >> stillness (diam, hening, tanpa dimensi). >> Namun manusia bukan ditugaskan menjadi makhluk langit, tetapi menjadi >> khalifah di muka bumi. Maka harus 'turun' kembali, jangan keenakan di >> 'langit'. Tapi turunnya orang yg sudah mencapai dimensi spirit bukanlah >> turun ke dimensi yg lebih rendah, namun melipatkan dimensi sehingga dimensi >> spirit dan fisik berhimpitan, menjadi manusia bumi yg berkesadaran spiritual >> tinggi. Oleh karenanya disimulasikan dengan thawaf, yaitu berbaur dengan >> seluruh umat manusia melakukan aktifitas gerak fisik namun berorientasi >> penuh (menyembah) Allah, yg disimbolkan dengan berpusat pada Ka'bah. >> Proses terakhir adalah sa'i, yaitu berjuang dengan sungguh2 (jihad), tidak >> kenal menyerah karena hanya berharap pada Allah. Maka lengkaplah sudah >> training menjadi khalifah yg selalu menyembahNya. >> Selanjutnya tinggal menjalankan tugas menjadi khalifah yg rahmatan >> lil'alamin setelah selesai menjalankan ibadah haji karena sudah menjadi >> orang yg berserah diri sepenuhnya kepadaNya (muslim). >> Sent from my BlackBerry® >> powered by Sinyal Kuat INDOSAT >> ------------------------------ >> *From: *- ekadj <4ek...@gmail. >> com<http://uk.mc244.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>> >> >> > > >> Pertemuan Ruang dan Waktu >> >> Kemarin ternyata sudah dilaksanakan wuquf di Arafah (: 'aku sudah >> mengetahui'), yang menandakan puncak acara perjalanan haji. Seorang senior >> dan guru saya (semoga Allah swt melimpahkan rahmat kepada beliau) >> menyampaikan satu wejangan sebelum saya berangkat haji, bila saya nantinya >> akan menyaksikan ‘pertemuan ruang dan waktu’ di Arafah, yaitu bertemunya >> tempat yang ditentukan dan waktu yang ditentukan, sebagai fenomena >> pembelajaran terpenting bagi setiap perencana kehidupan. Tempatnya adalah di >> Arafah, dan waktunya adalah 10 Zulhijjah antara waktu Zuhur dan Ashar. >> Pertemuan juga dimaksudkan sebagai pertemuan antara manusia dengan Tuhannya, >> yang secara jarak fisik adalah begitu dekat. Sebuah hadits qudsi menyebutkan >> bahwa pada waktu dan tempat tersebut Allah swt akan turun langsung ke muka >> bumi dan menyaksikan segenap makhluknya berkhalwat dan berzikir kepadaNya >> serta memohonkan keampunan. Ya Allah, ampunilah kami. >> >> Momen waktu dan ruang tersebut juga menandakan puncak perjalanan haji, >> sebagaimana kita teladani dari Rasulullah saw (shalawat dan salam kepadamu), >> dan telah ditunjukkan sebelumnya oleh Ibrahim as (kesejahteraan bagi engkau >> wahai bapak bangsa). (2:128). Kesempatan yang sangat besar tersedia pada >> siapa pun yang berada di tempat tersebut dan waktu tersebut, untuk meminta >> ampun, berzikir, bermunajat, introspeksi, retropeksi, dan mempersiapkan masa >> depan; serta menyempurnakan rukun Islam. >> >> Telah kupenuhi panggilanMu Allahu Maha Besar, tidak ada sekutu bagiMu. >> Segala puji dan kebesaran hanya milikMu semata. Tidak ada sekutu bagiMu. >> (22:27-28). >> > > >

