Pak Eka, untuk mengerti pembisiknya, biasanya kami melihat buahnya. Jika 
buahnya baik tentu yang memberi inspirasi adalah roh kebaikan, dan jika 
hasilnya buruk tentu roh yang sebaliknya (entah siapa).

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://forumriset.wordpress.com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Fri, 12/4/09, - ekadj <[email protected]> wrote:

From: - ekadj <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: hidayah dan ruang
To: [email protected], [email protected]
Date: Friday, December 4, 2009, 12:53 AM







 



  


    
      
      
      Pak Djarot ysh.
Sebenarnya saya khawatir menjelaskan lebih lanjut, karena keterbatasan ilmu, 
pemahaman, dan kompetensi. Mungkin dalam kondisi seperti ini saya harus 'maksa' 
memanggil para guru di milis ini, mudah-mudahan berkenan menyampaikan 
pemandangan. Mudah-mudahan Gus Solah, Pak ATA, Pak Koes, Mas Akhmad, Pak BSP, 
dll bersedia. Untuk fenomena fisika, kita mintakan juga ahlinya. Untuk 
neuro-semantic, kan kita sudah punya ahlinya?

Pengalaman nyata saya hanya sebatas di Makkah itu; selebihnya tidak begitu 
diyakini. Karena pemberi input bisa saja ibilis atau setan, walaupun berburuk 
rupa tapi bisa menyaru sangat sempurna dan bercerita tentang kebenaran. Untuk 
itu hikmah harus diproses dalam keadaan tenang, dicerna dalam akal, dan 
diperiksa di dalam hati. Seorang rekan menyarankan posisi 0, namun saya belum 
sampai pada makrifat seperti itu.

Beberapa petunjuk di dalam Al Qur-an menyebutkan agar kita memikirkan 
bagaimana kehancuran suatu kaum, musnahnya suatu peradaban, dll; pada umumnya 
karena dua hal: kaum itu tidak pandai bersyukur, dan juga tidak pandai 
bertaubat. Padahal kepada kaum tersebut telah diberikan kesempatan dengan 
caranya masing-masing (11:93,121). Sehingga salah satu kebenaran hidayah, 
menurut hemat saya, adalah konsistensi efeknya berdasarkan jangka waktu yang 
panjang. Wallahu alam.

Mungkin itu sedikit dari saya yang dlaif. Salam.
 
-ekadj

 
2009/12/3 Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>


  







Pak Eka, kata magnet mungkin sudut pandang pengamat berjarak atau 
terkontaminasi ilmu fisika. Hidayah apakah sama atau mirip dengan wahyu dalam 
pewayangan Jawa ? Ataukah hidayah sama dengan enerji ilahi yang suci dan murni 
menurut kacamata fisika-religius ? Atau mirip dengan spirit of place, yang 
artinya multi tafsir ? Mohon pencerahan. 


Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://forumriset. wordpress. com [Blog Resmi APRF]

http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com


--- On Thu, 12/3/09, - ekadj <4ek...@gmail. com> wrote:



From: - ekadj <4ek...@gmail. com>

Subject: [referensi] Re: hidayah dan ruang
To: refere...@yahoogrou ps.com, alumnimuslimitb@ yahoogroups. com, 
im...@yahoogroups. com

Date: Thursday, December 3, 2009, 8:18 PM


  



Pak Djarot, Pak Koes, dan rekan2 ysh.
Terima kasih atas pandangan dan pendapatnya. Sebelumnya judul thread ini kita 
ubah sedikit, mengingat sudah ada peringatan dari Pak Mody.
Saya ada sedikit pandangan berbeda mengenai istilah 'magnet', bahwa sebenarnya 
yang dikejar oleh setiap peziarah itu sebenarnya adalah 'hidayah', yang 
diyakini berada di tempat-tempat tertentu. Sebagaimana beberapa peristiwa yang 
saya alami, hidayah itu ternyata tidak menetap di suatu ruang dan di suatu 
waktu; terkecuali ruang-waktu yang dijanjikan Allah swt seperti di Arafah itu, 
juga Masjidil Haram dan Madinah.

 
Mungkin saya diizinkan menjelaskan sedikit mengenai hidayah itu sejauh 
pemahaman saya selama ini. Hal ini sebenarnya cukup berat saya lakukan karena 
kompetensi yang kurang, dan juga sebenarnya hal ini merupakan tugas para 
mujtahid; seperti banyak yang lebih pantas menyampaikan di antara kita peserta 
milis ini. Bahwa sebenarnya hidayah Allah itu diberikan ke seluruh alam 
semesta, dalam berbagai bentuk, dan terkadang juga membedakan hakekat makhluk. 
Hal ini sebenarnya merupakan rahasia dari keadilan Allah swt. Misalnya hidayah 
akal, diberikan kepada manusia untuk membedakannya dengan makhluk lain. 
Kemudian hidayah kemerdekaan, yang membedakan insan religi dengan insan lainnya 
yang masih disaput nafsu. Kemudian hidayah iman, yang membedakan seorang muslim 
dengan manusia dan makhluk lainnya, yang juga merupakan hidayah tertinggi.

 
Dengan demikian hidayah itu telah ditentukan oleh Allah swt dengan demikian 
adilnya. Terkadang bisa diberikan ketika beribadah, di Curitiba, di Paris, di 
dalam bus kota, di goa Selarong, di Parang Tritis, di musholla hotel di Kemang, 
di tengah laut, dst. Di berbagai tempat yang bersih dan wening, dimana hidayah 
berkenan untuk hadir. Namun sejauh yang saya yakini bila hidayah itu 'hinggap' 
dan bergerak berbatas ruang dan waktu. Sehingga belum tentu bila seseorang yang 
pernah menerima hidayah akan terberkati selamanya. Dalam hal ini adalah benar 
kiranya apa yang disampaikan oleh Pak Koes: "... mudah-mudahan oleh-oleh 
cahayaNya bertahan lama ..." Karena hati manusia tidaklah terbuat dari besi dan 
menyediakan media penyimpanan yang permanen. Atau sering disebut Mulan Jameela 
dengan "hatiku ini bukanlah hati yang tercipta dari besi dan baja, hatiku ini 
bisa remuk dan hancur". Dengan demikian bila hidayah itu telah hinggap, memang 
merupakan suatu tugas
 berat untuk menjaga dan memeliharanya.

 
Saya tidak mempercayai bila hidayah itu 'bersemayam' di suatu tempat kecuali 
tempat-tempat yang disebutkan secara khusus; namun bisa jadi pernah singgah di 
tempat itu. Sehingga seharusnya memang manusia itu mengharapkan hidayah 
'langsung' dari Allah swt, di berbagai tempat yang bersih dan wening dan di 
berbagai waktu. Dan secara senantiasa, secara taubat, syukur dan ikhlas.

 
Demikian sementara waktu pak, mudah-mudahan ada yang berkenan meluruskan dan 
menambahkan. Salam.
 
-ekadj



    
     

    
    


 



  






      

Kirim email ke